
Didalam mobil, Darel mengirimkan pesan kepada Arul kalau dia akan datang terlambat karena ada sesuatu yang harus dia kerjakan terlebih dulu.
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, mereka sampai disebuah rumah mewah. Darel, Iwang, dan neneknya pun turun dari mobil.
"Wahhh, ini rumahnya siapa?? besar sekaliii!!" ucap Iwang.
"Bagus kan?" tanya Darel.
Iwang mengangguk cepat.
"Mulai sekarang rumah ini milik kalian, semua fasilitasnya lengkap, dan ini sertifikat dan surat-suratnya!" memberikan beberapa dokumen mengenai hak milik rumah tersebut.
Iwang dan neneknya terkejut mendengar apa yang diucapkan Darel, namun karena mereka buta huruf Darel pun membacakannya untuk mereka.
"Disini tertulis nama Iwang Sanjaya sebagai pemilik resmi rumah ini!" ucap Darel.
"Yeee, kita punya rumah bagus nek!!! lihat halamannya luas sekali!! horeeee!!!" ucap Iwang melompat-lompat kegirangan.
Sebenarnya, nama Iwang Sanjaya itu atas usul Darel. Karena Iwang tidak punya nama panjang dibelakangnya, akhirnya Darel memutuskan untuk menambah nama Iwang dengan nama Sanjaya. Dengan begitu mulai sekarang Iwang adalah bagian dari keluarga besar Sanjaya.
"Nak, apa ini tidak berlebihan? kami bisa tinggal dirumah yang sederhana kok, itu sudah lebih dari cukup bagi kami." ucap nenek tidak enak hati.
Darel tersenyum ramah, mendekati nenek Iwang yang terlihat gusar.
"Ini belum apa-apa. Apa nenek tidak mau melihat Iwang mendapat kehidupan yang layak? biarkan dia menikmati masa kecilnya nek, percayalah padaku!" ucap Darel meyakinkan nenek Iwang.
Nenek Iwang melihat kearah cucunya. Tawa ceria, dan senyum lebar yang tidak dibuat-buat, ah hati orang tua mana yang tidak bahagia melihat hal itu. Kembali nenek Iwang menatap kearah Darel, lalu menganggukkan kepalanya pelan tanda setuju.
"Terimakasih banyak!" ucap nenek Iwang.
"Iwang, ayo masuk juga! kita lihat-lihat rumahnya!" teriak Darel kepada Iwang.
Dengan riang Iwang berlari mendekati Darel dan mereka pun memasuki rumah mewah ini. Ketika sampai didalam rumah, Iwang dan neneknya tidak henti-hentinya dibuat takjub. Bukan hanya karena mereka belum pernah memiliki rumah yang layak, apalagi bisa tinggal dirumah bak istana ini mereka tidak mau bermimpi terlalu tinggi.
"Iwang, kamar kamu ada disebelah sana. Dan nenek, kamar nenek ada di sebelah sini. Ada dua pembantu, empat tukang kebun, dan lima belas pengawal berpengalaman ada disini. Semoga kalian betah tinggal disini." jelas Darel.
Darel memperkenalkan setiap pelayan dirumah itu. Dia juga sudah mempersiapkan dimana Iwang akan menempuh pendidikannya.
"Besok kamu bangun pagi, kita akan pergi ke sekolah. Oke!"
"Okee, yeeee.... Iwang bisa sekolah....tidak sabar menunggu besok!!" ucap Iwang kegirangan.
__ADS_1
Darel tanpa sadar ikut tersenyum melihat tingkah polos Iwang. Mengingatkan dirinya tentang Mentari. Darel pun memohon ijin meninggalkan mereka dan menuju bar Arul yang sedari tadi sempat dia kesampingkan.
Ketika sampai di bar milik Arul, Darel melihat Jack yang tengah beraksi dengan komputernya.
"Apa ada informasi mengenai Mentari?" tanya Darel tanpa basa-basi.
"Kau sudah datang ya, kebetulan kami baru menyiapkan makan siang. Nih buatmu, aku tahu kau belum makan kan seharian ini? makanlah!" ucap Tomi.
"Tidak, bukan itu yang aku inginkan!"
"Begini tuan salju!" terdiam karena takut oleh sepasang mata yang menatapnya seolah dia adalah mangsa yang siap menerkamnya.
"Ehemm, emm, maksudku tuan muda. Dari rekaman CCTV bandara, ada seseorang yang menurutku mirip dengan nona Mentari. Coba lihat ini!" ucap Jack.
Darel, Arul dan Tomi mendekat kearah komputer dan melihat wanita yang dicurigai Jack adalah Mentari.
"Ya, dia Mentari! lacak dimana tujuan penerbangannya!" ucap Darel bersemangat.
Bukan tanpa sebab Darel meyakini wanita itu adalah Mentari. Cincin yang melekat dijari manis wanita itu adalah simbol penyatuan Darel dan Mentari sebagai suami-istri. Tentu saja Darel mengingat cincin itu dengan baik.
"Dapat! tujuannya ke Korea!"
"Hallo, Adi! siapkan jet pribadi untukku, aku akan menuju Korea!" ucap Darel segera di telepon.
"Sudah, siapkan saja! kau dan Harri juga ikut bersamaku!" ucap Darel memutuskan panggilan seenaknya.
********
Disisi lain, Mentari diajak Galih untuk makan siang bersama. Ada toko enak didepan hotel. Ketika sedang memesan makanan, seorang pelayan bertanya kepada Galih.
"Apa dia kekasih anda?" tanya pelayan laki-laki itu.
Galih menatap Mentari yang terlihat tengah melamun dan Galih yakin bahwa Mentari sekarang sedang memikirkan Darel.
"Iya, dia kekasihku!" ucap Galih seenaknya.
"Wahh, anda pria yang beruntung ya! dapat wanita secantik dia!" puji pelayan itu.
"Hahaha, terimakasih!"
Galih pun kembali ke tempat duduknya disamping Mentari yang membuat Mentari sedikit terkejut dengan kehadiran Galih.
__ADS_1
"Sudah kak?" tanya Mentari.
Galih hanya menganggukkan kepalanya. Tidak sampai 10 menit makanan yang dipesan Galih sudah datang. Mereka dengan lahap menyantap makanannya.
"Huekkk....huekkk.....huekkk!!!!"
Menatap kearah Mentari.
"Kamu kenapa? kamu sakit?" tanya Galih khawatir.
Mentari hanya menggelengkan kepalanya.
"Huekkk!!! huekkk!!!"
"Yaudah kita kembali aja ke hotel ya, mbak!!!" memanggil pramusaji agar membungkuskan makanan mereka.
Setelah semua makanan dibungkus, Galih membawa Mentari menuju kamarnya. Terlihat jelas dari wajah Mentari bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.
"Sepertinya kau makan dengan baik akhir-akhir ini, lalu kenapa bisa sampai sakit sih?" omel Galih ketika sudah menidurkan Mentari diranjangnya.
"Kau tahu, ini pasti karena kau selalu memikirkan pria bre****k itu. Sudahlah Mentari, lupakan dia!! jangan siksa dirimu sendiri hanya untuk pria seperti dia! lihat kau sekarang! kau sakit, tapi dia sama sekali tidak memikirkanmu!!" omel Galih.
Sebenarnya dengan berkata seperti itu kepada Mentari, Galih ingin Mentari sadar kalau Darel tidak cocok mendapatkan Mentari, dan Galih lah yang pantas dan layak bersanding dengan Mentari.
Lihat aku Mentari! aku yang selalu ada untukmu! aku yang menjagamu, aku tidak pernah menyakitimu, kenapa kau malah memilih pria seperti Darel? apa kurangnya aku dibandingkan dia? yah, memang soal harta dia lebih unggul dariku, tapi kau bukan wanita yang menganggap uang segala-galanya. Kenapa kau tidak melihat cintaku meski sebentar saja? kenapa?
Mentari selalu menganggap Galih seperti kakaknya. Dari dulu sampai sekarang rasa hormat yang Mentari miliki untuk Galih hanya sebatas kakak saja, tidak lebih. Namun ternyata Galih memiliki rasa lain dihatinya untuk Mentari.
Mentari sama sekali tidak mendengarkan ocehan Galih, dia justru melamunkan Darel. Saat-saat yang bisa dibilang lucu dan romantis selalu ada diotak Mentari yang membuatnya sangat merindukan Darel, namun dia masih enggan bertemu dengan Darel kendati hatinya yang sudah teramat terluka.
Kenapa rindu itu menyiksaku sedemikian rupa? dia selalu bertambah setiap detiknya tanpa tahu caranya berkurang. Hati dan pikiranku berkata berlawanan arah. Disatu sisi aku ingin kembali bersama Darel, aku ingin memaafkannya, aku ingin menumpahkan segala rinduku padanya, dan aku ingin mengatakan bahwa aku mencintainya. Namun disisi lain, aku masih sangat kecewa kepadanya, bahkan sampai berhari-hari aku pergi meninggalkan dirinya, tidak ada usahanya untuk menemukanku. Apa memang aku yang terlalu berharap kepadanya?
Perut Mentari terasa sangat mual. Bahkan ketika Galih hendak memberikan minya kayu putih untuk meredam mualnya, Mentari justru semakin mual dan ingin muntah. Kepalanya juga terasa pusing sekarang, sehingga Galih menyuruhnya untuk beristirahat saja.
*
*
*
*
__ADS_1
*
Hai para reader, jangan lupa dukung author dengan Like, Komen, Vote dan kasih tips sekecil apapun tetap berharga untuk author biar lebih semangat update nya ☺️☺️