Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 142


__ADS_3

"Galih? mencoba membunuh Mentari???" tanya papa Daniar.


"Betul pak, ada rekaman CCTV yang memperlihatkan dengan jelas saudara Galih mendorong saudari Mentari hingga keguguran. Dan ada juga rekaman CCTV yang memperlihatkan saudara Galih menyimpan senjata berupa pisau kedalam jaketnya." ucap polisi.


Mendengar penjelasan dari polisi tersebut raut wajah kecewa tergambar jelas di wajah orang tua Galih. Dari dulu Galih selalu menjaga Mentari, dan selalu melindungi Mentari bahkan Daniar saja yang adik kandung Galih selalu dinomor duakan oleh Galih. Tapi sekarang, kenapa Galih malah justru merusak kebahagiaan Mentari apalagi sampai keguguran.


Setelah mendapat ijin dari mama dan papa Daniar, polisi itu segera memasuki rumah dan mendobrak kamar Galih.


"Saudara Galih!!!! anda kami tangkap atas tuduhan percobaan pembunuhan saudari Mentari! borgol dia!!!" ucap polisi itu kepada anak buahnya.


"Dengarkan saya dulu pak, saya tidak bersalah!!! pa, ma, aku nggak salah! dengerin penjelasan Galih dulu!!" ucap Galih memberontak.


"Silahkan anda jelaskan saja dikantor nanti. Bawa dia!!!"


"Ma, pa, Galih nggak salah! pak jangan bawa saya, saya nggak salah!!!" teriak Galih.


Bahkan ketika mobil polisi sudah pergi suara Galih masih lirih terdengar.


"Pa, bagaimana dengan Mentari? dan kenapa Galih bisa setega itu sama Mentari?" tanya mama Daniar.


"Kita kerumah tuan Sanjaya saja ma, mungkin Mentari sudah ada disana." ucap papa Daniar.


Setelah mengunci pintu, mereka berdua pergi menuju rumah Sanjaya.


********


Disisi lain, tuan dan nyonya Ardi yang terkejut sekaligus senang dengan kepulangan Mentari dan Darel menyambut mereka dengan sangat antusias. Mereka belum tahu kalau Mentari sudah keguguran beberapa hari yang lalu. Sengaja mereka merahasiakannya karena mereka ingin mengatakannya secara langsung.


"Mentari, bagaimana kondisimu sayang? dan juga janin kamu? kalian sehat-sehat saja kan?" tanya nyonya Ardi bersemangat.


Rona bahagia menghiasi wajah semua yang ada dirumah utama karena menganggap mereka akan kedatangan anggota baru dikeluarga Sanjaya.


Mentari terlihat berkaca-kaca mendengar pertanyaan mertuanya itu. Dia tidak sampai hati mengatakan yang sebenarnya bahwa dirinya sudah tidak mengandung lagi. Nyonya Ardi menangkap raut kesedihan Mentari dan berbalik menatap Darel yang langsung memeluk Mentari dengan hangat.


"Darel, Mentari, ada apa?" tanya nyonya Ardi penasaran.


Batinnya sudah menerka hal buruk itu tapi otaknya bersikeras menerimanya.


"Ma, pa, maafkan Darel!"

__ADS_1


Deg....


Bagai tersambar petir hati semua orang yang ada disana. Kalimat pembuka akan hal buruk yang telah melanda. Ujung mata nyonya Ardi bahkan kian memanas, bersiap memuntahkan air mata.


"Seharusnya Darel lebih menjaga Mentari hingga hal ini tidak terjadi." ucap Darel menunduk.


Mentari semakin menangis didalam pelukan Darel. Dia tahu ini salahnya karena tidak berhati-hati. Dia yang baru beberapa hari merasakan menjadi seorang ibu hamil harus menelan pil pahit kala dokter mengatakan bahwa dirinya keguguran.


Darel menceritakan semua kejadiannya di mall hingga akhirnya Mentari harus dilarikan kerumah sakit akibat pendarahan hebat akibat benturan keras diperutnya yang membuat mereka harus merelakan anak pertama mereka menemui Sang Pencipta. Semua orang syok mendengar penjelasan Darel, bahkan nyonya Ardi yang sedari tadi sudah menahan air mata agar tidak jatuh ke pipinya lolos begitu saja tanpa persetujuannya sembari menutup mulutnya yang menganga.


"Darel, apa benar semua itu?" tanya tuan Ardi.


Darel hanya mengangguk pasrah.


"Kenapa kau bisa seceroboh ini ha??" marah tuan Ardi.


"Tidak pa, ini bukan salah Darel! ini salahku! aku yang memintanya agar menginginkanku melihat-lihat mall itu. Aku yang terlalu bersemangat berkeliling hingga aku berada jauh didepan Adi dan Harri.....hiksss.....hikss....hiks.... ini semua salahku pa, ma...salahkuu....!" ucap Mentari sembari terisak.


Nyonya Ardi langsung memeluk menantunya itu. Mentari pasti trauma akibat kejadian ini dia juga berusaha menjelaskan bahwa itu bukan salah Mentari tapi semua itu sudah takdir dari Sang Pencipta


"Tuan, ada keluarga nona Mentari yang ingin bertemu." ucap seorang pelayan memberitahu.


Mama dan papa Daniar datang dan langsung menghampiri Darel dan Mentari setelah bertegur sapa dengan tuan dan nyonya Ardi.


"Mentari, kamu tidak apa-apakan?" tanya mama Daniar.


Darel terkejut mendengar pertanyaan mama Daniar. Dia belum memberitahu siapapun terkait hal ini dan darimana mama dan papa Daniar bisa tahu kalau Mentari baru saja keguguran? pikir Darel.


"Kaliannn???" tebak Darel.


"Maafkan anak saya Darel! Mentari tolong maafkan dia!!!" ucap mama Daniar.


Mentari bingung, "Dia" siapa yang dimaksud mama dan papa Daniar.


"Dia?" tanya Mentari.


"Galih!" jawab Darel.


Mentari menatap suaminya tidak percaya. Galih? pria yang selalu melindungi Mentari? bagaimana bisa dia berbuat sekejam itu terhadap Mentari? pikir Mentari.

__ADS_1


"Nak, mama tahu ini berat untukmu, tapi mama yakin Galih pasti tidak sengaja melakukannya Mentari. Kau tahukan seperti apa Galih itu? dia bahkan lebih menyayangimu daripada Daniar." ucap mama Daniar.


Mama Daniar prihatin dengan apa yang dialami Mentari saat ini. Tidak bisa dipungkiri juga bahwa Galih sangat bersalah dalam hal ini. Namun Ibu mana yang mau melihat anaknya menjejali dinginya ruang tahanan? aku rasa tidak ada.


"Dimana kak Galih sekarang?" tanya Mentari.


"Besok saja kita kesana, sekarang lebih baik kau istirahat saja dulu. Lukamu belum pulih total, ingat pesan dokter!" ucap Darel seakan tahu apa yang Mentari maksud.


Mentari yang memang sudah sangat lelah, menuruti perkataan Darel. Mereka kembali ke rumah Darel bersama orang tua Daniar dan orang tua Darel. Sebenarnya Darel ingin tinggal beberapa hari di rumah utama, namun Mentari pasti membutuhkan waktu untuk tenang lebih dulu sehingga keluarga pun memaklumi hal itu.


Sesampainya dirumah Darel, Mentari langsung dibawa ke kamar tidur agar beristirahat sementara yang lain berada dibawah menunggu keputusan Darel selanjutnya tentang nasib Galih.


"Mama dan papa Daniar." memulai obrolan dengan serius.


"Nak, mama tau Galih melakukan kesalahan yang sangat besar bagi keluarga kalian. Tapi mama mohon, mama mohoonnn sekali pada nak Darel agar melepaskan Galih. Mama mohon!" parau mama Daniar.


Papa Daniar mencoba menenangkan istrinya. Jelas dia sendiri juga terpukul dengan apa yang telah putranya lakukan hingga membuat putrinya yang lain merasakan sakit seperti sekarang. Keluarga Daniar memang sudah menganggap Mentari seperti bagian dari keluarga mereka. Suka duka Mentari, mereka juga ikut merasakannya.


"Pa, ma, kalian sudah menjaga Mentari dengan baik selama ini. Kalian juga telah menganggap Mentari anak kalian sendiri bukan?"


Papa dan mama Daniar menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Darel.


"Lalu, apa dengan membebaskan pelaku yang sudah menghancurkan kebahagian terbesar putri kalian maka dia akan mendapatkan keadilan?" tanya Darel pelan tapi menusuk sampai ke hati.


"Aku tahu Galih putra kandung kalian, tapi ketahuilah bukan kali ini saja dia melakukan hal ini." ucap Darel.


"Maksud nak Darel?" tanya papa Daniar tidak mengerti.


Darel menghembuskan nafasnya kasar, bersandar pada kursi sebentar lalu kembali duduk dengan siku yang menopang di pahanya.


"Kalian masih ingat kecelakaan pesawat yang kami alami beberapa waktu yang lalu?" tanya Darel.


Mereka semua mendengarkan dengan seksama. Hening, semua orang menanti penjelasan Darel.


"Galih yang melakukannya!" ucap Darel membuat semua orang terkejut.


"Tidak mungkin!" tolak papa Daniar.


"Adi, tunjukkan pada mereka salinan rekaman videonya!" ucap Darel pada Adi.

__ADS_1


__ADS_2