
Taxi yang ditumpangi Mentari dan Daniar tiba dirumah Daniar. Mentari yang kurang fokus tidak menyadari dimana tujuan mobil taxi itu.
Mentari turun lebih dulu dan kemudian menatap sekitar.
"Kenapa kita ke rumahmu?" tanya Mentari.
"Ya ampun, kamu kan masih sakit! kalau kamu aku antar pulang nanti kalau ada apa-apa gimana? nggak, pokoknya kamu akan menginap disini 2 atau 3 hari, nggak boleh dibantah!" Daniar keras kepala.
Mentari yang ingin menyanggah ucapan sahabatnya itu kembali diam ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapka. Daniar.
Dasar keras kepala, kayak tuan muda angkuh itu!
Untuk sesaat, Mentari kembali membayangkan Darel. Pria yang bersikap lembut padanya, namun hari ini dia merendahkan harga dirinya bahkan mempertanyakan prinsip hidup yang dia pegang teguh.
Kenapa rasanya sakit banget ya saat dia bilang begitu? padahal biasanya mau orang lain merendahkan aku sebagaimana pun, aku juga tidak menghiraukan ucapan mereka bahkan aku anggap hal itu sebagai semangatku. Tapi dia? kenapa rasanya beda banget?
"Tar.....Tari...... Mentari!!!" panggil Daniar berulangkali.
Mentari bangun dari lamunannya.
"Ayo masuk, mau disini semalaman,ha?" ledek Daniar sembari berjalan memasuki rumah.
"Eh, dasar ya kamu!" menyusul sahabatnya.
Didalam rumah.
"Malam tante,om!" sapa Mentari pada orang tua Daniar.
"Eh, Mentari ayo masuk! udah lama nggak main kesini, kamu apa kabar?" tanya mama Daniar.
"Biasalah, ma, pembisnis muda yang baru merintis karir. Makanya agak sombong dia, sok sibuk!" jengah Daniar menyindir Mentari.
Mentari menyikut perut Daniar sedikit keras. Mama dan papa Daniar hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
"Oh ya ma, pa. Mentari boleh ya tinggal dirumah kita 2 atau 3 hari aja?" ijin Daniar pada orang tuanya.
"Sehari aja, lagian rumah udah lama aku tinggal nggak ada yang bersihin nanti!" tawar Mentari.
__ADS_1
"Mentari, kamu jangan sungkan sama kami. Kamu sudah kami anggap seperti anak sendiri. Jadi mau kamu menginap beberapa hari pun kami tidak keberatan." ucap mama Daniar lembut.
Ucapan mama Daniar membuat hati Mentari tersentuh dan mulai meneteskan air mata.
Mama Daniar mendekati Mentari dan langsung memeluk sahabat anaknya yang sudah seperti anaknya sendiri.
"Kau boleh panggil saya mama kalau kamu mau, ya!" mengusap pucuk kepala Mentari.
Andai saja orang tuaku masih hidup, mungkin akan lebih mudah bagiku menjalani hidup yang pahit ini.
Daniar melihat sahabat dan mamanya berpelukan merasa sangat senang namun juga sedih. Senang karena sahabatnya merasa damai didalam pelukan mamanya, namun ada rasa sedih dihatinya karena tidak sanggup membayangkan hal apa saja yang sudah dilalui Mentari selama ini sendirian, tanpa orang tua yang menguatkannya.
Kau wanita yang kuat Mentari. Aku harap suamimu nanti bisa menjaga dan bertanggungjawab kepadamu, agar kau tidak kesepian lagi dan kau tidak lagi menyembunyikan air matamu dari dunia. batin Daniar.
Mentari dan mama Daniar cukup lama berpelukan.
"Ma sudah dong, kan kasihan Mentari pasti dia lapar. Mending kita makan malam saja, bagaimana?" ucap papa Daniar mencairkan suasana.
"Hahaha maaf, mama jadi kelepasan!" mengusap air matanya.
"Terimakasih, tan...eh ma, om. Maaf saya merepotkan!" ucap Mentari sambil merapikan rambutnya.
Ketiga wanita itu melihat papa Daniar dengan tatapan bingung, terlebih Mentari.
"Iyalah, kamu kan panggil istri om mama, jadi kamu juga harus panggil om papa, hahahaha!" tawa jahil papa Daniar karena berhasil menjahili mereka.
"Papa!!" ucap Daniar dan mamanya pelan tapi penuh penekanan.
Papa Daniar hanya tersenyum kikuk melihat tatapan istri dan anaknya yang seperti ingin memakannya.
Coba saja aku masih ada orang tua, pasti aku akan bahagia seperti Daniar. Ayah, ibu, Mentari rindu pada kalian.
Setelah itu mereka pun pergi makan malam. Canda dan tawa memenuhi meja makan. Dari anggota Daniar hanya kurang 1 orang yaitu Galih, kakak Daniar.
Setelah makan malam mereka membereskan meja dan mencuci piring bekas mereka gunakan tadi.
"Tar, gimana kalau habis ini kita nonton film romantis? aku punya banyak DVD nya tuh. Film horor, komedi juga ada!" saran Daniar.
__ADS_1
"Emm, boleh juga. Sudah lama juga aku tidak nonton film horor dan romantis." ucap Mentari tersenyum.
"Tapi cuma 1 film aja, kan kamu baru aja keluar dari rumah sakit. Jadi harus banyak istirahat." ucap Daniar.
"Siapa yang habis dari rumah sakit?" tanya mama Daniar cemas.
Mama Daniar berada diruang keluarga awalnya. Saat Daniar dan Mentari mengatakan rumah sakit, mama Daniar datang dan mendengar kata itu, sehingga dia penasaran.
"Itu ma, si Mentari!" ucap Daniar keceplosan.
"Mentari? kenapa?" menatap Mentari.
Mentari gugup dan berusaha mencari alasan. Sedangkan Daniar yang sadar kalau baru saja keceplosan juga terlihat gugup.
"Loh, kenapa diam? ayo jawab, kenapa Mentari dirumah sakit?" tanya mama Daniar lagi.
"Itu loh, ma, kan Mentari sering pusing, jadi dia periksa ke dokter dan ternyata darah merahnya rendah, gitu!" jelas Daniar.
Memang sebenarnya darah merah Mentari memang rendah. Makanya saat dia tertusuk beberapa hari yang lalu dia terlihat sangat pucat, bahkan memerlukan 3 kantong darah yang bergolongan B- dan golongan darah tersebut termasuk langka. Untung saja rumah sakit Darel waktu itu memiliki beberapa cadangan darah bergolongan sama, jika tidak maka Mentari akan kehabisan darah dan membuat nyawanya dalam bahaya.
"Ya ampun, Mentari. Kamu kok tidak bilang sama mama, kan kalau kamu bilang mama bisa buatkan kamu sayuran yang tinggi folat dan B12." ucap mama Daniar pada Mentari lembut.
"Iya maaf ma, tadi aku lupa mau bilang." ucap Daniar cengengesan.
"Ya sudah kalau gitu, ma kami mau kekamar dulu, nonton film. Yuk Tar!" ajaknya pada Mentari.
"Iya! permisi ma!" sapa Mentari kalau mengikuti langkah sahabatnya.
Kau wanita yang kuat Mentari. Semoga Tuhan memberikan kebahagian padamu nanti.
********
Darel, Harri dan Adi sudah berada di club tempat kelompok mereka bertemu. Darel memasuki club itu dan langsung menuju ruangan atas.Semua pimpinan kelompok. bawahan Darel sudah berkumpul disana.
Ada Yudha pemimpin kelompok Ardians, Erik pemimpin kelompok Stronger Vesh, Sandra pemimpin kelompok Rose, Maretha pemimpin kelompok Argreta, Ozan pemimpin kelompok Trush, dan Iyan pemimpin kelompok Iyan Dashing.
Darel datang dan langsung duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya. Dia menatap pimpinan kelompok bawahannya satu persatu.
__ADS_1
"Kenapa kalian diam? ayo nikmatilah minuman ini!" ucapnya sambil menyenderkan kepalanya disofa.