
Aziz sampai di alamat yang telah bapaknya berikan. Alamat rumah Mentari. Apalagi tujuannya kesini kalau bukan untuk memaki dan memoroti wanita itu? enak sekali dia sudah memenjarakan ibunya dan sekarang dia malah enak-enakan tinggal di rumah mewah ini.
"Permisi!" sapa Aziz selembut mungkin kepada dua penjaga berbadan gempal itu.
"Ya! cari siapa?" tanya penjaga 1.
"Saya mencari kak Mentari, apa benar ini rumahnya?" tanya Aziz.
Dua penjaga itu saling melempar pandangan.
"Ya, ini rumah nona muda! anda ini siapa? dan ada keperluan apa dengan nona kami?" tanya penjaga 2.
Cih, nona! sok kaya sekalii! batin Aziz.
"Saya kerabatnya yang baru balik dari luar kota. Waktu itu tidak sempat datang saat acara pernikahannya jadi saya ingin menemuinya sekaligus memberikan hadiah pernikahan kepadanya!" bohong Aziz.
Dua penjaga itu terlihat mempertimbangkan apakah mereka harus mengijinkan pria asing ini masuk atau tidak. Terlebih Lukas sedang tidak ada dirumah karena harus mengurus panti asuhan bersama Adi dan Harri.
"Bagaimana?" tanya penjaga 2.
"Kita tanya dulu sama mbok!" usul penjaga 1.
Selama ini mbok Tini juga berperan penting dalam rumah ini. Selain tiga orang bawahan Darel, mbok Tini salah satu orang kepercayaan Darel yang keputusannya juga penting ketika mereka berempat tidak ada dirumah.
"Oh, oke!" ucap penjaga 2.
Penjaga 2 berjalan ke pos penjaga untuk menghubungi pihak dapur. Dirumah Darel, setiap bagiannya terdapat sebuah telepon sehingga memudahkan anak buahnya untuk berkomunikasi. Kan kasian juga kalau harus berjalan kaki segitu jauh hanya untuk melaporkan tamu yang datang. Iya kan?
Telepon di dapur berdering. Salah satu koki yang terdekat di sana mengangkat panggilan itu.
"Oh, baik! mbok, ada panggilan dari penjaga gerbang depan!" ucap koki itu memanggil mbok Tini yang berada tidak jauh dari sana.
"Duhhh, ada apa kok sampai menelepon! biasanya kalau nggak darurat nggak bakal telepon!" ucap mbok Tini sambil berjalan menuju telepon yang terpasang didinding itu.
"Hallo! oh iya, bagaimana? aduhhh bagaimana ya, soalnya kan tuan sendiri bilang jangan ada tamu masuk sembarangan apalagi mengaku saudara nona!" ucap mbok Tini dari telepon.
"Ya sudah kalian bawa masuk tapi penjagaan ketat yaa! saya nggak mau nanti nona kenapa-kenapa!" ucap mbok Tini.
Disisi penjaga.
"Anda boleh masuk!" ucap penjaga 2 setelah menutup panggilan telepon.
Aziz bersorak dalam hatinya. Dia pun memasuki rumah yang lebih cocok disebut istana itu.
__ADS_1
"Loh, kalian juga ikut?" tanya Aziz yang menyadari bahwa dia penjaga itu mengikutinya.
Tidak hanya dua penjaga tadi saja, namun ada tiga penjaga lain yang berada dibelakangnya.
"Ini perintah dari mbok agar mencegah sesuatu yang buruk terhadap nona kami!" ucap penjaga 1.
Alahhh lebay!! awas kau Tari!!
Perlu beberapa menit hingga sampai ke dalam rumah. Aziz terlihat kelelahan karena berjalan kaki dengan jarak yang jauh. Tidak lama berselang, Mentari dan mbok Tini turun menuju ke arah Aziz.
"Aziz?!" tanya Mentari.
"Boleh kita bicara berdua?" tanya Aziz.
"Maaf, tapi kami harus berada di sisi nona selama perbincangan kalian untuk mencegah kalau-kalau ada niat buruk dari anda!" ucap mbok Tini tegas.
"Saya kerabatnya! tidak mungkin mencelakainya!" Sanggah Aziz namun dengan senyum semanis mungkin meskipun dalam hatinya mengutuk Mentari.
"Maaf; peraturan tetap peraturan! bibinya nona saja tega memfitnah nona, tidak menutup kemungkinan anda pun sama!" ucap mbok Tini.
"Mbok, biarkan kami bicara berdua!" ucap Mentari menatap mbok Tini.
"Ta...tapi nona!"
"Baik lah, tapi kami akan tetap mengawasi dari sana! jadi jangan berani macam-macam dengan nona kami!" ucap mbok Tini.
Mereka pun bergi ke sudut ruangan. Jarak yang cukup jauh untuk mendengarkan percakapan mereka namun masih bisa melihat aktivitas mereka.
"Jadi? apa yang membawamu kesini?" tanya Mentari langsung to the poin.
Mentari yakin saudaranya ini datang menuntut balas karena ibunya, bibi Surti dijebloskan kepenjara oleh suaminya.
"Apa maksudmu menjebloskan ibuku kepenjara?! jadi orang jangan bagai kacang lupa kulitnya!! lupa kamu siapa yang menghidupi kamu? siapa yang menolong kamu? kalau bukan keluarga kami, kamu hanya akan menjadi pengemis di lampu merah sana!" ucap Aziz mengutarakan semua kekesalannya.
"Tajam juga mulutmu itu Aziz! asal kamu tau, yang kacang lupa kulitnya itu adalah kamu dan keluarga kamu! lupa kamu dari mana rumah kamu itu dibangun? dari yang hasil kerja kerasku! meskipun tidak secara langsung, tapi saat kalian hendak merantau dulu, ibumu mengemis-ngemis uang padaku hingga aku luluh dan memberikan semua modalku padanya!" ucap Mentari.
Entah keberanian darimana yang didapatkan Mentari hingga dia berani berbicara lantang seperti ini.
"Asal kamu tahu, bukan aku yang menjebloskan ibumu kepenjara, melainkan suami dan mertuaku! itu juga karena mulut lemes ibumu yang terus menjelek-jelekkan namaku dan memfitnahku!" ucap Mentari dengan santainya.
"Dasar kau wanita pelacu*!!! kau pasti telah menjebak tuan kaya raya ini agar kau juga kebagian hartanya kan?! ngaku kamu!!! lelaki tua mana yang kau nikahi ini haaa!!!" cerca Aziz.
Karena Aziz berdiri tepat membelakangi mbok Tini dan yang lain, mereka pun tidak bisa melihat reaksi marah dari Aziz. Mereka tetap berada ditempatnya karena melihat nona mereka berbicara dengan santai.
__ADS_1
"Aziz.... Aziz!! baik kau pulang saja dan urus kuliahmu! jangan sampai reputasimu terganggu di kampus akibat berita ibumu yang dimasukkan kepenjara oleh suamiku! lagi pun, kamu tidak punya kepentingan apapun hingga aku harus mengatakan padamu siapa suamiku! cukup kau diam dan tutup matamu saja jika kau mau selamat!" ucap Mentari.
"Ahhh, aku tahuu...." ucap Aziz tersenyum meremehkan.
"Kau pasti menjebak pria tua itu kan untuk menikahimu! kau membawanya ke hotel, lalu menjebaknya agar dia mau bertanggungjawab padamu lalu mau menikahimu begitu?! picik sekali otak mu itu Tari! tidak menyangka aku kau bisa berpikiran selicik ini!" ucap Aziz.
"Aku juga tidak menyangka seorang mahasiswa bisa berbicara serendah ini! gaya bicaramu ini seperti kau tidak pernah masuk bangku kuliah saja! jangankan bangku kuliah, bicaramu itu seolah kau tidak pernah bersekolah! mengaku anak kuliahan namun perilaku bak berandal!!" sindir Mentari.
"Jaga bicaramu, Tarii!!!" bentak Aziz.
"Kau yang jaga bicaramu!! ini rumahku dan kau tidak bisa berbuat seenaknya disini!" ucap Mentari tidak kalah tinggi.
Mentari menatap tajam mata Aziz membuat nyali Aziz menjadi menciut.
"Begini saja! aku akan melupakan masalah ini dan akan aku anggap tidak pernah terjadi! tapi, dengan satu syarat!" ucap Aziz mencoba membuat kesepakatan.
"Syarat?" tanya Mentari.
"Ya! syaratnya kau harus membayar uang sebesar lima ratus juga rupiah! uang ini tidak ada artinya dibandingkan rumah dan kekayaan suamimu bukan?!" ucap Aziz dengan bangganya memperlihatkan kebodohannya.
"Hahahahaaa!!!"
Mentari tertawa dengan kebodohan Aziz. Dia bahkan tertawa hingga mengeluarkan air mata.
"Kenapa kau tertawa??!!" tanya Aziz bingung.
"Aku kira kau itu pintar! tapi nyatanya kau itu tidak jauh dari sekor anji** yang dilakukan baju manusia!!" ejek Mentari sambil tertawa.
"Bangsa*!!! kau menyamakan ku dengan seekor anji**?!!" bentak Aziz.
"Lalu apa?! seseorang yang dengan bangganya memperlihatkan kebodohannya? kalau bukan anji** lantas apa?!" ejek Mentari.
"Dengar baik-baik! mending kau pergi dari sini sekarang juga sebelum suamiku tahu bahwa kau memeras istrinya! jangan tanya apa yang bisa dia perbuat padamu! jika ibumu saja bisa dengan mudah dia jebloskan kepenjara dan memberhentikan bapakmu, mungkin dia juga bisa dengan mudah membuatmu di keluarkan dari kampusmu!" ancam Mentari.
"Apa?! dia....dia tidak bisa melakukan ituu!!" ucap Aziz mulai takut.
"Tentu dia bisa!! dia bahkan bisa membawamu langsung pada sang Pencipta!!" ucap Mentari.
"Kau!!!! tunggu pembalasanku Tari!! kali ini kau boleh menang, tapi lain kali, kau akan bertekuk lutut dan memohon ampun padaku!!" ancam Aziz.
"Uuuuu, takutttt....." ejek Mentari.
Aziz meninggalkan rumah Darel dengan perasaan marah sekaligus takut. Takut jika apa yang diucapkan Mentari itu benar adanya. Bagaimana jika dia dikeluarkan dari kampus?! mau ditaroh dimana mukanya jika itu terjadi?! pikir Aziz.
__ADS_1