
Beberapa bulan telah berlalu. Kini Shaki Kaivan dan Hyuna telah lulus SMA dan akan memasuki dunia perkuliahan. Mereka memilih jurusan yang berbeda namun masih dalam satu kampus terbaik di Indonesia. Sebenarnya Darel telah meminta putra-putrinya untuk sekolah di luar negeri, di negara US misalnya. Namun Hyuna menolak dengan alasan dia tidak ingin meninggalkan Darel seorang diri. Shaki dan Kaivan pun juga sama sehingga Darel memutuskan mereka untuk kuliah di satu sekolah yang sama agar bisa saling menjaga.
Hyuna kuliah di jurusan pendidikan, Shaki kuliah di jurusan arsitektur, dan Kaivan memilih kuliah di jurusan pertanian. Shaki memilih jurusan tersebut karena ingin melanjutkan bisnis Darel karena seperti yang kita ketahui Iwang lebih tertarik untuk menjadi seorang dokter daripada seorang pebisnis. Hyuna sendiri ingin memberi kesempatan pada anak-anak yang kurang mampu untuk mengenyam pendidikan. Hyuna juga memiliki cita-cita mendirikan sebuah sekolah untuk mereka-mereka yang tidak bisa bersekolah karena keterbatasan biaya. Sedangkan Kaivan sendiri bercita-cita bisa memajukan petani di Indonesia agar bisa seperti negara luar.
********
Makan malam kali ini begitu ramai. Juna dan keluarga kecilnya, Randita dan keluarga kecilnya, juga Kaj makan malam bersama dirumah Darel. Darel sengaja mengajak Kaj karena ada sesuatu hal yang ingin dia sampaikan mengenai pria itu. Arya sendiri sebenarnya kebingungan mengapa bisa-bisanya pamannya itu mengundang Kaj yang notabenenya adalah orang luar untuk makan malam bersama keluarga.
"Sepertinya kita akan lebih sering bertemu setelah ini." canda Iwang saat mereka berjalan menuju meja makan.
Iwang berjalan disamping Kaj sedangkan disisi Lain Shaki merasa amat curiga dengan kedatangan Kaj kali ini. Entah mengapa perasaannya mengatakan akan terjadi sesuatu dan itu menyangkut dengan adik perempuannya. Shaki menatap ke arah Hyuna yang tengah bercengkrama dengan Naruka. Gadis itu sebelumnya berlaku dingin pada Hyuna, namun sekarang dia telah kembali pada Naruka yang mereka kenal. Naruka mengaku tidak berniat mendiamkan Hyuna namun karena ada masalah jadi terbawa hingga tanpa sengaja mendiamkan kakak sepupunya itu. Padahal yang sebenarnya adalah Naruka memang sengaja bersikap dingin pada Hyuna. Dia kembali bersikap biasa karena ingin menarik simpati Kaj bahwa dirinya adalah gadis lemah lembut dan ceria, juga agar keluarganya tidak curiga padanya. Ini semua adalah ulah hasutan Zoe, maminya.
"Hyuna, papi ingin berbicara serius denganmu." ucap Darel.
Darel membuka suara ditengah keheningan yang tercipta di meja makan kali ini. Begitu Darel berbicara, semua mata menatap ke arahnya dan Hyuna secara bergantian. Shaki semakin memicingkan mata seolah berharap apa yang dia pikirkan tidak terjadi. Shaki lalu menoleh ke arah Hyuna yang tengah menatap ke arah Darel dengan raut wajah kebingungan.
"Papi bicara saja, kenapa harus minta ijin dulu?" ucap Hyuna.
Darel terdiam. Menghela nafas panjang, lalu...
"Papi sudah memikirkan hal ini matang-matang. Papi berniat untuk menjodohkan mu dengan Kaj. Papi merasa dia adalah pria yang cocok untuk menggantikan papi menjagamu. Papi sudah melihat bagaimana sikap dia selama ini. Bahkan papi juga perhatikan bahwa dia beberapa kali membantumu. Jadi, bagaimana?! Kamu mau kan papi jodohkan dengan Kaj?" tanya Darel menatap lekat putrinya itu.
Semua orang tampak terkejut mendengar penuturan Darel. Tidak terkecuali Hyuna. Dia syok dan terlihat mematung. Hyuna masih mencerna apa yang baru saja papinya itu katakan. Hyuna menatap lekat papinya itu seolah mencari keraguan dari wajah pria yang telah berumur lebih dari setengah abad itu. Namun nihil. Hyuna tidak menemukan keraguan itu di wajah papinya.
"Apa papi sudah memikirkan ini sebelumnya?! Mereka akan menikah, pi, bukan sedang bermain sandiwara. Kan banyak hal yang berubah setelah mereka menikah. Apa papi sudah memikirkannya matang-matang?!" tanya Shaki.
Tidak!!! Shaki tidak mempercayai indra pendengarannya. Shaki tidak ingin apa yang dia pikirkan tadi terjadi. Adik perempuannya akan dijodohkan. Dia akan menikah dengan pria yang bukan dia cintai.
"Iya, ayah! Hyuna masih sangat kecil. Dia bahkan baru saja akan memasuki dunia perkuliahan. Apa tidak terlalu cepat untuk menjodohkannya?" tanya Iwang.
Iwang berlaku sebagaimana kakak laki-laki pada adik perempuannya. Dia begitu melindungi Hyuna. Bagi Iwang, Hyuna masihlah anak kecil yang dia jaga dulu. Masih anak berumur satu tahun yang dia ajari cara berjalan. Masih anak berumur tiga tahun yang sering merengek manja padanya. Tidak!!! Iwang tidak rela adik perempuannya itu tumbuh begitu cepat.
"Papi sudah memikirkan ini matang-matang. Percayalah pada papi, papi hanya menginginkan yang terbaik untuk Hyuna. Papi juga sangat menyayanginya. Papi tidak mungkin menjerumuskannya kedalam jurang neraka." ucap Darel.
Hyuna menatap lagi ke arah Darel begitupun Darel yang menatap Hyuna seolah meminta agar Hyuna menyetujui perjodohan ini. Sepersekian detik berlalu, Hyuna menatap ke arah Kaj yang terlihat begitu santai. Begitu menyebalkan dimata Hyuna. Bagaimana bisa pria itu terlihat tenang didalam situasi yang tegang seperti ini?!
"Baiklah, jika papi menginginkan perjodohan ini. Hyuna akan menerimanya." ucap Hyuna lirih.
Semua orang bersorak karena bahagia dengan perjodohan ini. Darel terlihat begitu senang mendengar jawaban Hyuna. Shaki hanya diam menatap ke arah adik perempuannya itu lalu menghela nafas berat. Selalu saja seperti ini. Hyuna selalu mengutamakan kebahagiaan orang lain diatas kebahagiaannya sendiri.
Diantara sorak-sorai keluarga Darel yang bahagia dengan perjodohan Hyuna dan Kaj. Ada seseorang yang terlihat menahan amarahnya. Tangannya terkepal di bawah meja sampai kuku tangannya memutih saking kuatnya kepalan tangannya itu.
"Kali ini kau benar-benar telah kalah, Naru!!" bisik Zoe yang duduk di samping putrinya.
Naruka menatap tajam penuh kebencian ke arah Hyuna. Lalu menatap sendu penuh damba kearah Kaj. Naruka tidak rela. Hanya dia yang boleh memiliki Kaj, bukan Hyuna.
__ADS_1
Kau selalu merampas apa yang seharusnya milikku, kak!!! Tapi tidak lagi!!! Kaj milikku!!!! Hanya milikkuuu!!!!!
"Baiklah, setelah makan malam kalian pergilah jalan-jalan untuk mendekatkan diri. Bagiamana, Kaj?!" tanya Darel menatap ke arah Kaj.
"Saya terserah Hyuna saja om, kalau dia mau saya juga akan pergi." ucap Kaj.
"Hyuna?!" menatap ke arah Hyuna.
Hyuna yang tengah melamun itu seketika tersentak karena panggilan Darel.
"I..iya, pi?" tanya Hyuna karena tidak menyimak apa yang dikatakan Darel barusan.
"Bagaimana kalau setelah ini kalian jalan-jalan?! Yah, itung-itung untuk mendekatkan diri sebelum kalian resmi menikah." ucap Darel.
"Hyuna terserah papi saja." ucap Hyuna pasrah.
"Baiklah, nanti sehabis makan bersiaplah." ucap Darel.
Hyuna hanya menganggukkan kepalanya pasrah. Begitu selesai makan malam, Hyuna berjalan menuju kamarnya untuk bersiap. Kali ini Hyuna mengenakan celana jeans kemudian mengenakan hoodie oversize yang membuat lekuk tubuhnya tertutup sempurna. Tidak akan ada yang menyangka dibalik hoodie oversize itu terdapat tubuh yang sintal.
"Nah itu dia. Sana kalian pergi. Om titip Hyuna ya Kaj!" ucap Darel.
"Tentu saja om. Kalau begitu kami pergi dulu." ucap Kaj.
********
"Kenapa kamu setuju dengan perjodohan ini?!" tanya Hyuna.
Kini mereka berada di sebuah pasar malam yang ada di pusat kota. Awalnya mereka bingung akan kemana hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke pasar malam ini saja.
"Entahlah. Mungkin karena papimu yang memohon-mohon padaku untuk menjaga bayi kecilnya ini!" ucap Kaj sekenanya.
Bayi kecil?!!! Hyuna ternganga mendengar penuturan Kaj. Seenaknya saja dia bilang Hyuna adalah bayi kecil?!!!
"Bayi kecill?!!!" sentak Hyuna tidak terima.
"Kenapa?! Mau marah?! Memang bayi kecil!!" ucap Kaj datar.
"Jangan salah yaaa!!!! gini-gini aku itu besar yaaa!!!" ucap Hyuna.
Kaj menatap ke arah Hyuna dengan tatapan yang sulit ditebak dan Hyuna pun langsung merapatkan bibirnya saat menyadari perkataan ambigu yang keluar dari mulutnya.
"M...maksudku itu tubuhku sudah besar!!! Aku bukan anak-anak atau bayi lagi!" ucap Hyuna meluruskan perkataannya yang sebelumnya dengan salah tingkah.
"Biasa aja tuh!!!" ucap Kaj datar lalu menatap ke depan.
__ADS_1
Hyuna begitu geram dengan pria di sampingnya ini. Ingin rasanya dia mencakar-cakar wajah itu.
"Kita disini saja dulu lalu jam sembilan kita pulang. Lagian juga aku tidak punya tujuan lain. Atau kau ingin pergi ke suatu tempat?!" tanya Kaj.
"Tidak!" jawab Hyuna singkat.
Kaj acuh saja saat Hyuna menjawab pertanyaannya dengan singkat.
"Eh, mau kemana?!!!" tanya Hyuna.
Hyuna bingung karena tiba-tiba Kaj berdiri dan meninggalkannya. Karena enggan berdiri dan mengejar Kaj, Hyuna pun memutuskan untuk tetap duduk di tempatnya saja. Saat ini Hyuna tengah duduk di pinggir lapangan dengan beralaskan sebuah tikar tipis. Tidak berselang lama, Kaj datang namun tidak membawa apapun di tangannya. Lalu kemana dia pergi tadi?! Batin Hyuna bertanya-tanya.
Kaj diam saja, begitu pun dengan Hyuna yang enggan bertanya. Hingga tidak lama kemudian seorang wanita menghampiri mereka dengan membawa sepiring sosis bakar dan disampingnya ada seorang anak laki-laki yang mungkin berusia lima atau enam tahun. Anak itu membawa es jeruk di kedua tangannya.
"Permisi tuan. Ini pesanannya." ucap wanita itu.
Dia meletakkan piring berisi tusukan sosis bakar ke tengah-tengah Kaj dan Hyuna. Lalu anak laki-laki tadi juga meletakkan es jeruk yang dia bawa ke sisi Hyuna dan Kaj.
"Terimakasih. Ini uangnya!" ucap Kaj memberikan uang berwarna merah yang dilipat-lipat.
"Maaf, tuan. Tapi uang anda kelebihan. Ini sisanya saya kembalikan." ucap wanita tadi yang tampak segan.
Sedangkan si anak laki-laki terus menatap ke arah Kaj dan Hyuna juga ke arah ibunya secara bergantian.
"Tidak usah! Anggap saja itu untuk membeli kebutuhan putramu." ucap Kaj.
"Masyaalloh!! Terimakasih tuan!! semoga rejeki tuan lancar terus. Semoga kalian berjodoh sampai maut memisahkan kalian." ucap wanita itu tampak tersenyum haru.
Air matanya menggenang seiring dengan ucapan doa yang dia lontarkan untuk Kaj. Setelah mengucapkan doa-doa kebaikan untuk Kaj dan Hyuna, wanita itu pun pergi dari sana. Namun si anak tetap tinggal dan menatap lekat ke arah Kaj. Tiba-tiba saja anak itu berhamburan memeluk Kaj. Isak tangisnya pecah begitu saja.
"Terimakasih paman!!! Karena paman ibu tidak lagi pusing memikirkan uang kontrakkan yang sebentar lagi habis!!! Terimakasih!!! Aku tidak akan melupakan jasa paman!!!" ucap bocah laki-laki itu sambil terus memeluk Kaj.
Hyuna terharu melihat ungkapan tulus dari bocah tersebut.
"Aku pergi dulu ya, paman! ibu pasti nyariin aku! Dada paman, dada kakakk!!!" ucap bocah itu tersenyum dan melambaikan tangan pada Kaj dan Hyuna.
"Tunggu?!!! Kenapa dia memanggilku paman dan memanggilmu kakakk?!!" protes Kaj saat bocah laki-laki tadi telah pergi menjauh.
"Hahahaa, dia tau kalau umurmu itu sudah tuaa!!!" ejek Hyuna sambil tertawa puas.
Kaj hanya bisa mendengus kesal mendengar ejekan Hyuna. Namun di detik berikutnya dia dibuat tersenyum kala melihat Hyuna yang tertawa puas sambil memakan sosis bakar. Hyuna memakan sosis bakar itu dengan sangat lahap walaupun tadi sebelum kesini mereka telah makan malam namun sepertinya perut Hyuna ini tidak ada batasnya sampai-sampai Hyuna telah menghabiskan tiga tusuk sosis bakar. Bahkan Hyuna sepertinya tidak menyadari bahwa saus tomat dan mayones dari sosis bakar itu sampai belepotan di bibirnya.
Kaj pun inisiatif mengeluarkan sapu tangannya lalu mengusapkannya ke bibir Hyuna dengan lembut. Hyuna pun tersentak tidak menyangka Kaj akan berlaku sedemikian rupa. Untuk sesaat kedua netra mereka bertemu dan saling menyelam satu sama lain. Pipi Hyuna yang menggembung karena penuh dengan sosis bakar itu membuat Kaj semakin gemas.
Mengapa dia terlihat begitu menggemaskan dengan pipi menggembung seperti ikan buntal itu?! batin Kaj.
__ADS_1