Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 255


__ADS_3

# Mentari POV #


Hari ini adalah hari tersibuk bagiku. Bagaimana tidak, sudah semalaman suntuk dia melayani Darel melakukan kewajibanku sebagai seorang istri dan tidur setelah sholat subuh. Bangun-bangun pukul enam kurang karena harus memasak bekal untuk dibawa Iwang ke sekolah dan bekal untuk Darel juga. Membangunkan Iwang pukul enam lebih lima belas menit karena sekolah masuk pukul tujuh tepat.


Oh ya untuk sekedar informasi, aku dan Darel sudah mendapatkan hak asuh atas Iwang satu minggu setelah kematian nenek Iwang. Dia masih saja sedih, namun jika dihadapan ku atau Darel atau yang lain dia terlihat biasa saja. Aku bisa merasakan kedukaannya karena aku pun pernah berada diposisi itu. Sakit memang! tapi dunia ini harus tetap berjalan meski kita dalam kondisi terpuruk sekalipun.


"Terimakasih, bu! kami berangkat dulu!" ucap Iwang mencium punggung tanganku sebelum berangkat sekolah.


"Kami berangkat yaa! hati-hati nanti kalau ke toko. Oh ya titip salam juga buat mama dan papa Daniar, bilang kalau aku dan Iwang akan menyusul nanti!" ucap Darel kemudian mengecup keningku dengan mesra.


"Ayah, ayo berangkat!!" teriak Iwang sembari mengeluarkan kepalanya dari kaca mobil.


"Iyaa-iyaa!" ucap Darel.


Mereka pun berangkat. Setelah memastikan mobil mereka sudah hilang dari pandanganku, aku masuk ke dalam rumah menyambar tas selempang yang biasa aku gunakan dan bergegas keluar rumah lagi.


"Kak, anterin ke toko dulu yaa! habis itu ke rumah Daniar!" ucapku pada kak Lukas.


"Okee!!" jawabnya.


Dia memacu mobil menuju toko kue ku. Sesampainya disana beberapa karyawan tengah sibuk bekerja. Hari ini ada pesanan yang lumayan banyak dari salah satu manager di sebuah perusahaan dekat sini. Tidak tanggung-tanggung pesanannya hingga sampai dua ratus box kue. Tentu aku mendiskon pembeliannya agar dia kembali lagi nanti saat ada acara-acara seperti ini. Itu adalah salah satu trik menarik pelanggan yang aku pelajari dari aplikasi YouTub* dahulu yaitu dengan memberikan beberapa potongan harga agar pelanggan tetap tertarik dengan bisnis ku selain dari segi rasa dan penampilan kue ku.


"Wahh, sudah siap semua ya sepertinya? acaranya jam delapan pagi nanti kan? ini baru jam tujuh." ucapku pada karyawan yang sudah selesai membungkus dua ratus box pesanan kue.


"Iya, mbak. Tapi bapaknya bilang untuk diantar kalau sudah siap kalau bisa sebelum jam delapan." ucap Laila.


"Ada banyak perubahan dari diri Laila semenjak dia berpacaran dengan Harri, orang kepercayaan suamiku.


Selama ini Laila juga banyak mengganti nama panggilanku. Mulai dari bu, nona, dan sekarang dia memanggilku dengan sebutan mbak. Tidak apa lah, senyaman dia saja memanggil dengan sebutan apa.


"Kalau begitu taroh di mobil aja biar aku yang antar!" ucapku.


"Emm, kayaknya nggak bakal cukup deh mbak, kalau segini banyaknya! beberapa dari kita akan membantu membawakannya saja dengan naik motor!" saran Laila.


"Emm, begitu juga boleh!" ucapku.


Mereka semua mulai memasukkan box-box pesanan ke dalam bagasi mobil dan di belakang kemudi mobil. Masih tersisa sepuluh plastik yang berisi seratus box lagi hingga harus di bawa oleh lima motor berboncengan dua orang. Setiap motor membawa dua plastik yang berarti membawa dua puluh box.

__ADS_1


Tepat pukul setengah delapan kami sudah sampai di perusahaan dan pak satpam membantu kami untuk menurunkan box pesanan dan meletakkannya di sebuah meja.


"Terimakasih mbak Tari! ini lunasan dari DP kemarin yaa!" ucap pak manager yang membeli kue ku.


Ting....


Sebuah notifikasi dari aplikasi M-banking masuk ke ponselku menampilkan bukti transfer dari pak manager sebesar tujuh ratus ribu rupiah karena kemarin saat memesan dia sudah membayar DP sebesar dua ratus ribu rupiah dan mendapat diskon seratus ribu rupiah.


"Saya sangat suka kue-kue dari toko mbak Tari, apalagi yang saya pesan ini. Sudah harganya murah, rasanya enak, dapat diskon lagi!" pujinya membuatku malu.


"Ah, bapak bisa saja!" ucapku.


"Memang benar mbak, mana ada disini yang jualan kue seperti ini dengan harga lima ribu rupiah saja? tidak ada!!! hanya mbak Tari saja yang bisa. Di tempat lain harganya bisa sampai tujuh ribu untuk satu kue, itupun rasanya tidak seenak buatan toko roti milik, mbak!" jelasnya membuatku semakin malu karena terlalu banyak dipuji.


"Ini juga kerja keras karyawan saya kok pak!" ucapku.


"Kalau begitu kami permisi dulu ya pak?" ucapku pamit pergi.


"Ah, iya-iya! terimakasih sekali lagi, mbak Tari!" ucapnya sebelum aku memasuki mobil.


"La, laporan penjualan sudah saya hitung! nanti laporan harian kamu kirim seperti biasa yaa? saya masih ada urusan!" ucapku pada Laila.


"Baik mbak!" jawabnya.


"Oh ya, semuanya!!" panggilku pada karyawan yang masih sibuk berberes sebelum akhirnya membuka toko.


Memang hari ini aku sengaja membuka toko agak siang agar karyawan ku bisa beristirahat juga sebelum bekerja lagi. Pastinya mereka lelah karena telah menyiapkan pesanan ini dari semalam bersama ku juga. Kami menyicil membuat kue dari pukul tujuh malam sampai pukul sepuluh malam. Bahkan toko sengaja aku tutup awal semalam untuk mengerjakan pesanan ini dan tadi pagi pukul lima mereka kembali melanjutkan membuat pesanan yang hanya tinggal setengah.


"Karena kalian sudah bekerja keras dan penjualan kita bertambah pesat akhir-akhir ini, saya ingin mengajak kalian berlibur bersama!" ucap Mentari.


"Wahhh, beneran mbakk?! asikkkk!!!!" teriak mereka semua girang.


"Berlibur ke mana, mbak?" tanya salah satu dari mereka.


"Kita berlibur di aquarium air laut. Kita pergi di hari Minggu yaa?" tanya ku.


"Wahh, boleh-boleh mbak!! duhh lama banget aku nggak rekreasi!!" ucap salah satu dari mereka.

__ADS_1


Dari ekspresi yang aku lihat, mereka sangat antusias dan bersemangat karena akan berlibur. Sengaja aku pilih hari Minggu karena hari itu Iwang juga libur sekolah, jadi bisa sekalian kami piknik bersama.


"Oke semangat bekerjanya yaa! hari Sabtu kita bahas lagi hal ini, okee?!" ucapku.


"Oke mbakk!!" ucap mereka mengacungkan jempol ke arahku.


Keluar dari toko, Aku bergegas menuju ke rumah Daniar. Hari ini ada acara empat bulan dirumah Daniar. Hanya acara selamatan saja dan mengundang beberapa kerabat Daniar, tetangga dan kerabat Zanu serta sahabatnya tentunya.


"Assalamualaikum!" ucapku saat baru saja tiba dirumah Daniar.


"Wa'alaikumsalam! Tari, kok baru datang? sama siapa?" tanya mama Daniar memelukku dengan hangat.


"Diantar kak Lukas, ma! Darel dan Iwang menyusul nanti." jawabku.


"Ah ya sudah! kamu sudah makan?" tanya mama.


"Sudah kok tadi sebelum kesini sudah sarapan dulu dirumah sama suami dan anak!" jawabku.


"Anak angkat itu ya, Tari! duh kasian deh udah nikah lama tapi masih belum hamil-hamil juga! liat tuh Daniar, baru dua minggu menikah sudah langsung hamil! lah kamu, sudah bertahun-tahun belum hamil-hamil juga, jangan-jangan kamu mandul yaa!" ucap bi Surti, bibi Daniar.


Sedari dulu dia memang kurang suka denganku. Mungkin karena menganggap aku anak yang diangkat oleh orang tua Daniar dan tidak tahu jelas asal-usulku sehingga dia terlihat begitu membenciku hingga tidak jarang lontaran kata pedas dia berikan padaku. Dulu dia selalu mengatai aku anak yang dipungut dari tempat sampah sebelum akhirnya dia pindah ikut suaminya ke rumah ibu mertuanya di Sumatera. Sejak saat itu aku belum bertemu dengan lagi. Baru beberapa bulan ini bertemu kembali karena dia kembali menetap di Jakarta bagian Utara.


"Sur, kamu nih kenapa sih? kalau kamu bikin ulah lagi mending kamu nggak usah datang aja besok-besok!" omel mama membelaku.


Mataku mengembun tanda terharu karena dia lebih membela orang asing sepertiku dibanding dengan yang jelas-jelas merupakan saudaranya sendiri.


"Kamu nih kenapa sih mbak? selalu aja bela anak pungut ini? aku ini loh saudaramu sendiri nggak dibela!" ucapnya jengkel.


"Dia bukan anak pungut yaa! dia itu anak ku! ANAKKU!! kalau kamu menghinanya lagi, jangan harap rumahku bisa menerimamu!" ucap papa Daniar menekankan kata anakku mempertegas statusku yang bukan sebagai anak pungut dirumah ini.


"Sudah Tari, jangan dipikirkan omongan bibi Surti!" hibur Daniar yang mengelus lenganku.


"Iya, aku nggak apa-apa kok!" ucapku berusaha tersenyum meski berat rasanya.


"Alah dia aja tuh yang mandul mbakk!! makanya belum bisa hamil sampai sekarang! buat apa perempuan mandiri, cantik tapi nggak bisa memberi keturunan buat keluarga suamiy?! cuma bisa jadi beban aja kalii!!" ucapnya dengan keras.


Ucapan bi Surti menarik perhatian orang-orang yang turun membantu acara empat bulan Daniar. Mereka menoleh ke arah bi Surti dan terdengar suara-suara bisikan dari mereka. Beberapa dari yang ku dengar mereka ikut menimpali kalau aku ini mandul karena belum juga punya anak. Astaghfirullah hal'adzim!! aku mengelus dada dan terus berucap istighfar. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Sehina itukah wanita yang sudah menikah lama namun belum juga diberi amanah menjaga seorang anak? bukannya anak itu adalah titipan dari-Nya? bukan salahku jika sang Pencipta belum memberikan kepercayaan itu padaku? bukan aku tak mau. Aku sungguh mau! aku berharap di setiap doaku untuk segera diberi momongan. Namun tetap saja semua kembali pada-Nya.

__ADS_1


__ADS_2