
Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya pertanda musim hujan akan segera tiba. Dibawah selimut tebal, terdapat sepasang suami istri tengah terlelap sehabis bercinta. Peluh di sekujur tubuh mereka menandakan betapa hebatnya permainan keduanya.
Mentari terlelap didalam pelukan jangan suaminya. Didalam mimpi Mentari, dia melihat orang tuanya tengah duduk berdua di suatu tempat yang sangat dia kenali.
#Didalam mimpi Mentari
"Ayah, ibu??!!" panggil Menteri dari kejauhan.
Mentari berlari mendekati orang tuanya, memeluk mereka dengan sangat erat. Tangis haru keluar begitu saja, rasa rindu seolah menguap diudara. Begitu lama mereka tidak bertemu, bahkan disaat terakhir mereka saja Mentari tidak mampu berada disisi mereka.
"Ayah, ibu, Tari rinduuu!!!" isak tangis Mentari didalam pelukan ayah dan ibunya.
"Tari kan anak yang kuat? ayah yakin Tari bisa melewati semua ujian ini!" ucap ayah Mentari.
"Ayah dan Ibu sudah tenang, sayang! Mentari jangan khawatir lagi ya?!" ucap lembut ibunya seperti biasa.
Mendengar ucapan ibunya, air mata Mentari semakin deras mengalir.
"Kenapa ayah dan ibu pergi? Tari.....Tari sendirian, ayah, ibu! Tari ketakutan! Tari ingin bersama ayah dan ibu, Tari mau ikut kalian! jangan tinggalkan Tari sendirian!!" menangis sejadi-jadinya.
"Sayang, dengarkan ibu! Ibu tahu semuanya berat untuk kau lalui. Tapi ingatlah, ayah dan ibu akan selalu ada disamping Mentari!"
"Kami juga sayang sama Tari, maka dari itu kami meninggalkan Tari! Ayah tahu kalau Mentari akan lebih kuat nanti. Akan datang pelangi setelah badai, Tari hanya tinggal menunggu badai itu pergi dan berganti dengan pelangi di hidup Tari!" ucap ayah Mentari.
"Tapi ayah, hidup ini terlalu berat untuk Mentari jalani sendiri!" memeluk ayahnya.
Ayah mengusap pucuk kepala Mentari, memberikan kenyamanan di setiap sentuhannya.
"Tari tidak sendiri kan sekarang? ada seseorang yang akan terus menjaga Tari! dia adalah orang yang paling mencemaskan keadaan Tari saat ini!" ucap ayah Mentari.
"Jaga diri kamu baik-baik, sayang! kami mencintaimu, putri kecilku!" ucap ibu Mentari.
"Ayah, ibu! kalian mau kemana??" panggil Mentari.
Kedua orang tua Mentari perlahan pergi Menjauh dari Mentari. Semakin Mentari mengejar mereka, mereka semakin terasa jauh hingga akhirnya menghilang dari pandangan Mentari meninggalkan Mentari sendirian.
"Ayah, ibu!!! kalian kemanaaa!!!????" panggil Mentari.
"Ayahhh, ibuuuu!!!! jangan tinggalkan Mentari!!!!!" panggil Mentari lagi, menangis sejadi-jadinya.
********
"Ayahhhh, ibuuuuuuu!!!! jangan pergiiiii!!!!!!!" teriak Mentari.
Mentari terbangun dari tidurnya.
"Honey, kamu udah sadar?" tanya Darel terlihat cemas langsung memeluk Mentari.
"Aku, aku kenapa?" memberi jarak sedikit diantara mereka.
"Semalaman kau demam tinggi! kau mengigau dan memanggil-manggil ayah dan ibu!" ucap Darel lalu membawa Mentari kembali ke pelukannya.
__ADS_1
"Kau membuatku sangat cemas, apa kau merindukan orang tua mu?" tanya Darel lembut.
"Hiksss....hiksss......hikssss.....!" memeluk erat tubuh Darel.
Darel membiarkan Mentari meluapkan kesedihannya. Hampir tiga puluh menit Mentari menangis di pelukannya dan Darel tidak berniat menghentikan tangisan Mentari.
"Terimakasih karena sudah mengerti ku!" mendongakkan wajahnya menatap Darel.
"Sudah selesai belum nangisnya?" tanya Darel merapikan rambut Mentari yang acak-acakan.
"Sudah!"
"Ya sudah kita sarapan dulu ya, lalu minum obat! panasmu masih belum turun sepenuhnya!" ucap Darel lembut penuh perhatian.
Darel keluar dari kamar, lalu kembali lagi sambil membawakan nampan berisi bubur ayam dan obat untuk Mentari.
"Huff.....hufff......ayo, aaaaa!" ucap Darel sembari meniup bubur ayam yang masih panas itu lalu menyuapinya ke Mentari.
Mentari dengan lahap memakan bubur itu. Melihat sikap manis dan perhatian dari Darel, seolah tidak percaya rasanya bahwa pria ini jugalah yang paling dia benci dulu.
Ternyata kalau perhatian begini, dia jadi tambah ganteng ya?!
"Kenapa lihat-lihat? ganteng ya? jelas lah, aku kan Darel Sanjaya!" sombong.
"Ihhh, jangan kepedean jadi orang! jatuhnya sakit loh!" ucap Mentari.
"Jadi kau mau bilang kalau aku tidak ganteng gitu?" kesal.
"Emm, lumayan sih!"
"Aku ini salah satu pria tertampan di negara ini tau! kamu harusnya bersyukur bisa dapetin aku!"
"Hahahaha, iyaa iyaa! suamiku ini memang tampan kok!!" mengacak-acak rambut Darel.
"Kau ya, lagi sakit juga masih menyebalkan!" ucap Darel.
Darel kembali menyuapi Mentari hingga bubur didalam mangkuk habis lalu Darel memberikan Mentari obat pereda demam.
"Ya sudah kamu istirahat ya! aku keluar dulu!" ucap Darel hendak beranjak pergi.
Baru mau berdiri, tangan Darel ditahan oleh Mentari.
"Kenapa? apa kamu memerlukan sesuatu?" tanya Darel.
"Aku mau dipeluk!" memasang wajah melas.
"Ooohhh kamu mau dipeluk! sini-sini aku peluk yaa, yok tidur!" ucap Darel.
Darel menempatkan dirinya terbaring disamping Mentari, memeluk Mentari hingga tertidur.
*******
__ADS_1
"Selamat malam tuan!" ucap Adi.
Beberapa hari ini, Adi dan Harri disuruh Darel agar menginap di rumahnya.
"Bagaimana dengan tugas yang aku berikan? apakah sudah ada hasilnya?" tanya Darel.
Mereka bertiga sekarang sudah berada diruang kerja Darel.
"Sudah tuan! tapi belum sepenuhnya! anak buah saya masih mencari info lebih rinci lagi tentang kehidupan nona di masalalu!" lapor Adi.
"Hem, baiklah! apa yang kau dapat sejauh ini!"
"Menurut anak buah saya, nona Mentari dulu diusir dari desa lamanya karena ada sesuatu masalah. Dan karena masalah itulah orang tua nona meninggal dunia." jelas Adi.
"Diusir? masalah?" bingung.
Pantas saja tadi dia mengigau memanggil-manggil orang tuanya terus dan tidak ingin berpisah lagi! ternyata ini alasannya?"
"Aku mau informasi lebih lanjut dari kisah Mentari! masalah apa yang membuat mereka harus diusir dari desanya!" ucap Darel geram.
Adi dan Hari pamit pergi, sedangkan Darel masih tinggal diruang kerjanya. Marah, sedih, penasaran menjadi satu didalam diri Darel. Tidak bisa dia bayangkan betapa beratnya hidup istri tercintanya saat itu.
Aku janji akan membuatmu bahagia seumur hidupmu! tidak akan aku ulangi kesalahanku yang dahulu, Mentari!
Darel kembali ke kamarnya dan melihat bidadarinya masih terlelap. Darel menghampirinya, ikut berbaring disamping Mentari, memeluk hangat wanita itu. Seolah merasakan kehangatan Darel, Mentari berubah posisi menghadap Darel dengan mata yang masih terpejam.
Kau sudah melewati hari suram mu, Mentari! sekarang nikmat masa bahagiamu bersamaku! batin Darel sembari mengusap lembut pucuk kepala Mentari.
Darel terlelap sambil memeluk Mentari hingga menjelang pagi.
********
"Aaaaaaaaaaa!!!!!!"
Darel terbangun karena mendengar suara teriakan dari dalam kamar mandi. Dia melihat ke sampingnya, Mentari sudah tidak ada lagi ditempat tidur.
"Mentari??!!!" panggil Darel cemas.
Dengan cepat dia berlari menuju kamar mandi namun ternyata pintunya dikunci dari dalam. Darel menggedor-gedor pintu itu, khawatir terjadi sesuatu kepada Mentari.
"Honeyy buka pintunya!!!!!" sangat khawatir.
"Adiii!!! Harrii!!! bawakan kunci cadangan kamar mandi iniii!!" teriak Darel.
Tidak berselang lama, Adi dan Hari datang dengan membawa kunci cadangan. Ketika hendak memasukkan kunci tiba-tiba...
Ceklekkkk....
Pintu dibuka dari dalam.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Darel khawatir.
__ADS_1
"Emm, aku.....akuu!!!" bingung mau menjelaskan bagaimana.
"T...tuannn!!! Darahhh!!!" tunjuk Harri ke baju Mentari yang terkena bercak darah.