Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 232


__ADS_3

Anisa beserta putranya datang kerumah Daniar diantar oleh sopir. Arul sudah berpesan tadi kalau mereka akan aman dirumah Daniar karena akan ada penjagaan ketat disana. Hal itu dilakukan agar lebih maksimal dalam menjaga para wanita mereka.


"Sebenernya siapa sih musuh mereka itu? kenapa nggak mati-mati sih? adaaa aja yang mau ngerusak ketenangan kita!" omel Daniar.


Tentu saja Daniar tidak terima, lah dia saja dengan Zanu baru menikah masa sudah dipisahkan. Terlebih lagi ini pasti akan sangat membahayakan nyawa bukan?


Saat menunggu kedatangan Lukas tadi, Zanu sempat mengabari Daniar lewat telepon kalau dia akan ke Bali untuk menyelamatkan Mentari yang disandra oleh kelompok Nerezza. Semua orang menjadi panik karena khawatir akan keselamatan Mentari, terlebih mama Daniar dan Daniar sendiri.


"Niar, bagaimana ini?" tanya Anisa yang dalam posisi menggendong sang putra, Baskara Arbian Grisha.


"Kalian tenang saja, kita pasti selamat disini!" ucap papa Daniar menenangkan.


"Tapi kita tidak bisa berdiam diri sini saja pa, Mentari dalam bahaya!" ucap Galih spontan.


"Emm, maksudku Mentari dan Candra bisa dalam bahaya!" ucap Galih meralat ucapannya tadi.


"Kau sebaiknya jangan buat ulah lagi, Galih! papa sudah cukup malu dengan perbuatanmu waktu itu!" ucap papa Daniar pasrah namun penuh penekanan.


"Iya, pa!" ucap Galih lesu.


"Kita tunggu saja kabarnya, semoga mereka tidak kenapa-kenapa!" hibur mama Daniar.


********


Di sisi Tomi, dia sudah sampai dirumah orang tua angkat Shiren.


"Wiyoww!!! keren banget nih motor! kok bisa sih Darel punya motor yang hebat kayak gini? di mana ya dia beli?!" tanya Tomi pada dirinya sendiri.


Shiren yang mendengar suara motor dari arah luar segera keluar dari dalam rumah.


"Sayang! kamu kok disini? bukannya tadi ke rumah sakit ya? terus itu motor siapa?" tanya Shiren menatap motor yang ada dibelakang Tomi.


"Ceritanya panjang sayang! sekarang kamu harus ikut aku." ucap Tomi.


"Nak, Tomi kok nggak masuk?" tanya ayah angkat Shiren.


"Tidak, yah! kami akan pergi kok!"


"Kemana?" tanya ibu dan Shiren bersamaan.


"Huhh, sepertinya aku memang harus cerita sekarang yaa?!"


Shiren pun mengangguk bingung.


"Mentari tengah disandra oleh kakakmu, sayang!"


"Kakak ku?" terkejut.


"Iya! saat ini Darel dan yang lain tengah dalam perjalanan ke Bali untuk menyelamatkan Mentari. Aku ingin mengajakmu karena mungkin ini saat yang tepat untukmu bertemu dengan kakakmu, juga mungkin saja kau bisa membujuknya untuk melepaskan Mentari!" jelas Tomi


"Tapi.....apa aku...bisa?" tanya Shiren ragu.


"Kau pasti bisa sayang! aku yakin itu! kau hanya perlu yakin pada dirimu sendiri!" ucap Tomi menguatkan kekasihnya.


"Tomiii.....aku jadi terharu dehhh!!" ucap Shiren mengelap matanya.


"Kalau begitu, nak Tomi, ayah titip jaga Shiren yaa! jangan biarkan dia kenapa-kenapa!" ucap ayah angkat Shiren.


"Tentu saja, yah!" ucap Tomi yakin.


"Kalau begitu aku ambil helm dulu!" ucap Shiren hendak masuk kedalam.

__ADS_1


"Tidak usah! ini sudah ada!" ucap Tomi.


Dengan lembut Tomi memakaikan helm ke kepala Shiren. Wanita manapun pasti akan meleleh dengan cara Tomi yang sangat manis dan penuh perhatian.


"Sudah! selalu cantik!" puji Tomi memandangi wanita yang menjadi kekasihnya itu.


"Apasih! gombal!" ucap Shiren malu.


"Emang iya kok! ayo kita berangkat!" ucap Tomi mulai menaiki motor.


Tomi menghidupkan mesin motor, kemudian Shiren pun naik di belakang Tomi.


"Pegangan yang erat!" perintah Tomi.


"Tidak usah lah, malu!" jawab Shiren.


"Tap...." ucap Tomi berhenti.


Tomi tersenyum licik. Dari wajahnya terlihat bahwa dia tengah merencanakan sesuatu yang jail.


Brummm.....


Tomi mengegas motornya secara tiba-tiba membuat Shiren refleks memeluk tubuh Tomi.


"Nahh, gitu kan bagus!!" ucap Tomi tersenyum menggoda.


"Ishhh, kamu nih jail banget yaa!" ucap Shiren pura-pura marah.


"Pegangan yang kuat, kita bakal ngebut banget soalnya!" ucap Tomi.


Mereka pun mulai meninggalkan rumah orang tua angkat Shiren menuju ke Bali.


********


"Pria bertopeng, sepertinya dia tidak akan datang!" ucap Jo mulai lelah.


Mereka kini berada di luar resort dengan para sandra yang diikat satu per satu di sebuah kursi.


"Dia tidak akan datang!!! sumpahnya padaku menjadi tembok yang sangat kuat dan tinggi untuk dia lewati! dia tidak akan mampu meskipun dia mau!" teriak Mentari dengan lantang.


Jangan datang Darel, ku mohon jangan datang! ingatlah janjimu padaku, Darel! jangan datang kemari!!!!


"Siapapun kau, semoga keluargamu tidak mengalami nasib yang sama dengan kami!" teriak Mentari.


"Keluarga?! tahu apa kau pasal keluargaku haaaaa!!!!" teriak pria misterius murka.


Dia langsung mendekati Mentari dengan penuh amarah, mencengkeram dagu Mentari dengan sangat kuat. Meskipun memakai topeng, kedua matanya terlihat jelas oleh Mentari. Dann, apa itu? sebuah genangan air mata? mungkinkah pria misterius itu tengah menangis? pikir Mentari.


"Kau tidak tahu apa-apa tentang keluargaku dan kau seenaknya mengatai hal buruk tentang mereka!!! PUNYA HAK APA KAUUUU!!!!" maki pria misterius membuang wajah Mentari dengan kasar.


"Jika kau tahu apa arti keluarga, kenapa kau merusak keluarga orang lain? apakah ada seseorang yang merusak keluargamu hingga kau begitu dendam dan bersumpah menghancurkan keluarga orang lain hanya untuk memuaskan dendam batinmu itu? itu tidak akan membuatmu tenang!" ucap Mentari lantang.


"Diam kau bedebah!!!!"


Pria misterius itu hendak menebaskan pedang ke leher Mentari. Refleks Mentari menutup matanya.


"Tariiii!!!!" teriak Candra namun tidak bisa berbuat apa-apa.


Cletakkkk......


Prangggg.....

__ADS_1


"Apa?! siapa yang berani menghentikanku!!!" marah pria misterius itu sembari mencari-cari orang yang baru saja melemparkan batu yang mengenai pedangnya.


Mentari mulai membuka matanya kembali saat dirasa tidak ada tebasan pedang yang menyentuh kulitnya. Matanya terfokus kepada satu titik, matanya membulat dengan sempurna. Air matanya menggenang begitu saja. Air mata bahagia, namun juga sedih.


"Darel?!" ucap Mentari masih terfokus kearah sosok yang dia rindukan selama satu tahun ini.


Pria misterius itu mengikuti arah pandangan Mentari.


"Lepaskan mereka!! kau mau aku bukan! maka lepaskan mereka!" ucap Darel lantang.


Rohan dan Bagas sudah bersiap dengan pistol Glock 17 nya, Arul bersiap dengan senapan HK416 nya, Zanu bersiap dengan panah yang terdapat racun di setiap ujung anak panahnya, dan Darel yang sudah bersiap dengan pedang Damaskus nya.


Darel jugalah yang melemparkan batu dengan menggunakan ketapel ke arah pria misterius sehingga menjatuhkan pedang yang akan menyentuh kulit Mentari.


"Haha muncul juga kau rupanya!" ucap pria misterius.


"Apa yang kau lakukan Darel?! kenapa kau datang kemari?! nyawamu bisa dalam bahaya!!!!" teriak Mentari.


"Diamm!!!" hardik pria misterius membuat Mentari membungkam mulutnya.


"Dan melihatmu dihabisi olehnya begitu? kau pikir aku bisa kehilanganmu, Mentari? satu tahun ini begitu menyiksaku apalagi kalau kau meninggalkanku selamanya! aku harus datang untukmu! meskipun aku mempertaruhkan hubungan kita, setidaknya kau masih bisa aku lihat secara nyata bukan fana!" Darel menjelaskan panjang lebar hingga membuat air mata Mentari tumpah sejadi-jadinya.


"Kenapa kau melakukan itu, Darel? aku tidak ingin kau terluka! segera pergi dari tempat ini, Darel!!! nyawamu dalam bahaya!!!" teriak Mentari disela tangisnya.


"Jika aku ditakdirkan mati ditangannya, biarkan aku mati karena menyelatkanmu! setidaknya matiku tidak sia-sia karena aku telah berjuang sebelumnya." ucap Darel tersenyum.


"Tidak!!! tidak Darel!!! hiks...hiks...jangan lakukan ituuu....." ucap Mentari semakin menangis.


Candra yang melihat itu merasa tercekal, dadanya sakit. Sakit karena melihat wanita yang dia cintai tengah berada diujung tanduk dan dia sendiri tidak bisa menyelamatkannya. Sakit karena wanita yang dia cintai lebih mempedulikan nyawa Darel daripada nyawanya sendiri. Sakit karena saat ini Candra bahkan tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Tenaganya sudah cukup habis terkuras saat bertarung dengan anak buah Jo tadi sebelum dia diikat.


"Owhhh, kisah cinta yang sangat mengharukan!!" ucap pria misterius seolah mengusap air matanya.


"Jo, tunaikan janjimu itu! aku menagihnya sekarang!" ucap pria misterius.


"Tunggu apa lagi, serang merekaaaa!!!" teriak Jo dari kursinya kepada anak buahnya.


Ratusan orang anak buah Jo langsung menyerang Darel dan sahabatnya. Mereka turun dari motor dan mulai menyerang balik anak buah Jo.


Sring.....sring...sring....


Darel mulai mengayunkan pedangnya dengan sangat keren, menebas anak buah Jo. Sudah banyak anak buah Jo yang terkapar karena terkena tebasan pedangnya. Dengan lincah Darel menghindar dari serangan musuhnya dan membalas serangan itu dengan epic.


Dor....dor....dor...dor....


Bagas dan Rohan tidak kalah hebatnya. Satu per satu musuh yang mendekat mereka habisi dengan sekali tembak. Untung mereka membawa sangat banyak peluru didalam kantong tas yang cukup besar, juga masih ada lagi di motor mereka. Rohan dan Bagas bekerja sama untuk saling melindungi dari ancaman bahaya anak buah Jo. Tembakan peluru mereka bersahut-sahutan seiring dengan banyaknya anak buah Jo yang tumbang.


Zanu juga tidak kalah lincah. Dengan anak panah yang sudah diberi racun sebelumnya, anak buah Jo yang terkena panah beracunnya akan kejang-kejang lalu mengeluarkan busa kemudian meninggal.


"Hyaa!!!" teriak Zanu saat hendak melawan anak buah Jo dari arah samping.


Zanu melompat ke punggung bawahan Jo lalu dengan serangan telak langsung menendang tepat di dada anak buah Jo hingga ambruk. Sedangkan anak buah Jo yang dijadikan batu loncatan oleh Zanu tadi langsung dipanah dengan panah beracunnya. Karena anak panahnya yang terbatas, Zanu berlari mencabut anak panah yang telah menewaskan banyak anak buah Jo lalu kembali mengoleskannya ke wadah berisi racun kemudian memanah kembali anak buah Jo.


"Haha sungguh pertunjukan yang sangat bagus bukan!" ucap pria misterius itu dengan sangat puas.


"Kau benar! ini lebih bagus dari pada tarian wanita-wanita cantikku!" ucap Jo menyeringai puas.


"Kita lihat sejauh mana mereka bisa bertahan dengan anak buah kita!" ucap Jo seolah meremehkan kehebatan Darel dan sahabatnya.


"Hati-hati Darell!!" teriak Mentari saat melihat ada anak buah Jo yang hendak menyerang Darel dari belakang.


Refleks Darel melakukan salto lalu menusukkan pedangnya tepat mengenai punggung anak buah Jo itu hingga tembus ke dada.

__ADS_1


"Akhh!!!" teriak anak buah Jo itu kesakitan lalu ambruk.


__ADS_2