
Hari ini siswa-siswi dipulangkan lebih awal. Pukul sebelas siang mereka sudah pulang karena guru-guru akan mempersiapkan acara untuk esok hari.
Didalam mobil, Hyuna tengah sibuk berceloteh mengenai puisinya hari ini. Dia juga memperagakan caranya bicara saat membacakan puisi tadi.
"Wahhh, hebatnya anak papi!! sekarang udah bisa buat puisi sendiri!! karena Hyuna udah bisa bikin puisi yang indah, sekarang papi akan kasih Hyuna hadiah istimewa!!" ucap Darel bangga.
"Loh, kok Hyuna aja! kita enggak?" protes Kaivan.
"Nggak-nggak!! papi bilang kan buat Hyuna, bukan buat kak Ivan!" ucap Hyuna.
"Ishhh, papiiii!!!" keluh Kaivan.
"Semuanya dapat kok! hadiahnya ada di rumah nanti yaa!!" ucap Darel.
"HOREEEEE!!!! AASSYIKKKK DAPAT HADIAHHH!!" sorak Hyuna dan Kaivan memenuhi mobil.
********
Mereka baru saja tiba dirumah Darel. Belum juga mobil berhenti, Kaivan yang memang duduk di samping pintu mobil langsung turun dengan penuh semangat diikuti oleh Hyuna. Hal itu membuat Darel berteriak khawatir, takut anak-anaknya jatuh lalu terluka.
"HYUNA, KAIVAN!! JANGAN TURUN DULU DARI MOBIL KALAU MOBILNYA BELUM BERHENTI, BAHAYAA!!" teriak Darel.
Namun dasarnya Kaivan dan Hyuna, mereka bukannya berhenti kala mendengar teriakan Darel, malah terus saja berlari hingga memasuki rumah. Shaki yang baru turun itu pun menghampiri papinya.
"Sabar saja pi, mereka kan memang seperti itu. Palingan juga tidak sabar lihat hadiah istimewa yang papi bilang tadi." ucap Shaki.
"Dasarr, mereka itu persis seperti ibu kalian!!" ucap Darel.
"Oh ya, pi! kakak kapan pulang?" tanya Shaki sambil jalan bersebelahan dengan papinya.
"Kak Iwang tadi chat papi kalau dia pulang terlambat. Ada bimbingan untuk olimpiade, jadi kakak harus ikut bimbingan itu dulu." jelas Darel.
"Ohh!" jawab Shaki.
Mereka pun memasuki rumah. Baru juga memasuki rumah, Kaivan dan Hyuna menghampiri Darel dan Shaki dari lantai dua sambil berlarian.
"Papi mana hadiahnya, pi?! kok dikamar nggak ada?!!" tanya keduanya setelah sampai dihadapan Darel.
"Hadiahnya ada disini!" ucap Darel.
Terlihat seperti sebuah hadiah besar berbalut kertas kado ada dihadapan mereka dibawa oleh Adi, Lukas dan Harri.
"Wahh, besar sekali!! apa isinya, papi?!" tanya Hyuna penasaran.
"Ayo, kita buka sama-sama!" ajak Darel.
Hadiah itu pun diletakkan diatas meja ruang tamu lalu dengan tidak sabarannya, Kaivan juga Hyuna langsung merobek kertas itu. Shaki hanya diam saja memandangi adik-adiknya yang merobek kertas itu dengan sangat brutal.
"Sebuah foto!!" ucap Hyuna saat semua kertas itu telah berhasil dirobek.
__ADS_1
"Ini foto siapa, pi?" tanya Hyuna.
"Mami kalian!" ucap Darel.
"Mami?!" tanya ketiganya.
Mereka bertiga memandang foto itu dengan seksama.
"Kok mirip sekali dengan Hyuna?" tanya Shaki.
"Ini beneran mami?" tanya Hyuna memandang lekat foto Mentari.
Sebenarnya itu adalah sebuah lukisan. Darel meminta pelukis terkenal untuk melukiskan wajah istrinya. Hasilnya, lukisan itu seolah-olah membuat Mentari benar-benar ada disamping mereka. Lukisan itu seolah hidup. Bahkan saat pertama kali melihat lukisan itu, Darel merasa terharu hingga dia memberikan tip yang cukup besar.
"Iya. Itu sebabnya papi tidak mempublikasikan wajah Hyuna. Papi takut kalau ada orang jahat yang mencelakai Hyuna. Cukup mami kalian yang pergi dari hidup papi, kalian jangan!" ucap Darel.
"Papi, mami cantik sekali yaa? matanya indah, senyumannya juga indah!" puji Hyuna.
Tidak sadar tiba-tiba saja Hyuna mencium lukisan itu membuat Darel ingin menangis.
"Foto ini akan papi pajang disetiap kamar kalian. Jadi, kalian bisa bercerita apa saja kepada mami kalian, oke?" tanya Darel.
"Oke, papiii!!" ucap mereka bertiga serempak.
********
Pukul delapan tepat, semua wali murid telah berkumpul diruang aula tempat berlangsungnya acara. Hanya saja, kursi kebesaran yang dikhususkan untuk Darel terlihat masih kosong. Hyuna, Kaivan dan Shaki yang melihat itu cemas. Tidak biasanya papi mereka itu tidak datang dihari penting mereka. Mereka bertiga tahu kalau Darel super sibuk, apalagi sebentar lagi natal dan proyek peluncuran baju natal juga akan dilangsungkan dalam beberapa hari lagi. Namun, biasanya Darel akan tetap menyempatkan waktu untuk mendampingi mereka apalagi ini acara yang penting untuk mereka bertiga.
"Papi kok belum datang yaa! apa papi lupa?" tanya Hyuna dengan perasaan sedih.
Dia bisa melihat kalau ada Juna disana, diantara wali murid yang lainnya. Namun Hyuna juga ingin papinya datang dan melihat penampilannya.
"Sabar aja, mungkin papi lagi terjebak macet." hibur Shaki.
"Tapi nggak biasanya papi terlambat begini. Atau jangan-jangan papi beneran lupa lagi!" ucap Hyuna.
"Hustt! jangan ngomong begitu! papi pasti datang kok! kita tunggu saja!" ucap Shaki.
Sampai pukul setengah sembilan pagi, Darel masih belum datang juga padahal acara sudah berlangsung lima belas menit yang lalu. Acara pertama ini diisi dengan sambutan-sambutan. Kemudian dilanjutkan dengan lomba puisi lalu tari tradisional dan masih banyak lagi.
"Baiklah, acara selanjutnya adalah lomba merangkai puisi! silahkan setiap perwakilan kelas untuk naik ke atas panggung!" ucap MC.
Hyuna pun mulai naik ke panggung bersama yang lainnya. Saat berada di atas panggung, mata Hyuna terus menatap ke arah pintu masuk, berharap papinya akan datang sebelum dia membacakan puisinya.
"Baiklah, silahkan ambil tema yang akan kalian rangkai sesuai nomor urutnya!" ucap MC.
Untung Hyuna ada di nomor lima, jadi masih ada waktu baginya menunggu Darel datang. Dan dia sangat berharap Darel akan datang tepat waktu.
Satu persatu peserta lomba puisi telah maju. Kini giliran Hyuna yang mengambil tema puisinya. Dia berjalan dengan sangat pelan, dia gugup. Juna yang melihat itu melambaikan tangannya membuat Hyuna melihat ke arah uncle nya itu. Juna mengacungkan dua jempol ke arah Hyuna. Melihat itu, semangat Hyuna kembali lagi. Dia menghela nafas panjang sebelum mengambil temanya.
__ADS_1
"Baiklah, Hyuna! ambil satu tema lalu rangkailah kata-kata dari teka tersebut!" ucap MC.
Hyuna pun mengambil satu tema. Dibukanya gulungan kecil berisi tema yang akan dia rangkai.
"Baiklah, waktu dimulai dari....sekarang!!" ucap MC.
Waktu terus berjalan. Tik...tok...tik...tok...suara jam besar memenuhi ruangan itu. Penonton menunggu Hyuna untuk merangkaikan puisinya. Namun Hyuna diam saja membuat mereka bertanya-tanya.
"Ayo, Hyuna! kenapa diam saja!!" ucap Kaivan yang berada di belakang panggung.
Kaivan dan Shaki juga bingung karena kediaman Hyuna itu. Padahal mereka tahu kalau Hyuna telah berlatih semalaman. Tema apa yang didapat Hyuna sampai dia tidak bisa merangkainya menjadi sebuah puisi? batin keduanya.
"I....ib...u..." ucap Hyuna dengan mata memerah.
Juna, Shaki, Kaivan menatap Hyuna dengan tatapan sedih. Kini mereka tahu tema apa yang didapat gadis itu hingga membuatnya bungkam seperti itu.
"Ib...bu.." ulang Hyuna lagi.
Air matanya mengalir begitu saja saat mengatakannya. Terlalu sesak bagi gadis yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu itu. Orang bilang, pelukan seorang ibu itu adalah pelukan yang paling hangat di dunia. Tapi Hyuna tidak bisa merasakannya. Pelukan itu, wajah maminya, bukan miliknya.
"I...ibuu...hikss....hiks..." isak Hyuna.
Melihat Hyuna menangis, penonton pun ikut menangis. Entah mengapa, setiap panggilan ibun yang diucapkan oleh Hyuna menggetarkan hati mereka. Panggilan itu seolah mengisyaratkan sebuah kerinduan, kesedihan, dan keinginan.
Kerinduan karena Hyuna belum pernah bertemu dengan maminya. Kesedihan karena dia tidak bisa merasakan apa yang seorang ibu bisa lakukan untuk anak-anaknya. Dan keinginan Hyuna agar bisa merasakan hangatnya pelukan serta kasih sayang seorang ibu.
"Ibu!" ucap seseorang yang menggema diseluruh aula.
Semua mata langsung menatap ke arah sumber suara. Hyuna juga sama, dia mendongak menatap siapa yang berbicara itu. Senyumnya mengembang namun sedetik kemudian air matanya luruh jatuh ke pipinya. Kaivan dan Shaki yang melihat itu pun tak kuasa menahan tangisnya. Namun Shaki dengan secepat kilat mengusap air matanya sebelum ada orang lain yang melihatnya.
"Ibu!" ucap Darel yang saat ini telah berdiri di depan pintu masuk.
Darel mulai berjalan perlahan ke arah Hyuna. Air matanya mengalir begitu saja. Hyuna menangis sejadi-jadinya diatas panggung.
"Walaupun kita tidak ditakdirkan bersamanya, namun restunya selalu ada bersama kita. Walaupun raganya jauh dari kita, namun jiwanya masih ada disamping kita. Melihat kita dari tempat terindah diatas sana. Walaupun kita tidak ditakdirkan memiliki seorang ibu ditengah-tengah kita, tapi kita masih punya seorang ayah." ucap Darel yang kini telah sampai dihadapan Hyuna.
Hyuna menangis sesenggukan, Darel mengusap air mata putrinya dengan lembut lalu mengisyaratkan agar Hyuna tidak menangis lagi.
"Apapun akan ayah lakukan, untuk kebahagiaan kita. Memberikan rumah ternyaman untuk kalian pulang. Memberikan pelukan terhangat disaat kalian bersedih. Jangan bersedih, sayang! kita masih punya ayah yang akan menghapus air matamu!" akhir Darel.
Hyuna langsung memeluk Darel.
"Jangan menangis lagi, oke!" ucap Darel mengelus pundak Hyuna.
Sedetik kemudian, gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan aula. Bukan karena Darel yang membacakan puisi itu, namun karena rangkaian kata-kata yang diucapkan oleh Darel mampu membuat mereka hanyut kedalamnya. Mereka bahkan menangis saking bapernya dengan kata-kata Darel.
"Kau ayah terbaik, tuan!!" teriak seorang wali murid.
Darel melepaskan pelukannya lalu membawa Hyuna untuk turun dari panggung. Darel menghampiri dua putranya yang berada di belakang panggung lalu mereka berempat pun berpelukan. Juna yang baru datang sangat tersentuh dengan adegan dihadapannya ini. Saat Darel merangkai puisi tadi, Juna sempat terharu bahkan berkaca-kaca. Terasa sekali bahwa kakaknya itu begitu mencintai Mentari bahkan saat raga Mentari tak lagi bisa bersamanya. Mentari, kau sungguh beruntung karena dicintai dengan tulus oleh Darel bahkan setelah ragamu hancur bersama tanah sekalipun, dia masih mencintaimu. Namamu masih menjadi sebuah rangkaian huruf yang paling indah di hati Darel. Namamu masih memiliki tahta tertinggi dihatinya.
__ADS_1