
"Halah! kalau ngimpi itu jangan ketinggian, jatuhnya sakit loh! udah Tari nggak usah didengerin, palingan juga halu tuh orang!" ucap Daniar.
"Halu? ngimpi? sorry yaa! nggak level gue sama yang halu-halu begitu!" ucap Pretty sombong.
Pretty mulai mencari-cari sesuatu dari tas branded yang dia beli memakai uang Darel.
"Nih, kunci apartemennya! dan ini! kartu kredit yang diberikan Darel buat aku!" ucap Pretty menunjukkan kunci apartemen dan juga kartu kredit pemberian Darel.
"Hah, masih nggak percaya! bisa aja kamu dapat dari pria hidung belang lain kan! kamu kan permen!" ucap Daniar.
"Maniskann?!" ucap Pretty tersenyum penuh kemenangan.
"MURAHHH!!" ucap Daniar hingga membuat Pretty sangat kesal.
Skakmat! batin Daniar.
"Aku...aku nggak percaya kalau itu Darel yang membelikannya! apa buktinya kalau itu memang pemberian Darel!" ucap Mentari.
Mentari masih berusaha berpikir positif. Dia yakin kalau Darel tidak akan berbuat seperti itu.
"Tari ngapain sih nanggepin orang kayak dia! palingan juga halu tuh orang!" ucap Daniar berusaha menenangkan Mentari.
Daniar tahu kalau perasaan Mentari saat ini tengah gusar. Dia berusaha menguatkan Mentari untuk berpikir positif meskipun diotaknya sekarang juga tidak bisa berpikir positif.
"Kau kenal Aqis bukan? bawahan Lukas. Dan kau pasti mengenal Lukas." ucap Pretty.
"Ya, lalu? hubungannya denganmu!?" tanya Mentari.
"Dia yang menjagaku agar tidak kenapa-kenapa selama di apartemen. Dia juga yang mengirimkan ku sarapan, makan siang, dan makan malam. Kau juga pasti sudah bisa menebak bukan siapa yang memerintahkannya?" ucap Pretty tersenyum penuh arti.
Plakkk....
"Awww, kau?!!! kau berani menamparku?!!" teriak Pretty marah sambil memegangi pipinya yang sakit.
Mentari terlihat sangat marah sekarang, dia yang semut saja tidak berani menyentuhnya sekarang malah dengan lantang menampar seorang wanita.
"Iya!!! kenapa? sakitt?!!!!" tanya Mentari menatap tajam kearah Pretty.
"Pretty, kayaknya dia udah gila deh, kita pergi aja!" ucap teman Pretty.
"I...iya ayo!" ucap Pretty mulai takut dengan tatapan Mentari.
Pretty dan temannya mulai melangkahkan kakinya pergi.
"Tari jangan berpikir negatif dulu. Kita belum tahu kebenarannya! siapa tahu dia bohong kan!" ucap Daniar.
"Iya Mentari, jangan terhasut begitu saja ya! kau tahu kan kalau dia itu mau menghancurkan rumah tanggamu!" ucap Shiren.
"Nggak! ini nggak bisa dibiarin!" ucap Mentari geram.
Mentari menyusul Pretty dan temannya hingga menuju parkiran mobil.
Serttt....
Mentari menarik kasar rambut Pretty dari belakang membuat Pretty kesakitan.
"Aww...sakitttt!!!! lepass!!!!" teriak Pretty kesakitan.
__ADS_1
"Ini karena kamu udah berani menggoda Darel!!!" ucap Mentari semakin menarik kuat rambut Pretty.
"Akhhhh, sakitttt!!!" teriak Pretty.
Pretty tidak mau kalah, dia menendang Mentari di bagian perutnya hingga terdorong ke belakang.
"Dasar wanita g*la! perawatan rambutku ini mahal tau nggak!" marah Pretty sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan.
"Kenapa marah? kan mesin uangmu masih banyak?! kau kan simpenan om-om! dasar pela*ur!" ucap Mentari kesal.
Daniar, Angel, Shiren, dan Anisa hanya menonton saja. Tidak berani mendekat karena sekarang Mentari dalam mode reognya.
"Eh jaga ya mulut lo! gue itu cuma simpenannya suami lo! makanya jadi cewek tuh yang cantik biar suaminya nggak cari cewek lain!" ucap Pretty semakin membuat Mentari kesal.
"Buat apa cantik kalau murahan?! gatal ke suami orang!! kalau gatal tuh digaruk bukan malah nempel ke laki orang! mau aku garuk sampek berdarah??!!!" ucap Mentari tajam.
"Lo?!! udah berani lo ya?!"
"Kenapa harus takut, apalagi sama pela*kor murahan kayak kamu! asal kamu tau ya, kamu itu cuma dijadiin pelampiasan sama Darel!! jadi jangan sok mau nyaingin istri sah deh!!"
"Apasi, iya emang situ istri sah! tapi nggak bisa puasin suami sendiri ya, makanya suaminya lebih suka sama gue?! permainan Darel hot loh, bikin ketagihan!" ucap Pretty memanas-manasi.
"Dasar pel*korr nggak tau diri?!!!"
Plakkkk....
"Kau menamparku lagiiii!!!! berani-beraninya ya loo!" ingin menampar wajah Mentari namun Mentari dengan sigap menangkap tangan Pretty.
"Hah?!" terkejut karena Mentari menangkap tangannya.
Mentari memutar pergelangan tangan Pretty membuat Pretty teriak kesakitan.
"Wanita g*la! lepasin tangan guee!!!! sakittt!!!!" teriak Pretty kesakitan.
"Kau menyebutku wanita g*la bukan?! sini, biar aku tunjukkan bagaimana wanita g*la ini bertindak!" mendorong Pretty kedepan hingga tersungkur ke tanah.
"Akhh!" teriak Pretty.
Mentari mendekati Pretty dengan aura mencengkam. Tanpa aba-aba Mentari mendaratkan kuku-kukunya yang tidak terlalu panjang tepat ke pipi Pretty membuat goresan disana.
"Aaakkhhhh, si*lannn!!! sakit g*blok!!!!!" teriak Pretty.
Mentari menjambak rambut Pretty lagi. Mendongakkan kepalanya keatas menatap Mentari yang kini sudah dipenuhi amarah.
"Ayo aku tunjukkan kegilaanku!!" ucap Mentari membuat Pretty merinding ketakutan.
Mentari menjambak rambut Pretty dan menyeretnya sangat jauh. Pretty terus berteriak untuk dilepaskan juga diselingi kesakitan. Teman Pretty sudah pergi sedari tadi karena tidak mau ikut campur. Sedangkan Daniar dan yang lain masih setia menonton Mentari menyiksa Pretty.
"Daniar, hentikan Mentari! dia bisa melukai dirinya sendiri nanti!" ucap Anisa takut.
"Iya Daniar, cepat hentikan Mentari!! dia bisa masuk penjara nanti!" ucap Shiren.
"Sebenarnya sih ini seru, tapi demi keselamatan Mentari baiklah!" ucap Daniar.
Daniar menghampiri Mentari yang masih terus menyeret Pretty.
"Tari sudah-sudah! jangan begitu. Kau bisa dilaporkan ke polisi nanti!" ucap Daniar menghentikan aksi Mentari.
__ADS_1
"Tidak, Niar! wanita ular seperti dia ini harus dibasmi! karena kalau tidak dia bisa memuntahkan racunnya kapan saja dan dimana saja!!" ucap Mentari masih marah.
"Iya tapi kau bisa masuk penjara!" ucap Daniar berusaha menenangkan sahabatnya.
"Akhh sakitttt!!!!" teriak Pretty menangis kesakitan.
"Huh!!! kali ini kau selamat karena aku tidak mau kau mati dengan mudah!!!" melepaskan tarikannya dari rambut Pretty.
Pretty mengalami luka-luka akibat diseret Mentari tadi. Penampilannya juga acak-acakan berbanding terbalik saat dia berangkat dari apartemen tadi.
"Ayo pergi!" ucap Mentari ketus sembari berjalan lebih dulu meninggalkan Pretty dan Daniar.
"Akhhhhh!!!" teriak Pretty.
Kini Daniar juga ikut menjambak rambut Pretty.
"Makanya jangan bangunin macan betina yang sedang tidur! bisa habis nanti kau dimakannya!" ucap Daniar sebelum meninggalkan Pretty sendirian disana.
Mentari sudah duduk di mobil Angel disusul teman-temannya yang lain. Mereka mulai meninggalkan parkiran dan membiarkan Pretty disana.
"Angel, antar aku ke rumah dulu ya! ada yang harus aku cari tahu!" ucap Mentari datar.
Mentari masih kesal karena hal tadi. Emosinya masih belum reda malah semakin membesar.
"Baiklah!" jawab Angel.
Setelah sampai dirumah Darel, Mentari langsung berlari memasuki rumah mencari mbok Tini. Hanya dialah satu-satunya orang yang bisa Mentari tanyakan sekarang.
"Mbok....mbok.....mbok Tiniii!!!!! mbokkkk!!!!" panggil Mentari mencari keberadaan mbok Tini.
"Iya non, loh non kok pulang? bukannya menginap dirumah non Daniar?" tanya mbok Tini yang berlari dari arah dapur mendekati Mentari.
"Itu tidak penting mbok! mbok tahu dimana Aqis tinggal?" tanya Mentari tidak sabaran.
"Aqis? anak buah tuan?" tanya mbok Tini.
"Iya!" ucap Mentari.
"Iya-iya tau non, ada apa ya non?" tanya mbok Tini.
"Boleh aku minta alamat rumahnya?" tanya Mentari.
Pertanyaan mbok Tini masih belum dijawab oleh Menteri namun mbok Tini tetap memberikan alamat Aqis.
"Ini non, dia tinggal di apartemen ini!" ucap mbok Tini sembari memberikan sebuah kertas berisi alamat Aqis.
"Makasih mbok!" ucap Mentari lalu keluar dari rumah.
"Gimana, Mentari?!" tanya Shiren saat Mentari sudah memasuki mobil.
"Kita kesini sekarang!" ucap Mentari menunjukkan kertas yang diberikan mbok Tini.
"Oh aku tahu alamat ini! kita kesana sekarang juga!" ucap Angel.
Mereka pergi menuju alamat yang diberikan mbok Tini. Apartemen Aqis yang letaknya tidak jauh dari apartemen Pretty.
Darel, aku tidak akan mengampuninya jika semua ini benar!!!! aku sangat kecewa padamuu!!!! batin Mentari.
__ADS_1
Mata Mentari mulai berkaca-kaca. Entah ini benar atau tidak, tapi yang jelas kabar ini telah menyayatkan luka dihatinya.