
Daniar, Zanu, Dan Rohan yang baru saja kembali setelah menyelematkan Daniar kemarin terlihat syok ketika mendengar bahwa Darel dan Mentari dinyatakan meninggal. Daniar tentu saja menangis sejadi-jadinya, sahabatnya dari kecil meninggalkan dirinya sendirian.
"Enggak ma, Mentari pasti kembali!!! dia berjanji padaku kalau dia akan kembali, tidakk ini tidak mungkinnn!!!!" tolak Daniar.
Air mata terus mengalir membasahi pipi Daniar. Bukan hanya Daniar saja yang tidak terima dengan kepergian Darel dan Mentari yang tiba-tiba seperti ini.
Mama Daniar berusaha menenangkan anaknya, takut menambah keruh suasana yang sedang berduka ini terlebih kesehatan nyonya Ardi yang semakin memburuk sekarang.
"Nak, kita harus ikhlas, relakan Mentari pergi, mungkin Tuhan punya rencana yang lebih indah untuknya!" hibur mama Daniar.
"Aku.....aku bahkan meninggalkan pekerjaanku dan mencarinya, hiksss....tapi...tapi dia tetap tidak mau menemui ku!!! kenapa Mentari sangat tega padakuuu!!!" ucap Daniar menangis.
Saat ini mereka semua sedang berkumpul dikediaman keluarga Sanjaya, orang-orang yang melayat sudah pulang dan tersisa keluarga dekat saja. Saat ini nyonya Ardi sedang berada dikamar Darel, menangis sambil memeluk baju lama Darel.
Deggggg.......
"Darel!!!!" ucap nyonya Ardi tiba-tiba.
Nyonya Ardi menyeka air matanya, berlari dengan cepat menuju halaman depan rumah.
"Ma?!! mama mau kemana??? mama tunggu maa!!!!" teriak Juna ketika melihat mamanya berlari keluar rumah dengan sangat kencang namun tidak dihiraukan nyonya Ardi.
Nyonya Ardi juga tidak menghiraukan orang-orang yang berada di ruang tamu. Dia hanya fokus berlari menuju gerbang utama.
"Pa, mama mau keluar!!!! cegah dia, jangan sampai mama melakukan hal buruk nanti!!!" teriak Juna sambil berlari dari lantai dua mengejar mamanya.
Semua orang langsung berlari mengejar nyonya Ardi. Tuan Ardi berlari sangat kencang menyusul istrinya, hingga sampai ke depan gerbang tuan Ardi berhasil menghentikan nyonya Ardi dengan memeluknya erat-erat.
"Lepaskan mama, pa!!! mama mau menyambut Darelll!" ucap nyonya Ardi meronta-ronta meminta dilepaskan.
Semakin nyonya Ardi meronta-ronta, tuan Ardi semakin mengeratkan pelukannya tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi lagi pada orang yang dia sayangi.
"Sadar ma, Darel sudah pergi!!! dia sudah tenang disana!!!" teriak tuan Ardi mencoba menyadarkan istrinya.
__ADS_1
"Enggak paaa, enggak, hikss...hiks...hiks...!!! Darel masih hidupp, dia masih hiduppp!" tangis nyonya Ardi.
Tubuh nyonya Ardi melemas, dia terduduk di tanah dengan tuan Ardi yang masih memeluknya. Disaat itu semua orang datang dengan nafas ngos-ngosan.
"Hah...hah...hah, paman sebaiknya kita bawa bibi kedalam biar dia istirahat!" ucap Zanu.
"Hemm, baiklah!" ucap tuan Ardi.
Tuan Ardi membawa istrinya kedalam rumah. Ketika hendak melangkah tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti dari arah luar gerbang. Sontak saja hal itu membuat mata semua orang tertuju pada sumber suara. Mereka bertanya-tanya siapa yang datang dengan mobil itu? bukankah para tamu sudah pulang dari tadi? pikir mereka semua.
Seseorang turun dari mobil diikuti orang kedua. Saat melihat siapa yang berdiri di luar gerbang itu, semua orang terkejut bahkan ada yang sampai melotot saking terkejutnya.
"Darell??!!! Mentari??!!" ucap semua orang bersamaan.
Nyonya Ardi yang merasakan kehadiran Darel tadi terlihat sangat senang, dia bahkan langsung berlari menuju gerbang dan memeluk Darel dengan sangat erat.
"Mama tahu kau baik-baik saja, nak!!!!" ucap nyonya Ardi disela tangisannya.
Daniar berjalan menuju Mentari, dan Mentari tersenyum melihat tingkah Daniar yang seolah tidak percaya akan kehadirannya.
"Iya, ini ak..." terpotong.
Danair langsung memeluk Mentari dengan sangat erat, semua orang juga mulai mendekati Darel dan Mentari.
"Kau kemana saja, kami semua mencari kalian???!!! kenapa kalian tidak mencoba menghubungi salah satu dari kami, ha??" tanya Daniar setelah melepas rindu dengan sahabatnya.
"Sebaiknya ceritanya didalam saja biar lebih enak, bagaimana?" saran Rangga.
Mereka pun memasuki rumah, para pelayan yang melihat kedatangan Darel dan Mentari dengan sigap membuatkan makan malam dan cemilan yang enak-enak untuk semua orang.
"Nah sekarang ceritakan kepada kami semua, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya tuan Ardi.
"Jadi begini ceritanya..." ucap Darel.
__ADS_1
*Flashback On*
"Cari tempat yang luas untuk mendarat! pastikan semuanya baik-ba......" terpotong.
Duarrrrrrrr...........
Suara ledakan keras dari bagian mesin pesawat. Darel langsung berlari menuju Mentari dengan sangat khawatir.
"Darel apa yang terjadi kenapa ada suara ledakan?" tanya Mentari ketakutan.
"Kau tenang dulu kita akan selamat, aku janji itu!" ucap Darel menenangkan Mentari.
Darel berlari lagi menuju pilot dan memerintahkan untuk meninggalkan pesawat dengan menggunakan parasut yang tersedia. Pilot keluar dari pesawat lebih dulu, diikuti Darel dan Mentari yang satu parasut karena hanya ada dua parasut disana.
Namun ketika mereka sudah melepaskan parasut, angin kencang menerbangkan parasut mereka hingga terpontang-panting. Disaat itulah parasut milik pilot Darel kehilangan kendali hingga pilot Darel terjatuh dari ketinggian dan meninggal ditempat. Jasadnya ditemukan warga desa dan menguburnya disana.
"Darel aku takuttt!" ucap Mentari ketika melihat ke bawah.
"Jangan takut, aku akan menjagamu!" ucap Darel.
Dengan susah payah Darel menjaga keseimbangannya, namun posisi Mentari yang kurang benar membuat Darel semakin sulit menjaga keseimbangan parasut hingga akhirnya mereka pun terjatuh yang membuat Mentari mendapat luka di kepalanya dan beberapa bagian tubuhnya sedangkan Darel hanya luka ringan saja.
*Flashback off*
"Untung saja saat itu kami terjatuh tidak terlalu tinggi, jika tidak kami mungkin juga tidak akan selamat!" jelas Darel mengakhiri ceritanya.
"Untung saja kita bisa keluar tepat waktu sebelum pesawat meledak!" jelas Mentari.
"Kami sudah berpikir kalian tidak selamat tadinya! tapi keajaiban datang pada kami dan membawa kalian kembali!" ucap tuan Ardi.
"Iya, kami semua, kecuali mama! hanya mama yang terus-menerus menanyakan kapan Darel pulang, kapan Darel pulang!! dia sangat yakin kalau kalian masih hidup diantara keputusasaan kami!" ucap Randita mengingat dimana mamanya yang terus memanggil-manggil nama Darel dan Mentari.
"Aku tahu itu!" ucap Darel sembari memeluk mamanya.
__ADS_1
Mentari merasa tersentuh melihat pemandangan ini. Jika dia tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri hari ini, mungkin dia tidak akan melihat sisi lain dari seorang Darel Sanjaya.