
Lukas berjalan menuju ke kamar Darel. Setelah menunggu hampir satu jam lamanya, Lukas akhirnya berhasil membeli perusahaan susu langganan Mentari itu. Dengan langkah santai dan siulan merdu dari mulutnya, membuat siapapun terheran-heran melihatnya.
Tok...tok... tok...
Ceklekk.....
"Mana, udah kamu beli susunya?" tanya Dario.
Dari kacamata Lukas Dario dan nonanya ini habis menyelesaikan pertempuran panas mereka. Terbukti dengan badan Darel yang masih penuh keringat, dan celana boxer yang dia kenakan menyakinkan alibinya itu.
"Beres dong, tuannn! ini sertifikat kontraknya , dan susunya ada di bawah!" ucap Lukas memberikan sertifikat pembelian perusahaan susu kepada Darel.
"Kontrak?! emangnya saya beli apaan?" tanya Darel bingung sambil menerima sertifikat kontrak itu.
"Kan tuan menyuruh saya untuk membeli perusahaan merk susu hamil yang biasa diminum nona?" ucap Lukas dengan polosnya.
"APAAAAAAAAAA?????!!!!!!!!" teriak Darel.
Darel dengan kalang kabut membuka dan membaca sertifikat kontrak itu. Didalamnya tertulis bahwa perusahaan Sanjaya telah membeli perusahaan Lactami* sebesar lima puluh milyar rupiah. Tentu saja Darel terkejut. Pasalnya Lukas ini otaknya terlalu pintar. Pikir Darel saat menyuruh Lukas tadi adalah, Lukas hanya akan membeli satu atau dua box. Namun karena terlalu jenius, Lukas pun membeli susu beserta perusahaannya sekalian.
Yah, apa boleh buat. Tidak masalah juga sebenarnya bagi Darel karena dengan begitu, perusahaannya bisa mencakup lebih luas konsumen hingga berbagai lapisan. Hmmmm, kenapa dia tidak kepikiran sejak dahulu yaa?! batin Darel.
"Ya sudah! kamu boleh pergi!! jangan ganggu saya!" ucap Darel yang langsung menutup pintu kamarnya tanpa menunggu jawaban dari Lukas.
"Gini amat punya tuan! hobinya main tusuk satee!" cibir Lukas lalu pergi dari sana.
********
Keesokan harinya, Darel telah bersiap untuk bekerja. Hari ini ada banyak agenda yang harus dia urus mendekati akhir tahun. Biasanya perusahannya akan mengadakan berbagai event di setiap cabangnya untuk mengusir penat setelah bekerja keras selama setahun itu. Agenda ini akan dia bahas dalam meeting hari ini agar karyawan di setiap departemen juga bisa mempersiapkan diri.
Iwang juga telah bersiap untuk ke sekolah. Menuju akhir tahun ini pelajaran yang dia terima semakin banyak. Hal itu karena sebentar lagi ia akan melaksanakan ujian akhir semester yang akan dilangsungkan beberapa bulan lagi sedangkan banyak mata pelajaran yang masih belum sampai pada bab akhir.
Selepas sarapan pagi, Darel dan Iwang pun berangkat bersama. Seperti biasa, Mentari akan menunggu didepan pintu hingga mobil yang mereka tumpangi keluar dari gerbang utama.
"Mbok, aku pengen minum es kopyor deh!!" ucap Mentari yang tiba-tiba nongol didepan pintu namun hanya kepalanya saja yang terlihat.
"Kelapa kopyor?" tanya mbok Tini.
__ADS_1
"Iya!! nggak tau kenapa aku pengen banget minum es kelapa kopyor." ucap Mentari.
"Kalau begitu biar bibi siapkan, non! tapi agak lama soalnya kita nggak punya stok kelapa kopyor lagi." ucap mbokk Tini.
"Ah, baiklah! nanti kalau sudah jadi tolong bawakan ke atas ya mbok! makasih, mbok!" ucap Mentari lalu menghilang dari balik pintu.
"Eh, kalian! beli kelapa kopyor ya! nona ngidam pengen minum itu!" perintah mbok Tini kepada pelayan lain yang baru datang.
"Baik, mbok!" ucap pelayan pria itu.
Dia pelayan itu pergi ke supermarket demi mencari kelapa kopyor. Terhitung sudah tiga supermarket yang mereka masuki namun ternyata stok kelapa kopyor disana habis semua. Hingga di supermarket ke empat, akhirnya mereka pun berhasil mendapatkan kelapa kopyor itu setelah berkeliling-keliling.
"Eh, kita beli berapa?" tanya pelayan 1.
"Lah iya-ya! tadi mbok bilang beli berapa?" tanya pelayan 2.
"Mana aku tau. Kamu nggak nanya emangnya?" tanya pelayan 1.
"Kamu nanyeak?!" goda pelayan 2.
"Jangan bercandaaa!!! ini lagi serius juga malah dibercandain!!" ucap pelayan 1.
"Ini kita borong aja semuanya! takutnya nanti nona kurang kalau cuma beli satu! daripada bolak-balik!" usul pelayan 2.
"Boleh juga! kan kartu kredit yang diberikan mbok ini tanpa limit!" ucap pelayan 1.
Mereka pun mengambil semua kelapa kopyor yang ada di rak supermarket lalu diletakkan ke dalam keranjang belanja mereka. Harga tiap butir kelapa kopyor itu adalah tujuh puluh ribu rupiah, sedangkan yang mereka ambil ada sekitar lima belas butir kelapa.
Selesai membayar, mereka pun pulang dengan membawa kelapa kopyor yang dimasukkan kedalam kardus kecil, setiap kardus berisi lima buah kelapa. Begitu sampai dirumah, mereka langsung memberikannya kepada mbok Tini.
"Mbok, ini kelapanya!" ucap pelayan 1.
"Kalian dapat dimana? mbok udah khawatir tadi kalau nggak dapat soalnya kalian lama keluarnya!" ucap mbok membuka kardus-kardus itu.
"Disupermarket, mbok! tadi kehabisan! untungnya kita dapat!" jawab pelayan 2.
"Yasudah, kalian boleh melanjutkan pekerjaan kalian! terimakasih sudah membelikan ini ya!" ucap mbok Tini.
__ADS_1
"Nggak dibantuin bawa ke kulkas, mbok?" tanya pelayan 2.
"Iya, mbok! berat loh!" tambah pelayan 1.
"Boleh kalau nggak kerepotan! mbok cuma ambil dua ini buat nona, sisanya tolong kalian simpan di kulkas bawah yaa?!" ucap mbok Tini.
"Siyap mbokk!" ucap pelayan 1 dan 2 bersamaan.
Kulkas di dapur ini ada banyak. Ada yang khusus untuk buah-buahan, sayuran, minuman, daging dan masih banyak lagi, sehingga dapur ini tempat paling luas ketiga setelah kamar utama dan kamar tamu.
Mbok Tini pun dengan sangat ahli membuka kelapa kopyor itu lalu mengorek isinya dan meletakkan ke dalam wadah. Setelah itu diberi es batu secukupnya kemudian diberi sirup rasa kelapa muda dan terakhir ditambah perasan jeruk lemon agar tambah segar dan diisi dengan beberapa macam buah-buahan seperti kiwi, strawberry, lemon dan melon.
Mbok Tini membawa semangkuk besar es kelapa kopyor itu ke kamar Mentari sesuai permintaan nonanya tadi.
********
Dirumah Abdulah. Abdulah tengah bingung bagaimana caranya melunasi hutang-hutang istrinya kepada Mentari yang nominalnya sangat banyak itu. Meskipun Abdulah tidak mengeluarkan Surti, namun Darel mengatakan akan tetap menuntut uang tersebut. Di tengah kebingungan itu, pintu rumahnya didobrak dengan kasar.
"Pak!!!! apa benar ibu masuk penjara!!!" teriak putra semata wayangnya.
"Ziz, tenangkan dirimu!!" ucap Abdulah berusaha menenangkan putranya yang terlihat sangat emosi.
"Kurang ajar sekali si Mentari itu!! sok sekali dia sampai berani menjebloskan ibu ke penjara!!" marah Aziz.
"Tari tidak salah! ibumu yang salah dan memang sudah kelewatan!" ucap Abdulah.
"Kok bapak jadi belain Tari sih?! Tari itu orang luar, pak!! harusnya bapak belain ibu dong!!" ucap Aziz.
"Aku minta alamat rumah Mentari sekarang!" ucap Aziz lagi.
"Kamu mau ngapain?" tanya Abdulah.
"Sudah berikan saja, pak!!!" ucap Aziz semakin marah.
Abdulah terpaksa memberikan alamat rumah Mentari.
"Ini! jangan berlaku kurang ajar!! kalau kamu tidak mau bernasib seperti ibumu! bapak sudah sangat pusing dengan kondisi ibumu, jangan kau tambah lagi!" nasehat Abdulah.
__ADS_1
"Ahh, berisik!!" tukas Aziz lalu pergi begitu saja.