
Di resort Candra sekarang sudah dihuni empat orang. Candra, Mentari, Rio, dan Alfi salah satu karyawan di perusahaan Candra yang membantu dalam proyek bersama nona Risa. Sebenarnya Candra tidak menyukai Alfi karena dirasa ganjen kepadanya. Bahkan dihadapan semua orang, Alfi dengan terang-terangan menggodanya. Jika bukan karena prestasi yang dicapai Alfi selama dia bekerja di perusahaan Candra, tidak akan mau Candra mempekerjakan dirinya lagi.
Alfi adalah wanita yang manja, optimis, dan selalu ingin menjadi yang terbaik. Dari semua perusahaan yang meminta dirinya untuk bekerja disana, Alfi justru memilih perusahaan Candra yang kala itu tengah berkembang akibat ditinggal oleh ayah Candra. Bukan tanpa alasan Alfi melakukannya. Menurut kabar yang Alfi dengar, Candra adalah pria yang tidak tergiur oleh wanita. Seperti mendapatkan tantangan terbuka, Alfi pun melamar pekerjaan di perusahaan Candra.
"Bos, kopinya!" ucap Alfi.
"Maaf saya tidak suka!" ucap Candra yang masih fokus pada laptop nya.
"Kak, mau aku buatkan kopi?" tanya Mentari yang baru saja turun dari kamarnya.
Candra menoleh tersenyum kearah Mentari memandangi langkah kakinya yang berjalan menghampiri Candra.
"Boleh!" ucap Candra lembut.
"Tapi bos, saya kan sudah buatkan kopi untuk anda!" keluh Alfi tidak terima.
"Oh, kalau gitu kakak minum yang dibuatkan kak Alfi saja! mubazir kalau dibuang!" ucap Mentari.
Bak mendapatkan angin sepoi-sepoi, Alfi tersenyum penuh kemenangan karena seperti mendapat pembelaan dari Mentari.
"Tuan, ada file yang harus anda tanda tangani segera!" ucap Rio yang datang dengan membawa beberapa file ke arah Candra.
"Nah, Rio habiskan kopi buatan Alfi ini! sayang kalau mubazir!" ucap Candra tanpa dosa.
"Hah?!" tanya Rio yang tidak mengerti maksud tuannya ini.
Sedangkan Alfi yang mendengar hal itu tentu saja tidak terima. Kopi itu dia buat untuk Candra, bukan untuk Rio.
"Tapi bos, itu kan saya buat untuk anda! kenapa malah disuruh minum sama Rio?" ucap Alfi tidak terima.
"Ya terserah aku lah! lagian nggak mubazir juga kan? jadi Tari kamu buatkan aku kopi yang paling enakkkk di dunia yaa!" ucap Candra kembali lembut kepada Mentari.
"Siyap kakak!" ucap Mentari tertawa geli melihat tingkah Candra yang seperti anak kecil.
Mentari berjalan ke arah dapur untuk membuatkan kopi.
"Eh nona mau ngapain?" tanya bi Inem.
"Mau buatkan kopi buat kak Candra, bi!" ucap Mentari mulai mengambil gelas dan gula pasir.
"Biar bibi saja non! non tinggi diluar saja!" tawar bi Inem.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok bi! aku biasa melakukannya! biar aku saja ya!" ucap Mentari tersenyum sekilas ke arah bi Inem.
Dasar gimik. Palingan juga mau cari muka aja tuh dihadapan tuan ganteng! dasar cewek nggak tau malu! batin Sri yang tengah mengelap piring tidak jauh dari mereka.
"Ya sudah kalau ada apa-apa panggil bibi ya!" ucap bi Inem mengalah.
"Iya!" jawab Mentari singkat.
Mentari kembali fokus membuatkan kopi untuk Candra. Tidak butuh waktu lama, secangkir kopi buatan Mentari pun siap. Mentari membawa kopi itu menuju tempat Candra. Melihat Mentari yang datang dari arah dapur sambil membawa kopi, membuat Alfi memiliki ide gila. Dia menyunggingkan senyumnya.
Srett...
Pyarrr.....
"Akhhh panas....panas....panasss!!!!" teriak Mentari kesakitan.
Alfi menjulurkan kakinya hingga membuat kaki Mentari tersandung lalu menumpahkan kopi yang dia buat. Sebagian kopi itu berhasil menumpahi pergelangan tangannya membuat bekas kemerahan di kulit mulus Mentari.
"Tari, kau tidak apa-apa? Rio ambilkan salep!" ucap Candra panik.
"Jangan disalep dulu tuan! dibilas dulu dengan air mengalir!" ucap bi Inem yang melihat kejadian itu.
Candra berlari membawa Mentari menuju dapur lalu membuka kran air dan membasuh tangan Mentari yang terkena kopi panas.
"Nggak kak!" ucap Mentari masih meringis kesakitan.
"Tuan ini salepnya!" ucap bi Inem memberikan salep kepada Candra.
Setelah mengeringkan tangan Mentari, Candra dengan telaten mengoleskan salep itu ke tangan Mentari dengan penuh kehati-hatian. Tentu saja perhatian lebih Candra kepada Mentari mengundang kecemburuan dari Sri dan juga Alfi yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Kamu istirahat aja dulu, jangan keluar!" ucap Candra setelah selesai mengoleskan salep.
"Kak aku kan cuma kena air panas dikit doang di tangan! bukannya pincang!" ucap Mentari cemberut.
"Nggak! pokoknya kamu harus tetap dirumah aja, titik!" ucap Candra.
"Ishh, kakak nih nggak asik!" ucap Mentari memanyunkan bibirnya.
"Ayo kakak antar ke kamar!" ucap Candra menuntun Mentari.
Mau tidak mau Mentari ikut langkah Candra yang membawanya menuju kamarnya.
__ADS_1
********
Di tempat Tomi.
"Sa....sayang....ini...ini foto siapa?" tanya Shiren gemetaran.
Tomi menoleh kebelakang menatap Shiren yang mengacungkan sebuah foto adik dari Jo.
"Oh itu! itu adalah anak kecil yang sedang kami cari! menurut kabar dia ada disalah satu panti asuhan di Indonesia tapi dimana nya kami belum tahu pasti!" ucap Tomi kembali mencuci piring yang kotor.
Seketika Shiren kehilangan keseimbangannya. Dia hampir saja terjatuh. Untung saja dibelakangnya ada sebuah kursi hingga dia tidak sampai jatuh ke lantai. Air matanya mulai menggenang disudut matanya.
J...jadi....jadi aku....anak adopsi? batin Shiren syok.
Air matanya lolos begitu saja. Shiren terlihat sangat syok hingga dia tidak memperdulikan bahwa Tomi memanggilnya beberapa kali. Karena tidak ada sahutan dari Shiren, Tomi pun mematikan keran air dan menoleh kearah Shiren yang tengah menangis.
"Sayang!?" panggil Tomi bergegas menuju ke arah Shiren lalu berjongkok dihadapan Shiren dan memeluknya.
"Sayang kamu kenapa? ada yang sakit hem? mana yang sakit? kamu kenapa sayang?" tanya Tomi sambil menangkup wajah Shiren menggunakan kedua tangannya.
Shiren masih saja tidak bergeming. Menjawab satu pertanyaan dari Tomi pun tidak, namun air matanya masih saja mengalir dengan sangat deras membuat Tomi semakin panik dengan keadaan kekasihnya itu.
"Sayang kamu kenapa? aku ada salah ya? aku salah apa? aku minta maaf kalau aku ada salah! tolong berhenti menangis! aku minta maaf!" ucap Tomi kembali membawa Shiren kedalam pelukannya.
"Ja...jadi....selama ini....a...aku anak angkat?!" tanya Shiren lirih.
"Apa?!" tanya Tomi menjauhkan tubuhnya menatap kearah Shiren, tidak mengerti maksud dari perkataannya barusan.
"Ini! foto ini!" ucap Shiren menunjukkan foto adik Jo.
"Iya itu foto anak yang kami cari, memangnya ada apa dengan foto itu?" tanya Tomi masih tidak peka.
"Ini aku!" ucap Shiren tersedu.
"Apa? tidak mungkin! kamu jangan bercanda sayang!" ucap Tomi berkilah.
Namun melihat wajah Shiren yang menatapnya lekat membuat Tomi terduduk di lantai dengan ekspresi tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Pantas saja aku dibiarkan tidak pulang berbulan-bulan. Bahkan mereka sama sekali tidak berniat mencari keberadaan ku! atau sekedar tahu apakah aku masih hidup atau sudah..." ucapan Shiren terhenti.
Tenggorokannya terasa tercekal. Keluarga yang dia kira miliknya ternyata dia bukan bagian dari keluarga itu. Air matanya semakin deras menetes bak sungai air mata. Shiren menangis tersedu-sedu. Tomi yang sudah kembali dari pikirannya menatap pilu kekasihnya. Sekali lagi, dia meraih wajah cantik sang kekasih lalu mendekapnya dalam pelukannya yang hangat. Shiren menangis sejadi-jadinya didalam pelukan Tomi. Bahkan Tomi tidak peduli lagi dengan bajunya yang sudah basah akibat air mata Shiren. Yang ada dipikirannya saat ini hanya Shiren, dan bagaimana menenangkan wanitanya.
__ADS_1
Selama ini kami mencari-cari keberadaan anak dari kelompok Nerezza, bahkan hingga mengorbankan banyak uang untuk pencarian anak itu. Tapi rupanya, anak itu telah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik! wanita yang ada di hadapanku ini adalah orang yang kami cari selama ini?! batin Tomi masih memeluk erat Shiren membiarkan wanitanya menenangkan diri lebih dulu.