Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 170


__ADS_3

Di dalam apartemen, Pretty bersorak kegirangan. Dia berpikir Darel membelikannya apartemen karena dia masih memiliki rasa terhadapnya. Namun yang tidak Pretty ketahui itu adalah siasat Darel agar Pretty berpikir demikian sehingga dia tidak melarikan diri dari apartemen ini.


"Bagus Pretty, sepertinya masih ada sedikit celah untukmu merebut kembali harta karunmu!!!" ucap Pretty sembari memainkan gelas wine ditangannya.


"Siapa sih yang tidak tergoda dengan tubuh sexy ku ini? sekali aku memperlihatkan lekuk tubuhku, maka semua pria akan bertekuk lutut di hadapanku!" tertawa bangga.


"Tunggu saja Mentari, tidak lama lagi aku akan merebut Darelku darimu!" meneguk habis wine dalam gelas ditangannya.


Drama kaki terluka sudah diakhiri Pretty beberapa hari yang lalu. Namun Darel tidak tinggal diam, dia tetap membuat Pretty meminum obat itu dengan cara dicampurkan kedalam makanan yang akan dia makan.


Setiap harinya akan ada anak buah Darel yang secara khusus mengantarkan sarapan, makan siang dan makan malam untuk Pretty yang sudah dicampur obat yang bisa membuat kemandulan.


Pretty tidak menaruh curiga sama sekali karena dia pikir itu karena Darel masih mencintainya makanya dia menyuruh pelayan untuk membawakannya makanan setiap hari.


Botol wine dihadapannya yang sudah hampir habis itu menjadi teman Pretty merayakan keberhasilannya yang semu.


Ding......dong.....


"Bentar!!!!" terkejut bahkan hampir tersedak wine.


"Duh sialan, gue lupa jam lagii!!!!!" terbangun dari duduknya.


Pretty dengan panik langsung menyingkirkan botol dan gelas bekas wine dari atas meja lalu menyembunyikannya. Ditengah kepanikannya, seseorang dari balik pintu terus menekan bel pintu hingga akhirnya Pretty membuka pintunya.


"Apa anda melakukan sesuatu nona? kenapa lama sekali anda membuka pintunya?" tanya Aqis bawahan Lukas.


Aqis dan juga seorang pelayan wanita bertugas mengantarkan makanan kepada Pretty sesuai jam yang sudah diatur Darel sebelumnya. Jika Pretty ingin sesuatu Aqis diminta untuk menuruti kemauannya meskipun dengan setengah hati.


"Em, tidak! aku hanya habis tidur tadi."


"Tidur? tapi wajah anda tidak memperlihatkan seseorang habis bangun tidur!" sindir Aqis.


Pretty panik. Dia segera memutar otaknya mencari alasan yang cukup logis.


"Ah, sudahlah! ini makan siang untuk anda! juga cemilan yang anda inginkan!" ucap Aqis.


Pretty menerima nampan berisi makanan dan cemilan dari pelayan wanita.


"Hem, ya makasih!"


"Oh ya, apa Darel akan menginginkan?" tanya Pretty dengan tidak tahu diri.


"Tuan Darel dan nona Mentari beserta sahabatnya tengah melakukan liburan. Ini ada kartu pemberian tuan, bisa anda gunakan sesuka anda!" memberikan kartu kredit.


"Aaaa, serius ini buat gue???!!!!" teriak kesetanan.


"Iya, kalau gitu kami permisi dulu!" ucap Aqis lalu pergi.

__ADS_1


Pretty langsung menutup pintu apartemennya dengan keras lalu menjatuhkan dirinya disofa sambil terus memandang kartu kredit pemberian Darel.


"Sumpah ini gue nggak mimpi kannn?!!" menyubit tangannya sendiri.


"Auuu!!! gue nggak mimpi!! aaaaa!!!!" teriak Pretty kegirangan.


"Dengan kartu kredit ini gue bisa belanja apapun yang gue mau!!!!"


Beralih ketempat Aqis yang tengah berada didalam lift.


"Tuan, bolehkah saya bertanya sesuatu?" tanya pelayan itu yang bernama Mina.


"Boleh, katakan saja!" ucap Aqis.


"Kenapa tuan Darel memberikan wanita itu kartu kredit? apa ini tidak berlebihan? maksud saya bukannya nona muda tidak mengetahui ini semua, takutnya nanti malah terjadi salah paham!"


"Aku juga rasa seperti itu. Tapi bagaimana lagi, kita hanya bisa menjalankan tugas kita. Dan dari yang aku dengar dari tuan Lukas, nona Pretty pernah diketahui dekat dengan Dendi."


"Hah, apa?" terkejut.


"Dendi, yang itu?" tanya Mina terkejut.


"Ya, dan mungkin itu juga salah satu alasannya mengapa tuan Darel tidak langsung menghabisinya meskipun keberadaannya bisa sangat membahayakan." jelas Aqis.


"Semoga saja hubungan tuan dan nona muda tidak diterpa masalah lagi!" ucap Mina.


********


Darel dan Zanu sudah sampai di bandara. Mereka masih harus menempuh perjalanan selama 45 menit baru sampai di pulau milik Zanu. Pulau itu jauh dari keramaian dan dikelilingi lautan yang indah. Dulu Zanu dan sahabatnya sering ke sana untuk sekedar menenangkan diri dan juga berlibur.


Sesampainya mereka di pulau Zanu, Arul dan yang lain langsung menghampiri mereka.


"Hei kalian lama sekali?" celoteh Arul.


"Jangan salahkan kami! kami sudah berusaha cepat tadi!" ucap Zanu.


"Ya sudahlah, ayo kita masuk!" ucap Tomi.


Di pulau itu terdapat sebuah rumah yang mewah. Begitu Zanu membuka rumah itu semua terkejut dengan keindahan didalam rumah.


"Rumah ini tidak pernah berubah ya! masih sama seperti dulu!" ucap Tomi menatap sekeliling.


"Benar! saat aku meninggalkan Indonesia, aku menyuruh pak Cakra dan anak buahnya untuk menjaga serta merawat rumah ini. Semua barang-barang dan perabotan masih sama seperti dulu, tersusun pada tempatnya." jelas Zanu yang juga menatap rumah yang penuh kenangan manis itu.


"Oh ya kamar kalian masih sama ya." berkata kepada sahabatnya.


"Disini cowok ada dibawah, sedangkan kamar cewek ada diatas. Kalian boleh memilih sendiri kamar yang mau kalian tinggali semua sudah dibersihkan kok!" ucap Zanu.

__ADS_1


Semua orang pun berpencar memasuki kamar masing-masing. Arul membawa Anisa melihat kamarnya dulu di rumah itu. Begitu juga Darel.


"Sayang, ini kamar kamu?" tanya Mentari.


"Gimana, kamu suka?" tanya Darel sembari menyenderkan bahunya didepan pintu.


"Suka banget!!!! mana ada bunga-bunganya lagi kayak pengantin baru aja!" ucap Mentari.


Darel mendekatkan langkahnya kearah Mentari, memeluknya dari belakang dengan begitu mesra.


"Ini juga bulan madu untuk kita. Karena kan dulu bulan madu kita yang pertama gagal. Nah kalau yang ini benar-benar bulan madu!" sembari mengecup lembut tengkuk Mentari.


"Sayang jangan begitu!"


"Kenapa? aku kan suamimu! aku bebas menyentuhmu kapanpun aku mau!" ucap Darel sembari membalikkan tubuh Mentari hingga menghadapnya.


Lum***n kecil berhasil mendarat mulut Mentari. Semakin lama menjadi semakin liar.


Brakkk......


"Oh maaf tuan kami tidak melihat!!!!" ucap Adi dan Harri yang langsung membalikkan badan sambil menutup mata mereka dengan tangan.


"Sial!! kalian berdua ini kenapa sih, selalu saja mengacaukan momen indah ku!!!!" omel Darel dengan tatapan tajamnya.


Zanu, Tomi, Bagas dan Rohan yang baru saja keluar dari kamar mereka langsung menghampiri kamar Darel karena penasaran.


"Ada apa Darel?" tanya Rohan.


"Mereka berdua ini mengacaukan momen romantis saja!" ucap Darel.


Berbeda dengan Darel yang kesal, Mentari justru malu karena momen romantisnya dilihat banyak orang apalagi waktu panas-panasnya tadi.


"Hahahaha, rasain tuh!!! salah sendiri baru nyampe juga udah main nyosor aja!!!!" ucap Tomi tertawa dengan keras.


"Ahh, diamlah! berisik!" mendengus.


"Ada apa?" menatap kearah Adi dan Harri.


"Emm, ada hal penting tuan!" ucap Harri.


Harri mendekati Darel lalu membisikkan sesuatu kepadanya. Setelah itu wajah Darel berubah serius. Tomi, Rohan, Dan Zanu juga ikut serius. Hanya Mentari yang tidak mengetahui apa yang terjadi saat ini.


"Baiklah kita bicarakan itu nanti!" ucap Darel.


"Sayang, aku ada urusan sebentar kalian bisa keluar untuk makan siang. Pak Cakra dan bik Jum akan membantu kalian." ucap Darel.


Dengan terpaksa Mentari menganggukkan kepalanya melihat kepergian Darel beserta sahabatnya.

__ADS_1


Sebenarnya apa yang terjadi sih? batin Mentari.


__ADS_2