
Setelah acara pemakaman, Darel dan yang lain kembali ke rumah utama. Pemandangan pertama yang mereka lihat adalah sang mama yang masih meraung-raung histeris. Sungguh hal itu mampu mengiris batin mereka. Tidak menyangka bahwa sang papa akan meninggalkan mereka dalam waktu yang secepat ini.
"Ma!" lirih Juna.
Mereka bertiga berjalan mendekati mamanya yang masih menangis meminta tuan Ardi pulang.
"Darell!! bawa papamu pulang, nakk!!! Junaa, jemput papamuu!!! ayo kita jemput papaaa!" tangis nyonya Ardi kala ketiga putranya mendekatinya.
Tak kuasa menahan tangis, Darel dan Juna memeluk mamanya dengan sangat erat disusul Randita. Nyonya Ardi yang sedari tadi menangis pun tubuhnya semakin lemah dan akhirnya hilang kesadaran.
"Maa?!! mama!!! mama bangun maa!!" teriak mereka semua panik.
Darel segera membawa mamanya kedalam kamar lalu Mentari berinisiatif untuk memanggil dokter pribadi keluarga mereka. Tidak sampai setengah jam, dokter pribadi mereka datang. Setelah memeriksa keadaan nyonya Ardi, dokter itu keluar dari kamar dan menemui Darel juga yang lain.
"Bagaimana keadaan mama, dok?" tanya Randita.
"Nyonya Sanjaya hanya syok karena keadaan yang mendadak ini. Beri dia ruang agar bisa menerima keadaan ini." ucap dokter itu.
"Ini saya beri vitamin agar nutrisinya tetap terpenuhi dalam kondisi seperti ini." ucap dokter itu.
"Terimakasih dok!" ucap Darel.
"Kalau begitu saya permisi dulu!" ucap dokter itu.
Rangga mengantar dokter pribadi keluarganya sampai depan pintu.
"Kakak nggak nyangka kalau papa pergi secepat ini!" lirih Randita.
"Kak, boleh aku bicara?!" tanya Darel.
Mentari yang seolah tahu apa yang hendak Darel katakan pun memegang lengan Darel. Merasa ada yang memegang lengannya, Darel pun menoleh ke arah Mentari yang menatapnya seolah dia ingin berkata jangan bicarakan hal itu.
"Tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa!" ucap Darel lembut.
Randita yang tidak mengerti maksud dari interaksi dari adik dan adik iparnya ini pun menatap Juna yang juga terlihat kebingungan.
"Apa yang ingin kau bicarakan? apakah itu penting?" tanya Randita.
"Sangat penting! ini menyangkut papa dan masalalunya. Juna, kau juga boleh ikut kalau kau mau." ucap Darel menatap adik laki-lakinya itu.
"Apa aku juga boleh ikut?" tanya Rangga yang baru kembali setelah mengantarkan dokter pribadinya.
"Tentu!" ucap Darel.
__ADS_1
Mereka berjalan menuju ruang tamu. Sepanjang jalan menuju ruang tamu, Darel tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Mentari. Tangan Mentari terasa sangat dingin saking gugupnya. Darel hanya berusaha menyakinkan Mentari bahwa semua akan baik-baik saja dengan menggenggam erat tangan istrinya itu.
"Jadi, apa yang ingin kau katakan mengenai papa dan apa maksudmu dengan masalalu papa?" tanya Randita begitu mereka telah duduk di ruang tamu.
Saat ini pelayan berada di rumah belakang. Mereka sengaja di liburkan karena Darel ingin membicarakan masalah papanya ini kepada kakak dan adiknya dan tidak ingin ada orang lain yang tahu.
"Mungkin ini terdengar gila, tapi percayalah, aku memiliki banyak bukti untuk ini dan pengakuan langsung dari papa sendiri." ucap Darel menatap saudaranya bergantian.
"Jangan bertele-tele, Darel! katakan apa maksudmu?" tanya Randita.
Juna dan Rangga hanya menyimak saja apa yang hendak Darel katakan. Melihat dari ekspresi wajah Darel, sepertinya informasi ini adalah aib.
"Papa telah berselingkuh dari mama!" ucap Darel.
"APAAA?! A..apa yang kau katakan Darel?! tidak mungkin papa melakukan itu?! kau tahu kan kalau papa itu sangat menyayangi mama?! bagaimana bisa kau mengatakan hal itu?!" tolak Randita.
"Kak, apa kau yakin dengan perkataanmu itu? maksudku darimana kakak tahu kalau papa berselingkuh? dan siapa wanita itu haa?! aku akan menghajar wanita itu karena telah menggoda papaku!!" geram Juna.
Melihat reaksi Randita dan Juna membuat Mentari semakin gelisah. Terlebih perkataan Juna yang ingin menghajar almarhumah ibunya. Ibunya tidak bersalah! ibunya korban! dia bukan wanita rendahan. Ibunya dijebak.
"Jangan katakan hal itu, Juna!" hardik Darel.
"Kenapa kakak membela wanita itu? siapa dia kak?! jawab!!" cerca Juna.
"JANGAN KATAKAN WANITA ITU MURAHANNN KARENA DIA ADALAH KORBANN!!!" teriak Darel sambil berdiri.
Randita, Juna, Rangga, bahkan Mentari menatap Darel dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Mentari terharu karena suaminya membela ibunya bahkan dari keluarganya sendiri. Tapi memang benar, ibunya hanya korban.
"Kamu membentak kami, Darel?! demi wanita murahan itu?!" tanya Randita.
"Wanita itu....adalah mamanya Mentari kak, mama Maya!!!" ucap Darel dengan kesal.
Darel tidak mau mama mertuanya direndahkan seperti ini. Walau pun dia harus melawan seluruh dunia sekalipun, dia tidak takut. Dia membela yang benar! dan disini, Maya lah yang benar.
"Mamanya Mentari?! b...bukannya Mentari telah lama yatim piatu? lalu...." terpotong.
"Kejadian itu kala kita semua masih kecil kak! hingga menyebabkan kematian dari orang tua Mentari. Aku awalnya juga syok dan tidak percaya mengetahui kebenaran itu sampai papa sendiri yang mengakuinya dihadapan ku. Bahkan Mentari sendiri sempat drop saat papa mengakui semua perbuatannya dahulu." ucap Darel.
"Kak....bagaimana bisa? papa sekeji itu?" tanya Juna tidak percaya.
"Percayalah, Jun! bahkan sampai detik ini aku rasanya ingin menghilangkan kenyataan itu, namun tetap tidak bisa. Kenyataan tetaplah kenyataan." ucap Darel.
"T...tidak...pa...papaa!!" Randita kehilangan kata-kata.
__ADS_1
Rangga merengkuh tubuh istrinya lalu membawanya kedalam pelukannya. Randita menangis didalam pelukan suaminya.
"Bagaimana ceritanya?" tanya Juna masih tidak percaya.
Darel pun mulai menceritakan semuanya. Mulai dari rasa curiganya tatkala latihan menembak waktu itu hingga terkuaknya kebenaran yang tertutup rapat selama belasan tahun. Juna mengepalkan tangannya, dia terlihat sangat emosi apalagi saat Darel mengatakan bahwa Maya sempat menggugurkan kandungan bukan hanya sekali tapi sudah berkali-kali karena ulah papanya.
"Brengse*!!!!" Juna memukul sofa untuk menyalurkan emosinya.
"Jadi selama ini sikap baik papa terhadap Mentari itu hanyalah topeng untuk menyembunyikan kebejatannya?!" geram Juna.
"Seperti itulah! aku belum berani mengatakan hal ini kepada mama, karena mama pasti akan sangat syok dengan kabar ini." ucap Darel.
"Maafkan kakak, Tari! kakak tidak bermaksud mengatai almarhumah mamamu! kakak merasa bersalah setelah mengetahui semua ini. Mewakili papaku, aku mohon maafkan kesalahannya walau aku yakin pasti akan sangat sulit bagimu melakukan itu." ucap Randita.
"Aku sudah memaafkan papa kak! kakak tidak perlu memohon seperti itu padaku." ucap Mentari.
********
Esok harinya, keadaan nyonya Ardi telah membaik. Mungkin dia telah merelakan apa yang menjadi garis takdirnya. Darel pun memutuskan untuk pulang dan akan kembali sore harinya.
"Sayang!" panggil Darel.
Saat ini Darel telah selesai mandi. Dilihatnya Mentari yang masih terlelap. Darel melemparkan handuk yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya ke sembarang arah lalu mendekati istrinya dan duduk di sampingnya.
Melihat wajah istrinya terlihat semakin cantik saat tengah terlelap seperti ini. Dipandanginya wajah istrinya sambil tersenyum. Ah, rasanya Darel benar-benar telah jatuh cinta pada wanita yang ada dihadapannya dan kini telah mengandung benih buah cintanya.
Mata Darel mulai menyusuri tubuh Mentari.
Glek....
Darel menelan ludahnya saat menatap payudar* dan bongkahan panta* Mentari yang kian membesar selama hamil. Tubuh Mentari kian berisi membuat beberapa bagian tertentu semakin menonjol dan menggoda jiwa lelaki Darel.
Tidak tahan lagi, Darel pun meremas bagian-bagian itu dengan penuh damba. Merasa ada yang menyentuh bagian tubuhnya, Mentari pun perlahan membuka matanya.
"S...sayanggg!!!" ucap Mentari lirih.
"Eh, maaf! aku emmbangunkanmu yaa?" tanya Darel.
"Gimana nggak bangunin orang kamunya sentuh-sentuh kok!" rajuk Mentari.
"Maaf dehh! soalnya ini, ini, ini, semuanyaaa yang ada di kamu itu menggoda aku! jadi, mau gimana lagii!" ucap Darel genit.
"Tahan dulu dong! kan kata dokter belum boleh begituan dulu, gimana sih!" ucap Mentari.
__ADS_1
Ah, iya! Darel melupakan nasehat dokter saat Mentari dirawat dirumah sakit waktu itu. Dokter itu bilang bahwa Darel jangan dulu meminta jatahnya karena Mentari sering merasa keram di perutnya. Tapi mau gimana lagi, tubuh istrinya telah menjadi candu baginya dan akan sangat sulit menahan hasrat yang tidak tersalurkan ini.