Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 310


__ADS_3

Tengah malam Darel berada diruang kerjanya. Dia masih harus menyelesaikan beberapa file yang tertunda pagi tadi. Wajah Darel kini telah lebih segar dari pagi tadi. Tentu kalian tahu alasannya. Ya, apalagi kalau bukan karena dia telah berhasil mendapatkan jatahnya, walaupun hanya satu ronde karena demi kesehatan istrinya. Setidaknya pening di kepalanya telah hilang.


Tok...tok...tok....


"Masuk!" jawab Darel yang masih fokus pada laptopnya.


Adi masuk lalu menutup kembali pintu ruang kerja Darel. Darel menatap bingung pada Adi yang tidak biasanya menemuinya dikala seperti ini.


"Ada apa Adi? sepertinya ada hal penting yang ingin kau bicarakan?" tanya Darel.


Sesaat Darel menatap ke arah Adi yang terlihat bingung ingin mengatakan alasannya menemui Darel. Karena tidak ada jawaban dari Adi, Darel pun kembali fokus pada laptopnya.


"Tuan, maaf sebelumnya, tapi aku mengkhawatirkan sesuatu." ucap Adi.


Darel menghentikan fokusnya lalu berganti menatap ke arah Adi dengan tatapan bingung.


"Maksudmu?" tanya Darel.


"Hufttt! begini tuan!" Adi menghela nafas panjang.


"Adik dari nenek anda yang berada di Singapura, kemungkinan akan kembali ke Indonesia setelah mendengar kabar kematian tuan besar. Saya takut kalau beliau mengganggu pernikahan anda dan juga nona, terlebih beliau adalah orang yang tegaan. Saya takut nona kenapa-kenapa kalau benar dia kembali, tuan!" ucap Adi.


Sejenak Darel terharu dengan ucapan Adi yang begitu mengkhawatirkan dirinya. Namun setelah Darel memikirkan kembali perkataan Adi, sepetinya hal itu adalah sesuatu yang perlu dikhawatirkan, mengingat nenek kecilnya itu kekeh ingin menjadikan Pretty sebagai menantunya.


Dulu, saat Darel mengenalkan Pretty kepada nenek kecilnya itu yang kebetulan berada di Indonesia, dia langsung menyetujui hubungan mereka. Namun rupanya kebusukan Pretty terbongkar hingga Darel begitu kecewa lalu mengusir wanita itu dalam dirinya dan hatinya. Butuh bertahun-tahun bagi Darel untuk melupakan wanita yang merupakan cinta pertamanya itu hingga Mentari datang dalam hidupnya dan merubah semuanya. Pretty memang benar cinta pertama Darel, walaupun Darel sering "bermain" dengan banyak wanita. Namun hal itu hanya sebatas untuk menuntaskan hasrat belaka karena pada saat itu Darel mengira Pretty masih virgin. Sudah pernah Darel katakan bukan, bahwa dia tidak akan merusak seorang gadis yang masih virgin? walaupun akhirnya dia mendapatkan Mentari yang masih sangat menjaga kehormatannya hingga Darel lah yang menjadi orang pertama baginya.


"Kau benar juga, Adi! aku bahkan tidak berpikiran sampai kesana! wanita itu dimana ya dia sekarang! setelah hukuman yang kita berikan tempo hari, dia menghilang begitu saja." ucap Darel.


"Itu yang saya takutkan tuan, mengingat nona saat ini tengah mengandung. Anda tahu sendiri kan kalau omongan nenek anda itu sangat pedas? takutnya itu mengganggu nona." ucap Adi.


Adi sempat memikirkannya sangat lama. Kemungkinan hal itu terjadi memanglah cukup kecil, tapi mengingat perangai adik dari nenek Darel itu, Adi yakin kalau wanita itu akan membuat ulah dalam rumah tangga Darel. Beberapa kali bertemu dengan beliau kala kembali ke Indonesia dahulu membuat Adi mengenal betul sifat dari wanita yang sekarang berumur tujuh puluh tahun itu. Tidak berniat mendoakan yang buruk, namun lebih ke waspada saja.

__ADS_1


"Kita lihat saja nanti, kalau benar seperti dugaanmu, maka aku sendiri yang akan menjauhkannya dari Mentari bahkan bayangannya pun tidak akan aku ijinkan mendekatinya!" ucap Darel.


Darel begitu khawatir terhadap Mentari. Dia begitu sangat mencintai wanitanya apalagi sekarang dia tengah mengandung kecebong hasil buah cinta mereka. Darel menjadi overprotektif kepada Mentari, bahkan Darel tidak memperbolehkan Mentari untuk memasak. Walaupun terkadang Mentari memasak dengan alasan ngidam. Kalau sudah begitu Darel tidak bisa berkutik lagi.


"Kalau begitu saya keluar dulu tuan! selamat malam!" ucap Adi.


Darel menganggukkan kepalanya sekilas, lalu menyandarkan tubuhnya dikursinya. Pikirannya penuh dengan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin terjadi seperti yang ditakutkan oleh Adi. Adi cukup pintar dalam membaca sifat orang. Terbukti dahulu Adi sangat tidak menyukai Pretty namun karena Pretty adalah kekasih Darel, mau tidak mau Adi juga harus menghormati Pretty.


********


Satu bulan telah berlalu, hari ini Mentari, Darel, dan semua orang berada dirumah sakit. Persalinan Daniar tengah berlangsung diruang operasi. Awalnya Daniar memilih melahirkan dengan normal saja, dia juga sempat mengejan selama hampir satu jam lamanya, namun karena posisi bayi yang sungsang membuatnya susah untuk keluar hingga dipilihlah lahiran dengan cara operasi.


Sudah dari semalam mereka berada dirumah sakit karena Daniar sempat merasa sangat mulas semalam hingga membuat seluruh rumah kelabakan karena mengira Daniar akan melahirkan. Namun setelah diperiksa ternyata baru pembukaan dua.


Mentari menggenggam jari tangan Darel saat mendengar teriakan Daniar kala mengejan yang terdengar sampai ke luar ruangan. Hal itu membuat Mentari merasa takut dan berkeringat dingin. Darel yang mengetahui istrinya itu tengah khawatir mencoba menenangkan Mentari dengan mengelus pundaknya.


"Sayang, aku takut!" ucap Mentari dengan keringat yang membasahi wajahnya.


Air mata Mentari jatuh begitu saja. Entah mengapa dia semakin khawatir mendengar perkataan suaminya.


"Berjanjilah padaku, jika terjadi apa-apa padaku saat melahirkan anak-anak kita nanti, tolong jaga mereka dengan baik yaa! sayangi mereka, jangan biarkan mereka kekurangan kasih sayang seorang ibu!" ucap Mentari tiba-tiba.


Darel mengerutkan keningnya saat mendengar Mentari mengatakan hal itu. Jujur dia juga takut akan kemungkinan terburuk dari melahirkan. Dia tidak siap! dan tidak akan pernah siap kalau harus ditinggalkan oleh istrinya!


"Sayang, kamu ngomong apaan sih?! kamu akan baik-baik saja! bukan hanya aku yang akan menjaga anak kita, tapi kita! ingat ya KIITAA!" ucap Darel.


"Jangan bicara yang tidak-tidak! aku tidak suka! aku tidak akan rela kau meninggalkanku!" ucap Darel.


"Kalau itu terjadi?" tanya Mentari.


"Maka aku akan membawa rohmu kembali kedalam tubuhmu! jika tidak bisa, akan ku minta pada Tuhan untuk membawamu kembali dengan imbalan apa saja sebagai gantinya." ucap Darel.

__ADS_1


"Bukan itu! apa kau akan menikah lagi jika aku meninggal lebih dulu?" tanya Mentari.


"Tidak!" ucap Darel mantap.


"Benarkah?!" ledek Mentari.


"Kau adalah cintaku, Tari! kau adalah nyawaku! bagaimana aku bisa hidup kalau nyawaku hilang? jika itu terjadi, maka aku tidak akan pernah menikah lagi. Kau terlalu berharga untuk digantikan, Tari! kau berharga bagiku, sangat! jangan bicara seperti itu lagi karena aku tidak akan pernah mengijinkan mu meninggalkanku!" ucap Darel.


Entah mengapa pembicaraan ini semakin menguras emosi saja. Darel terbawa suasana hingga mereka tidak menyadari bahwa dokter yang mengoperasi Daniar telah keluar dari ruangan. Terhitung sudah lebih dari tiga jam lamanya Daniar berada didalam ruangan operasi itu.


"Dokter! bagaimana dengan anak dan istri saya?" tanya Zanu dengan cemas berlari lebih dulu ke samping dokter.


Zanu ingin masuk ketika Daniar hendak dioperasi tadi, namun takutnya kehadiran Zanu akan membuat konsentrasi para dokter didalam terpecah. Biasanya seorang suami akan tidak tega melihat istrinya dioperasi caesar karena akan ada banyak darah yang pasti akan membuat sang suami ngilu sendiri kala melihatnya dan yang pasti akan ada banyak drama sehingga membuat kinerja dokter menjadi menurun.


"Ibu dan anaknya baik-baik saja, semuanya sehat. Selamat ya, pak! anak anda laki-laki! sangat tampan!" ucap dokter itu.


Semuanya bersorak penuh bahagia. Zanu langsung bersujud syukur atas apa yang telah dikaruniakan padanya. Seorang perawat keluar dengan membawa bayi laki-laki yang matanya masih tertutup. Hidung mancung, wajah putih, mata yang sedikit bulat. Sungguh perpaduan antara wajah Daniar dan wajah Zanu yang menjadi satu.


Setelah membersihkan tubuh Daniar, Daniar dibawa ke ruang rawat untuk memulihkan kondisinya pasca melahirkan. Semuanya bergembira atas kelahiran baby Zanu. Bahkan mereka berebut untuk menggendong bayi mungil itu. Mentari dan Darel juga ikut menggendong baby Zanu, sangat lucu dengan tangan dan kaki yang masih sangat mungil.


"Hallo, sayangkuuu!! ini aunty Tari! kalau ini ancle Darel!!!" ucap Mentari dengan nada yang dibuat-buat seperti anak kecil.


"Hahah, dia lucu banget yaa! jadi nggak sabar nunggu baby kita lahir, ya kan sayang?" tanya Darel.


"Ehh, sini-sini! anak saya mau digendong sama ayahnya!" ucap Zanu merebut putranya dari gendongan Mentari.


"Ouhh!! anak ayahh, ganteng banget sih kamu nakk!!!" ucap Zanu kala menggendong putranya.


"Duhh, ini anaknya mau digendong sama kakek dan neneknya!! sini!!" ucap mama Daniar merebut cucunya dari tangan ayahnya.


"Eh, ma, kok gitu sih! kan aku harus bentar gendongnya!!" rengek Zanu yang tidak ikhlas putranya diambil dari gendongannya.

__ADS_1


Mereka terlihat lucu karena saling berebut ingin menggendong baby Zanu, sedangkan baby Zanu sendiri tidak merasa terganggu berpindah-pindah tangan dan tetap terlelap tanpa menangis sedikit pun.


__ADS_2