
"Cinta! sihir itu adalah cinta, Amira!" jawab Lukas.
Amira tersenyum getir saat Lukas mengatakan hal itu. Cinta? apakah cinta itu menyakitkan? apakah sifat cinta adalah kesakitan? mengapa dia harus merasakan jatuhnya mencintai?! Amira mau dicintai dan mencintai tanpa merasakan jatuhnya mencintai.
"Tolong beri aku kesempatan lagi, Mira!" mohon Lukas.
"Maafkan aku! sakit yang kau goreskan terlalu membekas dihatiku, hingga aku takut memulai kembali sebuah hubungan." akui Amira.
Amira memang setrauma itu mengenai hubungan percintaan. Dia takut akan berakhir sama meskipun berbeda pria. Banyak pria yang berusaha mendekatinya namun lagi-lagi Amira teringat kenangan buruknya hingga dia memilih menjauh dari pria itu.
"Aku akan mengobati lukamu! aku yang menyebabkan luka itu, aku pula yang membuatnya kembali menganga, dan aku juga yang akan mengobatinya hingga sembuh." ucap Lukas bersungguh-sungguh.
Lukas pergi dari panti asuhan itu. Perasaannya tengah kalut dan dengan cepat dia melaju meninggalkan panti asuhan. Amira yang melihat hal itu menjadi sedikit was-was. Meskipun telah berpisah cukup lama, Amira masih mengingat kebiasaan Lukas jika sedang kesal. Lukas akan melampiaskan amarahnya pada jalanan. Ya, Lukas akan mengemudi dengan kecepatan penuh hingga emosinya mereda. Itu salah satu hal yang paling sering Lukas lakukan jika tengah kesal.
"Lukas! aku harap kau tidak apa-apa!" ucap Amira memegang dadanya.
Entah mengapa perasaannya tidak tenang, terlebih melihat Lukas yang pergi seperti tadi. Hampir setengah jam lamanya, Amira yang saat itu tengah bermain bersama anak-anak panti didatangi seseorang wanita.
"Amira!!!!" panggil wanita itu tergesa-gesa berlari ke arah Amira.
"Ada apa, Lin? kok kamu kayak dikejar hantu gitu?" tanya Amira.
Wanita itu bernama Linlin. Gadis blasteran Indonesia Jepang yang menjadi teman Amira di sini.
"Itu.. tadi...anu....apa...." ucap Linlin terbata.
"Tenang dulu, Lin! bicara yang jelas, aku nggak paham kamu ngomong apa." ucap Amira.
"Ada kecelakaan di perempatan depan. Seorang pria, mobil depannya ringsek." ucap Linlin.
"Kecelakaan?! siapa?! b..bagaimana ciri-ciri pria itu?" tanya Amira.
Firasatnya mengatakan bahwa pria itu adalah Lukas. Entah ikatan batin atau apa, namun Amira sangat yakin bahwa pria itu adalah Lukas.
"Dia memakai kaos toska." ucap Linlin.
"Baju itu aku yang beli di mall, dan aku yang memaksanya untuk membeli!" sahut Amira.
Ya, baju yang dikenakan Lukas tadi adalah pemberian Amira saat awal-awal berpacaran dahulu. Lukas tidak menyukai warna itu, itu adalah warna kesukaan Amira. Hingga Lukas pun ikut menyukai warna tersebut. Bahkan sering sekali dipakai oleh Lukas.
"Dan ada fotomu didalam dompetnya! namanya kalau nggak salah...Lakas?! emm...Nakas? eh kok Nakas sih! duh siapa sih?! pokoknya kas-kas gitu namanya!" ucap Linlin yang lupa nama yang tertera di KTP pria yang mengalami kecelakaan di perempatan tadi.
__ADS_1
Linlin tadi sempat melihat sedikit kartu identitas pria itu, dan dia langsung fokus pada sebuah foto yang terdapat sosok yang sangat dia kenali, yaitu Amira. Langsung saja Linlin menuju ke panti asuhan untuk memberi tahukan hal ini kepada Amira.
"Lukas?! apa nama pria itu Lukas?!" tanya Amira.
"Nahh, iya! Lukas!! namanya Lukas!" ucap Linlin.
"Lin, aku titip anak-anak dulu yaa!" ucap Amira.
"Oh, iya! dia dibawa ke rumah sakit xxx!" ucap Linlin memberitahu rumah sakit dimana Lukas dibawa.
"Makasih!" ucap Amira.
Amira bergegas memesan sebuah ojek online. Tidak sampai sepuluh menit ojek yang dia pesan sudah sampai karena memang lokasi ojek itu tidak jauh dari lokasi Amira.
"Pak, agak cepat yaa!" pinta Amira saat telah menaiki ojek online tersebut.
Dengan sigap ojek online yang dipesan Amira melaju memecah ramainya lalu lintas siang itu. Tidak sampai lima belas menit, Amira telah sampai di rumah sakit yang dimaksud Linlin.
"Ini, pak! makasih yaa!" ucap Amira memberikan ongkos kepada ojek online itu.
Amira masuk kedalam rumah sakit itu lalu menuju resepsionis.
"Permisi, mbak! boleh tanya ruangan atas nama Lukas?" tanya Amira.
"Iya, mbak!" sahut Amira.
"Sudah dipindahkan ke rumah sakit xxx mbak! baru saja." ucap resepsionis itu.
"Baiklah! terimakasih ya!" ucap Amira.
Amira keluar lagi. Dilihatnya bapak ojek online tadi masih berada di sana dan hendak pergi.
"Pakkk!! berhenti!!!" panggil Amira.
"Ya, neng?" tanya bapak itu yang langsung ngerem mendadak.
"Pak, antarkan ke rumah sakit xxx, ya!" ucap Amira.
"Oh, mari neng!" ucap bapak itu kembali memberikan helm kepada Amira.
Mereka kembali melaju menuju rumah sakit xxx.
__ADS_1
********
Darel, Adi, Harri terlihat cemas disamping Lukas yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Tadi Darel mendapatkan panggilan telepon dari Bagas. Bagas memberitahu bahwa Lukas mengalami kecelakaan. Darel terkejut lalu bertanya darimana Bagas tahu dan Bagas menjawab bahwa ada rekan sesama dokternya disalah satu rumah sakit disana yang mengenali Lukas. Dan Bagas meminta Lukas dipindahkan ke rumah sakitnya saja. Darel pun segera menuju rumah sakit untuk melihat kondisi Lukas.
"Tenang saja! dia baik-baik saja kok! hanya luka sedikit di bagian kepala dan ada cedera di bagian lengannya." ucap Bagas.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Darel.
"Salah saksi mata yang ada tempat kejadian mengatakan bahwa Lukas melaju dengan sangat kencang hingga tidak melihat bahwa lampu lalulintas sudah berubah warna menjadi merah, alhasil dia ditabrak dari arah samping kanan hingga membuat lengan kanannya mengalami cidera lalu mobil Lukas menabrak pohon didekat sana hingga membuat kepalanya luka." jelas Bagas.
"Tadi Lukas kan anda minta untuk mengunjungi panti asuhan tuan? mungkin dia dan Amira mengalami cekcok hingga Lukas pergi dengan kesal." cerocos Harri.
"Hmm, bisa jadi itu tuan!" timpal Adi membenarkan ucapan Harri.
"Haihh, kalau mereka tidak bersatu lagi jatah ku bisa dalam bahaya!" keluh Darel.
"Sabar tuan!" ucap Adi.
"Lukas!!!" teriak seorang wanita yang tiba-tiba memasuki ruangan Lukas.
"T..tuan Darel?! maaf tuan, saya tidak tahu kalau anda ada didalam." ucap wanita itu menunduk malu.
Dia merutuki kebodohannya. Seharusnya dia memeriksa dulu tadi sebelum memasuki ruangan bukan main masuk saja.
"Diaaa..." menunjuk ke arah wanita itu.
"Dia Amira, tuan." ucap Adi.
"Ah, anda nona Amira? silahkan jenguk Lukas, mungkin dia akan segera siuman saat anda berada didekatnya." ucap Darel.
"Anda tidak perlu se formal itu pada saya, tuan. Saya bukan apa-apa jika dibandingkan dengan anda." ucap Amira.
"Ah, baiklah! kami akan keluar dulu!" ucap Darel.
Darel, Adi, dan Harri keluar dari ruangan itu bergantian meninggalkan Amira sendirian. Begitu ketiga pria itu telah pergi, Amira langsung mendekat ke arah Lukas. Dilihatnya secara menyeluruh wajah lelaki yang masih sangat dia cintai itu. Bohong jika Amira tidak ada rasa lagi kepada Lukas. Sudah Amira katakan bukan kalau dia sangat mencintai Lukas, namun juga membenci pria itu.
"Lukas! ayo bangun! ini aku, Amira!" ucap Amira.
Setitik air mata membasahi pipinya. Amira sangat khawatir terhadap keselamatan Lukas. Pikirannya melayang membayangkan hal terburuk yang dialami pria itu selama perjalanan kesini. Amira takut! dia sangat takut ditinggalkan lagi. Namun dia terlalu gengsi mengakuinya. Mengakui bahwa dirinya masih sangat peduli dengan Lukas. Bahwa bencinya kini dikalahkan oleh rasa cintanya.
"Lukas! kumohon bangunlah!! jangan buat aku semakin khawatir!!" ucap Amira ditengah Isak tangisnya.
__ADS_1
Satu tangan Amira mengelus rambut Lukas dan tangannya yang lain menggenggam erat tangan Lukas. Amira bingung dengan perasaannya saat ini. Mengapa dia bisa sesakit ini melihat Lukas terbaring lemah di ranjang rumah sakit?