
Srek...
Bungkusan terakhir sudah dia buka memperlihatkan kado istimewanya.
"I....ini....b...benarkah?!" tanya tuan Ardi gemetaran menatap hadiahnya.
"Apa, pah hadiah spesial dari Darel?" tanya nyonya Ardi penasaran.
Tuan Ardi masih terdiam terpana menatap kado istimewa yang benar-benar sangat istimewa itu. Matanya berkaca-kaca, mulutnya tidak bisa berucap saking terpananya dia. Semua orang yang penasaran pun mendekat ke arah tuan Ardi menengok kado Darel kecuali keluarga Daniar, Bagas dan Angel yang sudah tahu isi kado itu.
"Ha!? ini...ini...punya Tari?" tanya Randita menatap tidak percaya kepada adik dan adik iparnya itu.
Mentari tersenyum malu sedangkan Darel membalas pertanyaan kakaknya dengan anggukan kepala. Sekali lagi, Randita menatap kado itu dengan rasa tidak percaya. Penantiannya selama hampir tiga tahun ini membuahkan hasil. Dia menjadi seorang tante.
"Selamat sayang!!! mama sangat senang dengan kabar ini! bukan hanya papa yang mendapatkan kado istimewa itu tapi kita semua juga!" ucap nyonya Ardi memeluk Mentari dengan penuh kelembutan.
"Lo bakal jadi ayah, Rel?! wahhh selamat broo!!!" ucap Tomi merangkul sahabatnya itu.
"Wihhh Brian bakal ada temennya dehh!!! selamat, Rell!!" ucap Arul yang memeluk Darel bergantian dengan Tomi. Tuan Ardi menatap tajam ke arah putra pertamanya itu lalu berjalan mendekati Darel.
Plak....
"Pah, kok aku ditampar sih?! aku salah apaa??" tanya Darel sambil memegangi pipi kirinya yang panas akibat tamparan sang ayah.
Mentari, nyonya Ardi dan Randita berkerumun didekat Darel. Mentari mengelus-elus pipi Darel yang sedikit berwarna merah.
"Sayang, sakit yaa?" tanya Mentari khawatir.
"Berita sebesar ini kenapa tidak dikatakan awal-awal?! kau sadar bocah nakal!!!" omel tuan Ardi.
"Ya kan biar surprise, pa!! kalau aku bilang dari awal juga nggak bakal istimewa dongg!!" jawab Darel.
"Tari, selamat nakk!!" peluk tuan Ardi kepada menantu perempuannya.
Mentari bingung dengan sikap tuan Ardi yang begitu lembut kepadanya namun seperti musuh kepada anak laki-lakinya yang menjadi suaminya.
"Terimakasih atas kado paling berharga ini!! kau membuatku sangat bahagia, nak!! kau menjadikanku kakek lagi!!!" ucap tuan Ardi kepada Mentari.
"Sebagai hadiah atas kehamilanmu ini papa akan memberikan cabang perusahaan di Paris atas namamu dan juga sebuah rumah! oh dan juga ini!" ucap tuan Ardi merogoh dompet dari dalam sakunya lalu mengeluarkan sebuah black card dari dalam dompetnya.
"Ini untukmu!! ambil lah!" ucap tuan Ardi memberikan black card itu kepada Mentari.
Mentari ragu-ragu menerima hadiah sebegitu banyaknya dari papa mertuanya. Namun Darel mengisyaratkan untuk mengambil hadiah itu.
"Terimakasih, pa!" ucap Mentari menerima black card.
"Semuanya ayoo kita makan!!! pesta ini juga untuk menyambut kehamilan menantu kedua kuu!!!" sorak tuan Ardi gembira.
Semua orang berbahagia mendengar kabar itu. Syukurlah Tuhan mempercayakan Mentari dan Darel dengan menganugerahkan seorang anak kepada mereka.
********
Pagi itu terasa sangat sejuk. Aroma khas tanah basah akibat hujan semalam menyerebak di indra penciuman. Pepohonan yang rindang dengan sisa tetesan air hujan semalam menambah sejuk villa itu.
"Sayang..." panggil Darel dari arah belakang.
Mentari menoleh kebelakang. Saat ini Darel telah mendekapnya dari arah belakang, melingkarkan tangan kekarnya di perut Mentari yang saat ini telah tumbuh buah hati mereka.
__ADS_1
"Kamu mau sarapan apa?" tanya Darel.
"Enggak ah, aku lagi males!! kamu tadi masih mual?" tanya Mentari bersandar dengan nyaman di dada suaminya.
"Jangan gitu dong!!! kasian baby nya nanti kelaparan kalau kamu nggak makan! aku suruh buatin rendang mau?" tanya Darel.
"Emm, enggak deh!! aku lagi pengen makan sate tahu!" ucap Mentari.
"Sate tahu? emang tahu bisa dibuat sate?" tanya Darel kebingungan.
Mentari menatap Darel yang dengan polis menanyakan hal itu seolah baru pertama kali mendengar sate tahu.
"Emangnya kamu nggak tau?" ucap Mentari yang malah membalas pertanyaan Darel dengan pertanyaan kembali.
"Enggak! selama ini sate aku tau nya dari daging kambing sama ayam, udah itu doang!" jawab Darel jujur.
Mentari menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Bagaimana bisa Darel tidak tahu kalau di dunia ini ada sate tahu yang juga tidak kalah enak dari sate kambing dan sate ayam?!
"Beneran nggak tau?" tanya Mentari yang dibalas gelengan kepala cepat oleh Darel.
"Kalau olahan tahu lainnya sih aku tau! tapi kalau sate tahu....kayaknya baru dengar ini deh aku!" ucap Darel.
"Yaudah biar aku buatkan sekalian kamu coba!" ucap Mentari hendak menuju dapur.
"Eitss!! kamu disini aja makan buah yang udah aku potong tadi! biar koki yang memasak pesanan kamu, yaaa!" ucap Darel pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban Mentari.
"Ehh.....sayang!!! sayang....." panggil Mentari namun Darel malah kabur begitu saja.
"Ishh, kebiasaan deh kalau udah menjatuhkan perintah nggak bisa ditolak!" omel Mentari meskipun tidak ada yang mendengar omelannya.
Entah mengapa Mentari semalam ingin sekali memakan asam jawa. Untung saja didalam kulkas ada asam jawa yang memang disediakan untuk bumbu. Namun saat Darel membawakannya kedalam kamar mereka, Mentari sudah kembali tidur dengan pulas. Akhirnya Darel mengembalikan asam jawa itu ke dapur dan meminta pak Cokro untuk membeli asam jawa yang lebih fresh karena yang ada di dapur itu sudah di keringkan lebih dulu agar lebih awet.
"Emmm....ahh....masammmm!!!" ucap Mentari dengan ekspresi khas orang yang memakan sesuatu yang sangat asam.
"Makan apa kamu Tari?! kayaknya enak!!" ucap Daniar dari arah belakang.
"Asam jawa! kamu mau?!" tawar Mentari menyodorkan wadah berisi asam jawa.
"Emmm, masam bangett!!!" ucap Daniar yang juga membuat ekspresi lucu.
"Loh...loh...loh!! kalian ini pagi-pagi kok udah makan asam jawa aja?! mana belum pada sarapan lagi! nggak baik loh! sini! kalian baru boleh makan lagi kalau udah sarapan!" ucap mama Daniar yang datang bersama nyonya Ardi.
Mama Daniar merampas wadah berisi asam jawa itu dari tangan Mentari.
"Loh ma, tapi aku pengen makan itu!!" ucap Mentari.
"Iyaa, aku juga mauu!!" ikut Daniar.
"Bukannya kami nggak ngebolehin kalian makan ini! tapi ini masih pagi dan kalian belum sarapan nggak baik buat lambung juga nantinya! siapa sih yang ngasih ini ke kalian!" tanya nyonya Ardi.
"Darell!!" jawab Mentari polos.
"Bener-bener ya tuh anak!! masa istrinya pagi-pagi dikasih makan ginian!! kalau buah-buahan yang itu sih nggak apa-apa, lah ini asam jawa nggak takut istrinya sakit lambung apa?!" ucap nyonya Ardi geram.
"Darel!!!! Dareeellll!!!" panggil nyonya Ardi dengan berteriak.
Orang-orang yang mendengar teriakan nyonya Ardi bergegas berkumpul ke sumber suara termasuk Darel yang berlari sangat kencang dari arah dapur.
__ADS_1
"Ada apa ma?!" tanya tuan Ardi.
"Mana Darel?!" tanya nyonya Ardi tidak menghiraukan pertanyaan suaminya.
"Ada apa sih, ma?" tanya Darel yang ngos-ngosan.
"Nih!! ini kamu yang kasih?!" tanya nyonya Ardi menyodorkan wadah berisi asam jawa ke depan Darel.
"Iya, kenapa?! Tari ngidam pengen makan itu dari semalam." jawab Darel.
"Kamu tahu kan ini masih pagi! mereka belum sarapan juga, nggak baik buat lambung loh!" omel nyonya Ardi.
"Ehh, maaf! Darel nggak tau!" ucap Darel merasa bersalah.
"Sayang kamu udah makan asamnya?" tanya Darel khawatir.
"Udah dikit! Niar juga makan!" jawab Mentari dengan ekspresi takut.
"Sayang, kamu makan juga asam jawa nya?" tanya Zanu mendekati istrinya.
"Huhuhuuu....maafff tadi aku makan sama Tari!!! aku nggak tau kalau nggak boleh makan asam pagi-pagi!!! maafff!!!" ucap Daniar yang menangis.
"Hiks...hiks...hiks...maaf sayang, ma, aku juga nggak tau!! tadi aku yang nawarin Niar makan asam jawa!! maafin akuuu!!!" ucap Mentari ikut menangis.
"Ehh, tenang sayangg!! cup...cup...cuppp!!! udah...udah!!! nggak ada yang bakal marahin kamu kok!! udah ya,a nangisnyaa!!" ucap Darel menenangkan istrinya.
"Cup... cup...cup sayang jangan nangis lagi yaa!! nanti kalau udah sarapan kamu boleh kok makan lagi!! tadi cuma diingetin aja kalau pagi-pagi nggak baik makan itu yaa!! jangan nangis lagi, nanti dedeknya ikut sedih dong kalau mamanya sedih!!" hibur Zanu.
Darel dan Zanu terlihat kewalahan menenangkan istri-istri mereka yang menangis karena asam jawa. Butuh waktu hampir setengah jam hingga akhirnya Mentari dan Daniar berhenti menangis. Itupun karena koki memberitahu bahwa sate tahu pesanan Mentari sudah matang.
"Huaaa....hiks...hikss.... huhuhuuu!!" tangis Mentari dan Daniar bersahut-sahutan.
"Tuan Darel, sate tahunya sudah matang! sudah ada di atas meja makan bersama menu lainnya!" ucap seorang koki.
"Sate tahuu?!! uuuuu..." ucap Daniar dan Mentari berhenti menangis lalu saling pandang.
"Ayo Tari, kita makan sate tahu!!!" ajak Daniar.
"Iya-iya ayoo!!! ayo semuanya kita sarapan!!!" ajak Mentari yang sudah berjalan lebih dulu bersama Daniar.
Darel dan Zanu yang melihat itu hanya bisa pasrah. Pasrah saja menghadapi mood bumil yang cepat berubah-ubah belum lagi permintaan ngidamnya yang tidak jarang juga aneh-aneh.
Dengan langkah gontai Darel dan Zanu menuju meja makan bersama yang lain. Sesampainya disana, terlibat Mentari dan Daniar sudah lebih dulu menyantap sate tahu dengan sangat lahap. Bahkan sampai bumbu kacangnya belepotan dibibir mereka.
"Biarin aja lah, Dwi! asal mereka senang, nggak nangis lagi!! malah bingung aku kalau mereka nangis!!" ucap Zanu menghentikan Darel yang terlihat ingin menghampiri Daniar dan Mentari.
Mungkin Darel ingin mengatakan kalau bumbu kacangnya belepotan kemana-mana makanya Zanu menghentikan langkah Darel, takut nanti kedua wanita itu tersinggung lalu menangis lagi. Bikin pusing kepala karena pasti akan susah ditenangkan, pikir Zanu makanya dia ambil jalan aman saja yaitu dengan tidak menganggu keasikan kedua wanita itu. Semua orang mulai duduk di tempat duduk masing-masing. Jelas Darel dan Zanu duduk di dekat istri mereka yang tetap asik menyantap sate tahu.
"Sayang, ayo makan!! kamu bilang tadi nggak pernah makan sate tahu kan?! ayo kamu coba!" ucap Mentari mengambilkan beberapa tusuk sate tahu ke piring Darel.
"Iya!" jawab Darel singkat.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Daniar. Bedanya Zanu pernah sekali memakan sate tahu, itupun juga karena Daniar yang ngidam makan sate tahu saat usia kandungan Daniar masih empat minggu dulu. Saat itu Zanu sudah memesankan satu bungkus sate tahu berisi dua puluh tusuk seharga dua puluh ribu. Sesampainya dirumah Zanu memberikan sate tahu itu kepada Daniar. Baru juga memakan dua tusuk sate tahu, Daniar langsung menjauhkan piring berisi sate tahu itu. Karena bingung dengan sikap Daniar dan takut sate tahunya tidak seenak yang dibayangkan Daniar Zanu pun bertanya kenapa tidak dimakan lagi. Dan kalian tahu apa jawaban Daniar?! dia bilang dia mual melihat sate tahu?!
Siapa coba yang tidak bingung saat Daniar bilang begitu?! lah dia sendiri tadi yang bilang pengen makan sate tahu?! sudah Zanu bela-belain menyetir cukup jauh malam-malam hanya untuk mencari sate tahu dan saat sudah ketemu malah cuma dicoba dua tusuk saja. Akhirnya sate tahu itu pun mendarat di perut Zanu karena sekali lagi mama, papa, dan Galih menolak untuk ikut membantu menghabiskan sate tahu itu dengan berbagai alasan.
Sabar Zanu...sabar!!! orang sabar disayang istri!! daripada istrimu nangis nanti malah tambah pecah kepalamu!! batin Zanu saat itu sambil mengunyah sate tahu lalu menelannya masuk kedalam perutnya.
__ADS_1