
Darel sudah bangun dari pingsan. Dia meraih sesuatu yang ada dikepalanya.
Kompres? apa Mentari yang melakukannya? batin Darel.
Darel melihat ke sekeliling, tidak ada siapa-siapa selain dirinya yang terbaring disofa.
"Oh kau sudah bangun!" tanya Daniar yang baru muncul dari arah dapur.
Ah, benar! aroma masakan, pasti Mentari juga ada didapur!
Darel menjawab dengan anggukan kepala pelan.
"Dimana Mentari!" tanya Darel.
"Tuh ada dikamar, masuk aja!" ucap Daniar ketus kemudian berlalu pergi.
Dikamar? apa ini artinya dia dimaafkan? batin Darel.
Dengan langkah gontai Darel berjalan menuju kamar Daniar.
Ceklekkk......
Darel mulai membuka pintu itu, memasukkan sedikit kepalanya.
"Tari?!"
"Masuk!" ucap Mentari tanpa memperdulikan Darel.
Darel mulai memasuki kamar, berjalan pelan. Raut wajahnya sedikit takut tatkala melihat ekspresi Mentari yang datar. Darel tidak bisa membaca apa yang akan Mentari bicarakan padanya.
Kenapa auranya seperti tengah ada diruang interogasi? Tari?! kenapa wajahmu seperti itu? kau terlihat menakutkan dengan raut wajah dingin dan sikap bodo amatmu itu! batin Darel ngeri.
"Tari, aku..."
Tari menoleh kearah Darel, tatapannya tajam kearah Darel membuat Darel lupa apa yang ingin dia katakan.
"Jadi benar semuanya!" tanya Mentari datar.
"A...apa?" terkejut.
"Haihh, jadi benar semuanya? kalau kau memberikan kemewahan kepada wanita peng*oda itu?" tanya Mentari mengulai pertanyaannya.
"Dengarkan aku dulu, ini tidak seperti yang dia katakan!" ucap Darel meraih tangan Mentari lalu menggenggamnya.
"Lepas!!!" ucap Mentari melepaskan tangannya dari genggaman tangan Darel.
"Oke...oke! aku akui aku memberikan semua itu tapi..." terpotong.
__ADS_1
"Kenapa kau melakukannya? aku kurangku selama ini Darel? kau tahu rasanya jadi aku saat tahu suamiku sendiri bercin*a dengan jal*ng?!" teriak Mentari penuh emosi.
"Tidak! aku tidak pernah melakukannya, Tari! percayalah padaku!" ucap Darel menangkup wajah Mentari dengan kedua tangannya.
"Bagaimana aku bisa percaya?! bagaimana aku bisa percaya lagi padamu setelah apa yang kau lakukan dibelakang ku? aku masih tidak percaya saat wanita itu mengatakannya. Namun aku sungguh kecewa saat bawahanmu bernama Aqis yang mengatakannya!" ucap Mentari mulai berkaca-kaca.
Tidak bisa dipungkiri, berkata kasar kepada Darel membuat dadanya ikut sakit. Kenapa harus sesakit ini? kenapa aku selalu lemah oleh cintaku padamu? tidak! cukup! tidak untuk kali ini! aku harus tegas! pikir Mentari saat itu.
"Aqis? kapan kau bertemu dengannya?" tanya Darel.
"Kemarin! setelah aku tahu faktanya dari wanita itu! kau sangat pintar berbohong ya Darel! bahkan kau berbohong dengan mengatasnamakan kak Lukas dalam sandiwara mu! hebat!!" ucap Mentari tersenyum getir.
Prok...prok...prok...
"Wah!! hebat Darel!! kau sungguh hebat! bahkan satu dunia pun tertipu dengan sandiwara mu itu!" ucap Mentari memuji Darel.
Entah mengapa melihat Mentari seperti itu malah semakin membuat Darel takut. Senyumnya seperti tengah dipaksakan.
"Aku muak dengan semua drama dan air mata ini Darel!" ucap Mentari datar namun menatap tajam kearah Darel dengan tatapan kebencian.
"Tari aku mohon jangan menatapku seperti itu! aku tidak kuat menahannya!" ucap Darel memohon.
"Lepaskan aku!"
Deg....
"Apa?!" tanya Darel tidak bisa menerima apa yang dia dengar barusan.
"Lepaskan aku! dan kau bisa kembali padanya!" ucap Mentari menatap sendu kearah Darel.
"Tidak! jangan katakan itu! kita bisa perbaiki semuanya! aku janji..... aku tidak akan melakukannya lagi, aku janji!! kita mulai semuanya dari awal lagi!" ucap Darel memohon.
Meskipun Darel memohon kepada Mentari bahkan sampai seribu kali pun, Mentari sudah terlanjur kecewa kepada Darel. Keinginan mengakhiri semuanya adalah jalan yang terbaik untuk keduanya. Setidaknya dengan seperti ini, mereka tidak saling menyakiti.
"Tari apapun yang kau mau aku akan menurutimu! pukul!! pukul aku bila kau mau!"
Darel meraih kedua tangan Mentari lalu mengarahkan tangan Mentari untuk menamparnya berulang kali.
"Pukul aku sampai kau puas!! marahi aku! marahi aku, Tari! tapi jangan minta perpisahan! aku tidak bisa!! aku tidak sanggup! aku...aku bisa gila jika itu terjadi!!" ucap Darel mulai menangis.
"LEPASSS!!!!" teriak Mentari menarik paksa tangannya dari Darel.
Hampir saja dia luluh karena air mata Darel. Untung saja dia sudah membatasi hatinya dengan tembok sekuat baja agar tidak mudah luluh.
Kau mudah membuat kesalahan! kau juga mudah meminta maaf! dan aku juga sudah sering memaafkanmu! tidak Darel! kali ini tidak! demi kesehatan batinku, aku memilih mundur! aku rela melepaskan mu! batin Mentari ikut meneteskan air mata.
"Seharusnya kau paham resiko perbuatanmu Darel! jika semua orang berbuat kesalahan seperti yang kau lakukan, lalu dengan meminta maaf semuanya selesai begitu? sakit hati ini akan tetap ada Darel! goresan dihati ini tidak akan pernah hilang! kau adalah kesakitan yang dengan sengaja aku pelihara!" ucap Mentari penuh emosi.
__ADS_1
"Tidak, Tari! jangan seperti ini! aku minta maaf! aku janji tidak akan mengulanginya lagi!!" rengek Darel.
"Kau pergilah dari hadapanku sekarang! aku tidak ingin menatap wajahmu!" ucap Mentari mengalihkan pandangannya ke sisi lain.
"Tari?!"
"PERGI DARELL!!!!" usir Mentari.
"Maaf! maaf untuk yang kesekian kalinya! maaf telah membuatmu kecewa! aku akan keluar!" ucap Darel pelan namun sangat menusuk hati Mentari.
Darel keluar dari kamar itu dengan langkah gontai. Begitu menyesakkan didalam sana hingga untuk bernafas saja sangat susah untuk Darel.
Pisah? apakah harus dia melepaskan Mentari? tidak! jika dia melepaskan semestanya, dunianya bisa hancur lebur! pikir Darel.
"Aakkkhhhh.....si*l!!!!!" teriak Darel frustasi.
"Ada apa Darel?!" tanya papa Daniar yang menghampiri Darel dari arah luar.
"Tidak!" ucap Darel menyeka air matanya dengan kasar.
"Begitulah wanita! kau harus memperlakukannya dengan lembut! jangan kau sakiti dia! karena satu kali kesakitan yang kau torehkan dihatinya akan selalu dia ingat sampai kapanpun! hati wanita itu sangat rapuh namun juga lebih kuat dari yang kita para pria bisa pikirkan." nasehat papa Daniar.
"Maaf, pa! aku terlalu ceroboh dengan menanggapi masalahku! aku pikir dengan seperti ini bisa membalaskan sakit hatiku! tapi ternyata malah membuat rumah tanggaku berantakan!" ucap Darel menunduk lesu.
"Makanya kalau punya otak itu dipakai! percuma ada otak kalau nggak bisa digunain! harusnya mikir jangka panjang, resikonya seperti apa. Berhati-hati dalam melangkah itu perlu agar tidak terjatuh! kalau sudah begini mau salahkan siapa? tidak mungkin kan mau menyalahkan nenek lampir itu!" ucap Daniar ikut berbicara, datang entah dari mana.
"Hustt! Niar! kendalikan mulutmu itu! ini anak kalau sudah kesal omongannya pedas sekali!" ucap mama Daniar memperingati Daniar.
"Tidak, ma! Daniar benar! aku kurang hati-hati dalam melangkah! makanya aku terjatuh kedalam lubang yang sangat dalam!" ucap Darel berjalan pergi.
"Kamu mau kemana?" tanya papa Daniar.
"Aku....aku mau pulang saja pa, Mentari juga sepertinya tidak ingin berbicara padaku untuk saat ini. Sementara aku titip dia ya disini!" ucap Darel tanpa menoleh.
"Tapi kamu kan belum sembuh benar! setidaknya makanlah sesuatu dulu!" ucap mama Daniar.
"Aku tidak lapar!" ucap Darel terus keluar dari rumah.
"Pa, gimana ini?" tanya mama Daniar.
"Sudah, biarkan saja dulu! ini masalah mereka! mau seperti apa akhirnya, kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung!" ucap papa Daniar tenang namun juga sedikit khawatir.
"Itu sih, punya otak serasa nggak punya aja! kesel deh jadinya!"
"Duh, Daniar! jaga mulutnya! jangan memperparah keadaan!" ucap mama Daniar.
"Ma, Darel itu udah kelewatan banget! dulu udah punya istri masih suka jajan sembarangan. Sekarang diulangi lagi, malah lebih parah! istri mana coba yang nggak sakit hati! kalau aku yang jadi istrinya sudah aku keb*ri dulu dia!" ucap Daniar sekenanya.
__ADS_1
"Hustt! jangan bicara yang tidak-tidak! sudah sana sebaiknya kamu sarapan aja sana!" ucap mama Daniar.