Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 42


__ADS_3

Daniar sudah berada didalam taxi yang sudah dia pesan sebelumnya.


Untung saja Sasa menyelamatkanku, jika tidak habis aku dengan laporan-laporan itu! batin Daniar.


"Tujuannya sesuai aplikasi ya, mbak!" ucap sopir taxi yang ternyata perempuan.


"Iya, mbak!" ucap Daniar.


Taxi pun melaju meninggalkan toko Mentari. Daniar sibuk membuka ponselnya, membuka Instagram dan melihat video-video make up dan tempat wisata yang lagi viral.


"Wah tempat ini sepertinya bagus. Bulan depan kan ulang tahunnya Mentari, gimana kalau aku memberikan tiket wisata kesini sebagai hadiah. Sekalian kita berlibur bersama!" tanya Daniar pada dirinya sendiri.


Daniar tidak tahu kalau Mentari akan bertunangan kurang dari 10 hari kedepan karena Mentari sendiri tidak memberitahu hal ini pada Daniar karena lupa.


********


Frans baru saja pergi dari rumah utama Sanjaya ketika mobil Darel sampai disana.


"Selamat siang tuan!" sapa Joni.


"Hem! apa papa dan mama ada didalam?" jawab Darel yang membalas dengan pertanyaan lagi.


"Ada tuan, tuan muda langsung masuk saja!" ucap Joni.


Darel pun langsung memasuki rumah.


"Pa...ma...!" ucap Darel didalam rumah yang melihat orang tuannya sedang duduk santai.


"Apa baru saja ada tamu yang datang?" tanya Darel yang melihat 3 cangkir kosong yang belum dibawa pelayan.


"Itu, Frisu tadi datang kesini, kamu ingat sama Frisu kan?" tanya nyonya Ardi.


"Frisu?" tanya Darel yang terlihat berpikir.


"Sepertinya aku pernah mendengar nama itu?" tanya Darel pada orang tuanya.


"Anaknya tante Malha, sahabat mamamu itu, adik Joni yang sekarang ada dinegara K!" ucap tuan Ardi.


"Frisu kecil dan cengeng itu? ngapain dia datang?" tanya Darel yang mengingat nama itu.


"Ya untuk apalagi kalau bukan pertunangan dan pernikahanmu, sayang!" jawab nyonya Ardi.


Apa? apa mama dan papa sudah menyebarkan acara pernikahanku dengan gadis bodoh itu? batin Darel.


"Kapan?" tanya Darel tiba-tiba.

__ADS_1


"10 hari lagi pertunangan mu, pernikahanmu akan diberlangsungkan 1 bulan setelah pernikahan." ucap tuan Ardi datar.


"Apa? 10 hari? kenapa aku tidak diberitahu sebelumnya? apa gadis bodoh itu sudah tahu?" tanya Darel kesal.


"Mentari ataupun kamu tidak ada yang tahu. Mama dan papa sengaja agar kamu tidak bersikap begini!" ucap nyonya Ardi yang melihat wajah tidak suka Darel dan ingin memberontak.


"Tapi, ma..." terpotong.


"Sudahlah Darel, semua sudah siap tinggal menunggu waktunya saja! dan papa harap kamu akan mematuhi yang satu ini juga!" ucap tuan Ardi dengan cepat memotong apa yang ingin dibicarakan Darel.


"huuhhhhhh! baiklah!" ucap Darel sambil menghela nafas panjang.


Tuan dan nyonya Ardi sebenarnya tidak ingin memaksa Darel tapi itu dilakukan demi janji yang diberikan tuan Ardi pada ayah Mentari.


*Flashback On*


Dibawah bintang dan bulan, dua orang sahabat sedang duduk diluar rumah sambil menikmati pemandangan malam ini.


"Ardi!" panggil pria itu pada sahabatnya.


Yang bernama Ardi menoleh menatap sahabatnya.


"Istri dan istrimu sama-sama sedang mengandungkan. Tapi bedanya ini kehamilan pertama Maya, dan kehamilan ketiga Rumi!" ucap pria itu.


"Jika anakku nanti perempuan dan anakmu laki-laki lagi bisakah kita menikahkan anakku dengan salah satu anakmu? atau jika itu sebaliknya anakku laki-laki dan anakmu yang terakhir perempuan, bisakah kita menikahkan mereka?" tanya pria itu dengan nada seperti memohon.


"Apa yang kau bicarakan ini, Mario? tentu saja tanpa kau meminta aku akan dengan senang hati menikahkan mereka jika yang lahir sepasang!" ucap Ardi sambil menepuk pundak sahabatnya pelan.


"Terimakasih, aku yakin kau akan bisa menjaga anakku kalau aku tidak ada nanti!" ucap pria itu yang ternyata bernama Mario.


Beberapa bulan berlalu, istri Ardi dan Mario sama-sama melahirkan hanya berbeda waktunya saja. Nyonya Ardi melahirkan pukul 00.30 pagi, sedangkan nyonya Mario melahirkan pukul 12.30 siang. Anak pertama tuan Mario perempuan dan diberi nama Mentari Angeliska Tia (Mentari), dan anak ketiga tuan Ardi diberi nama Arjuna Rachael Sanjaya (Juna).


Dari pertama kelahiran putri tuan Mario, Darel kecil yang saat itu berumur 3 tahun langsung mendekati Mentari kecil. Darel lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain dengan bayi Mentari daripada adiknya sendiri.


Sepertinya aku sudah tahu siapa yang akan aku jodohkan dengan putrinya Mario! batin tuan Ardi yang melihat kedekatan bayi Mentari dengan Darel kecil.


"Papa-papa, adic cecil cenapa menangis teyuss?" tanya Darel kecil yang belum lancar berbicara itu.


"Sayang, adik kecil kan belum bisa bicara seperti Darel makanya dia menangis terus kalau mau sesuatu." jelas nyonya Ardi sambil menidurkan Juna kecil dalam pangkuannya.


Tuan dan nyonya Mario hanya tersenyum dengan pertanyaan Darel kecil barusan.


"Tapi Arel kan juga bica nangis, tapi Arel tidac kaya adic cecil?" tunjuknya pada Mentari kecil yang rewel.


"Darel sayang, Darel kan bisa bicara, jika Darel ingin sesuatu bisa bilang pada mama, papa, om , atau tante, lain sama adik kecil dia belum bisa bicara makanya dia hanya bisa menangis." jelas tuan Mario yang membawa Darel kecil dalam pangkuannya.

__ADS_1


Darel turun dari pangkuan tuan Mario dan menghampiri Mentari kecil yang masih menangis.


"Nanti calau udah becar Arel acan jaga adic cecil!" ucap Darel sambil mencium pipi kanan Mentari.


Entah karena ciuman Darel kecil atau karena sudah lelah menangis, bayi Mentari langsung diam dan tertidur dengan lelap.


Semua orang heran dengan hal itu, sedangkan tuan Ardi bertambah yakin bahwa dia akan menjodohkan Darel dengan Mentari suatu saat nanti.


*Flashback off*


Maafkan aku, Mario karena baru bisa menemukan anakmu sekarang! tapi aku janji akan menjaganya seperti janjiku padamu dulu! batin tuan Ardi.


Darel menurut saja permintaan orang tuanya, setelah lama disana Darel memutuskan untuk kembali kerumahnya.


Ketika sedang berada dijalan, Darel menerima sebuah panggilan. Dia melihat nama pemanggil diponselnya sekilas dan langsung memasang earphone dan menerima panggilan itu.


"Hallo!" ucap pria dari sebrang telepon.


"Ada apa?" tanya Darel tetap fokus menyetir.


"Apa benar yang aku dengan dari papa dan mama kalau kau akan menikah, kak?" tanya pria itu.


"Hem!" jawab Darel singkat.


"Apa? dan kau mau? apa kau sudah melihat wanitanya? apa dia cantik kak? lebih cantik mana dengan mantanmu yang itu?" tanya pria itu mencecar.


"Haiss, kau ini cerewet sekali, lebih baik kau pulang dan bandingkan sendiri siapa yang lebih cantik!" bentak Darel mulai kesal.


"Hahaha, iya-iya! jangan sensi gitu dong kak, nanti cepat tua loh!" goda pria itu.


"Apa kau meneleponku hanya untuk mengejekku, Juna? kalau iya lebih baik aku tutup telfonnya, tidak penting!" ucap Darel datar.


"Sebenarnya iya sih, hanya ingin menanyakan itu. Tapi kak aku akan usahakan datang saat pertunangan dan pernikahanmu, kalau kak Randita dan keluarganya akan datang, mereka bahkan sudah menyiapkan rumahnya yang ada disana!" ucap pria itu yang ternyata adalah Juna, adik Darel.


"Aku sudah tahu, kemarin kak Dita juga meneleponku menanyakan hal yang sama. Dan aku rasa itu hal yang benar karena selama ikut kakak ipar di Inggris, kak Randita jarang berkomunikasi dengan papa dan mama. Kau pun juga sama!" ucap Darel menekan kalimat terakhirnya.


"Hehehe, mau bagaimana lagi kak, aku sudah usahakan tapi tuntutan profesional membuatku harus jarang berkomunikasi dengan mereka. Aku sendiri juga jarang berkomunikasi denganmu dan kak Randita." jelas Juna.


Darel mendengarkan ocehan adik bungsunya itu. Dia tahu kalau Juna orang yang cerewet, makanya dia memilih untuk mendengarkan perkataannya dahulu.


"Ya sudah kalau begitu kak, aku masih sibuk nih nanti kita sambung lagi!" ucap Juna mematikan panggilannya.


Darel langsung menyelipkan earphone miliknya kembali kesaku bajunya setelah mendengar nada panggilan terputus.


Apa aku harus menerima takdirku untuk menikah dengan wanita itu?

__ADS_1


__ADS_2