
Darel berjalan dengan tergesa-gesa menuju kedalam rumahnya. Auranya kini terasa sangat seram ditambah tatapan tajam darinya membuat siapapun akan merinding ketakutan walau mereka tidak berbuat salah sekalipun.
"DIMANA MEREKAA!!" tanya Darel pada penjaga yang berjaga didalam rumah Darel.
Ada sekitar dua puluh orang penjaga yang berjaga di lantai bawah dan juga lima belas orang yang berjaga di lantai dua.
"Ada di lantai atas, tuan!" jawab salah satu dari mereka.
Darel bergegas menuju ke lantai dua. Penjaga di lantai dua yang melihat kedatangan Darel itupun langsung membukakan kunci pintu yang menahan Rumi, Sandra, dan Pretty.
Ceklek....
Pintu ruangan itu pun terbuka. Darel yang telah berapi-api mendadak menatap terkejut karena ada seseorang yang tidak disangka olehnya berada diruangan itu.
"M...mama?!" tanya Darel terkejut.
Rumi yang semula mondar-mandir itu menatap putranya dengan tatapan ketakutan.
"KENAPA MAMA SAYA ADA DI SINI, HAAA!!!" bentak Darel kepada Lukas, Adi, dan para penjaga.
Mereka saling pandang bingung mau mulai mengatakannya darimana.
"Maaf, tuan! tapi nyonya besar menjadi salah satu yang menyebabkan nona terluka!" ucap salah satu penjaga membuat Adi dan Lukas menatap tajam ke arah penjaga itu.
Adi dan Lukas saja tidak berani mengatakan hal sejujur itu, lah ini?! akhh, kacau jadinya!!! batin Adi dan Lukas.
"APAA?!! MA...." menatap Rumi.
"Darel, mama bisa jelaskan, nak!! itu, Tari....Tari yang telah membunuh papa kamu, sayang!!! Tari penyebab papa kecelakaan!!" ucap Rumi dengan tatapan memelas.
"Ma, aku benar-benar tidak mengharapkan kalimat itu keluar dari mulut mama!" ucap Darel.
Dari sorot matanya, Darel terlihat benar-benar kecewa kepada Rumi.
"Mama tau dari mana kalau Mentari yang membunuh papa?! dari mereka?! mama lebih percaya ular dari pada malaikat?!" tanya Darel menatap tajam ke arah Sandra dan Pretty yang wajahnya terlihat pucat pasi.
"I...itu...mama....mama tau kalau papa bertemu dengan Mentari sebelum kecelakaan, pasti Mentari mengatakan sesuatu yang buruk hingga papa tidak konsentrasi dalam berkendara sampai-sampai...." terpotong.
"MA, CUKUP, MAA!!!" bentak Darel.
"Kami bentak mama, Darel?! mama?! kamu bentak mama hanya demi membela pembunuh itu?!" tanya Rumi.
__ADS_1
"TARI BUKAN PEMBUNUH, MAA!! JUSTRU PAPA YANG PEMBUNUH!!!" teriak Darel.
Salahnya memang karena tidak mengatakan semuanya kepada mamanya. Darel merasa saat itu bukan waktu yang tepat untuk mamanya mengetahui semua kebenaran dari papanya. Ya, kebenaran yang ternyata papanya lah dalang dibalik meninggalnya orang tua Mentari.
"KAMU JANGAN NGOMONG SEMBARANG YA DAREL!!! PAPA TIDAK MUNGKIN MEMBUNUH SESEORANG!!!!" teriak Rumi.
"Bukan Tari yang membunuh papa, ma! tapi penyesalan papa yang telah merenggut nyawanya!! bahkan apa mama tahu siapa yang telah papa bunuh?!" tanya Darel membuat Rumi diam tidak menjawab.
"Sahabat mama sendiri, mama Maya dan papa Mario, orang tua Mentari, maa!!" ucap Darel.
"M...Maya?!" tanya Rumi terkejut.
"Nggak!! nggak mungkin!! nggak mungkin papa mu membunuh mereka, Darel!! kamu pasti salah!! pasti Tari yang telah mencuci otak kamu kan?! iya kann?!!!" tanya Rumi.
Rumi menolak kenyataan ini.
"Heh, bahkan papa sendiri telah mengakui kejahatannya didepan Mentari! bukan Mentari yang pertama kali mengetahui soal ini, tapi aku! aku dan anak buahku ini yang pertama kali mengetahui kebenaran yang telah papa sembunyikan secara rapi hingga belasan tahun lamanya." ucap Darel.
"ADI, BAWAKAN BUKTI-BUKTI YANG KITA DAPATKAN SAAT MENCARI KEBENARAN IDENTITAS MENTARI WAKTU ITU!" perintah Darel.
"Baik, tuan!" ucap Adi.
Adi keluar dari ruangan itu kemudian kembali lagi dengan membawa tiga map yang berisi bukti-bukti kejahatan Ardi, termasuk sebuah rekaman.
"IKAT MEREKA DAN BAWA KE MOBIL!" perintah Darel.
Adi dan Lukas pun menjalankan perintah Darel, sedangkan Harri mengikuti langkah Darel yang keluar dari ruangan itu.
"Kunci pintu kamar ini! pastikan mama saya tidak bisa keluar! jika dia keluar, maka nyawa kalian sebagai gantinya!" ucap Darel sebelum keluar dari ruangan itu.
"Lepas!!! mau dibawa kemana kami!!! lepaskan kamiii!!!" teriak Sandra dan Pretty memberontak.
"DIAMM!!!" bentak Adi.
Mereka menyeret Sandra juga Pretty masuk kedalam mobil jip hitam milik Darel. Didalam mobil itu ada Adi, Lukas, Sandra, Pretty dan salah satu anak buah Lukas yang bertugas menyetir mobil mengikuti mobil Darel yang berada didepan mereka.
Mobil itu berhenti disebuah rumah yang tidak terlalu besar. Pintu pagar yang berwarna hitam itu langsung dibuka oleh dua orang berkaos hitam dengan celana jogger hitam.
"Bawa mereka!!" perintah Darel saat mereka sudah berhenti di depan rumah itu.
Adi dan Lukas menyeret Sandra dan Pretty walau mereka berdua terus memberontak. Hingga sampailah mereka pada sebuah kolam yang terlihat dalam. Air di kolam itu berwarna hijau membuat Pretty dan Sandra merinding ketakutan. Mereka menerka-nerka apa yang akan Darel lakukan pada mereka.
__ADS_1
"Tutup mulut mereka dengan lakban!!" perintah Darel.
"Jangan!!! janga...mejjdhjjj!" teriak mereka yang tidak jelas karena mulut mereka telah tertutup oleh lakban.
Darel menghampiri dua orang itu yang menatapnya penuh ketakutan.
"Kenapa?! takuttt?!!" tanya Darel membuat mereka semakin takut.
"Harusnya aku langsung membunuhmu saja hari itu!! ternyata menghancurkan rahi* mu saja tidak membuatmu insaf yaa!" ucap Darel menatap Prerty.
Sungguh, Pretty sangat takut apalagi ekspresi Darel yang seolah-olah ingin memangsanya hidup-hidup.
"Apa kalian tahu apa yang ada didalam kolam ini?" tanya Darel menatap dengan ekspresi yang menakutkan.
Mereka berdua menggelengkan kepalanya.
"Tidak tahu yaa?! mau aku beritahu?" tanya Darel.
"Harri! lemparkan daging ayam itu!" perintah Darel.
Harri yang entah dapat dari mana, melemparkan satu ekor ayam utuh yang telah dibersihkan dari bulunya tepat ke tengah-tengah kolam itu. Begitu ayam itu sampai menyentuh air kolam, brussss!!! sedetik kemudian ayam itu habis tidak tersisa.
Pretty dan Sandra membulatkan matanya saking terkejutnya. Rupanya didalam kolam itu terdapat ratusan ikan Piranha.
"Didalam kolam ini, ada sekitar lima ratus ekor ikan Piranha yang kelaparan. Emm, kira-kira sudah berapa lama ya kita tidak memberi makan ikan-ikan lucu ini?" tanya Darel kepada tiga anak buahnya.
"Emmm, kira-kira hampir lima bulan, tuan!" jawab Lukas.
"Nah, iya! lima bulan! bayangkan kalau ikan-ikan lucu ini, mencabik-cabik tubuh kaliann!! hmmm, pasti akan sangat menarik bukan?!!" tanya Darel membuat Pretty dan Sandra semakin ketakutan.
"Hmmnhhhsbskshabbahsb!!" teriak mereka tidak jelas akibat lakban yang berada di mulut mereka.
"BAWA KESINI PENGIKATNYAA!!" teriak Darel.
Sandra dan Pretty diikatkan kepada sebuah tali kemudian diarahkan tepat ke tengah-tengah kolam berisi ratusan ikan lapar itu. Sandra dan Pretty terus berteriak walau tidak jelas apa yang mereka teriakan. Hal itu membuat Darel semakin terhibur. Dia bahkan sampai duduk di kursi yang telah disediakan oleh Adi.
Darel duduk dengan santai seolah dia saat ini tengah menikmati sebuah pertunjukan yang sangat menarik.
Perlahan demi perlahan tubuh Pretty dan Sandra di turunkan hingga sampai ujung kaki mereka menyentuh air. Ratusan ikan kelaparan itu langsung melompat-lompat mencabik-cabik kaki mereka hingga darah mengucur deras dari kaki mereka. Mereka semakin berteriak dengan sangat kuat.
"HAHAHAHAAA!!! TERIAK!!! TERIAK LAGI SEPUAS KALIANNN!!!" teriak Darel tertawa puas melihat ekspresi takut dan kesakitan mereka berdua.
__ADS_1
Hingga sampai setengah badan mereka telah masuk kedalam air membuat ikan-ikan ini semakin gencar mencabik-cabik tubuh mereka. Air kolam yang semula hijau berubah menjadi merah darah. Sandra dan Pretty pun meninggal dengan cara yang teramat sadis.
Untuk informasi saja, ikan Piranha biasanya tidak sembarangan menyerang manusia. Mereka hanya akan memangsa bangkai manusia. Mereka juga akan lebih agresif dan menyerang saat ada yang mengganggu mereka, terutama saat mendekati wilayah telur mereka berada. Namun ikan Piranha juga bisa menyerang manusia saat kelaparan atau sudah tidak ada lagi makanan.