
Alvaro menegakkan badannya menatap syok ke arah Zanu sedangkan Rama juga langsung berdiri dengan wajah yang penuh luka-luka.
"Kalian berdua, saya tunggu di ruangan saya!" ucap Zanu dingin lalu berlalu pergi.
Karyawan yang semula mengerubungi tempat itu satu per satu berlalu pergi meninggalkan Rama dan Alvaro.
Di ruangan Zanu.
"Maaf, pa!" ucap Alvaro menunduk.
Zanu diam. Tidak berniat membalas permintaan maaf Alvaro.
"Maafkan saya, tuan!" ucap Rama.
"Kenapa kalian berkelahi di kantor?!" tanya Zanu dengan ekspresi datar.
"Saya hanya mengatakan pada tuan muda untuk lebih fokus kedepannya, itu saja tuan. Tapi tuan muda justru menarik kerah kemeja saya lalu mengancam saya." ucap Rama yang dilebih-lebihkan.
Alvaro langsung menatap tajam ke arah Rama. Bagaimana bisa pria ini berbohong?! memang Alvaro mengancamnya tapi apa yang dikatakan Rama tidak sepenuhnya kebenaran.
"Mengancam?! mengancam bagaimana?" tanya Zanu yang langsung menatap tajam putranya.
"Iya tuan, tuan muda mengancam saya kalau saya ikut campur lagi tuan muda akan menyakiti adik perempuan saya." ucap Rama.
"HEI BANGSA*!!! JANGAN MENGARANG CERITA YA LO!!!" teriak Alvaro.
Kalau Alvaro tidak ditahan oleh asisten Zanu, mungkin dia akan kembali menghajar Rama disini, di ruangan papanya.
"HENTIKAN VARO!!!" bentak Zanu.
Sorot matanya menyiratkan kekecewaan terhadap putra semata wayangnya itu.
"Pa, nggak begitu kejadiannya. Percaya sama aku, pa!" ucap Alvaro memohon pada papanya.
"Lalu bagaimana kejadian yang sebenarnya?! Katakan?" tanya Zanu.
Alvaro terdiam membisu. Tidak mungkin dia akan mengatakan yang sebenarnya kalau Rama membahas soal dia yang berhubungan dengan Naruka pada malam itu. Tidak mungkin juga Alvaro jujur kalau dia yang telah menoda* gadis itu. Alvaro tahu semua sahabat Darel tengah mencari dirinya termasuk papanya, tapi Zanu menyuap kepala keamanan untuk menghapus cctv yang berhubungan dengannya dan Naruka. Jack sendiri tidak bisa berbuat banyak karena kurangnya informasi ditambah Naruka yang masih bungkam soal ini, membuat Alvaro merasa aman untuk sementara waktu.
"JAWAB PAPA, VARO!!!" teriak Zanu untuk yang kesekian kalinya.
"Maaf, pa!" ucap Alvaro pada akhirnya.
Rama menyeringai melihat ketidakberdayaan Alvaro. Rama yakin kalau Alvaro pasti tidak akan buka mulut mengenai kejadian malam itu. Dan itu sangat menguntungkan bagi Rama.
__ADS_1
"Varo, papa benar-benar kecewa dengan kamu. Untuk yang kesekian kalinya, kamu telah menghancurkan kepercayaan papa." ucap Zanu.
"Untuk sementara waktu, kamu jangan datang ke kantor, Varo. Renungkan kesalahan kamu, dan bersikaplah dewasa!" ucap Zanu.
"Pa..." lirih Alvaro.
Rama tersenyum penuh kemenangan dan mengejek ke arah Alvaro. Alvaro geram, ingin rasanya dia menonjol wajah menyebalkan itu. Namun jika dia melakukannya, Zanu akan semakin kecewa padanya.
"Sekarang kalian boleh pergi!" ucap Zanu.
Rama membungkukkan badannya hormat lalu pergi dari ruangan Zanu diikuti oleh Alvaro.
********
Sudah satu minggu berlalu. Hari ini adalah hari pertunangan Hyuna dengan Kaj. Setelah mempertimbangkan banyak hal juga bujukan dari Naruka, Hyuna akhirnya siap untuk mengadakan acara pertunangan pada hari ini. Semua orang gembira dengan keputusan Hyuna, termasuk Kanaya dan Aditnya. Mereka sudah tidak sabar membawa Hyuna masuk dalam keluarga mereka. Bahkan saking senangnya, keluarga Aditnya sampai membagikan sembako pada orang yang kurang mampu di sekitar cabang perusahaan mereka yang mana cabang perusahaan itu berada di beberapa negara.
Darel sengaja memesan hotel bintang lima milik Jo. Kemewahan hotel milik Jo tidak usah diragukan lagi. Darel juga mengundang kolega dan kenalannya. Dia sangat bersemangat dengan pertunangan putrinya itu.
Pukul tujuh malam, semua tamu undangan mulai berdatangan. Dari pihak Darel sendiri mengundang lima ratus orang sedangkan dari pihak Kaj mengundang enam ratus undangan terdiri dari keluarga besar, kerabat, kolega, dan teman mereka.
Acara berjalan dengan sangat lancar. Setelah acara menyematkan cincin, acara pun dilanjutkan dengan hiburan dari artis ternama. Kaj menghampiri Hyuna yang tengah bercengkrama dengan Ana.
"Hyuna, perkenalkan ini opa Abraham." ucap Kaj memperkenalkan seorang pria tua berusia tujuh puluh tahun.
Walaupun usianya telah senja, namun tubuhnya masih terlihat segar dengan sedikit garis penuaan di sekitar wajahnya. Abraham rutin berolahraga sehingga walau usianya sudah lebih dari setengah abad namun tubuhnya masih terlihat kekar. Abraham seperti hot daddy.
"Kau ini, sebentar lagi dia akan menjadi istrimu. Panggil dia dengan panggilan yang lebih romantis sedikit!" tegur Abraham.
"Aduh, iya maaf opa!" ucap Kaj mengaduh karena pukulan di pundaknya oleh Abraham.
Hyuna tersenyum melihat interaksi antara kakek dan cucu itu. Hyuna juga ingin memiliki kakek dan nenek. Ah, Hyuna sudah punya. Orang tua Daniar juga merupakan kakek dan neneknya. Tapi maksud Hyuna adalah kakek dan nenek kandung. Tapi jangankan kakek dan nenek, Hyuna bahkan tidak memiliki seorang ibu.
"Nak, kenapa kau menangis?" tanya Abraham yang melihat mata Hyuna berkaca-kaca.
"Maaf, opa, Hyuna baik-baik saja." ucap Hyuna sambil mengusap air matanya.
Hyuna mungkin memiliki segalanya, harta, ketenaran, wajah yang cantik, hidupnya mungkin hampir sempurna dan diidam-idamkan oleh banyak wanita diluar sana. Namun Hyuna justru merasa iri dengan wanita yang keluarganya lengkap. Hal yang tidak Hyuna miliki. Kakek, nenek, dan....ibu.
"Jangan sembunyi di balik kata baik-baik saja, nak. Jika hatimu sedih katakan sedih. Jika tidak suka, katakan tidak suka." nasehat Abraham.
"Kek!" Panggil Kaj.
Kaj membisikkan sesuatu di samping telinga Abraham. Seketika raut wajah Abraham langsung berubah sendu. Abraham mendekat ke arah Hyuna, memeluk gadis yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari kelurganya.
__ADS_1
"Kau bisa menganggap ku sebagai opa mu, nak! kau sekarang bagian dari keluargaku, dan kau mulai sekarang adalah cucuku. Jangan bersedih lagi, ya!" ucap Abraham penuh kelembutan.
Sontak saja hal itu semakin membuat Hyuna menangis. Hyuna memeluk Abraham dengan erat seolah menumpahkan rasa rindunya terhadap kekek kandungnya. Kanaya yang melihat itu mendekat ke arah Hyuna.
Hyuna melepaskan pelukannya pada Abraham, lalu menatap Kanaya yang mengusap rambutnya lembut.
"Sekarang aku bukan hanya memiliki satu putra." ucap Kanaya tersenyum menjeda kalimatnya.
Kanaya menyentuh dagu Hyuna dengan gemas.
"Tapi sekarang aku juga punya satu putri. Putri yang sangat cantik dan berhati baik!" puji Kanaya.
Hyuna memeluk Kanaya. Untuk sesaat suasana yang bahagia berubah menjadi penuh haru. Darel yang melihat dari jauh itu juga tidak bisa menyembunyikan rasa harunya. Namun dia langsung menghapus air matanya sebelum putra-putrinya melihatnya. Iwang, Shaki, dan Kaivan yang melihat itu juga ikut berkaca-kaca. Mereka harap pernikahan ini membawa bahagia bagi adik perempuan mereka. Semoga Hyuna bisa menemukan sosok keluarga lengkap bersama keluarga Kaj.
********
Disisi Naruka, gadis itu kini berada di toilet. Tadi saat hendak mengambil makanan, tiba-tiba dia merasa mual. Dia hanya memuntahkan cairan karena memang seharian ini dia belum makan. Perutnya terasa mual sekali kala melihat makanan. Tapi karena tadi perutnya sangat lapar, dia pun ingin mengambil sedikit makanan namun belum juga dia mengambil makanan itu, dia kembali mual.
"Ada apa ya denganku?! Kenapa aku mual banget saat mencium aroma makanan? Apa aku masuk angin yaa?" lirih Naruka.
Merasa sudah enakan, Naruka pun keluar dari toilet.
Deg...
"K...kau?!"
Naruka Syok dan terkejut saat mendapati Alvaro berdiri di luar toilet.
"Apa kau baik-baik saja, Naru?" tanya Alvaro.
"Untuk apa kau bertanya itu padaku, gadis mana yang akan baik-baik saja setelah mahkotanya direnggut darinya?!" sinis Naruka.
"Maaf. Tapi aku tidak bisa bertanggung jawab padamu soal kejadian itu. Aku akan memberikan apapun yang kamu minta tapi tidak dengan pertanggungjawaban. Aku tidak bisa melakukannya." ucap Alvaro dengan tanpa perasaan.
Naruka tersenyum getir.
"Aku juga tidak memintamu bertanggung jawab atas apa yang terjadi karena ini juga salahku. Kau jangan khawatir, aku tidak akan mengatakan apapun soal malam itu. Kau juga mengatakan melupakan kejadian itu, bukan?! Begitu katamu sebelum dengan tidak berperasaan nya kau memberiku sebuah kartu untuk membayar apa yang sudah ku jaga selama ini. Kau meminta untuk menjadi asing saat kita bertemu, lalu untuk apa kau kesini menemuiku?!" tanya Naruka.
"Aku melihat kau berlari kesini tadi. Karena khawatir, aku mengikutimu dan ternyata kau muntah. Kau sakit? Atau..." terhenti.
Alvaro hendak mengambil makanan tadi saat dia tanpa sengaja melihat Naruka berlari. Alvaro pun mengurungkan niatnya mengambil makanan dan mengejar Naruka karena rasa khawatirnya. Setibanya di toilet, Alvaro mendengar suara seseorang sedang muntah-muntah. Alvaro semakin khawatir dan takut terjadi apa-apa dengan Naruka, dia pun menunggu diluar toilet wanita dengan perasaan khawatir. Dia sendiri bingung mengapa dia bisa se khawatir ini dengan Naruka.
"Aku baik-baik saja." jawab Naruka singkat.
__ADS_1
Naruka hendak pergi dari toilet namun tiba-tiba dia tergelincir dan hampir jatuh ke belakang. Alvaro yang berdiri tepat di belakangnya itu langsung menangkap tubuh Naruka sehingga mata mereka pun saling beradu.
Aroma ini, kenapa aku merasa tenang sata mencium aroma ini?! Rasa mualku juga berkurang dengan sentuhan ini?! Apa yang terjadi padaku?! Batin Naruka.