Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 116


__ADS_3

Acara pemakaman baru saja selesai. Seluruh keluarga, karyawan Sanjaya Group, rekan bisnis, para sahabat dan awak media masih berkumpul dirumah utama untuk mengucapkan bela sungkawa. Nyonya Ardi yang sejak hari pertama berita kecelakaan itu tersebar, semakin hari kesehatannya semakin memburuk. Terutama ketika pencarian terpaksa dihentikan dan anak serta menantunya terpaksa dinyatakan meninggal.


Tuan Ardi menghampiri istrinya yang tengah menyendiri di ruang kamar Darel yang lama sambil memegang baju lama Darel. Pipi basah dan mata yang sembab menjadi saksi betapa pedih yang dirasakan nyonya Ardi saat ini.


Tuan Ardi duduk disamping istrinya, mengelus pelan pundaknya seolah menguatkannya. Mendapatkan perlakuan itu tangis nyonya Ardi semakin pecah, dia menangis sejadi-jadinya masih tidak terima jika anak dan menantunya sudah meninggalkannya.


"Hiiikkkssss...hiksssss....hikkksss, Darel paaa, Darelllll. Darel kecil kitaaaaa, mama mau dia kembaliiiii, hikkkssss... hikkksss!!" tangis nyonya Ardi.


"Sabar ma, kita harus mengikhlaskan mereka. Mereke tidak akan bisa tenang kalau mama terus...." terpotong.


" Tidak pa, ha....hati kecil mama mengatakan kalau Darel dan Mentari masih hidup, mereka masih hidup papa!!!" ucap nyonya Ardi.


Sorot mata penuh keyakinan tergambar dimata nyonya Ardi. Dia yakin bahwa anak dan menantunya itu masih hidup namun tidak ada satu orangpun yang mempercayainya, termasuk suaminya sendiri.


"Sudahlah ma, jika begini terus mama bisa sakit! ikhlaskan Darel dan Mentari!!" ucap tuan Ardi dengan nada sedikit meninggi.


Tuan Ardi yang sudah mulai kesal dengan tingkah sang istri akhirnya memilih meninggalkan ruangan.

__ADS_1


********


Ditempat lain, Tuti baru saja selesai membantu Mentari untuk menata diri. Baju yang dia gunakan dihari kecelakaan itu sudah Tuti perbaiki bagian yang sobek sehingga masih layak pakai. Setelah semua siap, Darel dan Mentari pamit kembali ke kota.


Seingat Darel, ada beberapa anak buahnya yang bertugas disekitar desa itu. Daren dan Mentari pun menuju markas tempat anak buah Darel melakukan tugas. Mereka berjalan kaki menuju markas itu karena jalan yang tidak memungkinkan untuk kendaraan dapat melintas.


Baru separuh perjalanan, Mentari mengeluh capek. Yah memang kondisi Mentari yang belum pulih benar dan harus dipaksa berjalan kaki sejauh itu Darel pun memahami hal itu.


"Istirahat sebentar ya!" ucap Mentari dengan nafas terengah-engah.


"Hari sudah semakin sore, jika kau terus-menerus minta istirahat bisa-bisa kita sampainya besok pagi dirumah!" ucap Darel dingin.


"Sini!" ucap Darel.


Darel berjongkok dihadapan Mentari. Mentari yang terkejut pun mundur beberapa langkah.


"Ngapain?" tanya Mentari bingung.

__ADS_1


"Katanya capek, Udah buruan naik!!" ucap Darel sedikit membentak.


"Bilang baik-baik kenapa sih? emang harusnya pakai ngebentak gitu?" ucap Mentari.


"Yaudah aku tinggal disini aja sendirian!!!" ucap Darel hendak berdiri.


"Ehhh, iya-iya aku naik!!!! Dasar tuan muda pemarah!!" omel Mentari.


Mentari pun naik ke punggung Darel.


"Berat juga ya kamu ternyata!! badannya aja yang kecil!!" omel Darel sambil berjalan menggendong Mentari.


"Yeeee, enak aja ya kalau ngomong!! segini aja berat! dasar lemah!" maki Mentari.


"Lemah kamu bilang?!!!" teriak Darel.


"Heeh, emang kamu lemah kok buktinya aku yang segini aja nggak kuat kamu gendong!" ucap Mentari memanas-manasi Darel.

__ADS_1


"Benar-benar ya kamu, liat aja aku bakal gendong kamu sampai tempat tujuan!!" ucap Darel sambil mempercepat langkahnya.


Dalam hati Mentari tersenyum bangga. Kapan lagi bisa menjahili Darel hingga mau menggendongnya apalagi perjalanan masih cukup jauh. Mentari merasa sudah menang kali ini.


__ADS_2