
"Kak, nenek jahat! nenek nggak sayang lagi sama Iwang! kenapa nenek tega ninggalin Iwang sendirian, kak!" adu Iwang sambil menangis sesenggukan.
"Iwang, yang sabar yaa! Iwang harus ikhlas! Tuhan lebih sayang sama nenek Iwang makanya nenek pergi. Iwang nggak mau lihat nenek sakit-sakitan terus kan?" tanya Mentari berusaha menahan air matanya.
Iwang menggelengkan kepalanya.
"Nahh, sekarang nenek udah nggak sakit lagi! nenek udah bahagia disana. Kalau Iwang sedih terus nanti nenek juga ikut sedih!" ucap Mentari.
"Tapi Iwang pengen nenek nemenin Iwang terus kak, sampai Iwang besar! sampai cita-cita Iwang tercapai! Iwang juga pengen nenek bisa naik haji dengan uang Iwang sendiri!" ucap Iwang kembali menangis.
Ditinggalkan oleh seseorang yang kita sayang memang sangat menyakitkan. Terlebih bagi Iwang. Selama ini, neneknya lah yang menjadi peran pengganti kedua orang tuanya yang telah lama meninggal. Iwang memiliki cita-cita menjadi seorang dokter hebat agar bisa menolong banyak orang terlebih orang yang kurang mampu. Dia juga berkeinginan untuk memberangkatkan neneknya umroh. Namun harapan dan cita-cita itu harus pupus ditengah jalan. Tuhan mengambil neneknya disaat Iwang masih sangat membutuhkan kasih sayang keluarga.
"Nak, nenek kamu mau kami semayamkan. Tidak baik menunda-nunda pemakaman." ucap pak RT.
Beberapa orang bapak-bapak keluar dari dalam rumah sembari menggotong keranda menuju mobil pick up yang nantinya akan dibawa ke TPU di desa tersebut.
"Nenek!!! pak, jangan bawa nenek Iwang, pakk!!! nenekkk!!!" teriak Iwang mengejar rombongan pelayat.
Mereka merasa kasihan dengan Iwang, tidak sedikit pula dari mereka yang menangis menyaksikan hal itu.
"Dek, yang sabar yaa! Tuhan lebih sayang sama nenek kamu!" ucap seorang ibu-ibu yang rumahnya tidak jauh dari rumah Iwang.
"Bu, jangan bawa nenek!! kak, kenapa mereka bawa nenek?!" ucap Iwang menangis.
"Iwang jangan sedih yaa! ayo kita ikut memakamkan nenek!" ajak Mentari.
Dia ikut ke dalam mobil bersama Darel dan Mentari. Rohan, Bram, dan ibunya juga ada disana mengingat Iwang pernah tinggal bersama dengan Bram saat neneknya tengah sakit dahulu.
"Kasian sekali ya anak itu! dunia begitu kejam kepadanya! semoga nasib baik menyertainya!" ucap ibu Bram memanjatkan doa untuk Iwang.
********
Sesampainya di TPU, keranda yang berisi jenazah nenek Iwang kembali di gotong oleh empat orang termasuk Darel dan Bram. Saat hendak di kubur, Iwang kembali berteriak.
"Pak, jangan kubur nenek! nanti nenek nggak bisa nafas!! nenek takut gelap, pak!!" teriak Iwang membuat pelayat menjadi sangat prihatin.
"Jangan, pakk!!! jangan kubur nenekkk!!! Iwang mohonn, nenek bangun nekk!!! mereka mau kubur nenekk!!! ayo bangun nekkk!!" teriak Iwang menangis histeris.
"Katanya nenek mau lihat Iwang pakai baju dokter!! ayo bangun nekk!! Iwang akan kerja keras buat biaya berobat nenek! tapi nenek jangan ninggalin Iwang!! Iwang masih butuh nenek, kalau nenek pergi Iwang sama siapa!!" teriak Iwang.
"Sudah dek, ikhlaskan nenek muu! biarkan beliau tenang disana!" ucap seorang ibu-ibu yang ikut menangis.
"Tidakk!!!" Iwang menghempaskan tangan ibu-ibu itu yang memegang pundaknya.
__ADS_1
Iwang berjalan menuju Mentari yang tengah menangis di pundak Darel. Tangan anak kecil itu menggenggam erat tangan Mentari seolah meminta perlindungan.
"Nenek tuh belum meninggall!! kak, nenek belum meninggal kan? nenek Iwang masih hidup kan?! Iwang nggak mau nenek ninggalin Iwang!! kakak bujuk nenek yaa biar dia mau bangun lagi!! nenek selalu menuruti kakak, kalau kakak minta nenek buat bangun pasti nenek bakal bangun!" ucap Iwang memohon.
Semua orang dibuat menangis melihat Iwang. Pasti kematian neneknya membuat guncangan besar dalam diri anak itu hingga dia menolak untuk mengakui fakta bahwa neneknya telah berpulang.
"Iwang..." Mentari tidak bisa berkata-kata saking sedihnya.
"Kak, Iwang mohon....bantu Iwang sekali lagi ajaa....Iwang bakal jadi anak yang baik kok...tapi Iwang mohon bangunkan nenek, kak!! Iwang nggak bisa kalau nggak ada nenekk!!" ucap Iwang lirih menangis dihadapan Mentari yang berjongkok dihadapannya.
Mentari mengelus rambut Iwang lalu menghapus air mata anak itu yang terus menggenang.
"Iwang kan masih punya kakak! kakak yang akan menjadi keluarga Iwang setelah ini, yaa! Iwang nggak boleh seperti ini, meski ini begitu menyakitkan, tapi kita harus ikhlas ya nak!" ucap Mentari sambil mengusap genangan air mata yang masih terus mengalir di pipi Iwang.
"Iwang nggak mau kan nenek disana menangis karena Iwang belum ikhlas atas kepergian nenek?" tanya Mentari.
"E...enggak kak!!" ucap Iwang tersengal.
"Nah, kalau begitu kamu harus ikhlas ya sayang? buktikan sama nenek kalau kamu itu anak yang pintar, terus katanya kamu mau jadi dokter yaa?? kamu harus hadiahkan itu untuk nenek, supaya nenek bisa bangga sama Iwang, yaa?!"
"Iya..kakk!"
"Pak, lanjutkan penguburannya!" ucap Darel.
********
Iwang dibawa pulang oleh Mentari dan Darel. Kesedihan masih terlihat jelas dari wajah anak itu.
"Kak, Iwang mau pulang ke rumah itu aja! disana ada kenangan Iwang sama nenek!" ucap anak itu tatkala baru saja memasuki rumah Darel.
"Iwang, rumah itu akan tetap ada kok! cuma kalau untuk tinggal disana, kakak kurang setuju karena kamu masih sangat kecil untuk bisa hidup mandiri." ucap Mentari.
"Tapi..."
"Kalau kamu mau main kesan boleh kok! tapi kalau sudah kamu kembali kesini! sekarang, ini juga rumah kamu. Kamu bebas mau ngapain aja!" ucap Darel mengelus pucuk rambut Iwang.
"Makasih, kak,!" ucap Iwang.
"Ya sudah Iwang mandi dulu habis itu kita makan malam yaa!" ucap Mentari.
"Iya kak!"
"Mbok, antarkan dia ke kamarnya yaa!" ucap Darel kepada mbok Tini.
__ADS_1
"Baik tuan! mari den!" ucap mbok Tini.
Sebelumnya Darel sudah mengabari mbok Tini untuk menyiapkan sebuah kamar untuk di tempati Iwang.
"Sayang, bagaimana kalau kita angkat Iwang jadi anak kita? kasian dia?" tanya Mentari.
"Ide yang bagus! kita rawat dia seperti anak kita sendiri yaa? besok aku akan urus semua surat-suratnya!" ucap Darel.
"Makasih sayang!"
"Tapi ada syaratnya!"
"Apa?"
"Harus nambah jatah yaa!" goda Darel.
"Ihhh, kamu mahh!!"
"Iya dongg, biar Iwang ada temennya!" ucap Darel.
"Ishhh, terserah kamu aja lah! aku mau mandi!" ucap Mentari.
"Ayo mandi bareng aja! biar seruuu!!" ucap Darel menggendong tubuh Mentari lalu membawanya masuk ke dalam kamar mereka di lantai dua.
"Ihh, kamu nih genit banget sih!! turunin akuu!!" ucap Mentari berontak.
"Katanya mau mandi!! ya ayo mandi! bareng tapii!!" ucap Darel.
Darel membawa Mentari kedalam kamar mandi. Menghidupkan shower yang kemudian membasahi tubuh keduanya. Buliran air shower mulai membasahi rambut Mentari membuatnya semakin terlihat sexy.
"Kau sangat cantik, sayang!!" puji Darel.
"Gombal!! udah berapa cewek yang kamu bilang gitu!" ucap Mentari.
"Emmm...baru tigaa!!!" jawab Darel.
"APAAAA?!!!" ucap Mentari melotot.
"Iya tiga, kamu, mama, sama kak Randita!" ucap Darel memperjelas ucapannya barusan.
"Awas ya, kalau macem-macem!" ancam Mentari.
"Gak lah, aku nggak berani lagi!" ucap Darel mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya ke atas.
__ADS_1