
Darel berjalan menuju sebuah matras yang sudah disiapkan oleh Adi dengan mengenakan pakaian putih dengan sabuk berwarna hitam terlilit di pinggangnya. Mentari mengikuti langkah kaki Darel dengan wajah cemberut.
"Oke, pelajaran pertama. Ini namanya kuda-kuda! posisi kuda-kuda kami harus kokoh saat melawan musuh karena kalau tidak kamu bisa dengan mudah dijatuhkan lawan!" ucap Darel memperagakan posisi kuda.
"Kenapa diam aja?! ayo ikutin!!" ucap Darel karena Mentari hanya melihatnya saja.
"Oh iya-iyaaa!" ucap Mentari.
Mentari berdiri di depan Darel lalu memperagakan setiap arahan dari Darel.
"Oke, kalau kuda-kuda kamu udah bener, selanjutnya kepalkan tanganmu seperti ini lalu pukul ke depan dengan sekuat tenaga!" ucap Darel.
Mentari mengikuti gerakan Darel namun terlihat sangat lemas, tidak ada tenaga dari setiap gerakan yang dia keluarkan.
"Kalau kamu mukulnya kayak gitu, musuh nggak bakal ngerasa sakit tapi malah geli!" goda Darel membuat Mentari langsung berdiri dari sikap kuda-kudanya.
"Ihhh gimana sih?! susah banget deh!" keluh Mentari.
"Baru juga sebentar udah ngeluh aja! ayo lanjut lagi! kalau kamu ngeluh terus nggak selesai-selesai nanti!" ucap Darel.
Dengan terpaksa Mentari kembali ke posisi kuda-kudanya mengikuti arahan dan gerakan dari Darel. Beberapa teknik dasar bela diri Darel berikan kepada Mentari, mulai dari memukul, menendang, menangkis,dan sabetan atau chigi.
Berjam-jam mereka mengulang-ulang gerakan dasar tersebut hingga Mentari mulai bisa menguasai gerakan dasar itu.
"Oke, sekarang kita tes!" ucap Darel setelah Mentari mulai menguasai teknik dasar bela diri.
"Tes? tes bagaimana?" tanya Mentari yang memang tidak tahu.
"Ya, kamu coba serang aku! jadi aku tahu sejauh mana kamu menguasai teknik yang baru saja kami pelajari dan mana yang perlu aku evaluasi lagi agar kami lebih menguasainya." jelas Darel dengan perlahan.
"Ooouuhhhh!!!" ucap Mentari sambil menganggukkan kepalanya mengerti.
"Oke kamu coba serang aku!"
"Menyerang kamu?!! kamu bercanda yaa?! kamu yang kena bom aja masih baik-baik aja kok gimana mau nyerang kamu?! bisa-bisa tangan sama kaki ku patah nanti kena tubuh kamu yang kayak baja itu!" omel Mentari sambil memegang pergelangan tangannya ngilu.
Baru membayangkannya saja sudah membuat tangan Mentari ngilu apalagi benar-benar melakukannya. Bisa dibayangkan bukan bakal sesakit apa nantinya kalau Mentari menyerang tubuh besi Darel?!
"Bukan ke tubuhku, tapi ke ini!" ucap Darel lalu menunjukkan sebuah benda mirip bantal berwarna hitam.
Dari bentuknya saja terlihat kalau benda itu cukup keras.
"Oh, hehehe maaf!" ucap Mentari yang salah tingkah karena sudah salah sangka.
"Sudah ayo serang aku!"
Mentari mulai menunjukkan teknik-teknik yang baru saja dia pelajari beberapa jam yang lalu.
"Kalau mau pakai tendangan depan itu telapak kaki kamu harus sejajar dengan lutut agar kamu tidak terjatuh. Kuncinya posisi kuda-kuda juga harus pas untuk menjaga keseimbangan. Sebelum menyerang perhatikan posisi lawan lalu mengambil jarak yang pas untuk menyerang!" ucap Darel memberi arahan.
"Baiklah!" jawab Mentari mengerti.
__ADS_1
Mentari mencoba lagi tendangan depan seperti yang diarahkan oleh Darel.
"Oke bagus sayang!! ganti yang tendangan samping! putar telapak kakimu 45 derajat sehingga pinggulmu ikut berputar, kemudian tendang sesuai sasaran, bisa perut atau kepala." jelas Darel.
Mentari sekali lagi mulai mempraktekkan gerakan itu.
Bruk....
"Awww!!!"
Mentari terjatuh karena posisi kuda-kudanya terlalu jauh dengan posisi Darel.
"Sudah aku bilang kan atur jarak mu denga lawan sebelum menyerang. Posisi kuda-kuda tetap harus kokoh agar seimbang jadi kamu juga nggak bakal jatuh. Nih, otot kaki kamu harus lebih kuat biar bisa menopang seluruh badan kamu." ucap Darel menjelaskan sambil menepuk-nepuk kaki Mentari.
"Hufttt, susah banget sihh! ribet!!!" Mentri kembali mengeluh.
"Oke yang terakhir, kamu coba lawan aku. Habis itu latihan kita hari ini selesai!" ucap Darel.
Darel kasihan melihat Mentari yang seperti sangat kelelahan itu. Apalagi keringat Mentari terus keluar dari tubuhnya.
"Oke! bener ya, kalau aku menang bakal udahan!" ucap Mentari bersemangat.
"Yaa!" jawab Darel.
Mentari mulai melawan Darel dengan membabi buta namun tidak satu pun dari tekniknya yang berhasil mengenai Darel.
"Berpikir yang matang sebelum menyerang, sayang biar kamu bisa mengenai targetmu!" ucap Darel yang terus menangkis serangan Mentari.
Dengan bodohnya Darel, Adi, Harri, dan Lukas ikut melihat ke arah yang ditunjuk Mentari. Tidak menyia-nyiakan kesempatan itu Mentari memasang kuda-kudanya, memutar telapak kakinya dan..
Buggg.....
"Akhhhh!!" teriak Darel.
Darel meringkuk kesakitan karena bagian intinya, bagian yang selalu membuat Mentari menjerit kenikmatan terasa ngilu. Sebenarnya bukan itu sasaran Mentari melainkan bagian perut Darel, namun apa boleh buat, kakinya malah mengenai bagian itu.
"Sayang....maaf aku nggak sengaja!!" ucap Mentari berlari mendekati Darel begitu juga Lukas dan yang lain.
"Tuan, anda baik-baik saja?" tanya Adi.
"Bagus nona, tepat sekali sasaran andaa!!!" ucap Harri tertawa sambil melakukan tos bersama Mentari.
Lukas dan Adi hanya menahan senyum melihat Mentari begitu kuat menendang bagian inti Darel apalagi sampai membuatnya meringis kesakitan seperti ini.
"Sial*n kau Harri! akan aku hukum kau habis ini!" ucap Darel masih dengan posisi meringkuk sambil memegang juniornya yang ngilu.
"Sudahlah, latihan hari ini kita sudahi saja! Lukas bantu aku!" ucap Darel.
"Nggak mau aku bantu sayang?" tawar Mentari.
"Nggak, aku ngambek sama kamu!" ucap Darel ketus.
__ADS_1
"Lah kok gitu sih?!"
Darel tidak menghiraukan rengekan Mentari dan terus saja berjalan melewati dibantu oleh Lukas.
********
Malam siang kali ini terasa begitu nikmat bagi Mentari. Pasalnya hampir semua masakan yang dihidangkan di meja dilahap oleh Mentari. Tidak hanya itu, Darel, Adi, Lukas, Harri dan pelayan yang ada disana pun terlihat melongo dengan aksi Mentari.
"Ahhhh, KENYANGGG!" ucap Mentari bersandar di kursinya sambil mengelus-elus perutnya yang membuncit akibat kebanyakan makan.
"Kamu sehat kan?" tanya Darel penuh selidik.
"Kenapa?" tanya Mentari.
"Nggak biasanya kamu makan sebanyak ini?"
"Aku tuh lapar tau gara-gara tadi!" keluh Mentari mengingat latihan mereka pagi ini.
"Ohh, ya kalau masih mau makan ya makan aja! atau kamu mau makan yang lain gitu? bilang aja!" ucap Darel.
"Beneran? oke mbok, aku mau salad buah dong isinya strawberry, anggur, melon, semangka, nanas, jelly rasa jeruk sama rasa kelapa muda, terus apel, sama pir ya! terus toppingnya pakai keju, sama strawberry ditambah irisan jeruk, kacang almond sama anggur!" ucap Mentari.
"Oh ya tolong buatkan juga ayam panggang ya, sambalnya yang pedesss banget! jangan yang manis! sama minumannya tolong buatin jus jeruk aja ya! agak manis! hehehe, makasih!" ucap Mentari.
Darel dan yang lain terpaku mendengar permintaan Mentari itu. Bahkan makanan di piringnya sama sekali belum tersentuh karena lebih tertarik dengan sikap Mentari ini.
Mbok Tini dan salah satu koki disana sampai keteteran mencatat setiap pesanan Mentari. Takut ada yang kurang atau salah catat, mbok Tini pun memastikan kembali pesanan Mentari.
"Oke, benar!" ucap Mentari setelah mbok Tini mengulang permintaannya tadi.
"Baik non! tunggu sebentar yaa!" ucap mbok Tini.
Dia bersama koki profesional lain segera masuk ke dapur membuatkan pesanan Mentari. Untuk mempersingkat waktu, mereka membagi tugas, ada yang bertugas membuat mayonaise untuk salad buah, ada yang memotong buah-buahan, ada yang membuat jelly, ada yang membuat ayam panggang, ada yang membuat sambal, dan ada juga yang membuat jus jeruk yang diperas langsung sehingga lebih fresh lalu dimasukkan kedalam kulkas agar lebih dingin.
Tidak sampai setengah jam berlalu semua pesanan Mentari sudah selesai. Namun mereka menunggu beberapa saat untuk memasukkan salad buah itu ke dalam kulkas agar dingin. Lima belas menit berlalu, mereka menyajikan pesanan Mentari. Mereka membawanya ke depan televisi dimana Mentari tengah tertawa melihat kartun favoritnya bersama dengan Darel.
"Nona, ini pesanan anda!" ucap mbok Tini.
"Oh ya, ambilkan aku sedikit lalu sisanya kalian bagi-bagi yaa!" ucap Mentari menatap salad buah yang begitu banyaknya.
Mbok Tini mengambilkan semangkuk besar salad buah itu lalu menambahkan topping sesuai permintaan Mentari. Sengaja toppingnya dipisah agar lebih mudah dalam membaginya nanti jika Mentari meminta untuk dipisah seperti saat ini.
"Tuan, anda mau juga?" tawar mbok Tini.
Darel yang melihat salad buah itu seolah tergoda lalu mengangguk tanda setuju. Setelah meletakkan jus jeruk dan ayam panggang ke atas meja, mbok Tini dan pelayan lain pamit kembali ke belakang untuk menyantap salad buah yang masih ada banyak dan membaginya kepada pelayan dan pengawal yang ada disana.
"Enak yaa! seger!!" ucap Mentari setelah memasukkan satu buah sendok salad buah kedalam mulutnya.
"Kok kamu bisa-bisanya kepikiran buat makan ini sih?" tanya Darel.
"Emang kenapa? ini kan makanan yang lagi hits!"
__ADS_1
"Ya nggak pa-pa sih! cuma aneh aja!" ucap Darel yang kemudian ikut menyantap salad buah itu.