Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 237


__ADS_3

Di sisi Arul, dia kembali di tengah-tengah sahabatnya dengan wajah yang ditekuk dan berjalan dengan lesu. Saat ini Adi, Harri Jack, dan Lukas yang sebelumnya ikut membersihkan sisa-sisa perkelahian mereka di resort tadi juga sudah ada disana.


"Kenapa lo? dari aroma-aromanya kayaknya ada yang bakal nggak dapat jatah satu tahun nihhh!" ledek Tomi berusaha mencairkan suasana.


"Hah, siapa tuan? tuan Arul yaa?" tanya Jack bersemangat.


"Iya tuh gara-gara bilang Anisa tuh tunduk sama Arul pas Shiren lagi video call sama dia. Dan otomatis Anisa dengar lah apa yang dibilang sama Arul, marah lah dia. Lalu Nisa ngancam kalau Arul nggak bakal dapat jatah selama tiga bulan. Ya gue komporin aja biar nggak dapat jatah satu tahun sekalian!" ucap Tomi menjelaskan alurnya singlat.


"Buahahahahaha, yaahhhh kasian....jadi bapack-bapack yang kesepian dehhh!!" ejek Jack dengan lebay nya.


Ucapan Jack di sambut tawa oleh sahabat Arul yang lain sedangkan yang diledek hanya bisa mendengus kesal.


"Setidaknya masih ada anak gue yang gue ajak main. Lah lo berdua ada? lebih-lebih low Jack, pacar aja nggak punya!" ucap Arul tidak mau kalah.


"Yeee, kalah omongan......bilang bosss!!!" ucap Jack lagi sambil tertawa.


"Hustttt.....maaf ya ini rumah sakit! tolong kecilkan volume suara kalian, banyak pasien yang terganggu akibat suara berisik kalian!" ucap seorang suster yang muncul entah darimana.


Mereka semua langsung terdiam, bungkam seribu bahasa. Bahkan Jack langsung menutup mulutnya dengan menggunakan tangannya.


"Ishh, kalian ini kalau mau bercanda liat tempat dongg!!! ini kan rumah sakit!! banyak orang yang perlu istirahat biar cepat sembuh! Sayang, kamu juga jangan gitu dongg!! kasian kan tuan Arul! masa katanya sahabat, tapi malah senang pas sahabatnya susah!" omel Shiren membuat wajah Tomi langsung berubah masam.


"Yaaaa, kasian bininya belain guee bukan eloo!!!" ledek Arul sambil berbisik.


"Hiss, diamlah kau!" umpat Tomi.


"Maaf sayang!" ucap Tomi langsung memeluk Shiren.


"Iyaa, jangan diulangi lagi!" ucap Shiren membalas pelukan hangat Tomi.


********


"Loh?!" terkejut.


"K...kamu....kamu udah.....sadar?" tanya Mentari bingung, terkejut, senang, dan gugup.


Darel langsung duduk. Kini Darel berada tepat dihadapan Mentari. Wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja. Darel menatap lekat wajah yang setiap hari dia rindukan selama setahun ini. Wajah wanita yang selalu menghantui tidurnya.


"Kamu semakin cantik, Tari!" ucap Darel sambil tersenyum menatap Mentari dengan lekat.


Mentari menjadi salah tingkah ditatap seperti itu oleh Darel. Dia berusaha menjauhkan pandangannya dari pandangan mata Darel.


"K...kamu denger se.....semuanya?" tanya Mentari malu.

__ADS_1


"Yahh, aku denger semuanya. Bahkan saat kamu ngorok juga aku denger kok!" goda Darel.


"Hah, emang aku ngorok tadi?" tanya Mentari malu yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Darel.


Darel mengulum senyumnya melihat raut wajah Mentari yang begitu menggemaskan itu.


"Aku bercanda kok! kalau pun kamu ngorok, kamu tetap wanita paling cantik di dunia!" ucap Darel sok romantis.


"Gombal!" ucap Mentari.


"Tunggu?!" ucap Mentari langsung menatap tajam Darel seperti tengah menyadari sesuatu.


"Kau berpura-pura sejak tadi?" tanya Mentari.


"Emmm....enggak!! aduhhh...kepala ku pusing, sayanggg!!" ucap Darel berakting kesakitan.


Mentari berkacak pinggang melihat sandiwara Darel itu.


"Udah main-mainnyaa, nggak lucu tau! emang selain nyawa nggak ada permainan lain apa? harus banget gitu pake acara kayak gini? biar apa sih Darel? kami semua takut kamu kenapa-kenapa! dan kamu kalah...." ucap Mentari emosi.


"Biar apa? ya biar bisa lihat wajah itu!" ucap Darel kembali menatap Mentari yang membuat raut wajah begitu menggemaskan bahkan saat marah, tingkat menggemaskannnya akan semakin bertambah.


Mentari terdiam mendengar ucapan Darel. Memang dirinya sangat-sangat khawatir terhadap Darel.


"Kenapa kamu buat drama kayak gini? bahkan kamu nyuruh dokter buat berbohong loh!" tanya Mentari.


"Tapi?" tanya Mentari penasaran.


"Tapi sakitku itu sebenarnya disini!" ucap Darel menunjuk ke dadanya.


"Jantung?!"


"Ishhh, kok jantung sih!" cibir Darel.


"Terus apa?"


"Hati dongg!!!!" ucap Darel merengek membuat Mentari tertawa.


"Kalau lagi tertawa gitu kamu semakin cantik, sayang!" puji Darel membuat Mentari menghentikan tawanya.


"Oh ya, aku mau menagih janjimu padaku!" ucap Darel.


"Janji? janji apa?" tanya Mentari.

__ADS_1


"Janji kalau aku bangun kamu bakal ngelakuin apapun yang aku mau!" ucap Darel tanpa dosa.


"Sini!" ucap Darel menepuk tempat di sampingnya.


Mentari mengikuti perintah Darel dan duduk di hadapan Darel. Wajah mereka kembali berdekatan, bahkan saat ini Mentari bisa merasakan nafas Darel yang panas.


Jangan-jangan dia mau.....


Cupp....


Sebuah ciuman mendarat lembut di bibir Mentari.


Cuppp.... cupp....cup....


Beberapa ciuman lagi mendarat di tempat yang sama. Mentari hanya terpejam merasakan ciuman singkat itu. Saat Darel menarik bibirnya dari bibir Mentari, Mentari merasa sedikit kesal.


"Aku mau kamu, boleh?" tanya Darel.


"Aku....." belum sempat Mentari melanjutkan ucapannya, Darel sudah lebih dulu melahap bibirnya.


Ruangan UGD itu menjadi saksi adegan panas mereka berdua. Setelah berpuasa selama satu tahun lamanya, Darel menumpahkan semua hasratnya ke Mentari. Wanita yang sudah merubah sisi liarnya menjadi selembut kapas.


Tadi saat bom akan meledak. Saat itu benar kalau Dendi membawa Darel untuk mati bersama. Namun yang tidak mereka ketahui, Darel berhasil menyelamatkan diri sebelum bom itu meledak dengan menendang bagian inti Dendi. Darel yang masih agak lemah pun terkena efek bom itu hingga tubuhnya terpental ke semak-semak tepat dia ditemukan tadi.


Mereka melakukannya untuk pertama kali setelah satu tahun. Darel melepaskan semua hasrat terpendamnya. Penyatuan yang begitu hangat dan memabukkan terjadi selama hampir satu jam lamanya. Darel benar-benar sangat liar kali ini, namun masih dengan penuh kehati-hatian.


Di luar ruangan.


"Lama sekali sih Mentari didalam! ngapain aja coba! kita kan juga mau menjenguk Darel!" omel Tomi.


"Ya sabar lah! mereka kan baru saja bertemu setelah satu tahun dan sekalinya bertemu malah dalam keadaan yang begini!" ucap Bagas.


"Huhhh, tau gitu tadi gue telfonan sama bini gue aja tadi!" ucap Arul masih dengan wajah yang ditekuk.


"Sabar aja dulu!" ucap Zanu bersedekap dada.


Ceklekk.....


"Nah itu dii....." ucap Bagas terdiam tidak melanjutkan kata-katanya.


Mereka menoleh ke arah pintu ruangan Darel yang terbuka memperlihatkan Mentari yang berdiri disana dengan rambut yang basah.


"Loh, Tari, kamu habis ngapain?" tanya Arul selidik.

__ADS_1


"Emmm....aku.....itu....." ucap Mentari tergagap sekaligus malu.


"Ohhh, aku tahuuu!!! kamu habis berendam ya di kamar mandi makanya tadi lama banget didalam!" ejek Tomi disambut gelak tawa oleh Arul.


__ADS_2