
"Kenapa diam saja?! malu? atau kau pura-pura melupakan kebaikan dari Mentari pada keluargamu?! kalau aku jadi kau, aku akan sangat-sangat malu jika bertemu Mentari karena terlalu banyak merepotkan dirinya sedangkan kau selalu mempermalukan dia!! kalau dia mau, dia bisa saja meminta Darel Sanjaya, suaminya yang kaya raya itu untuk menjebloskan mu kedalam penjara atas tuduhan tindakan kurang mengenakkan dan juga pencemaran nama baiknya. Tapi apa dia melakukannya?! Tidakk!! dia menganggap mu keluarganya namun kau menganggapnya musuhmu!! kau memang tidak mengenal balas budi!" emosi Daniar.
Semua orang yang ada disana memandang dengan tatapan aneh ke arah bi Surti dan paman Abdul. Memang benar selama ini mereka hidup atas uang bantuan dari Mentari. Bahkan dulu dirinya pernah diam-diam meminta uang Mentari dengan alasan kebutuhan dapur padahal dia pakai untuk berbelanja. Mentari yang begitu polos memberikan semua hasil keuntungannya selama satu minggu berjualan roti yang saat itu totalnya hampir satu juta. Tentu saja Surti melakukannya tanpa sepengetahuan keluarga Daniar juga dia mengungkit-ungkit balas budi atas kebaikan keluarga Daniar kepadanya. Makanya Mentari mau memberikan uang hasil keuntungannya karena merasa memang dirinya berhutang budi kepada keluarga Daniar.
"Kamu nih masih bau kencur sudah berani melawan orang tua yaa!!! nggak sopan tauu!!!" hardik bi Surti yang tidak ingin disalahkan.
"Tau apa kamu tentang sopan santu?! apakah sopan santun yang kau katakan itu dengan memfitnah orang lalu menuduhnya mencuri padahal kau sendiri yang memasukkannya kedalam tasnya? apakah sopan santun yang kau sebut itu adalah menghina orang lain bahkan tidak memperdulikan bagaimana perasaannya? bahkan hewan saja tau caranya berbalas budi!" sindir Daniar.
Daniar memang seperti itu adanya. Dia kalau sudah marah, bahasanya akan lebih kasar dan menusuk jantung lawan bicaranya.
"Lebih baik kau pergi dari rumah kami dan jangan pernah datang kesini lagi!! pergii!!" usir mama Daniar.
"Ohh, tega kalian mengusir ku hanya untuk membela anak pungut itu!! kita lihat saja nanti!!!" ucap bi Surti sebelum akhirnya pergi dari rumah Daniar.
"Akhh..."
"Niar?!" panik semua orang.
Daniar meringis kesakitan sambil memegangi perutnya. Zanu dengan cekatan membantu Daniar untuk duduk di kursi yang diberikan oleh tetangga mereka.
"Tarik nafas....keluarkan....tarik nafas.....keluarkan...." ucap mama Daniar agar Daniar lebih tenang.
"Bagaimana, masih sakit?" tanya Zanu khawatir.
"Sudah tidak!!" jawab Daniar.
"Kan sudah dibilang, jangan terlalu stress!! kamu nih ngeyel aja dehh!" ucap Galih yang khawatir kepada adik perempuannya.
"Maaf! habisnya aku emosi banget sama wanita itu!! ma, pa, jangan pernah biarkan dia masuk ke dalam rumah ini lagi! tidak akan aku terima siapapun menjelek-jelekkan sahabatku!!" ucap Daniar kembali emosi.
"Sabar sayang!! jangan marah-marah! kasian dedeknya nanti, yaa!" ucap Zanu sambil mengelus-elus perut Daniar.
"Oh ya acaranya sudah mau mulai tuh! ayo kita masuk!" ajak mama Daniar.
Mereka pun masuk kedalam rumah. Acara pun dimulai dengan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, kemudian berdoa lalu ditutup dengan membagikan hidangan yang tersedia. Tidak lupa juga setiap yang datang diberikan satu bungkus berkat untuk dibawa pulang.
********
"Loh, kok makan malamnya gini semuanya, mbok?" tanya Randita yang baru saja datang ke meja makan.
"Maaf, non! ini perintah tuan muda agar jangan menambahkan banyak cabai ke dalam masakan!" ucap mbok Tini.
"Ihh kenapa sih tu anak!! nggak tau apa kalau kakaknya suka makan makanan yang pedes!!" omel Randita lalu duduk di kursinya.
"Oh kalau begitu bikinkan seblak ya, mbok! yang peeedasss bangetttt!!" ucap Randita.
"Baik, non!" jawab mbok Tini lalu pergi ke dapur.
Tidak berselang lama, semua orang sudah mulai berdatangan ke meja makan.
"Ini non, seblaknya!" ucap mbok Tini sembari memberikan semangkok seblak ditambah dengan daging lobster, udang, dan ceker ayam, juga berbagai sosis.
__ADS_1
"Wahhh, enak nihh!!" ucap Randita yang ngiler melihat seblak buatan mbok Tini.
"Loh, kak! makan apa tuh?!" tanya Mentari yang baru datang bersama dengan Darel.
"Seblak! kamu mau?!" tawar Randita.
"Ma...." terpotong.
"Nggak!!" tolak Darel cepat sebelum Mentari mengiyakan tawaran Randita.
Semua orang menatap Darel bingung, kecuali Iwang dan Arya.
"Kamu kenapa sih, kak?! kakak ipar mau makan seblak tuh lo! masak nggak boleh sih?" ucap Juna.
"Iyaa!! kok nggak boleh?! kan aku mau coba!" protes Mentari.
"Jangan makan yang itu ya sayangg! kamu kan tadi bilang mau makan dimsum! ini, udah dibuatin sama mbok! masak nggak kamu makan sih?" ucap Darel.
"Tapi kan aku mau icip dikit aja!"
"Nggak sayang!! nurut yaa!"
"Ishhh!!!"
Darel hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sepertinya curhatan Zanu mengenai wanita hamil itu akan Darel rasakan juga. Zanu kerap kali curhat kalau istrinya sering kali meminta yang aneh-aneh atau makanan dalam jumlah banyak padahal setelah didapat Daniar hanya menyicipinya sedikit saja. Alhasil Zanu lah yang harus menghabiskan makanan itu.
Huh!! sabar Darell!! istrimu sedang mengandung!! kamu harus menyetok bertumpuk-tumpuk kesabaran!! batin Darel.
********
Hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Sesuai rencana keluarga Sanjaya akan ke puncak untuk merayakan ulang tahun tuan Ardi. Semua persiapan sudah selesai tinggal berangkat saja. Iwang juga sudah mendapat ijin untuk tidak masuk sekolah selama beberapa hari. Tentu saja dia mendapatkan ijin, lah Darel merupakan pemilik perusahaan itu. Mana berani kepala sekolah tidak mengijinkan Iwang?!
"Yee...ke puncak!! kita ke puncakk!! horeee!!" girang Iwang dan Arya.
"Sudah siap, Rel? tinggal menunggu sahabat kamu saja!" ucap Rangga kepada Darel.
"Iya kak! sebentar lagi juga sampai!" ucap Darel.
Benar saja, beberapa mobil mewah berdatangan ke rumah Darel.
"Taruh barang-barang kalian di bis, kita akan berangkat!" ucap Darel.
Mereka semua memasukkan barang-barang nya didalam bis. Mobil-mobil yang dibawa oleh sahabat Darel diparkirkan dengan rapi di bagasi kedua di rumah Darel yang memang dikhususkan untuk mobil tamu.
"Andre, sinii!!" panggil Iwang saat Andre baru saja masuk dibelakang Suli.
Andre yang dipanggil langsung mendekati Arya dan Iwang lalu duduk di sebelah mereka. Mereka duduk di kursi belakang sehingga muat untuk banyak orang. Kursi yang ada bi bus itu tidak sampai terisi penuh karena memang jumlahnya yang kurang.
Setelah semua orang masuk, bus itu pun perlahan meninggalkan rumah Darel. Mereka berangkat ke puncak pagi-pagi sekali agar tidak terkena macet nantinya.
"Naik..naik..kepuncak gunung.. tinggi-tinggi sekaliii!!" nyanyi Iwang, Arya, dan Andre disepanjang perjalanan.
__ADS_1
Menempuh perjalanan hampir dua jam, akhirnya mereka pun sampai ke villa keluarga Sanjaya. Tempatnya sangat asri dan sejuk karena ditumbuhi dengan banyak pepohonan.
"Wahhh, sejuk sekalii!! padahal ini sudah siang loh, tapi rasanya masih pagi yaa!!" celetuk Mentari.
"Iya, bikin betah deh!!" timpal Daniar.
Satu-persatu dari mereka turun dari bus. Bus yang di kemudikan oleh Harri itu pun diparkirkan di halaman depan villa dengan rapi. Sekedar informasi, Harri memang juga memiliki SIM B1. Bus ini juga milik keluarga Sanjaya yang dibeli tuan Ardi saat nyonya Ardi yang tengah mengandung Juna mengidam untuk naik bus. Karena tidak ingin istrinya yang saat itu tengah hamil tua berdesak-desakan dengan orang ramai, akhirnya tuan Ardi membeli sebuah bus untuk dikendarai ke Jawa Tengah, melihat candi Prambanan dan candi Borobudur.
"Selamat datang, tuan, nyonya, dan semuanya! saya pak Cokro, pengurus villa ini!" ucap seorang pria yang datang menghampiri mereka.
"Pak Cokro ini yang akan membantu kita selama disini! jadi jangan sungkan yaa!" jelas tuan Ardi.
"Mari saya tunjukkan kamar kalian!" ucap pak Cokro.
Mereka pun memasuki villa yang megah berlantai tiga itu.
"Disini, kamarnya ada di lantai satu, dua dan tiga! kamar satu itu ada empat kamar. Lantai dua ada sepuluh kamar, dan lantai tiga ada delapan kamar dan satu gudang!" jelas pak Cokro sambil berjalan.
"Untuk lebih mudahnya, lantai satu untuk yang sudah menikah! lantai dua untuk para wanita, dan yang lantai tiga untuk para pria!" ucap tuan Ardi.
Sengaja para wanita yang belum menikah di pilihkan di lantai dua, agar jika terjadi sesuatu mereka bisa langsung dengan cepat membantu. Karena kalau ada di lantai tiga, takutnya nanti mereka terlambat membantu jika ada sesuatu yang berbahaya.
Setelah pembagian kamar, mereka pun memasuki kemar masing-masing dimana setiap orang mendapatkan satu kamar. Setelah meletakkan pakaian mereka didalam lemari, mereka kembali ke bawah untuk berkumpul membahas acara ulang tahun tuan Ardi.
"Gimana kalau kita buat kue dari strawberry saja? di taman belakang kan ada banyak! ya kan pak Cokro?!" tanya Darel.
"Iya, tuan muda! strawberry di taman belakang semuanya banyak yang sudah berbuah. Manis dan besar-besar ukurannya!" jawab pak Cokro.
"Strawberry?! emmm....kayaknya enak dehh!!" ucap Daniar yang ngiler.
"Kalau kamu mau kita bisa kesana! sekalian mengambil untuk dibuat kue?! bagaimana?" tanya nyonya Ardi.
"Bolehkah?"
"Tentu saja! ayo!" ajak nyonya Ardi.
Semua wanita dan anak-anak pergi ke taman belakang rumah dimana terdapat beberapa kebun buah.
"Nah, yang laki-laki bertugas untuk mendekor saja!" ucap tuan Ardi.
"Bagaimana kalau acaranya kita adakan di luar saja pa??" saran Rangga.
"Yaa, boleh juga itu! ide yang bagus, Rangga!" ucap tuan Ardi.
"Oke, Darel akan ambil lampu kelap-kelip di gudang!" ucap Darel berdiri lalu meninggalkan yang lain.
"Biar kami yang menata meja dan kursinya, om!" tawar Arul.
"Boleh-boleh!! terimakasih yaa!" ucap tuan Ardi.
Arul, Tomi, Jo, Rohan, Bagas, dan Zanu bertugas memindahkan meja dan kursi ke halaman depan. Ulang tahun tuan Ardi diadakan malam nanti sehingga mereka semua harus menyelesaikannya sebelum malam tiba. Mereka bergotong-royong untuk mendekorasi tempat pesta di langsungkan. Berbagai bunga-bunga kering dan balon yang didapatkan Darel dari gudang juga ikut dia bawa. Bunga-bunga kering itu dulunya pernah keluarganya pakai saat melewati malam natal di puncak dan masih ada sampai sekarang.
__ADS_1