Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 12


__ADS_3

"SIAL!!!!! BANG*AT!!!!!!" teriak Darel memenuhi ruangan.


Suara Darel yang cukup keras itu membuat mereka yang ada diruangan menutup telinga mereka kuat-kuat.


"Hei tuan salju, apa kau mau markas ini runtuh karena teriakanmu itu?" Jack berteriak disela teriakan Darel.


Darel menghampiri Jack dengan tatapan membunuh. Aura disekitarnya berubah menjadi mencengkam.


"Kau masih bocah, jadi jangan ikut campur urusan orang dewasa!" menekankan kalimat itu sambil mencengkram leher Jack.


"Darel lepaskan dia, dia bisa mati!" ucap Tomi berusaha melepas cengkraman tangan Darel dileher Jack.


BUKKKKKKK......


Arul memukul punggung Darel dengan vas agar cengkeramannya terlepas.


Kini Darel menatap Arul tajam.


Plakkk....


Tomi menampar wajah Darel. Emosi Darel mulai menyusut. Dia mulai bisa menguasai dirinya lagi.


"Hei man! kendalikan dirimu! kau bisa menyakiti dirimu sendiri nanti!" ucap Tomi menggoncangkan bahu Darel kuat-kuat.


Darel melihat sekelilingnya. Barang-barang sudah berceceran dimana-mana. Dia beralih menatap orang-orang disana.


Matanya tertuju pada Jack yang lehernya memerah karena cengkeramannya tadi. Sedangkan Arul yang semula ketakutan menata dirinya bersikap biasa lagi.


"A...apa yang sudah aku lakukan?"


"Tidak ada, kau hanya sedang kalap saja tadi!" jawab Arul menepuk pundak sahabatnya itu.


"Hei pak salju, aku ingin memberimu saran. Sebaiknya kau turuti saja permintaan pak dokter itu. Aku rasa dia ada benarnya juga!" ucap Jack.


"Diam kau! tahu apa kau tentang masalah ini?" Darel menatap tajam Jack.


"Haih, pak tuan peot sudah menceritakan semuanya padaku! dan aku rasa kau juga sama salahnya, karena mengambil keputusan hanya melihat satu sudut saja, kau mendengar cerita dari sudut pandang tuan Zen. Aku munkin masih bocah, tapi aku berpikir dulu sebelum bertindak. Bukan sepertimu!" jelas Jack dengan kalimat terakhirnya diucapkan lirih.


"Apa kau bilang?!" Darel yang mendengar ucapan Jack itu.


"Oh, sembunyikan aku tuan!" pura-pura takut dan bersembunyi dibalik tubuh besar Tomi.


"Sudah lah man! kita ikuti saja permintaan Bagas, aku rasa dia mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui. Makanya dia berani menantang mu tadi!" ucap Tomi mengingat tatapan tajam Bagas saat berselisih paham dengan Darel tadi.


Mungkin apa yang dikatakan Bagas ada benarnya juga! batin Darel.


"Baiklah mari kita ke rumah sakit ku!" ucap Darel melangkah keluar ruangannya.


"Kemana?" ucap mereka semua serempak.


"Bukannya kalian tadi bilang agar aku menuruti permintaan Bagas? ayo kita bilang padanya!" Darel melangkah keluar.


"Sebenarnya ada apa sih dengan tuanmu itu Harri? Adi?" tanya Arul.

__ADS_1


"Entahlah tuan kami saja kadang juga tidak mengerti lada tuan Darel." ucap Harri jujur.


"Hemmm, memahami pria keras kepala itu sama halnya memahami wanita yang sedang mentruasi, sangat membingungkan!" ucap Tomi.


Mereka semua menggeleng kepala dan menghembuskan nafas berat.


Tinnn.....tin.....tin......


Suara klakson mobil.


"Hei, kalian ikut tidak?" teriak Darel dari luar markas.


"Sebaiknya kita cepat keluar daripada dia badmood lagi!" ucap Tomi memberi saran. Mereka semua menganggukkan kepala setuju.


Mereka pun keluar dan memasuki mobil masing-masing. Darel dengan Harri dan Adi berada dimobil pertama, sedangkan Tomi, Arul, dan Jack dalam mobil kedua. Bagas tadi pergi membawa mobilnya ketika dia datang bersama Harri.


********


"Tuan, tiket anda sudah saya pesankan. Lusa anda bisa kembali ke Indonesia." ucap Lutval.


"Hem, baiklah. Terimakasih ya, aku akan sangat merindukan kalian!" menerima 2 buah tiket.


"Em, tuan, boleh saya bertanya?"


"Bicaralah!" ucap Rohan


"Siapa yang akan pergi dengan anda?"


Rohan menatap wajah bingung teman sekaligus sahabat di kepolisian.


*Teman? siapa?


Semoga dengan kembalinya kami ke Indonesia, kesalahpahaman yang dulu memecah belah persahabatan kami hilang! Aku sudah tidak sabar lagi bertemu mereka semua*!


********


Mentari sibuk membolak-balikkan halaman buku novelnya. Buku yang dibelikan Daniar untuknya dulu dan selalu dia bawa kemana-mana.


Haih, aku sudah bosan dengan novel ini! sudah banyak kali aku menamatkan ceritanya. Aku sangat bosan! batin Mentari meletakkan bukunya dimeja sebelahnya.


"Ada apa nona? apa kau butuh sesuatu?" tanya Angel menghampiri Mentari.


"Aku sangat bosan disini dokter, aku ingin segera pulang. Bisakah besok aku dibolehkan pulang? aku sangat-sangat bosan disini!" mengeluh.


Nona ini sangat menggemaskan, apalagi saat berkeluh-kesah begini. Bikin pengen nyubit pipinya yang chubby itu deh,hehehe. batin Angel sambil tersenyum-senyum sendiri.


"Ada apa dokter, kenapa anda tersenyum begitu?" tanya Mentari penasaran.


"Tidak ada nona, hanya saja anda terlihat sangat menggemaskan kalau lagi jenuh begitu, hehehehe!" ucap Angel bercanda.


"Dokter kau ini..." terpotong.


Gubrakkkkk......

__ADS_1


Bagas? kenapa dia? tidak biasanya bersikap begitu? batin Angel.


"Nona, saya permisi dulu ya, sepertinya Bagas sedang ada masalah." ijin Angel.


Mentari menganggukkan kepalanya mengijinkan dan dengan segera Angel menghampiri Bagas diruangannya.


Dokter Bagas? sebelum ini dia baik-baik saja kok. Apa ada sesuatu yang terjadi ya saat dia ikut Harri tadi? batin Mentari.


Didepan pintu ruangan Bagas, Angel masih berdiri. Ragu untuk memasuki ruangan Bagas.


Apa aku masuk saja ya?


Angel mengumpulkan keberaniannya dan memasuki ruangan Bagas. Dia melihat Bagas duduk menyendiri dipojok ruangannya.


"Bagas, apa yang terjadi padamu? apa ada sesuatu yang terjadi saat kau bersama Harri tadi?" tanya Angel penasaran.


"Kenapa mereka tidak mau mengerti,Angel. Kenapa?" menahan emosi.


Mereka? siapa? siapa yang dimaksud 'mereka' oleh Bagas?


"Mereka sudah salah duga selama ini! mereka menghukum seseorang yang tidak bersalah. Dan orang yang dihukum itu sudah menjalani hukuman 5 tahun tanpa dia berbuat salah." menatap Angel lekat.


"Bagas, tenangkan dirimu dulu. Ceritakan padaku dengan jelas si....siapa yang kau maksud 'mereka' itu? aku tidak mengerti?" ucap Angel berusaha menenangkan emosi Bagas.


"Darel, Tomi, dan Arul! mereka sudah melewati batas sekarang! mereka menghukumnya tanpa bertanya dulu kejadiannya! mereka salah, salah besar!" menggoncangkan bahu Angel kuat.


Angel hanya meringis menahan sakit akibat cengkraman kuat tangan Bagas dibahunya.


Siapa sebenarnya orang yang dihukum tuan Darel? apa itu ada hubungannya dengan salah satu sahabat Bagas yang pergi entah kemana itu? tapi apa mereka tidak menyelidiki dulu? sebenarnya apa yang membuat mereka menghukum orang itu? apa kesalahannya sangat besar hingga Bagas sendiri mengatakan kalau mereka tidak adil? batin Angel mencoba mencerna kata demi kata ucapan Bagas tadi.


"Aku tahu kalau wanita jal*ng itu tidak baik untuk Darel, tapi Darel dengan bodohnya percaya padanya dan meluoakan persahabatan kami!" menjauhkan mukanya dari Angel.


Ya Tuhan beri aku petunjuk, aku sangat tidak memahami apa yang terjadi saat ini? wanita jal*ng? 'dia'? siapa? siapa yang dimaksud Bagas?


********


Mobil Bagas dan Tomi sampai diparkiran rumah sakit. Darel dan yang lainnya langsung masuk ke dalam rumah sakit.


"Adi, Harri, kalian keruangan Mentari saja, tunggu aku disana!" perintah Darel pada anak buahnya. Adi dan Harri menunduk patuh kemudian mereka menuju ruang VVIP, tempat Mentari dirawat.


"Mentari? siapa dia? apa dia pacarmu yang baru?" tanya Arul penasaran.


"Hei tuan, mana mungkin ada wanita yang betah bersama dengan tuan salju ini. Bukan hanya manusia saja, setan pun akan lari melihatnya!" goda Jack disambut tawa dari Tomi dan Arul.


Darel menatap mereka semua, dan seketika suasana menjadi senyap.


"Kalian kemari untuk mengejekku? atau untuk menyelesaikan masalah Bagas, ha" ucap Darel sinis.


"Menyelesaikan masalah dengan Bagas!" ucap mereka serempak.


"Kalau begitu jangan banyak tanya!" Darel melangkahkan kakinya menuju ruangan Bagas diikuti Tomi, Arul, dan Jack.


Dia ini apa tidak bisa lembut sedikit? aku yakin kalau dia masih bersikap begini, bisa-bisa dia jadi jomblo selamanya! batin Arul.

__ADS_1


Haih man, kurangi marahmu itu, jangan sampai karena amarahmu yang tidak terkendali kau jadi sulit mendapatkan jodoh! batin Tomi


Pak salju ini benar-benar tidak bisa diajak bercanda! benar saja kalau aku memanggilnya pak salju, gaya bicaranya saja dingin begitu. Es saja masih enak dimakan, kalau dia? apanya yang mau dimakan, sudah alot lah, hehehe. batin Jack


__ADS_2