Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
SEASON 2 episode 19


__ADS_3

Naru datang bersama Zoe dan juga Juna. Naruka yang melihat kedatangan Arya berlari ke arah Arya seperti anak kecil.


"Abanggg Aryaaa!!!" teriak Naruka lalu memeluk Arya.


"Ihhh Naruu, abang Arya tuh punya akuuu!!!" ucap Hyuna.


"Enggak yaa, abang Arya tuh punya Naruu!! kakak kan udah punya kakak Iwang, welkkk!!!" ucap Naruka sambil menjulurkan lidahnya ke arah Hyuna.


Hyuna menggembungkan pipinya mendengar ledekan Naruka, dua gadis ini tidak berubah sama sekali.


"Enggak, abang punya akuu!!!" ucap Hyuna menarik tangan kanan Arya menuju ke arahnya.


"Punya, Naru!!!" ucap Naruka menarik tangan kiri Arya ke arahnya.


Aksi tarik menarik pun terjadi antara Naruka dan juga Hyuna. Namun bukan tali tambang yang menjadi bahan tarikannya melainkan tangan Arya.


"Sudah-sudah abang pening nih!!! iya, abang punya Hyunaa!!" ucap Arya membuat Naruka jengkel.


"Abang juga punya Naru! udah yaa sekarang baikan! nih abang bawa banyak barang buat kalian berdua!" tunjuk Arya pada beberapa paper bag.


Hyuna dan Naruka masing-masing mendapatkan tiga buah paper bag. Mereka pun menerima paper bag itu dengan senang.


"Naru, ayo kita buka dikamar!!" ajak Hyuna.


"Iyaa, ayoo!!" ucap Naruka.


Mereka berdua pun menaiki tangga. Terlihat menggemaskan.


"Eh, Hyuna, high heels nya ketinggalan!!" teriak Arya yang menyadari Hyuna bertelanjang kaki.


"Biarin ajaaa!!!" teriak Hyuna dari lantai dua.


"Hahaha, dasar bocil-bocil!" ucap Arya terkekeh gemas.


"Kak!!" sapa Arya pada Iwang.


"Gimana disana? betah banget kayaknya?" tanya Iwang.


"Yaa gitu dehh!" ucap Arya senyum-senyum.


"Rasa-rasanya ada yang lagi jatuh hati nih!" tebak Iwang.


Melihat raut wajah memerah Arya, Iwang tahu kalau saat ini Arya tengah menyukai seseorang.


"Ah, kakak bisa aja!" ucap Arya tidak mengaku.


"Kak!" sapa Shaki dan Kaivan.

__ADS_1


Mereka pun memutuskan untuk ke ruang bilyard sekaligus bermain disana. Sedangkan para anak-anak sibuk dengan dunianya, para orang tua juga sama. Mereka tengah duduk diruang keluarga menikmati secangkir minuman dan camilan.


"Aku sudah dengar beritanya, apa benar Alvaro berbuat seperti itu pada Hyuna kita?" tanya Randita.


"Sangat disesalkan sebenarnya!" ucap Darel.


"Lalu? apa itu kembali membuat hubunganmu dengan Zanu bermasalah, Darel?" tanya Randita.


"Tidak! kami masih berhubungan baik. Rencananya kami akan berkumpul dirumah Rohan nanti, sekaligus acara menyambut bulan ramadhan sebentar lagi!" ucap Darel.


"Wahh, ide bagus! kakak boleh ikut kann?" tanya Randita.


"Tentu saja boleh! pukul lima sore nanti kita kesana!" ucap Darel.


"Rumah ini tidak berubah yaa?!" ucap Randita setelah mengedarkan pandangannya menyapu setiap sudut rumah.


"Tidak! mungkin hanya ada beberapa tambahan foto anak-anak!" ucap Darel.


"Kamu masih belum melupakan dia yaa?" tanya Randita.


"Kak, kakak kan tau kalau kak Darel sangat bucin sama kakak ipar!" ucap Juna dengan mulut penuh kue kering.


"Makan dulu makananmu baru bicara!" ucap Rangga.


"Tau tuh, remahannya sampai kemana-mana tuh!" timpal Zoe.


"Aku rasa, aku tidak perlu menjawab pertanyaan itu! kakak tahu seberapa besar cintaku padanya! aku masih belum bisa melupakan dia!" ucap Darel.


"Aku bisa menjadi keduanya! mereka tidak butuh ibu pengganti, kak!" ucap Darel.


Randita menghela nafas panjang. Selalu seperti ini jika mereka membahas masalah ini. Randita akui pesona Mentari memang sangat luar biasa. Tapi ya sudahlah! sebagai kakak, Randita hanya bisa berdoa yang terbaik untuk adik-adiknya juga mendukung mereka.


"Lalu, apa kalian tahu kabar mengenai mama?" tanya Rangga tiba-tiba.


Semua orang terdiam menatap ke arah Rangga.


"Aku dengar perusahaan yang mama mengalami kebangkrutan lima tahun yang lalu." ucap Rangga.


"Bangkrut?" tanya Zoe.


"Iya, mama ditipu oleh sekretarisnya yang telah melarikan uang perusahaan hampir setengahnya! aku juga dengar sebelum itu dia telah menggelapkan uang perusahaan juga, ditambah penipuan itu."


"Bahkan yang aku dengar, mama sampai harus menjual semua aset untuk menutupi kerugian, untuk membayar gaji karyawan juga karena para investor menarik dana mereka dari perusahaan mama!" tambah Rangga.


"Aku tahu apa yang kalian pikirkan! aku pun memikirkan yang sama! tapi apa kalian tidak merasa kalau kita harus mencari mama? dia orang tua kita yang masih hidup. Mungkin Arya dan Iwang tidak menanyakan dirinya karena mereka sudah besar saat itu dan bisa memahami situasinya. Tapi Naruka, Shaki, Kaivan, dan Hyuna? mereka pasti bertanya-tanya dimana kakek mereka." ucap Randita.


"Aku masih belum bisa melupakan kejadian itu kak! kejadian dimana aku menangis didepan istriku yang terbaring kaku, pucat dan dingin. Aku menggenggam tangannya berharap dia merespon ku tapi nyatanya tidak. Aku berharap saat dia hendak disemayamkan, dia akan bangun dan memelukku saat itu juga tapi rupanya tidak! aku harus membesarkan putra-putri kami sendirian, aku merawat mereka sendirian kak! sendirian!!! mungkin ini bukan kesalahan mama sepenuhnya tapi mama juga ikut andil dalam hal ini." ucap Darel.

__ADS_1


"Aku tidak ingin melihat wajahnya, atau mendengar namanya!!" ucap Darel lagi.


Mereka diam. Dari perkataan Darel, dia begitu trauma dengan masa lalu. Jika itu adalah Randita, dia juga tidak akan sekuat ini. Ditinggalkan suaminya bekerja selama satu hari saja dirinya tidak kuat, apalagi ditinggal untuk selamanya. Membayangkannya saja Randita tidak berani.


********


Diruang bilyard.


"Kalian tau masalah Alvaro?" tanya Arya sambil bermain bilyard.


"Tau! dia ada dipenjara sekarang!" jawab Iwang.


"Apa Hyuna baik-baik saja! kita semua tahu anak itu pintar menyembunyikan masalah! apalagi bahkan sampai selama ini kita tidak tahu kalau Alvaro seperti itu pada Hyuna!" ucap Arya.


"Aku sendiri juga tidak menyangka kalau aku tidak melihat dengan mata kepala ku sendiri! saat aku menolong Hyuna waktu itu, aku ingin sekali meremukkan tubuh mereka semua menjadi remahan-remahan kecil!" ucap Shaki yang saat itu sedang duduk di sofa sambil membaca buku.


Shaki memang tidak terlalu menyukai permainan seperti itu, sehingga dia memutuskan untuk membaca buku saja dan membiarkan Iwang, Arya dan Kaivan yang bermain.


"Aku takut ini mengganggu psikis Hyuna! dia pasti mendapat banyak masalah selama ini!" ucap Arya.


"Aku yakin begitu!" ucap Iwang.


"Kenapa kakak yakin sekali?" tanya Kaivan.


Iwang menatap Kaivan yang menatapnya dengan wajah penuh tanya.


"Kakak pernah mendengar dia menangis saat malam hari. Awalnya kakak ingin menenangkan dia, tapi kakak rasa dia butuh waktu untuk sendiri. Jadi kakak memutuskan untuk berdiri di kamarnya, sampai tangisnya mereda." ucap Iwang.


"Kasihan sekali adikku itu! eh, oh ya, besok atau lusa temanku akan datang ke Indonesia. Dia bilang ada ada kontrak disini sekalian pulang ke kampung halamannya. Aku bilang padanya untuk mampir kesini juga nanti!" ucap Arya.


"Oh, boleh aja! biar rumah tambah rame!" ucap Kaivan.


"Umurnya berapa kak?" tanya Kaivan.


"Umurnya tidak jauh berbeda dari kakak, selisih dua tahun lebih muda dari kakak!" ucap Arya.


"Ohhh, eh sabi kali yaa kita jodohkan dia dengan Hyuna!" ucap Kaivan bercanda.


"Hahaha, boleh juga tuh!!! dia baik kok orangnya!" ucap Arya.


"Tapi kakak sudah lama tidak bertemu dia, hanya berkomunikasi lewat media sosial aja!" ucap Arya.


"Lah, kok gitu?" tanya Iwang.


"Iyaa, kami ketemu di Jepang. Saat itu kita satu sekolah dan kami juga sama-sama masuk tim basket sekolah. Kami jadi teman dekat mulai saat itu. Tapi saat sudah masuk SMA, dia pindah ke Belanda dan menetap disana." ucap Arya.


"Ohhh, jadi penasaran seperti apa orangnya!" ucap Kaivan.

__ADS_1


"Nanti kamu juga bakal tau sendiri!" ucap Arya.


Mereka pun melanjutkan permainan.


__ADS_2