
Lukas mengantar Kiki pulang lebih dulu. Begitu sampai di gang menuju rumah Kiki, dia meminta untuk berhenti sejenak dipinggir. Untung saja gang itu cukup luas untuk dilewati dua mobil sehingga tidak mengganggu lalulintas.
"Katanya rumahmu masih jauh? kenapa berhenti disini?" tanya Lukas bingung.
Lukas menatap bocah-bocah itu yang terlihat saling melempar senyum membuat Lukas semakin tidak mengerti.
"Iya om, tunggu sebentar yaa!" ucap Kiki.
Kiki, Iwang, Iqbal, dan Roni turun dengan membawa mainan yang telah mereka beli. Lukas menatap mereka dengan bingung pun memilih untuk ikut turun juga. Mereka berjalan kaki di gang yang sangat sempit dan becek karena semalam baru diguyur hujan.
"Kalian mau kemana sih sebenarnya?" tanya Lukas yang masih mengikuti langkah kaki bocil-bocil ini.
"Udah om ikut aja!!" ucap Iqbal.
Bocil-bocil itu sepertinya sangat mengenali tempat ini. Terbukti dengan lincahnya mereka berjalan sedangkan Lukas sering terperosok ke lumpur. Anak-anak itu sesekali menertawakan Lukas yang terlihat bodoh dimata mereka.
"Kita mau kemana sih? dari tadi nggak nyampek-nyampek?" keluh Lukas.
Udah sampai kok om!" ucap Roni.
Lukas mendongakkan kepalanya menatap tempat tujuan mereka. "PANTI ASUHAN KASIH BUNDA". Lukas membaca plang nama yang tertera di atas bangunan sederhana itu.
Bagaimana bisa ada panti asuhan ditempat seperti ini? pikir Lukas. Tempat itu terbuat dari anyaman bambu dan atapnya terbuat dari daun rumbia yang sebagian telah kering dan sebagian masih berwarna hijau, sepertinya baru diganti.
Lebih cocok dijadikan gubuk sih ini dari pada dibuat hunian! batin Lukas pilu.
"Ehh, anak-anak!!! kalian kok nggak masuk?" sapa seorang wanita yang masih sangat muda.
Deg....
Lukas menatap wanita itu dengan seksama. Pikirannya melayang kepada seseorang dimasa lalunya.
"Hai kak, ini kami bawakan mainan untuk teman-teman. Semoga mereka suka yaa! maaf baru datang sekarang!" ucap Iwang sembari memberikan mainan pilihannya begitupun dengan temannya yang lain.
Wanita itu terharu dengan apa yang dilakukan Iwang, Kiki, Iqbal, dan Roni. Anak seumur mereka sudah mengerti berbagi dan berbelas kasih. Wanita itu tersentuh hingga menitihkan air mata. Dia masih belum menyadari kehadiran Lukas ditengah-tengah mereka.
"Terimakasih yaa! kalian sudah sangat membantu disini! kakak sangat berterima kasih pada kalian berempat!" ucap wanita itu memeluk Iwang dan teman-temannya.
"Oh ya, kalian sama siapa kesini? ini udah sore loh!" ucap wanita itu.
"Sama om Lukas!" ucap Iqbal.
Lukas mendekat ke arah mereka. Matanya tidak bisa lepas dari sosok wanita ini.
"A....Amira?!" panggil Lukas Lirih.
"Lukas?!"
Amira berdiri dengan menatap ke arah Lukas. Dirinya sangat terkejut karena Lukas berada dihadapannya. Setelah sekian lama dia berusaha bersembunyi, kini sosok yang setiap hari dia rindukan berada tepat dihadapannya. Apa yang harus Amira lakukan? dia tidak bisa berkata apapun saking terkejutnya. Dia tidak tahu harus senang atau sedih karena bertemu dengan Lukas.
"Amiraaa!!!" Lukas langsung memeluk Amira dengan sangat erat menumpahkan segala kerinduannya kepada wanitanya.
Wanitanya?! ya, dulu dia dan Amira pernah menjalin hubungan. Hingga sampai akhirnya Lukas memilih mengabdikan dirinya dibawah Darel dan memilih melepas Amira untuk pergi.
__ADS_1
"Kau kemana saja, Amira? aku mencarimu!! maafkan aku karena telah melepaskan mu hari itu!! maafkan aku!" ucap Lukas memeluk erat tubuh Amira.
Amira belum membalas pelukan Lukas. Jujur dia bingung dengan kondisinya yang sekarang. Amira adalah salah satu karyawan di perusahaan Darel waktu masih dipegang oleh tuan Sanjaya hingga berganti dipegang oleh Darel yang menjabat beberapa bulan lalu akhirnya dia memutuskan untuk resign. Terhitung Amira bekerja diperusahaan itu hampir delapan tahun karena begitu lulus SMA, dia langsung bekerja diperusahaan itu.
Awalnya dia diterima bekerja di bagian OB, lalu perlahan dengan pasti dia sampai di titik menjadi kepala OB. Dari sana jugalah dia dan Lukas bertemu. Yang awalnya tidak sengaja hingga menimbulkan sebuah getaran perasaan yang mereka rasakan. Kisah asmara mereka berjalan dua tahun hingga akhirnya harus kandas di tengah jalan karena Lukas memilih meninggalkannya.
"Lepaskan aku, Lukas!" ucap Amira mendorong tubuh Lukas hingga menjauh.
"Mira! aku tahu kau pasti sangat kecewa padaku! aku tahu kau pasti sangat marah padaku, tapi ketahuilah!! aku masih sangat mencintaimu!! aku selalu merindukanmu!!" ucap Lukas dengan mata berkaca-kaca.
"Cukup, Lukas!! kau telah kehilangan aku dan calon anak kita saat kau memutuskan hubungan mu denganku!" ucap Amira dengan setetes air mata jatuh dipipinya.
Bagai tersambar petir, Lukas tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Calon anak? anakku? apa saat itu...." terhenti.
"Ya!! aku hamil saat kau memutuskanku!! aku ingin memberitahumu soal kehamilanku itu untuk memberimu kejutan! tapi rupanya aku yang telah kau buat terkejut dengan pilihanmu! kau melepaskan aku!! melepaskan anakmu!! kau jahat, Lukas!! aku membencimuuu!" ucap Amira tidak dapat menahan air matanya untuk tidak jatuh.
********
Setelah mengantarkan Roni pulang, Lukas langsung menuju rumah Darel. Mentari yang telah menunggu kepulangan putranya langsung membukakan pintu saat terdengar deru mobil.
"Selamat datang, sayang!! bagaimana harimu? apa kau senang?" tanya Mentari.
"Senang, bu!! tapi sepertinya kak Lukas tidak!" ucap Iwang sembari berbisik.
"Tidak kenapa?" tanya Mentari ikut berbisik.
Mentari mendengar cerita anaknya dengan sesekali menganggukkan kepalanya.
"Yasudah, kamu langsung mandi ya! biar urusan kak Lukas itu menjadi urusan ayah!" ucap Mentari.
"Iya, bu!" ucap Iwang.
Iwang menuruti perkataan Mentari kemudian masuk ke kamarnya untuk mandi. Mentari sendiri berjalan ke ruang kerja Darel dimana suaminya ada disana bersama Adi dan Harri.
Tok...tok...tok....
"Masuk!" ucap Darel dari dalam ruangan.
"Sayang!!" panggil Mentari sambil masuk.
"Kenapa? tumben kamu masuk kesini? biasanya kalau ada apa-apa dibicarakan dikamar?" tanya Darel memberi isyarat kepada Mentari untuk duduk di pangkuannya.
"Kalau begitu kami permisi dulu, tuan!" ucap Adi tidak ingin mengganggu tuan dan nonanya atau lebih tepatnya tidak ingin melihat kemesraan mereka yang bisa membuat jiwa ke jombloannya meronta-ronta.
"Tunggu!" cegah Mentari.
"Ada yang ingin aku bicarakan juga pada kalian!" ucap Mentari.
"Ada apa, sayang? nggak biasanya kamu seperti ini!" tanya Darel.
Jangan-jangan nona mau ngidam yang aneh-aneh lagii seperti yang kemarin-kemarin!! batin Adi dan Harri.
__ADS_1
Mereka mengingat kembali saat-saat harus menuruti permintaan aneh nonanya itu. Bagaimana tidak aneh coba, mereka di pakaikan riasan kemudian disuruh memakai daster. Oh ya tidak lupa juga rambut mereka dikucir dua disisi kiri dan kanan. Adi tidak akan pernah melupakan hari itu dimana harga dirinya sebagai anak buah paling cool terpatahkan karena hal itu.
"Jadi begini..."
Mentari pun menceritakan apa yang Iwang ceritakan tadi padanya.
"Apa kalian tahu siapa wanita itu? sejauh ini aku belum pernah tahu kalau Lukas memiliki hubungan dengan seorang wanita?" tanya Darel menatap Adi dan Harri secara bergantian.
"Amiraa...." ucap Adi lirih.
# Flashback Adi satu tahun yang lalu #
Adi disuruh untuk memanggil Lukas oleh Darel. Penjaga bilang, Lukas berada di kamarnya. Adi pun menuju ke kamar Lukas yang terbilang termasuk paling besar diantara kamar lainnya. Adi mengetuk pintu kamar Lukas beberapa kali namun tidak ada jawaban. Adi pun mencoba membuka pintu itu yang ternyata tidak dikunci.
"Lukas!!! Lukass!!" panggil Adi.
Dia pun mulai masuk ke dalam kamar. Adi celingukan sambil mencari Lukas.
"Lukas!!! Luk...." panggilan Adi terhenti kala mendengar suara dari dalam kamar mandi.
Lukas pasti tengah ada didalam kamar mandi, pikirnya. Fokusnya teralih kala melihat sebuah foto diatas meja Lukas. Adi pun mendekat ke arah meja dan mengambil foto itu untuk melihatnya lebih jelas.
"Lukas?! tapi bersama siapa dia?" tanya Adi kala melihat Lukas yang masih sangat muda berfoto dengan seorang wanita.
Dari yang dia lihat melalui foto ini, Lukas sepertinya punya hubungan khusus dengan wanita itu.
"Adi! kau memanggilku? Maaf aku habis mandi tadi!" ucap Lukas dengan rambut masih basah keluar dari kamar mandi.
Lukas menatap ke arah tangan Adi yang tengah memegang fotonya.
"Darimana kau dapatkan itu?" tanya Lukas langsung merebut foto itu dari tangan Adi.
"Dari sini! kau tidak bilang kalau kau punya kekasih? siapa dia? dimana dia sekarang? kenapa aku tidak pernah melihatmu bertemu dengannya?" tanya Adi.
"Aku tidak tahu dia dimana sekarang! dia pergi saat aku memutuskan hubungan kami! itu adalah saat terakhir aku melihatnya!" ucap Lukas menatap sendu kearah foto itu.
"Jadi...dia pergi?"
"Ya!! dan aku alasannya pergi!"
"Mengapa kau membiarkan dia pergi? apa kau tidak lihat bagaimana tuan saat ini ketika ditinggalkan oleh nona Mentari? mengapa kau tidak bercermin dari kisah mereka?" tanya Adi.
"Itu sudah terjadi sangat lama sekali! dan sekarang aku menyesali keputusanku!" ucap Lukas.
"Apa yang membuatnya meninggalkanmu? maksudku, apa yang kau katakan padanya hingga dia pergi darimu! setahuku wanita tidak akan pergi dari pria yang dia cintai tanpa alasan yang kuat!" ucap Adi.
"Aku memilih mengabdi pada tuan! aku tidak ingin dia menantiku yang tidak pasti! aku memintanya mencari penggantiku karena aku tidak tahu aku bisa atau tidak menjadikannya ratuku! aku sangat bodoh yaa!" ucap Lukas tersenyum pilu.
"Sabar, bro!! kau akan bertemu dengannya dan sang waktu yang akan membawanya kembali padamu." ucap Adi.
# Flashback off #
Amiraa?! apa dia wanita yang ada di foto itu? batin Adi.
__ADS_1