
Mentari sudah membaringkan tubuhnya dikasur kamarnya. Sudah lama dia berbaring diranjangnya namun kantuk tidak kunjung datang.
Oh ayolah mata, tidurlah! aku sangat lelah!
Karena tak kunjung tidur, Mentari memutuskan untuk membaca beberapa buku novel yang sempat diberikan Daniar waktu dirumahnya dulu.
"Kayaknya cerita ini menarik semua. Aku jadi bingung mau baca yang mana dulu!" melihat-lihat sampul novel itu.
"Sepertinya ini menarik!" ucapnya melihat sebuah judul novel yang menarik perhatiannya.
PRIA DINGIN, I LOVE YOU! judulnya aja udah kelihatan menarik.
Mentari membawa buku itu ke ranjangnya. Membuka halaman demi halaman novel itu. Hingga akhirnya Mentari tertidur dengan buku yang masih terbuka.
Malam itu suasana sangat sunyi. Kendaraan terlihat sudah tidak berlaku lalang lagi.
********
Dirumah Daniar, ibu Daniar mengetuk pintu kamar anaknya perlahan.
"Sayang, mama boleh masuk?" tanya mama Daniar.
"Mama? masuk aja ma." ucap Daniar meletakkan ponselnya.
Mama Daniar masuk kekamar Daniar, kemudian menutup kembali pintu kamar.
"Ada apa ma?"
"Enggak ada apa-apa kok. Sayang mama rasa Mentari itu kasihan deh. Dia kan disini tinggal sendiri, dia juga merantau kan kesini. Mama jadi kepikiran aja, apa nggak sebaiknya dia menginap disini? setidaknya kan disini Mentari ada temannya." ucap mama Daniar lembut sembari membelai rambut Daniar.
__ADS_1
"Aku juga kepikiran gitu sih, ma. Tapi mama tau sendiri kan Mentari, dia itu nggak suka ngerepotin orang lain. Padahal aku juga udah bilang berkali-kali kalau kita itu bukan orang asing lagi, tapi dianya tetep nggak mau." jelas Daniar.
"Mama paham kok. Wajar kalau Mentari bersifat nggak enak gitu, mungkin dia merasa kalau dia sudah terlalu banyak merepotkan kita. Jadi kalau kamu senggang, kamu main aja kerumah Mentari, ya sayang?" ucap mama Daniar tersenyum lembut.
"Tentu saja, ma." membalas senyuman mamanya dan memeluk erat mamanya.
"Ya sudah, kamu tidur ya udah malam." mencium kening anaknya.
"Selamat malam, sayang!" ucap mama Daniar kemudian keluar dari kamar Daniar.
Apa besok aku kerumah Mentari aja ya? sekalian bawa makanan buat Mentari. Sudah lama juga aku nggak kerumahnya. batin Daniar.
Setelah berpikir Daniar mematikan lampu disampingnya dan tertidur pulas.
********
Dirumah sakit, Darel, Tomi, Arul, Rohan, Bagas, Jack, dan Angel masih setia berada dirumah sakit.
Memang sedari tadi Angel sudah menguap tanda mengantuk. Tapi dia tidak berani mengatakannya.
"Emm, baiklah kalau begitu. Tuan saya permisi dulu ya!" ucap Angel pada tuan-tuan muda disana.
"Kau pulang dengan siapa?" tanya Tomi.
"Saya bisa pesan taxi online, tuan!" jawab Angel.
"Taxi? apa kau sudah gila? semalam ini mana ada taxi yang beroperasi? lebih baik biar Jack yang mengantarmu pulang. Sekalian dia kembali ke markas." jelas Tomi.
"Loh, pak tua kenapa aku? aku masih bisa kok menemanimu disini!" ucap Jack menolak.
__ADS_1
"Jack! kau antar saja Angel pulang. Setelah itu terserah kau mau kembali kesini atau kembali kemarkas!" ucap Darel ketus.
Cih, tuan salju ini apa tidak bisa memerintah dengan lemah lembut? eh tapi tunggu dulu, kalau tuan salju ini lemah lembut aku tidak akan memanggilnya tuan salju kan? hahahaha. batin Jack sambil tersenyum sendiri.
Akhirnya mau tidak mau Jack mengantar Angel pulang, sedangkan dirumah sakit masih ada sahabat-sahabat Zen.
"Apa kau sudah melihat rekaman yang dikirim Jack tadi?" tanya Tomi membuka obrolan yang sedari tadi hanya ada keheningan.
"Hemm." jawab Darel singkat.
"Apa kau sudah mengerti sekarang kalau yang dilakukan Zen itu adalah tindakan untuk menolongmu? kalau dia tidak memberimu obat tidur waktu itu, dan mencuri kaos, celana dan jaket mu, mungkin kau yang akan masuk perangkap nenek sihir itu!" ucap Arul dengan nada kesal.
"Hemm!" jawab Darel singkat lagi.
"Apa kau akan memaafkan kesalahan yang dilakukan Zen dulu, Darel?" tanya Bagas hanya memastikan kalau jawaban yang akan diberikan Darel pasti sama.
"Hemm!" jawab Darel lagi dan lagi.
"Kau ini tidak punya mulut apa gimana ha? jawab saja susah banget! oh aku tahu, mungkin ini karma bagimu karena kau senang memotong lidah musuh-musuh mu!" Tomi terpancing emosi mendengar jawaban Darel sedari tadi.
Rohan hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah sahabatnya itu. Sekilas terkenang kembli masa-masa dimana mereka SMA dahulu, persahabatan yang erat bahkan jika satu dari mereka bolos sekolah yang lain akan ikut membolos hingga akhirnya mereka dihukum bersama menghormati bendera sepanjang jam pelajaran.
Tidak terasa Rohan tersenyum mengenang saat-saat itu.
"Apa yang kau pikirkan, Han?" tanya Bagas.
"Aku hanya ingat masa SMA kita dulu, itu saja!" ucap Rohan.
Mereka semua terdiam dan mulai sibuk dengan pikiran masing-masing tentang masa sekolah mereka dulu.
__ADS_1
Dulu aku bahkan bisa mengetahui apa yang Zen pikirkan hanya dengan melihat wajahnya saja, tapi hari itu... hari itu kenapa aku tidak bisa melihat kejujuran dimatanya? meskipun dia sudah mengatakan kalau dia tidak bersalah, kenapa aku tetap tidak mempercayai ucapannya? kau memang bodoh Darel! bodoh! batin Darel merutuki kebodohan dirinya sendiri.