
Harri berjalan menuju ruangan sebelah tempat anak buah Drago Mark ditahan. Mereka ditahan dalam ruangan yang terpisah dari yang lain sesuai perintah Darel.
"Bawa orang itu kemari!" ucap Hari yang spontan dalam mode serius.
Anak buahnya yang berjaga disana segera menuruti perintah Harri barusan dengan membawa seorang tahanan ke hadapan Harri.
"Katakan, apa yang sudah tuan mu dapatkan dari gadis itu?" tanya Harri tanpa bertele-tele.
"Aku.....aku tidak...."
Plakkkk....
Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi kiri pria malang itu.
"Aku tanya sekali lagi, apa yang tuan mu dapatkan dari gadis itu??!!!!" ucap Harri dengan nada semakin meninggi.
Hal itu membuat pria dihadapannya merasa gemetar dan ketakutan. Bahkan rekannya pun ikut merasakan ketakutan karena sikap Harri yang serius itu.
"Jawab atau aku akan potong tanganmu itu!!!" ucap Harri yang sebenarnya hanya menggertak saja.
__ADS_1
"Jangan....jangan!!! ampun....baik, saya akan mengatakannya." ucap pria itu ketakutan.
Tentu saja dia lebih menyayangi nyawanya dari pada informasi kelompoknya, lagi pula sekarang tidak ada yang bisa dia lakukan selain berusaha agar tubuhnya tetap utuh, untuk saat ini.
"Pria cerdas! cepat katakan!" ucap Harri masih dengan aura membunuh disekitarnya.
"Hei! sudahlah! aku sudah dapat informasinya!" ucap Adi tiba-tiba.
Harri sedikit kesal karena Adi datang disaat yang tidak tepat.
"Ah, kau ini mengacaukan moodku saja! aku hampir saja mendapatkan informasinya dan kau menghancurkan semuanya!" ucap Harri merengek bak anak kecil.
"Sudah diamlah kau dasar anak cengeng! kalian jaga mereka baik-baik, besok tuan akan kembali persiapkan semuanya seperti biasa!" ucap Adi kemudian melangkah pergi.
Anak buah mereka menggelengkan kepalanya tidak habis pikir, bagaimana orang yang dipercaya menjadi tangan kanan bos mafia malah bertingkah seperti anak kecil?
"Mereka seperti anak kecil saja ya?" ucap salah seorang anak buah Darel.
"Iya, tapi kesetiannya pada tuan muda itu loh, patut diacungi jempol! jadi iri sama mereka yang tiap hari bisa berdekatan dan dipercaya oleh tuan!" ucap yang lain.
__ADS_1
Mereka pun tahu seberapa besar pengorbanan yang sudah dilakukan Adi dan Harri hingga sampai dititik dimana mereka menjadi anak buah kepercayaan Darel.
"Tapi tuan Harri kalau lagi serius seremnya minta ampun, nggak kalah sama tuan Adi dan tuan Darel!" ucap seorang anak buah Darel.
"Ya itu istimewanya tuan Harri, walaupun kelihatan bodoh tapi dia nggak kalah sama tuan muda dan tuan Adi." ucap yang lain.
********
Di kediaman keluarga Sanjaya, Randita dan Arya masih tinggal di Indonesia sedangkan Rangga dan Juna sudah kembali beberapa hari yang lalu karena urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.
"Dita, Arya mana?" tanya nyonya Ardi pada Randita.
"Baru tidur siang tuh ma, susah banget tidurnya sekarang, emang ada apa ma?" ucap Randita.
"Enggak, cuma takut aja kan biasanya jam segini masih main dia. Oh ya kalau keluar harus extra hati-hati ya, akhir-akhir ini banyak sekali kasus penculikan anak. Kalau perlu jangan keluar rumah saja dulu!" ucap nyonya Ardi memperingati.
"Iya ma, aku juga udah denger beritanya. Duh jadi takut deh, apalagi Arya itu anaknya aktif banget dan suka pengen tahu." ucap Randita ikut khawatir.
"Kalian ini seperti siapa saja! kalian lupa, papa ini kan mantan bos mafia terkenal dulunya! untuk masalah keamanan kalian jangan khawatir serahkan pada papa dan anak buah papa." ucap tuan Ardi yang baru saja muncul.
__ADS_1
"Bukan begitu lo pa, kita kan juga harus hati-hati daripada terjadi hal yang tidak diinginkan." jelas nyonya Ardi.
"Hemmm, baiklah! memang susah kalau sudah debat melawan ibu-ibu." ucap tuan Ardi pasrah.