Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EXTRA PART III


__ADS_3

Hyuna masuk kedalam kelasnya. Sekolah ini adalah milik Darel, yang masuk salah satu sekolah dasar elit. Kelas dua dibagi menjadi sepuluh ruangan dan Hyuna ada di kelas C, sedangkan Shaki ada dikelas A dan Raivan di kelas E.


Hyuna berjalan dengan riang menuju kelasnya. Seperti biasa, Hyuna meminta kakak-kakaknya berada didekatnya setelah memasuki lingkungan sekolah. Bukan tanpa alasan Hyuna meminta hal itu. Dikarenakan foto Shaki dan Raivan diekspose oleh Darel, membuat semua orang tahu bahwa mereka adalah putra dari Darel Sanjaya pemilik sekolah ini. Banyak sekali anak-anak yang selalu berkerumun disekitar kakak-kakaknya itu, membuat Hyuna tidak nyaman. Bukan hanya siswa-siswinya saja, bahkan sikap guru-guru pun terbilang pilih kasih kepada mereka berdua. Shaki dan Kaivan seolah diistimewakan dari pada murid-murid lainnya dan Hyuna tidak ingin mendapatkan perlakuan serupa.


Darel yang belum mengekspose wajah Hyuna memberikan keuntungan tersendiri bagi gadis cilik itu. Hyuna jadi tidak dikerumuni oleh orang-orang fake, yang hanya mencari muka saja dihadapannya. Sempat beberapa kali Hyuna melihat kakak-kakaknya yang diminta mentraktir beberapa siswa-siswi hanya karena mereka adalah anak dari pemilik sekolah ini. Mereka juga memuji-muji kakak-kakaknya, namun saat dibelakang, siswa-siswi itu membicarakan keburukan kakak-kakaknya.


Mereka mengatai kakak-kakaknya bahwa kakak-kakaknya hanya beruntung saja karena lahir dari keluarga Darel yang merupakan pemilik sekolah ini. Mereka juga mengatakan bahwa kakak-kakaknya sombong dan suka pamer maka dari itu mereka sering mentraktir siswa-siswi lainnya guna memamerkan kekayaan mereka, padahal kan memang mereka sendiri yang meminta.


"Selamat pagi Hyuna!" sapa teman sebangku Hyuna.


"Pagi juga Raisa!" sapa Hyuna kembali.


"Kamu udah kerjain pr dari Bu Yuni belum? nanti pelajaran pertama Bu Yuni, loh." ucap Raisa.


"Udah dong! Hyuna gitu loh!!" ucap Hyuna.


Tidak berselang lama, bel tanda masuk sekolah pun berbunyi. Siswa-siswi mulai memasuki kelas satu-persatu. Bu Yuni mulai memasuki ruangan Hyuna dengan menenteng tas dan juga beberapa buku paket ditangannya.


"Selamat pagi anak-anak!!" sapa Bu Yuni saat berjalan memasuki kelas.


"Selamat pagi, buu!" balas mereka semua serempak.


"Oke, sebelum memulai pelajaran, alangkah baiknya kita berdoa terlebih dulu. Sekarang giliran siapa yang memimpin doa?" tanya bu Yuni.


Memang disekolah itu dididik agar siswa-siswinya cerdas. Cerdas disini bukan hanya dari nilai saja, namun juga cerdas dalam artian lainnya. Banyak sekolah-sekolah diluar sana yang hanya mementingkan nilai saja tanpa memperdulikan faktor lain. Misalnya kecakapan anak. Anak harus diajari untuk berani tampil dihadapan orang banyak, mengekspresikan perasaan dan keinginan mereka.


Hal ini bisa dilakukan mulai dari hal-hal yang terkecil untuk melatih skill kecakapan anak. Misalnya ya dengan dilakukannya sistem berdoa secara berurutan sehingga siswa dapat belajar cara memimpin juga berani berbicara dihadapan siswa-siswi lainnya. Itu bisa melatih mereka untuk tidak takut mengemukakan pendapat di masa depan nanti.


"Hyuna, buu!" jawab mereka serempak.


"Oke, Hyuna, silahkan dipimpin doanya!" ucap bu Yuni.


"Untuk mengawali pagi yang cerah ini, mari kita berdoa bersama menurut kepercayaan dan agama masing-masing. Berdoa, mulai!" ucap Hyuna dengan lantang.


Seluruh siswa juga bu Yuni menundukkan kepala sejenak untuk berdoa.


"Selesai!" ucap Hyuna.


Mereka pun mengangkat kepala tanda selesai berdoa.

__ADS_1


"Baiklah, pelajaran kali ini dimulai dari mengulang materi kemarin ya. Siapa yang mau menerangkan apa arti dari puisi?" tanya Bu Yuni mengulang materi sebelumnya.


Bu Yuni adalah salah satu guru Bahasa Indonesia di sekolah itu. Beliau salah satu guru yang terbilang masih muda diusianya yang sudah hampir dua puluh enam tahun. Bu Yuni sudah menikah dan dikaruniai seorang anak bernama Ira yang baru berusia empat tahun.


"Saya....saya....sayaa!!!" ucap siswa-siswi serempak.


Siswa-siswi itu mengacungkan telunjuknya tingginya berebut menjawab pertanyaan Bu Yuni.


"Oke, diam dulu, biar ibu yang pilih." ucap Bu Yuni.


"Hyuna, coba kamu terangkan apa arti puisi menurut kamu." ucap bu Yuni kepada Hyuna.


Hyuna yang semula duduk langsung berdiri sebelum menjawab pertanyaan dari guru.


"Menurut Hyuna, puisi adalah sajak yang terikat oleh irama, rima, serta tersusun dari bait dan larik sehingga menciptakan sebuah karya tulis yang indah." jawab Hyuna.


"Wahh, jawaban yang bagus Hyuna. Puisi adalah jenis sastra bahasa yang terikat oleh irama, rima serta susunan bait dan larik. Bagus Hyuna, nilai plus untuk Hyuna." ucap Bu Yuni.


Disini diberlakukan sistem nilai plus kepada siswa-siswi yang berani mengemukakan pendapatnya. Itu juga sebagai bentuk apresiasi terhadap mereka karena sudah berani untuk berbicara.


"Baiklah, melanjutkan materi kemarin, sekarang buka buku kalian bab membuat puisi." ucap Bu Yuni.


Mereka semua pun mulai membuka bab yang dimaksud oleh Bu Yuni.


"Sudah, Bu!" jawab mereka serempak.


"Kalian ibu minta untuk membuat puisi tema bebas. Boleh dari alam, maupun bukan alam, pokoknya bebas. Ibu kasih waktu dua jam pelajaran untuk membuat puisi lalu satu jam lagi untuk presentasi didepan kelas, oke?" ucap bu Yuni.


"Oke Buu!" ucap mereka serempak.


Mereka pun mulai fokus merangkai sebuah puisi yang indah. Hyuna memilih tema alam. Dia membuat puisi mengenai bunga mawar merah di taman rumahnya.


Dua jam telah berlalu, bu Yuni pun mulai memanggil satu persatu siswa-siswinya untuk maju kedepan membacakan puisi karangan mereka.


Kini, tibalah saatnya untuk Hyuna membacakan karangan puisinya. Dia maju sambil membawa bukunya.


...MAWARKU...


Kau tumbuh subuh di taman rumahku

__ADS_1


Menyejukkan mata kala melihatmu


Warnamu kelopakmu yang indah membuat ku ingin menyentuhmu


Namun duri di sekeliling tubuhmu akan melukaiku


Mawarku,


Bermekaranlah kamu di taman rumahku,


Agar tambah elok tamanku


Mawarku,


Warnailah tamanku dengan warnamu yang indah


Hyuna selesai membacakan karangannya. Seluruh kelas pun bergemuruh memberikan tepuk tangan untuk Hyuna termasuk bu Yuni.


"Wahh, puisi yang indah, Hyuna! bagus! anak-anak, dari bunga mawar ini, pelajaran apa yang bisa kita petik?" tanya Bu Yuni.


"Bunga mawar warnanya indah, Bu!" jawab salah satu siswa.


"Bunga mawar banyak durinya!" jawab salah satu siswi.


"Bunga mawar memberikan warna di taman Hyuna, Buu!" jawab Raisa.


"Sudah-sudah. Semuanya benar, tapi kurang tepat. Seorang wanita digambarkan sebagai bunga mawar yang..." terpotong.


"Bagaimana bisa Bu? kan perempuan ya perempuan, bunga ya bunga?" celetuk salah satu siswa.


"Kalian akan mengerti nanti jika sudah lebih besar ya." ucap bu Yuni.


"Yahhh Bu guru nggak asik!!" keluh mereka.


"Baiklah, Hyuna kamu boleh kembali ke tempat duduk ya. Oh ya besok ada kumpulan wali murid. Dimohon kalian untuk mempersiapkan sebuah puisi karena untuk kelas kita, kita mendapatkan bagian lomba membaca puisi." ucap bu Yuni.


"Yeee, pasti seru nihh!!" sorak mereka semua dengan gembira.


Memang setiap akhir semester, disekolah ini akan mengadakan perkumpulan wali murid dan murid-murid akan menampilkan sebuah game dan pertunjukan untuk menghibur penonton. Tahun lalu, kelas Hyuna kebagian membawakan lomba tarian tradisional. Mereka pun menarikan sebuah tari khas dari Aceh, bernama tari Saman.

__ADS_1


Tari Saman sendiri memang membutuhkan banyak orang untuk menarikannya. Semakin banyak orang yang menari akan semakin meriah juga tariannya. Dan untuk tahun ini, kelas Hyuna kebagian lomba membaca puisi antar kelas. Dipilih tiga saja perwakilan setiap kelas. dan dari kelas Hyuna, terpilih Hyuna, Andi, dan Ulfa.


Mereka pun diminta untuk mempersiapkan diri guna menghadapi lomba besok.


__ADS_2