Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 75


__ADS_3

"Bos, apa tidak sebaiknya kita melakukan rencana itu dengan segera?" tanya Dendi pada bos besar Drago Mark.


Bos besar hanya menyeringai dengan menakutkan. Dendi beserta beberapa orang anak buahnya ikut merinding melihat seringai tersebut.


"Kau sepertinya tidak sabar ingin balas dendam, Dendi?" tanya bos besar.


Dendi diam tertegun karena bosnya tahu isi pikirannya. Yah, memang dia sudah sangat geram dan ingin segera balas dendam pada keluarga Sanjaya terutama Darel.


"Maafkan saya tuan! saya hanya ingin dendam lama saya segera bisa saya tuntaskan! dan anda bisa dengan cepat mengambil wanita itu!" ucap Dendi.


"Hahahaha, aku suka gayamu Dendi! tidak salah aku memungutmu dan menjadikanmu tangan kananku! aku dengar dari mata-mata kita mereka akan pergi berbulan madu selama seminggu. Kita akan bergerak setelah mereka kembali saja! aku yakin mereka sudah saling mencintai saat kembali nanti!" jelas bos besar sambil tersenyum penuh arti.


Dendi yang sebenarnya tidak mengerti maksud bosnya itu pun hanya bisa mengikuti perintah bosnya.


Aku akan menunggu saat-saat terakhir mu didunia Darel!! batin Dendi penuh amarah.


********


Sinar sang Surya sudah mulai menghilang, digantikan dengan gelapnya malam. Bintang dan bulan yang senantiasa menjadi perhiasan malam menambah keindahan disana.


Malam itu Mentari dan Darel makan bersama, untuk kedua kalinya. Dan mulai saat ini Mentari juga Darel akan selalu makan bersama dimeja makan yang sama pula.


Menu makan malam hari itu adalah makanan yang bisa menambah stamina, perintah dari tuan besar, tuan Ardi.


Sedikit tidak berselera sebenarnya, namun karena perutnya sudah keroncongan mereka pun akhirnya memakan makanan yang disiapkan kepala pelayan.


Setelah selesai makan malam. Mentari memilih menonton televisi diruang keluarga, sedangkan Darel menuju ruang kerjanya ditemani Lukas, Harri dan Adi yang baru saja datang.


"Tuan, kami sudah melacak pergerakan musuh, dan sepertinya ada seseorang yang menjadi mata-mata disekitar kita. Saya menduga mata-mata itu dikirim bukan untuk menghancurkan perusahaan kita namun lebih tepatnya ke..." ucap Lukas terpotong.


"Masalah pribadi!" ucap Darel dengan cepat seolah mengetahui jalan pikiran musuhnya itu.

__ADS_1


"Benar tuan! anak buah saya juga sudah mencari mata-mata itu namun belum ada hasil pastinya!" jawab Adi.


Darel seperti tengah berpikir keras. Tidak lama kemudian raut wajahnya menunjukkan ekspresi yang sangat sulit dijelaskan oleh Lukas, Adi dan Harri.


"Adi, suruh Wisnu mengirim data diri seluruh karyawan sekarang juga! pastikan semua nama karyawan ada disana termasuk OB!" jelas Darel sambil berdiri dari duduknya.


"OB? apa ada hubungannya dengan mereka tuan?" tanya Harri yang tidak paham maksud tuannya itu.


"Jika kau, Adi yang jadi musuh, tempat mana yang akan menjadi sasaran empuk bagimu?" tanya Darel menatap kearah Adi sambil tersenyum penuh arti.


"Perusahaan tuan! karena disana banyak arsip-arsip penting mengenai data pribadi pemilik dan berkas penting perusahaan!" jawab Adi yakin.


Darel tersenyum mendengar jawaban Adi.


"Kau benar Adi, dan untuk bisa leluasa mengorek dan mencari data itu kau perlu penyamaran bukan? agar kau tidak ketahuan, jadi posisi apa yang memudahkanmu keluar-masuk ruangan perusahaan?" tanya Darel lagi.


Harri dan Lukas menatap Adi yang terua dihujani Darel dengan beberapa pertanyaan. Adi terlihat berpikir sejenak, kemudian tersenyum kearah Darel seolah mengerti kode Darel.


"Hahaha, kau cerdas juga rupanya! Harri, belajarlah dari temanmu ini, kalau tidak kau akan aku gantikan dengan Lukas dan kau akan menjaga disini!" ucap Darel pada Harri.


"Baik tuan!" jawab Harri yang mulai paham maksud perkataan Darel tadi yang mengatakan ingin melihat data diri setiap karyawan termasuk OB.


Benar-benar tidak berubah! semoga nona Mentari bisa mengubahmu menjadi manusia berhati baik lagi seperti saat bersamanya dulu Darel! batin Lukas.


Setelah pembicaraan itu, Luaks, Adi dan Harri keluar dari ruang kerja Darel. Adi segera menjalankan tugas yang diberikan tuannya itu. Darel juga ikut keluar dan langsung menuju kamar untuk beristirahat.


Saat melewati ruang keluarga, Darel tanpa sengaja melihat Mentari yang tengah tertidur didepan televisi yang masih menyala.


Dasar wanita ini! katanya mau nonton tv, eh malah tv yang menonton dia tidur! batin Darel.


Darel menghampiri Mentari yang tengah tertidur, kemudian menggendongnya dan membawanya kekamar Mentari.

__ADS_1


Setelah merebahkan tubuh Mentari keranjang kamarnya, Darel menyingkirkan rambut yang menutupi bagian mata Mentari.


Dia terlihat manis saat sedang tidur begini! eh apa yang kau katakan Darel! jangan jadi orang bodoh, dia itu bukan siapa-siapa mu, mengerti! batin Darel.


Darel segera keluar dari kamar Mentari dan masuk kekamarnya sendiri.


********


Disisi lain di rumah utama....


"Ma, aku rasa ide bulan madu itu sangat cocok deh buat kak Darel dan kakak ipar!" ucap Juna dengan mulutnya yang penuh dengan buah-buahan yang sudah dipotong.


Mereka sekarang sedang duduk santai diruang keluarga ditemani cemilan kue dan buah-buahan yang sudah dikupas dan dipotong kecil-kecil.


"Hemm, papa dan mama ini juga pernah muda, jadi kami tahu apa yang dialami pasangan baru menikah!" ucap tuan Ardi ketus.


"Mama, kenapa paman Arel dan bibi Tari tidak tidur disini saja?" tanya Arya pada Randita.


"Sayang, paman kan sudah punya rumah sendiri jadi pulangnya ya kerumahnya dong!" jawab Randita sesederhana mungkin agar anaknya paham.


"Terus kenapa aku tidak boleh ikut paman tadi? kan aku masih mau main sama bini!" tanya Arya lagi.


"Nak, paman sama bibi butuh waktu buat sendiri makanya kamu tidak boleh ikut nanti kamu mengganggu mereka!" ucap Rangga ikut memberi penjelasan pada anaknya itu.


"Arya kan sudah besar, jadi nggak bakal nyusahin paman sama bibi!" protes Arya sambil memanyunkan bibirnya.


Randita dan Rangga beserta seluruh keluarga ikut terdiam dengan pertanyaan yang dilontarkan Arya. Entah harus menjawab apa, yang jelas rasa keingintahuannya akan semakin besar nantinya.


Randita memilih menyuapi anaknya dengan buah strawberry kesukaannya agar Arya diam dan tidak bertanya lagi. Dan hal tu sukses membungkam mulut Arya sehingga menjadi fokus pada buah favoritnya.


Syukurlah dia bisa diam! jika tidak aku harus jawab apa pada anak ku ini, masa iya aku jawab kalau paman dan bibinya itu sedang 'bermain' makanya tidak bisa diganggu? batin Randita.

__ADS_1


Semua orang mulai memakan cemilan dengan tenang setelah Arya tidak lagi menanyakan pertanyaan yang sulit mereka jelaskan.


__ADS_2