Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 258


__ADS_3

Mentari sudah sampai di rumahnya. Daniar dan keluarganya tidak jadi mengantarkan Mentari pulang karena ditolak oleh Mentari. Pasalnya hari ini adalah hari syukuran kehamilan Daniar, semua persiapan juga sudah selesai tidak mungkin di batalkan. Jika itu terjadi, maka Mentari akan merasa sangat berdosa kepada Daniar.


"Sayanggg!!!" sapa nyonya Ardi saat Mentari baru memasuki rumah.


Keluarga Darel sudah menunggu kepulangan mereka bertiga sedari tadi. Mereka terlihat sangat cemas kepada menantu, adik ipar dan kakak ipar mereka.


"Darel bilang kamu tadi pingsan yaa?! kamu kalau sakit dirumah saja, jangan keluar!" ucap nyonya Ardi memeluk menantu perempuannya itu dengan penuh kehangatan.


Mentari pun membalas pelukan itu hingga beberapa lama mereka seperti itu.


"Ini pasti gara-gara Darel memaksa melayaninya setiap hari, iya kan Tari?! bilang aja kalau dia begitu, biar aku pukul dia sampai kapok!!" ucap Randita.


"Ihh, apaan sih kak!! orang dia juga mau kok!" ucap Darel.


"Halah, paling juga kamu paksa! Mentari itukan istri yang berbakti sama suami. Mana mungkin dia menolak keinginan suaminya!!" sindir Randita.


"Udah sayangg, jangan marah-marah!!" ucap Rangga menenangkan istrinya itu.


"Tari baik-baik saja kok, ma, kak! terimakasih sudah perhatian sama aku!" ucap Mentari terharu.


"Sayangg, kamu nih ngomong apa sih?! kamu itu udah jadi bagian dari keluarga kami, sudah sepantasnya kami mencemaskan keadaan kamu juga!" ucap nyonya Ardi.


"Oh ya, Darel! kamu tidak lupa kan kalau dua hari lagi ulang tahun papa?!" ucap tuan Ardi.


"Mana mungkin aku lupa! bahkan kami sudah menyiapkan kado teristimewa buat papa!" jawab Darel membuat Mentari menatapnya bingung.


"Apa?! kado apa?! sini papa lihat!!"


"Eittt!!! kalau dilihat sekarang nggak jadi istimewa dong, pa!! kan ulang tahun papa masih dia hari lagi, jadi kadonya juga baru boleh dibuka pas hari itu aja!" ucap Darel.


"Dasar anak tengik!!! membuat penasaran saja!!" omel tuan Ardi.


"Oh ya, rencananya papa tidak akan mengadakan pesta besar-besaran seperti tahun-tahun sebelumnya. Cukup keluarga dan kerabat dekat saja yang akan hadir. Caranya di villa milik papa di puncak." ucap nyonya Ardi.


"Wahh, bagus tuh!! lagi pula disana juga ada kebun strawberry milik keluarga kita kan?pasti sudah pada berbuah lebat!! sahabatku pasti juga akan datang kesana. Boleh aku ajak?" tanya Darel.

__ADS_1


"Tentu saja!! ajak orang-orang mu!! kita sambil rekreasi ke sana!" ucap tuan Ardi.


"Emm, boleh Tari bertanya?" tanya Mentari.


"Iya? tentu saja!" ucap tuan Ardi.


"Berapa hari kita disana?" tanya tari ragu.


"Ada apa, sayang? apa ada masalah?" tanya Darel.


"Tidak! bukan seperti itu! tadi aku sudah janji dengan karyawanku kalau aku akan mengajak mereka ke aquarium air laut weekend ini. Rencananya aku juga akan mengajak kita semua ke sana." jawab Mentari.


"Ahh, begitu rupanya!! kau memang wanita yang baik, Tari! emm begini saja. Besok kita berangkat lalu empat hari kita disana. Hari Kamis kita pulang, hari Jum'at kita istirahat lalu weekend nya kita ke aquarium itu, bagaimana?" usul tuan Ardi.


"Boleh juga! sudah lama kan Arya tidak melihat binatang laut?" tanya Randita pada Arya yang berada di gendongan sang ayah.


"Iya, ma!" jawab Arya polos.


"Baiklah sudah disepakati! mari kita bersiap untuk makan malam!!" ucap tuan Ardi.


"Loh, kalian menginap disini?" tanya Darel saat kakak, adik, dan orang tuanya berpencar menuju kamar mereka.


"Iyaaa!!" teriak tuan Ardi yang sudah berada didepan pintu kamarnya.


"Huhhh!!!" Darel menghela nafas.


"Sabar!! Iwang, kamu mandi juga ya, nak! habis itu kita makan malam!" ucap Mentari kepada anak angkatnya.


"Iya, bu!" ucap Iwang lalu menuju kamarnya.


"Kamu nanti mau makan apa? biar mbok Tini yang menyiapkannya!" tanya Darel.


"Aku pengen makan dimsum deh!! kayaknya enak." ucap Mentari.


"Oke kamu naik dulu ke kamar, aku kau sampaikan pesanan kamu ke mbok Tini!" ucap Darel.

__ADS_1


Mentari mengangguk lalu pergi ke kamar mereka sedangkan Darel menuju ke dapur dan menyampaikan keinginan Mentari. Tidak lupa juga Darel bilang agar jangan memakai cabai dalam semua masakan malam ini dan seterusnya. Mbok Tini yang mendengar itu sedikit bingung. Pasalnya Randita sangat menyukai makanan yang pedas. Setahu mbok Tini Mentari juga suka makanan yang pedas. Terbukti dimana Mentari sering membuat seblak di dapur dengan kuah bumbu yang sangat merah dan kental menggambarkan betapa pedasnya kuah itu.


********


Dirumah Daniar.


"B...bagaimana keadaan, Tadi?" tanya bi Surti.


"Kenapa? belum puas kamu memfitnah dia? menjelek-jelekkan dia? menghina dia?" ketus mama Daniar.


Mereka baru saja tiba dirumah Daniar. Bapak-bapak yang akan selamatan juga sudah mulai berdatangan.


"Emm, bu...bukan seperti itu..."


"Aku tidak percaya kamu sampai melakukan hal kotor ini untuk memfitnah Tari!! apa sih salah anak itu? dia selalu baik padamu!! dia bahkan tidak pernah mengataimu yang buruk-buruk!! tapi kenapa kau selalu mengusik hidupnya?" ucap mama Daniar tidak habis pikir.


"Sudahlah!! aku cuma tanya bagaimana keadaan dia itu saja?!" ucap bi Surti menolak mengakui kesalahannya.


"Dia baik!! dan dia lagi hamil muda!! untung saja dia dan janinnya baik-baik saja atau jika mereka mendapatkan hal buruk maka kamu akan dalam masalah! kau sudah tahu kan siapa suami dari Mentari itu?! kau juga bisa bayangkan bukan seberapa berkuasanya dia di negara ini? hanya satu sentilan saja kau bisa langsung dimusnahkan dimuka Bumi ini!" ucap Daniar geram.


Tidak ada lagi hormat dari Daniar untuk bibinya itu. Sudah cukup selama ini dia menghormati bibinya. Jika bukan karena Mentari yang mengajarkan dia untuk menghormati orang yang lebih tua meskipun sudah menyakiti kita, maka Daniar akan melupakan bahwa mereka adalah saudara sejak lama.


Kali ini Daniar tidak bisa diam saja melihat sahabatnya diinjak-injak harga dirinya oleh bi Surti. Sudah cukup selama ini dia mendiamkan sifat sang bibi yang sangat membenci Mentari.


"Jika kamu masih tidak bisa berbaik hati kepada Mentari, sahabatku! jangan harap kau bisa masuk ke dalam rumahku!! pergi kau dari sini!!!" usir Daniar.


"Kau mengusirku?! aku?! aku bibimu!! yang jelas-jelas adalah saudaramu!! bukan wanita tanpa asal-usul yang jelas ituu!!"


Hah, bahkan disaat seperti ini bi Surti masih saja menghina status Mentari. Bukan salah Mentari jika semua takdir buruk dimasa lalu itu hadir dalam hidupnya. Bukankah selama ini Mentari sudah cukup banyak membantu bi Surti. Apa dia tidak ingat siapa yang memberikan suaminya modal saat akan pergi ke Sumatera dahulu. Mentari yang saat itu baru saja merintis usaha kuenya dengan untung yang belum seberapa. Bahkan uang tabungan yang sengaja dia sisihkan untuk membeli kios kecil yang saat itu seharga dua puluh juta harus dia berikan kepada bi Surti dan paman Abdul.


Saat itu aku berusaha untuk menyadarkan Mentari bahwa membeli kios untuk toko kue nya lebih penting daripada menolong orang seperti bi Surti. Namun lagi-lagi Mentari menasehati ku bahwa sesama keluarga harus saling tolong-menolong. Semua tabungan yang Tari sisihkan untuk membeli kios sudah terkumpul hampir dua belas juta dan semuanya diberikan oleh bi Surti, hanya menyisakan satu juta untuk tabungannya.


"Kalau bukan karena Mentari yang memberikan semua tabungannya dulu!! kau dan suamimu tidak akan bisa seperti sekarang ini! bahkan semua kebaikan Mentari pun jika kau hitung tidak akan mampu kau membayarnya karena dia menolongmu dengan menggunakan hatinya yang bersih dan tulus!!" ucap Daniar emosi.


Bi Surti dan paman Abdul terlihat diam saja saat Daniar menyebutkan hal itu. Sepertinya mereka menolak sadar atas apa yang dilakukan Mentari selama ini kepada mereka. Sungguh biada* orang-orang yang tidak tahu berterima kasih seperti mereka.

__ADS_1


__ADS_2