
"Kok kalian udah sarapan aja?! kenapa nggak bangunin aku tadi?!!" ucap Jo marah.
Mereka menatap Jo yang baru saja bangun tidur.
"Salah sendiri ngebo!" sindir Jack kembali menyuapkan sarapannya kedalam mulut.
"Sharina, kau lihat kan aku tadi tidur di luar! itu semua gara-gara mereka tuh! masa aku dikunci di luar! mana nggak dikasih selimut pula!" ucap Jo mengadu kepada adiknya.
"Salah kakak sendiri sih nggak bersyukur!" ucap Shiren yang justru malah tidak membela kakak kandungnya.
"Kok.....kok kamu nggak belain kakak? Kaka terdzolimi loh disini?" keluh Jo.
"Udahlah, kak! mending kakak makan habis itu siap-siap! kita udah kesiangan ini!" ucap Shiren menyiapkan sarapan untuk kakaknya. Melihat perhatian Shiren membuat Jo melupakan amarahnya kepada Lukas, Adi, dan Harri. Dia langsung duduk dan menyantap sarapannya dengan lahap.
********
Akhirnya menjelang sore rombongan mereka baru saja tiba di Jakarta. Mereka menuju ke rumah Daniar terlebih dahulu. Sebenarnya baik Rohan, Tomi Jo maupun Candra tidak ada urusan sih disana. Mereka hanya ikut saja.
"Sayangggg...aku pulanggggg!!!!' teriak Arul.
Arul berlari dari mobil menuju ke depan pintu rumah Daniar disusul Zanu yang berjalan dengan santainya.
"Sayanggg!!!!" panggil Daniar berlari ke arah Zanu.
Biasalah pengantin baru, pastinya kemana-mana ingin berdua terus.
"Kamu gimana kabarnya? nggak ada luka kan? sehat kan?" tanya Daniar memutar-mutar tubuh Zanu memeriksa apakah ada luka atau tidak.
"Aku baik-baik saja kok! hanya luka sedikit saja!" ucap Zanu terkekeh melihat tingkah istrinya itu.
"Niar, istriku mana? kok nggak keluar?!" teriak Arul yang berada di depan pintu rumah.
Arul terus celingukan mencari dan memanggil-manggil Anisa, namun sepertinya dia tidak ada disana.
"Oh ada tuh di belakang! anakmu tadi nangis makanya di bawa ke belakang rumah." ucap Daniar.
"Emang ada apaan di belakang rumah?" tanya Arul bingung.
"Ada kolam ikan tetangga!" ucap Daniar lagi.
"Ehh, kayaknya kalian lagi marahan ya? kok muka Anisa kayak badmood gitu dari kemarin?" tanya Daniar penasaran.
__ADS_1
"Eh, beneran dia gitu?" tanya Arul yang mendekat ke arah mereka semua.
"Iya! tapi aku nggak berani tanya sama Nisa!" ucap Daniar.
"Duh, mampus deh guee!!" ucap Arul yang langsung berlari ke arah belakang rumah.
"Hahahaha, siap-siap nggak dapat jatah satu bulan yeee!!!" teriak Tomi menggoda Arul.
"Fu*k you mannnn!!!" teriak Arul sambil berlari menghadap ke belakang dengan mengacungkan jari tengahnya ke atas.
"Hahahaha, kayaknya pisah ranjang deh!" ucap Daniar tertawa.
"Sayang, itu privasi loh!" ucap Zanu yang tidak bisa menyembunyikan tertawanya.
"Loh, aku kan bener! aku nggak tanya sama Anisa, tapi sama tuan Arul! bener kan?!" tanya Daniar ingin menang.
"Iya dehh!! istriku ini emang paling bisa aja kalau debat!" ucap Zanu menyentil hidung Daniar membuat Daniar malu.
"Ihh, jangan disini! nanti aja didalam!" bisik Daniar disamping telinga suaminya.
"Emang didalam mau ngapain?" goda Zanu juga berbisik.
"Ah, tau lah! kamu mah gitu!" ucap Daniar cemberut lalu berjalan meninggalkan mereka dengan menghentakkan kakinya kesal.
"Mereka kayak kita ya?!" tanya Darel kepada Mentari.
"Iya!" ucap Mentari tanpa sadar.
"Ehh, enggak yaa! beda jauh! tuan Zanu mah nggak suka main cewek! beda sama kamu! dia juga menjaga perasaan Daniar, beda sama kamu! dia nggak bertindak tanpa berpikir dulu, beda sama kamu!" sindir Mentari.
"Hahahahaa, mampus loo!" ucap Tomi tertawa puas mendengar ucapan Mentari.
"Sayang, aku kan udah minta maaf! lagian kan kita juga udah baikan!" ucap Darel lesu.
"Sejak kapan aku bilang kita baikan?" tanya Mentari dengan mata penuh selidik.
"Duhhh, mulai deh mulaiii!!!" ucap Lukas, Adi, dan Harri merotasi bola matanya bersamaan.
Tentu mereka hafal apa yang akan terjadi jika Darel dan Mentari berada di satu tempat. Yups! kebucinan Darel yang membuat mereka ingin muntah! jiwa kaum jomblo itu meronta-ronta melihat keuwuwan dihadapan mereka.
Apalagi kalau Darel sudah cium-cium tidak kenal waktu dan tempat! asal mau saja ya terobos. Tidak memperhatikan sekitar. Bahkan tidak jarang juga kan Adi dan Harri terpaksa mendengar ******* erotis mereka tatkala berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Kan saat dirumah sakit kemarin kita sudah mandi keringat bersama sayang! kamu lupa yaa!" ucap Darel enteng.
"Eh, udik! kalau mau blak-blakan tuh liat tempat napa! disini tuh banyak yang belum nikah! apalagi yang jomblo tuh cuma bisa ngowoh aja! nggak kasian loo!" cibir Tomi ke arah Darel.
"Kau bilang aku udik? wahhhh, masa kaya raya gini di panggil udik sih? yang bener aja kali!" ucap Darel tidak suka.
"Ya terus mau di panggil apa? tuan muda gitu?!"
"Iyalah! kan emang fakta gue tuan muda!" ucap Darel sombong.
"Tuan muda alot ya maksudnya?!" ledek Jack dia sambut gelak tawa mereka.
Hanya Jo dan Candra saja yang tidak tertawa. Candra terus saja menatap ke arah Mentari dengan tatapan sendu penuh harap. Namun melihat senyum tulus yang tidak dibuat-buat oleh Mentari membuat Candra harus merelakan wanita itu kembali ke pelukan Darel. Candra berjanji dalam hati, jika sekali lagi Darel menyakiti Mentari maka Candra pastikan Darel tidak akan bisa menemukannya lagi.
"Tari!!!!" teriak mama Daniar berlari ke arah Mentari sambil merentangkan kedua tangannya.
"Ma!!" ucap Mentari.
Mereka saling berpelukan satu sama lain.
"Ya Allah nak, kami semua cemas saat tau kamu di sandra oleh si Jo-Jo itu!" ucap mama Daniar khawatir.
"Nggak pa-pa kok mah, aku baik-baik aja! untung ada mereka yang menolong aku!" ucap Mentari.
"Nak, kamu nggak bakal pergi lagi kan?" tanya papa Daniar yang sudah berada di samping mereka.
"Insyaallah enggak pah! izinkan saya menjaga Mentari sekali lagi untuk menebus semua kesalahan saya!" ucap Darel gentle.
"Hemm, kamu harusnya minta izin sama Mentari! karena dia yang kamu lukai hatinya, dia yang kamu ajak untuk hidup bersama. Apapun keputusan Mentari kami akan terima!" ucap papa Daniar penuh wibawa.
"Gimana nak?" tanya mama Daniar lembut.
"Iya ma! aku juga masih sayang sama Darel!" ucap Mentari.
"Syukurlah kalau begitu! oh ya lalu apa kabar dengan si Jo-Jo itu?" tanya mama Daniar.
"Ehemmm!!!" Jo berdehem.
"Ma, ini Jo!" ucap Darel memperkenalkan.
"Ohhh, jadi kamu yang sudah menyandra anak saya?!" ucap papa Daniar hendak menghajar Jo.
__ADS_1
"Ehhh, pa tenang dulu! ini semua cuma salah paham aja kok!" ucap Shiren berdiri di depan Jo berusaha melindungi sang kakak.