Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 292


__ADS_3

Darel berjalan menuju ruangan dokter kandungan yang tadi menangani Mentari. Tanpa mengetuk pintu ruangannya terlebih dahulu, Darel langsung main masuk saja. Darel memasuki ruangan itu saat dokter wanita tadi tengah minum. Karena terkejut dengan kedatangan Darel yang tiba-tiba apalagi tanpa mengetuk pintu lebih dulu membuat dokter itu pun tersedak hingga batuk-batuk.


"Rel, apa-apaan sih! ketuk dulu pintunya, jangan main masuk ajaaa!" omel Bagas.


"Kelamaan!" jawab Darel singkat namun membuat Bagas sangat jengkel.


Pasalnya Darel mengucapkan kata itu tanpa ekspresi sedikitpun hingga membuat Bagas gemas.


Dalam angan Bagas, dia mengkhayalkan saat Darel mengatakan kalimat itu lalu dia dengan marah dan gemas mencakar-cakar wajah Darel hingga Darel teriak meminta tolong. Tanpa disadari, Bagas tersenyum-senyum sendiri membuat Darel dan dokter kandungan tadi terheran-heran melihatnya.


"Dokter Bagas!!" panggil dokter kandungan bernama Ani itu.


"Ehh, iya dokter, ada apa?" tanya Bagas yang tersadar dari lamunannya.


"Jangan bertingkah yaa! begini dok, istri saya merasa mual dirumah sakit. Dia tidak suka bau obat-obatan disini. Apa bisa saya bawa pulang untuk dirawat dirumah? kalau perlu saya bisa menyewa suster untuk menjaganya!" ucap Darel seolah tanpa beban.


Ya-ya kau bahkan bisa membeli ratusan rumah sakit dengan uangmu itu, dan bahkan tidak berkurang satu nol pul saldomu!! batin Bagas.


"Ah, baiklah kalau begitu! nanti biar saya saja yang memeriksa keadaan nona. Lagian kondisinya juga telah stabil, jadi bisa dibawa pulang. Tapi untuk beberapa hari kedepan, nona harus istirahat total ya, pak! jangan melakukan hal-hal yang melelahkan dulu. Pola makan juga diperhatikan, nutrisinya juga! ini ada beberapa makanan yang bagus untuk memenuhi nutrisi janinnya. Juga ada beberapa snack jika istrinya ingin ngemil." ucap dokter Ani memberikan resep makanan yang dibutuhkan oleh tubuh Mentari juga beberapa snack.


"Terimakasih, dok!" ucap Darel lalu keluar dari ruangan membawa barang yang diberikan dokter Ani.


********


Di ruangan Mentari, Iwang dengan telaten menyuapi ibunya buah apel. Tadi Mentari ingin sekali makan apel, lalu Iwang dengan inisiatif mengupaskan apel itu lalu memotongnya kecil-kecilan kemudian disuapkan ke mulut ibunya.


Darel yang baru datang terharu melihat momen mengharukan ini. Didekatinya istri dan anaknya yang tengah sibuk menyuapi Mentari. Diusapnya dengan lembut pucuk rambut anaknya.


"Terimakasih ya, nak, sudah menjaga ibu!" ucap Darel tersenyum manis.


"Sama-sama yah! kata ibu guru, kita harus berbakti kepada orang tua kita, terutama ibu! kan surga ada dibawah telapak kaki ibuu! Iwang ingin berbakti pada ibu biar Iwang bisa masuk surga. Nanti kalau Iwang masuk surga, Iwang akan minta ketemu nenek sama ayah sama ibu, biar kita bisa barengan terus!" ucap Iwang dengan polosnya.


"Masyaalloh!! mbok merinding dengernya, tuan!" ucap mbok Tini yang terharu mendengar ucapan polos Iwang.


"Sini, nak!" ucap Mentari merentangkan tangannya ingin memeluk Iwang.


Iwang pun mendekat ke arah ibunya lalu memeluk Mentari yang penuh dengan kelembutan dan kasih sayang hingga Iwang kadang lupa kalau dia tidak pernah mendapatkan kehangatan seperti ini.


Cup...


Mentari mengecup kening, dan kedua pipi Iwang dengan gemas.

__ADS_1


"Iwang harus jadi anak yang kuat yaa! biar bisa jaga ibu dan adik-adik Iwang! nanti Iwang bakal dapat tiga adik. Iwang senang tidak?" tanya Darel.


"Wahhh, seneng banget, yah!!" ucap Iwang gembira.


"Oh ya, tadi aku udah tanya sama dokternya, katanya boleh rawat dirumah asalkan istirahat total sampai kamu sembuh total." ucap Darel menatap Mentari.


"Beneran?! ayo kit pulang sekarang!! aku udah nggak tahan disini!" ucap Mentari.


"Ya sudah, ayo kita pulang! sini, aku bantu!" ucap Darel membantu Mentari turun dari ranjang.


Iwang juga ikut memegangi Mentari disisi kirinya sedangkan Darel disisi kanannya. Mbok Tini memposisikan kursi roda agar Mentari bisa duduk dengan aman. Setelah itu Darel mendorong kursi roda keluar dari ruangan.


Oh ya untuk sekedar informasi, Angel telah kembali bekerja di rumah sakit karena surat pengunduran dirinya ditolak oleh Bagas. Jadi Angel tetap menjadi dokter dirumah sakit itu.


********


Begitu sampai dirumah, Darel menggendong Mentari lalu mendudukkannya di kursi roda dibantu Lukas. Kamar mereka terpaksa dipindah di samping kamar Iwang untuk sementara agar tidak baik turun.


"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Darel saat sudah membaringkan Mentari diatas kasur.


"Aku nggak lagi pengen apa-apa. Aku mau istirahat aja dulu yaa!" ucap Mentari.


"Oh oke! ya sudah kamu istirahat aja dulu ya!" ucap Darel lalu menarik selimut hingga sampai di bahu Mentari.


Dengan hati-hati Darel keluar dari kamar karena tidak ingin membangunkan istrinya.


"Nona sudah tidur, tuan?" tanya Harri saat melihat Darel menutup pintu kamar dengan hati-hati.


Pertanyaan Harri itu mendapat hadiah tonyoran dari Adi.


"Apaa sihh!!" tanya Harri yang memegangi kepalanya akibat tonyoran Adi.


"Kamu nanyaa?!!" tanya Adi dengan logat yang lagi hits di aplikasi TikTo*.


"Ya jelas iya lah udah tidur!! kalau enggak nggak bakal tuan keluar kamar!!" ucap Lukas menimpali.


"Husttt!!! kalian ini berisik banget sih!! nanti istriku bangun tuhhh!!!" omel Darel namun dengan berbisik.


"Maaf tuan!" ucap mereka bertiga serempak.


"Bagaimana, apa ada kabar dari pria pemilik warung itu?" tanya Darel.

__ADS_1


"Belum ada tuan! emm tuan!"


"Yah, aku tahu apa yang ingin kau tanyakan Adi. Aku sendiri juga mencurigai papa! tapi mengingat sikap baiknya terhadap Mentari aku menjadi sedikit ragu apakah papa dalang dibalik semua ini? kalau memang iya, apa motifnya? tidak mungkin kan hanya karena kisah masalalu yang belum selesai? jika bukan, lalu siapa? siapa dalang dibalik ini semua? batin Darel.


Ah, kepala Darel rasanya ingin pecah memikirkan teka-teki yang tiada habisnya ini. Sejauh ini bukti-bukti menunjukkan papanya lah dalang dibalik semua kemalangan yang menimpa istrinya ini. Namun Darel berharap akan ada satu bukti saja yang menunjukkan bahwa papanya tidak bersalah. Darel sangat harap begitu.


"Apa perlu kita kerumah pak Bayu lagi? kita masih memerlukan banyak informasi darinya. Siapa tahu kita menemukan petunjuk lain dari informasi yang dia berikan!" ucap Darel.


"Kalau begitu anda ditemani Harri dan Lukas saja tuan! saya akan menuju rumah yang akan dibuat panti asuhan." ucap Adi.


"Ya Tuhan!!" Darel menepuk keningnya.


"Kenapa aku bisa lupa! baiklah kalau begit aku minta tolong padamu, Adi!" ucap Darel lalu pergi bersama Harri dan Lukas.


Adi juga pergi mengendarai motor sportnya menuju rumah yang akan dihuni anak-anak panti asuhan milik Amira. Rumah itu sebenarnya sudah jadi, namun karena lama tidak dihuni membuat beberapa kerusakan hingga akhirnya harus direnovasi ulang. Mulai dari cat yang mengelupas hingga kebun yang ditumbuhi tanaman liar. Perlu beberapa hari hingga semuanya siap. Dan hari ini sudah sembilan puluh persen yang sudah siap.


"Assalamualaikum!" sapa Adi kepada Amira.


"Wa'alaikumsalam! tuan Adi!!" ucap Amira tersenyum saat mendapati Adi turun dari motornya.


Adi terlihat begitu keren saat mengendarai motornya membuat wanita manapun akan menjerit histeris karena ketampanan pria itu bertambah berkali-kali lipat.


"Maaf baru bisa menengok hari ini!" ucap Adi berjalan menghampiri Amira.


"Tidak apa tuan! anda dan tuan Darel pasti sangat sibuk. Lagian saya bisa kok menghandle ini, hanya tingga nyuruh-nyuruh saja kan gampang!" ucap Amira bercanda.


"Bener juga! jadi gimana?" tanya Adi.


"Hampir jadi tuan, mungkin tiga hari lagi juga sudah siap ditempati kata tukang bangunannya." ucap Amira.


"Boleh aku lihat-lihat?" tanya Adi.


"Tentu saja boleh tuan! ini kan milik Sanjaya Group masa nggak boleh, heheh!" ucap Amira.


Sejauh ini Adi tidak berani membicarakan Lukas. Takut trauma Amira kembali lagi karena setahunya trauma seseorang bisa kembali muncul jika melihat atau mendengar sesuatu mengenai hal yang menjadi traumanya itu. Adi menunggu saat yang tepat untuk bertanya mengenai Lukas dengan Amira. Sebagai seorang teman dan juga rekan Lukas, Adi tidak ingin temannya itu murung.


Semenjak pertemuan Lukas bersama Amira tempo hari, Lukas menjadi sedikit murung. Mungkin saat dihadapan Darel, dirinya dan yang lain, Lukas terlihat biasa saja. Namun Adi yakin, perlu memakai banyak topeng agar Lukas bisa menyembunyikan rasa sedihnya itu dengan mulus tanpa cela sedikitpun.


Adi juga masih melihat binar cinta yang ditunjukkan Lukas setiap kali memandangi foto Amira yang Adi temukan dahulu. Pastinya tanpa diketahui oleh Lukas, setiap malam sebelum tidur, Adi akan ke ruangan Lukas dengan bersembunyi-sembunyi.


Hal yang sama juga Adi rasakan saat Amira membicarakan kilas balik hubungannya dengan Adi saat berada di panti asuhan yang lama kemarin. Adi merasa Amira juga masih menyimpan rasa kepada Lukas. Mungkin karena sakit hati atas kejadian masalalu membuat Amira enggan membicarakan Lukas. Atau lebih tepatnya menghindari nama Lukas dalam hidupnya.

__ADS_1


Kasian sekali kau Lukas! andai tuan lebih dulu bertemu dengan nona sebelum kejadian naas itu, mungkin sekarang kau telah bahagia dengan anakmu! batin Adi sedih.


__ADS_2