
Mentari, Daniar, dan Ainur duduk di belakang rumah. Terdapat beberapa pohon yang rindang juga bunga-bunga yang sangag indah bermekaran disana. Nek Murti dan Kek Rahmat memang suka berkebun. Hal itu jugalah yang diturunkan pada anak dan cucunya. Tak heran jika banyak tanaman sayuran seperti sawi, tomat, kangkung, cabai rawit, cabai kriting, terong, dan masih banyak lagi. Selain sayuran, lahan kosong seluas lima ratus meter itu ditumbuhi beberapa pohon berbuah seperti pohon nangka, pohon jambu air darsono, pohon jambu kristal, pohon mangga, pohon belimbing, dan beberapa lagi yang lain.
"Eh, aku kebelet nih! aku ke kamar mandi sebentar yaa!" ucap Daniar meringis lalu bergegas ke kamar kecil.
Setelah kepergian Daniar, Mentari dan Ainur terlihat saling diam.
"Jadi, kamu yang namanya Mentari?" tanya Ainur setelah cukup lama mereka saling diam.
"Iya, salam kenal!" ucap Mentari ramah.
"Cih!! nggak usah sok akrab dengan saya!" ucap Ainur yang terlihat malas dengan Mentari.
Mentari yang semula tersenyum itu mendadak senyumnya menghilang mendengar perkataan Ainur.
"Aku tegasin sekali lagi yaa! jauhi Galih! aku muak setiap kali kami berbicara baik secara langsung maupun chat/telepon, dia selalu membahas soal Mentari, Mentari, Mentari, dan Mentari!! muak tau nggak aku dengernya!" ucap Ainur yang seolah melampiaskan kemarahannya pada Mentari.
Bukan salah Mentari jika Galih terus membicarakan dirinya. Toh Mentari dan Galih tidak pernah seakrab dulu meskipun masih bertegur sapa. Mentari takut kalau-kalau kejadian dulu kembali menimpa padanya, maka dari itu dia menjaga jarak dari Galih. Hal itu juga didukung oleh keluarga Daniar yang lain.
"Maaf, tapi aku tidak tahu kalau kak Galih selalu membicarakan diriku saat bersamamu! aku kira dengan aku menjauhi dirinya, dia bisa melupakan aku! aku sudah bersuami, aku juga paham batasanku, jadi kamu tenang saja!" ucap Mentari.
Entah keberanian darimana Mentari bisa mengatakan hal itu. Bahkan nada bicaranya pun terdengar ketus menanggapi ucapan Ainur.
"Kamu tidak bersalah yaa, sudah mengganggu hubunganku dengan Galih! kau itu bukan bagian dari keluarga ini, jadi kenapa kamu masih dekat-dekat dengan keluarga ini?!" ucap Ainur kesal karena ucapan Mentari.
"Maaf ya nona Ainur! sepetinya anda salah orang jika mau menyudutkan diriku! aku memang orang asing, tapi aku telah diangkat menjadi putri keluarga ini! sedangkan kamu sendiri? ada hak apa kamu menceramahi diriku untuk meninggalkan keluargaku? kau sendiri juga orang asing yang bukan siapa-siapa selain kekasih putra keluarga ini! jadi jangan sok berkuasa!" jawab Mentari sangat ketus.
"Kauuu!!!"
"Kalian bicara apa? kelihatannya sangat serius!" tanya Daniar yang baru saja datang.
"Tidak kok! Ainur hanya bertanya saja apa yang disukai dan tidak disukai oleh kak Galih! aku menjawab setahuku saja!" jawab Mentari.
Ada hal yang tidak pernah dilakukan Mentari. Jika ada yang memusuhinya, dia tidak akan mengajak orang terdekatnya untuk ikut memusuhi orang itu, kecuali sisi buruknya terlihat oleh orang lain. Seperti Surti. Mentari tidak pernah mengadu kepada keluarga Daniar kalau Surti selalu menjelekkan dirinya, membulli dirinya. Tapi keluarga Daniar tahu sendiri bagaimana tingkah buruk Surti.
"Ah, begitu!" ucap Daniar.
__ADS_1
Daniar merasa ada yang aneh dengan jawaban Mentari barusan. Sepertinya Mentari menyembunyikan sesuatu tentang wanita yang dibawa kakaknya ini, batin Daniar. Tiba-tiba terdengar dering ponsel dari ponsel Mentari. Mentari menggeser tombol untuk menerima panggilan yang ternyata dari Laila itu.
"Hallo, ah iya aku lupa! bisa kirimkan laporannya sekarang? aku sedang sibuk, jadi tidak bisa datang! baiklah, terimakasih, La!" ucap Mentari kemudian memutuskan panggilan.
Ting...
Sebuah pesan masuk dari Laila. Mentari membuka pesan yang berisi sebuah file itu.
"Siapa?" tanya Daniar.
"Dari Laila! aku lupa kalau hari ini mau ke toko. Jadi aku suruh mengirimkan laporannya saja agar aku periksa." ucap Mentari.
"Oh ya Daniar, kamu kok lebih kusam sih dari sebelum hamil?" tanya Ainur.
"Kusam? maksudmu?" tanya Daniar yang merasa tersinggung dengan perkataan Ainur.
"Ah, bukan-bukan! bukan begitu maksudku! aku punya produk yang cocok untuk ibu hamil. Jadi suamimu bakal tambah sayang sama kamu!" ralat Ainur.
"Tidak terimakasih! aku jelek begini saja suamiku sudah cinta mati, apalagi aku cantik!! bisa mati beneran dia!!" dengus Daniar.
"Ah, baiklah!! maafkan aku! aku tidak bermaksud menyinggung!" ucap Ainur mengiba.
"Sudahlah! Tari, ayo pergi! tadi nenek buat sweater untuk kita!" ajak Daniar.
Daniar dan Mentari meninggalkan Ainur sendirian disana. Melihat kedekatan Daniar dan Mentari membuat Ainur meradang.
"Apa hebatnya sih si Mentari itu? aku lebih cantik, lebih segalanya dari dia, tapi kenapa keluarga ini seolah mendewikan dirinyaa!!" ucap Ainur kesal.
********
Mentari baru diantar pulang saat menjelang maghrib. Baru saja memasuki rumah, Darel sudah menunggunya dengan wajah yang...entahlah.
"Kamu kenapa nggak angkat teleponku? chat juga nggak dibales?! kemana aja sihh??" tanya Darel.
Dari wajahnya terlihat kekhawatiran kepada istrinya yang tengah hamil muda.
__ADS_1
"Tadi kan aku udah bilang ke rumah nenek. Bateraiku juga ada didalam tas jadi nggak kedengaran, maaf yaa!" ucap Mentari.
"Hufttt!! yaudah kamu mandi gih, sebelum maghrib!" ucap Darel.
"Oke sayangg!!" ucap Mentari lalu pergi ke kamarnya.
Sebenarnya Darel ingin sekali menerkam istrinya itu. Semenjak hamil ini wajahnya semakin imut dan menggemaskan. Untung saja Darel bukan kaniba*, jika tidak bisa-bisa Mentari habis dia makan.
Hari ini Mentari sangat lelah. Sehabis makan malam bersama dia langsung tidur di kamarnya dan membiarkan Darel menemani Iwang belajar.
Ceklek....
Mentari terbangun dari tidurnya karena merasa ada yang memijat kakinya.
"Ehh, sayang?!" tanya Mentari dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.
"Udah tidur aja lagi! kamu pasti capek kan? biar aku pijitin!" ucap Darel.
"Kamu tau aja kalau aku capek! makasih yaa!" ucap Mentari lalu kembali membaringkan tubuhnya.
Darel memijat tubuh Mentari selama kurang lebih satu jam. Ketika sampai di bagian punggung Mentari, Darel dengan sengaja mengusap payudar* Mentari hingga menimbulkan suatu gelora yang dirasakan oleh Mentari.
"Kamu mijitnya yang bener dongg!!" omel Mentari.
"Hehehe, iya-iya, sayangg!!" ucap Darel.
Namun bukan Darel namanya kalau dia langsung menurut. Malahan Darel dengan sengaja semakin memperdalam remasannya di area itu membuat gejolak di hari Mentari semakin meningkat. Melihat reaksi istrinya yang mulai menikmati ulah tangan usilnya itu, Darel mulai memilin pucuknya membuat Mentari mendesa* kenikmatan.
Tangan Darel yang menganggur membalikkan tubuh Mentari dengan perlahan sehingga Mentari sekarang menghadap padanya. Dengan gemas dia mulai memainkan pu**** milik istrinya dengan gemas membuat sang pemilik kelonjakan akibat kenikmatan itu.
Tidak berhenti sampai disitu, tangannya juga mulai turun ke area ***** Mentari dan mengorek-ngorek isi didalamnya. ******* nikmat pun semakin terdengar dari mulut Mentari.
"Sayang, aku pengenn!!" bisik Darel dengan suara yang parau.
Mentari menggenggam senjata milik Darel dan memasukkannya kedalam lubang surgawi miliknya. Akhirnya, malam itu Darel kembali mendapatkan jatahnya setelah berpuasa beberapa hari. Bahkan malam ini mereka melakukannya sampai pagi hari baru menyelesaikan pertempuran nikmat itu. Meski begitu, Darel melakukannya dengan sangat hati-hati karena tidak ingin melukai calon buah hatinya yang ada didalam rahim Mentari.
__ADS_1