
Aku akan dengan sabar menantikan detik-detik kematianmu Darel! bersiap-siaplah, dewa kematianmu sudah datang, hahahahaha! batin Dendi sambil tersenyum menuju ruang para anak buahnya.
"Hallo, datang ke markas besar sekarang! aku ada tugas penting untuk mu!" ucap Dendi sambil terus berjalan menuju ruangannya.
Setelah sampai diruangannya, Dendi pun duduk dikursi kebesarannya.
"Tak akan aku biarkan kalian bahagia setelah apa yang kalian lakukan pada keluargaku! lihat apa yang aku lakukan untuk membalaskan dendam ku pada kalian!" ucap Dendi dengan wajah merah padam dan mata yang berapi-api.
Tidak lama kemudian, pintu ruangan Dendi diketuk oleh seseorang.
"Permisi tuan, tuan memanggil saya?" tanya pria berbadan kekar itu.
"Bagus kau sudah datang, duduklah!" ucap Dendi sembari menyenderkan bahunya dikursi.
"Kau lihat gadis ini baik-baik!" ucap Dendi memberi selembar foto.
"Bukankah dia yang..." terpotong.
"Tebakanku benar! aku mau kau menghancurkan dia!" ucap Dendi tersenyum licik.
Dendi pun mulai menyusun rencana untuk menghancurkan wanita yang ada difoto itu. Pria yang baru datang itu menaikkan alisnya dan membulatkan mata lebar-lebar saking terkejutnya.
"Tuan, rencana anda memang benar-benar bagus! anda memang sangat licik!" puji pria itu.
"Hahaha, tentu saja, apa mungkin aku menjadi kaki tangan bos Drago Mark jika aku tidak licik, ha?" tanya Dendi berbangga diri.
"Baiklah tuan, saya akan segera melaksanakan rencana anda!" ucap pria itu hendak bangun dari duduknya.
"Tunggu dulu. Tunggu setelah besok, baru kau bisa menjalankan rencana ini. Dan ingat jangan sampai kau meninggalkan jejak, mengerti?" ucap Dendi memberi peringatan.
"Tentu saja tuan, anda tidak perlu meragukan kemampuan saya dalam hal ini." ucap pria itu dengan sangat yakin.
Pria itu keluar dari ruangan, meninggalkan Dendi duduk sendiri dengan pikirannya yang dipenuhi rencana licik.
Keluarga Sanjaya, lihatlah kehancuran kalian akan dihitung mundur mulai dari sekarang! batin Dendi.
"Hahahahaha....!" tawa Dendi menggelegar memenuhi ruangan.
********
Pukul 11 siang keesokan harinya, hari yang ditunggu-tunggu bagi keluarga Sanjaya dimana mereka akan melangsungkan pertunangan anak mereka, Darel dengan anak mendiang sahabat mereka, Mentari.
Mentari sudah datang ke rumah Sanjaya sejak semalam. Dia menginap disana atas permintaan mama Darel yang terus memaksanya untuk menginap dirumah utama dengan alasan agar lebih mudah saat di make up, dan yang lainnya.
"Nona, anda terlihat sangat cantik dengan gaun hitam ini!" ucap MUA yang sengaja didatangkan untuk merias Mentari dan keluarga.
"Ah, terimakasih tapi anda sangat berlebihan memuji saya begitu." ucap Mentari tertunduk malu.
Aku yakin, mama dan papa Sanjaya tau sesuatu hal mengenai kematian orang tuaku! dan tujuanku menerima perjodohan ini adalah untuk mencari kebenaran itu! batin Mentari.
Tanpa disadari, nyonya Ardi sudah berada dibelakang Mentari.
" Sayang, kenapa kamu melamun? apa ada hal yang kamu pikirkan?" tanya nyonya Ardi lembut.
Mentari yang tersadar dari lamunannya menghadap ke belakang dan melihat nyonya Ardi sudah berada dibelakangnya.
"Mama, sejak kapan mama berada disini?" tanya Mentari kikuk.
Nyonya Ardi mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Mama datang saat kamu sedang asik melamun, makanya kamu tidak sadar dengan kehadiran mama disini tadi." ucap nyonya Ardi.
Mentari hanya mengangguk.
"Kamu terlihat sangat cantik sayang!" ucap nyonya Ardi melihat Mentari dari atas sampai bawah.
"Semoga kamu tidak terkena pandangan buruk." ucap nyonya Ardi sambil menatap Mentari penuh kagum.
Mentari semakin malu mendengar pujian mama Darel. Pipinya memerah saking malunya.
"Ya sudah jangan banyak melamun, sebentar lagi kamu akan turun. Tamu undangan sudah berdatangan dan tidak sabar melihat calon wanitanya. Darel juga sudah ada disana, hem." ucap mama Darel dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Baik ma." ucap Mentari tersenyum manis.
Nyonya Ardi keluar dari ruangan Mentari. Tidak lama diikuti Mentari yang sudah di make up sedemikian rupa sehingga kesan anggun dan elegan melekat kuat dirinya. Tidak lupa juga rambut Mentari ditata dengan sangat eloknya agar menambah kesan cantik dan sempurna.
Saat Mentari turun dari lantai dua, semua mata tertuju padanya. Darel yang saat itu sedang berbincang dengan salah satu kolega bisnisnya ikut menatap kearah Mentari dengan tatapan kagum. Bahkan saking kagumnya dia tidak berkedip sedikitpun.
Mentari seketika menjadi pisan perhatian, awak media yang sedari tadi sudah berdatangan untuk meliput pertunangan salah satu orang terpenting dinegara ini pun langsung menuju kearah tangga, dan meliput Mentari yang sedang menuruni tangga dengan sangat anggun dan cantik.
Sunggu malam ini menjadikan Mentari bak ratu dimana dia yang menjadi pisan perhatian oleh banyak orang tidak lupa juga senyum manis selalu merekah dibibir indahnya.
Mungkinkah nasib baik datang menyambutku mulai sekarang? batin Mentari dengan terus tersenyum membuat setiap lelaki disana ikut meleleh karenanya.
Darel, bahkan tidak bergeming dari tempatnya berdiri, tidak berkedip, bahkan dirasa tidak bernafas saking lekatnya menatap Mentari yang mulai menghampirinya.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Mentari sambil berbisik.
Darel pun tersadar, dan langsung menata dirinya agar terlihat seperti biasa.
"Eheemm, ya...ya kau lumayan lah!" ucap Darel mengelak.
Ish, kalau lumayan kenapa dari tadi liatin Mulu, mana mulutnya menganga lebar lagi. Sudah banget sih bilang cantik aja! batin Mentari.
"Kalau cantik bilang aja kali, nggak ada yang bakal marah juga kok!" sindir Mentari.
"Apaan sih, kan aku udah bilang lumayan!" jawab Darel masih berkilah.
Mereka pun akhirnya diam. Mentari seperti sedang mencari seseorang, sedangkan Darel kerap kali mencuri pandang ke arah Mentari.
Dia sangat cantik! batin Darel tanpa sengaja tersenyum.
"Kakak!" teriak seorang anak kecil menghampiri Mentari.
"Iwang!" ucap Mentari berjongkok hendak memeluk anak itu.
"Kakak cantik sekali, dan ini sangat bagus kak, makanannya juga sangat banyak dan enak-enak!" ucap Iwang dengan polos.
Mentari tertawa dengan tingkah polos anak itu. Darel yang melihat itu pun menatap kearah mereka dengan senyum yang lagi-lagi tercipta dibibirnya.
"Iwang, tadi kesini sama siapa? nenek jadi datang?" tanya Mentari yang melihat Iwang datang sendiri.
"Nenek tidak datang kak, aku tadi dijemput sama supirnya om baik. Nenek bilang dia sedang tidak enak badan makanya tidak ikut." jelas Iwang.
Mentari turut prihatin dengan keadaan Iwang. Entah mengapa melihat Iwang rasanya dia melihat dirinya saat berjuang dijalanan sebelum bertemu keluarga Daniar. Mentari langsung memeluk Iwang tanpa malu ataupun segan dan langsung menatap kearah Darel sambil tersenyum.
"Terimakasih!" ucap Mentari lirih pada Darel.
Darel hanya mengangguk.
__ADS_1
Tidak berselang lama, pesta pun memasuki acara inti. Darel menyematkan cincin pertunangan dengan desain yang indah dan sangat limited edition ke jari manis Mentari, begitu juga sebaliknya. Suara riuh tepuk tangan dari tamu undangan menambah suasana bahagia keluarga Sanjaya.
Kau lihat itu sahabatku, aku sudah menepati janjiku padamu! tak akan aku biarkan siapapun menyentuh atau bahkan menyakiti menantuku! batin tuan Ardi.
Para tamu pun dipersilahkan untuk memakan hidangan yang disediakan. Mentari sibuk berbincang dengan Iwang dan karyawan tokonya yang memang diundang kesana bersama orang tua Daniar, dan Daniar. Sedangkan Darel berbincang dengan sahabatnya. Mereka mengucapkan selamat atas hari bahagia itu.
Daniar yang tanpa sengaja melihat Zanu pun membulatkan matanya.
"Kau?" tanya Daniar setelah menghampiri Zanu yang sedang minum.
"Kau? kau disini?" tanya Zanu balik.
"Aku sahabatnya Mentari, jadi dia mengundangku. Terlebih ayahku juga diminta menjadi walinya saat akad nanti." jelas Daniar.
"Oh, aku sahabat Darel, yah meski hubungan kami belum pulih kembali namun dia tetap mengundangku saja itu sudah cukup." jelas Zanu sambil sesekali meminum jus yang tersedia disana.
"Apa maksudmu Darel Sanjaya yang kau ceritakan tempo hari padaku? sahabat yang salah menduga padamu?" tanya Daniar memastikan.
Zanu hanya mengangguk, kemudian wajahnya terlihat lesu.
Kenapa aku jadi semakin tidak tenang melepas Mentari pada pria itu ya? oh Tuhan, apa aku berdosa jika menjauhkan sahabatnya dengan tunangannya yang menurutku tidak baik untuk kehidupannya? batin Daniar.
"Ayo kita bicara disana saja, lagi pula aku tidak terlalu suka keramaian!" ucap Zanu.
Mereka pun keluar menuju taman depan. Zanu memang sudah terbiasa sendiri sekarang, terlebih saat pengasingan membuat dirinya menjadi sangat kesepian hingga dia menjadi sedikit tidak nyaman ditempat ramai. Dulu dia tidak seperti itu, dulu Zanu pria yang periang, mudah bergaul dan paling suka dengan keramaian.
Namun masalahnya dengan Darel waktu itu sedikit banyak sudah mengubah hidupnya. Dia yang awalnya friendly kini berubah menjadi agak pendiam, dia bahkan tidak menyukai tempat ramai dan memilih tempat yang tenang untuknya.
Kembali ke dalam rumah.....
Mentari sangat senang bisa berkumpul dan bercerita banyak hal pada karyawannya terlebih berbicara bersama Iwang. Orang tua Daniar memilih menyapa orang tua Darel, mereka terlihat bercengkrama diselingi tawa bahagia, entah apa yang mereka bicarakan saat itu.
Sungguh hari yang sangat sempurna bagi Mentari. Dia bahkan selalu tersenyum dihari bahagiannya itu meskipun hubungannya dengan Darel belum bisa dibilang dekat. Setidaknya untuk saat ini.
*
*
*
*
*
Hallo kakak-kakak, karena ada yang mengatakan visual Mentari dan Darel kurang cocok, maka aku akan mengganti visual karakter Mentari dan Darel. Semoga kalian suka😊 Oh ya karena karakter Darel itu jarang tersenyum makanya aku buat visualnya terlihat lebih tua dari umurnya.
Mentari Angeliska Tia
Mentari saat pertunangan
Darel saat pertunangan
Darel Dwi Sanjaya
__ADS_1