
Mentari baru saja turun dari kamarnya, mencari keberadaan suaminya.
"Kenapa tuan Rohan datang tiba-tiba? sendirian lagi? apa ada sesuatu yang terjadi?" gumam Mentari sambil menuruni tangga.
Terlihat oleh Mentari, Rohan keluar dari rumah dengan tergesa-gesa.
"Loh, kenapa dia pergi dengan tergesa-gesa seperti itu?" tanya Mentari.
Tidak berselang lama, Adi, Harri, dan Lukas juga keluar dari ruangan Darel dengan tergesa-gesa. Melihat hal itu, Mentari langsung memanggil ketiga orang itu untuk menanyai mereka apa yang terjadi didalam ruangan Darel.
"Ehhh, tunggu!!!" panggil Mentari.
Adi, Harri, dan Lukas berbalik badan menatap kearah Mentari yang berlari menghampiri mereka.
"Ya nona, apa nona butuh sesuatu?" tanya Lukas.
"Tidak-tidak! aku tidak butuh sesuatu. Emm, apa yang terjadi didalam sana tadi?" tanya Mentari kepo.
"Emm....itu nona....eee....anu..." jawab ketiga pria itu gugup.
"Eh, nona maaf aku masih harus ada urusan!" alasan Adi langsung meninggalkan mereka.
"Emm, hallo?? ya aku akan segera kesana!" ucap Lukas yang juga ikut pergi.
Lukas berpura-pura menelepon sampai tidak sadar bahwa ponselnya terbalik. Kini tinggal Harri yang tengah sibuk mencari alasan untuk menghindari pertanyaan Mentari.
"Emm, nona..." gugup.
"Apa? mau kabur juga?" tanya Mentari.
"Ah, hehehe mana berani aku kabur dari anda, saya cuma..." mencari alasan.
Ayo Harri, pikirkan alasannya cepat!!!! duhh...apa yaaa! mana nona Mentari kalau lagi marah kayak singa betina lagi, seremmmm!!!! batin Harri.
"Sayangg!!!" panggil Darel dari arah belakang.
Eh, tuan?
"Kita sudah lama nih nggak ketemu Iwang, gimana kalau kita kesana?" ucap Darel berusaha mengalihkan perhatian Mentari.
Darel memberi kode kepada Harri untuk segera pergi dari sana. Harri mengerti isyarat yang diberikan Darel dan secepat kilat meninggalkan tempat itu.
"Ah, ide yang bagus! aku juga kangen sama nenek. Tapi sebelum itu kita beli makanan dulu ya buat mereka!" usul Mentari.
"Sesuai perintah mu tuan putri!" ucap Darel memperlakukan Mentari seolah dia adalah tuan putri.
"Berlebihan kamu!" malu.
"Biarin aja! kamu kan emang tuan putriku, permaisuri ku, pendampingku, canduku, dan kamu adalah semestaku! tidak akan aku biarkan siapapun menyentuhmu walau hanya seujung kuku!" ucap Darel.
"Sungguh?" tanya Mentari dengan tatapan menggoda.
"Yaa! jangan pernah kau goda aku dengan mata indahmu itu kalau kau tidak mau aku kurung seharian didalam kamar!" ancam Darel.
"Coba saja!" semakin menggoda dengan lirikan matanya yang indah.
"Oh baiklah kau yang meminta!" menggendong Mentari seperti orang membawa karung beras.
Akhirnya siang yang panjang mereka lewatkan didalam kamar, sebelum itu mereka meminta pelayan membawa makan siang mereka ke kamar. Rencana mengunjungi Iwang juga ditunda besok.
********
Rohan mengunjungi rumah sakit lebih dulu sebelum kembali ke kantor polisi. Sesampainya di ruangan Wanda, Rohan melihat Abu dan beberapa bawahannya tengah duduk di kursi tunggu.
"Bagaimana kabarnya?" tanya Rohan menghampiri mereka semua.
"Masih belum sadar pak." jawab Abu.
__ADS_1
"Dan bagaimana dengan polisi yang sudah membuatnya seperti ini, apa dia sudah ditahan?" tanya Rohan.
"Belum pak. Sepertinya dia tahu kalau kita akan mencarinya maka dari itu dia bisa lolos. Bahkan rekaman kamera CCTV yang ada di kantor pun dihapusnya." jelas Abu.
"Tapi anda jangan khawatir pak, saya sudah mengantongi satu nama yang mungkin dialah pelaku pembulian Wanda!" jelas Abu.
"Siapa!?" geram Rohan.
"Bu Riya, pak!" jawab Abu.
"Riya?"
Pyarrr......
Beberapa gelas berisi air kopi pecah ke lantai.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Abu yang langsung menghampiri polisi wanita yang tadi ikut mereka membawa Wanda ke rumah sakit.
"M....ma...maaf pak, saya tidak sengaja!" gugup.
Rohan menangkap kegelisahan yang dialami wanita itu. Rohan pun mendekati wanita itu dengan tatapan tajam.
"Berdiri!" perintah Rohan.
Wanita itu langsung berdiri sembari membawa nampan berisi pecahan gelas.
"Apa kau tahu sesuatu?" tanya Rohan tegas.
"S...saya...saya...t...tidak...." terhenti.
"Menyembunyikan kebenaran dari penyelidikan yang sedang dilakukan polisi adalah suatu tindak kejahatan! sama artinya kamu ikut bersekongkol dengan orang yang bersalah!" tegas Rohan.
Pak Rohan kalau lagi tegas begini serem juga yaa! batin Abu.
"Kamu mau jawab yang jujur atau saya yang akan mencari tahu sendiri? tapi jika saya menemukan keterlibatan kamu dalam kasus ini jangan harap kamu bisa tenang!" tegas Rohan lagi.
"Haihhhh...Abu!"
"Ya pak!" posisi tegap.
"Cari bukti bahwa Riya yang melakukannya, jangan sampai dia bisa lolos setelah menganiaya salah satu tahanan hingga harus masuk ke rumah sakit!" perintah Rohan.
"Baik pak!" pergi dari sana.
Baru Lima langkah Abu meninggalkan tempatnya, Rohan kembali menghentikan langkahnya.
"Tunggu! aku akan ikut bersamamu!"
"Anda serius pak? ah baiklah kalau begitu!" ucap Abu.
Abu dan Rohan pergi dari rumah sakit menuju kantor polisi. Rohan mengendarai motornya sedangkan Abu mengendarai mobil polisi yang dia bawa sebelumnya.
Sesampainya di kantor polisi, Rohan teringat akan ucapan Darel tentang lambang kelompok Nerezza. Dia pergi mengecek kebenaran itu lebih dulu sebelum mengungkap masalah Wanda.
********
Tomi dan Shiren yang tengah menikmati makan siang mereka disebuah restoran terlihat sangat bahagia tanpa memperdulikan Jack yang meratapi kejombloannya.
Jack dan beberapa anak buahnya hanya bisa mematung melihat kemesraan bos bersama calon nyonya mereka.
"Duh serasa dunia milik berdua!" celoteh Jack iri.
"Iya nih, yang lain mah ngontak aja!" sahut anak buahnya.
"Eh, kalian kalau iri bilang! cari cewek aja sono! ganggu orang pacaran aja deh!" ucap Tomi semakin mempertontonkan kemesraannya dihadapan anak buahnya.
"Dih, dasar pak tua peot! awas aja kalau aku sudah punya cewek yang cantik sexy nanti!" ucap Jack lirih.
__ADS_1
"Emang tuan Jack punya gebetan?" tanya salah atau anak buahnya.
Jack merasa kesal dengan pertanyaan anak buahnya itu. Rasa kekesalannya pun dia lampiaskan kepada anak buahnya yang tidak bersalah.
"Ya nanti lah kalau aku udah punya" bentak Jack kesal.
"Berarti sekarang masih jomblo, hahahaha! sudah nikmati saja tuan!" ledek anak buah Jack.
"Dih, emang kalian punya? palingan juga sama aja!" meremehkan.
"Eitsss, jangan salah tuan! walaupun muka kami pas-pasan begini..."
"Pas-pasan apanya orang jelek begitu!" serobot Jack.
"Yeee, biarpun jelek begini saya sama Ucup udah punya bini loh tuan!"
"Hah, serius?" kaget.
"Iya tuan, anak saya sudah dua kalau Ucup baru satu!" jelas anak buahnya yang lain.
"Ya Tuhan, pria sejelek mereka berdua saja sudah punya pasangan, masa aku yang tamvan kayak aktor korea ini belum punya pasangannn!" ucap Jack drama.
Ditengah dramanya si Jack, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Jack pun meraih ponselnya dengan wajah yang masih memelas meratapi nasib.
"Hallo, ya ada apa tuan Adi?" tanya Jack.
"Apa? bagaimana bisa tuan Rohan tahu nama itu? ah baiklah aku akan mencari informasi mereka setelah ini!" ucap Jack.
Panggilan pun terputus. Jack langsung berlari mendekati Tomi yang tengah bersuap-suapan bersama Shiren.
"Tuan ada hak darurat!" bisik Jack disamping telinga Tomi.
"Apaan?! ganggu aja!"
"Ini tentang kelompok Nerezza!"
"Apa?" sontak berdiri dari duduknya mengagetkan semua orang yang ada disana.
Jack berbisik memberitahu apa yang diucapkan Adi tadi tentang Rohan yang menanyakan siapa itu Jo.
"Baiklah, emm Shiren maafkan aku ya sepertinya makan siang kita harus kita tunda lain waktu. Aku ada urusan yang harus aku urus sekarang!" ucap Tomi tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, aku mengerti kok!" ucap Shiren.
"Kamu pulang saja dulu biar diantar sama mereka berdua ya!" ucap Tomi.
"Kalian berdua, antar Shiren pulang dengan selamat. Sampai aku lihat dia lecet nanti awas saja kalian berdua ya!" peringatan Tomi.
"Baik tuan!"
"Ya sudah aku pulang dulu, jaga dirimu baik-baik!" mencium pipi Tomi dan langsung meninggalkan Tomi.
Tomi masih syok karena habis dicium oleh Shiren. Dia mematung beberapa saat hingga akhirnya tersadar.
"AAAAA!!!!! kau lihat itu!!!! dia menciumku!!!! aaa mimpi apa aku semalam!!!!?????" teriak Tomis histeris.
"Duh begini nih kalau udah kemakan cinta! jadi gila kan!" omel Jack.
"Tuan ayo segera ke markas, ada hal yang harus kita urus nih!" ucap Jack kesal karena tuannya masih mengelus-elus bekas ciuman Shiren.
"TUANNN!!!!" bentak Jack.
"Jack, kau berani membentak tuanmu? cari mati kau yaa?!" kepala Tomi karena Jack mengganggu khayalannya.
"Ayo pergi tuan kita ada urusan yang lebih penting nih!" ucap Jack mengalihkan perhatian.
"Ah iya-iya baiklah!" pasrah.
__ADS_1
Mereka pun meninggalkan restoran itu menuju markas Tomi.