Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 119


__ADS_3

"Untung saja saat itu kami terjatuh tidak terlalu tinggi, jika tidak kami mungkin juga tidak akan selamat!" jelas Darel mengakhiri ceritanya.


"Untung saja kita bisa keluar tepat waktu sebelum pesawat meledak!" jelas Mentari.


"Kami sudah berpikir kalian tidak selamat tadinya! tapi keajaiban datang pada kami dan membawa kalian kembali!" ucap tuan Ardi.


"Iya, kami semua, kecuali mama! hanya mama yang terus-menerus menanyakan kapan Darel pulang, kapan Darel pulang!! dia sangat yakin kalau kalian masih hidup diantara keputusasaan kami!" ucap Randita mengingat dimana mamanya yang terus memanggil-manggil nama Darel dan Mentari.


"Aku tahu itu!" ucap Darel sembari memeluk mamanya.


Mentari merasa tersentuh melihat pemandangan ini. Jika dia tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri hari ini, mungkin dia tidak akan melihat sisi lain dari seorang Darel Sanjaya.


Apa benar dia pria yang menghina harga diriku dulu? mungkin jika bukan karena perjodohan ini aku tidak akan melihat sisi lain pria yang sempat aku kutuk hidupnya!! Darel Sanjaya, ada berapa banyak misteri dalam hidupmu? apakah sekarang aku bisa mengatakan bahwa aku paling tahu tentangmu? ah, Mentari!!! jangan berbangga dulu, belum tentu dia sebaik yang kau kira!!! jangan terlalu cepat menilai dirinya!!! batin Mentari.

__ADS_1


Darel melirik sekilas ke arah Mentari. Entah mengapa melihat Mentari terbaring lemah tidak berdaya beberapa hari yang lalu membuat Darel merasakan sesuatu. Dia seperti tidak tenang, dia ingin mendengar ocehan Mentari, memperdebatkan hal sepele, Darel merindukan suara Mentari. Bahkan tidak jarang juga Darel semalaman menjaga Mentari yang tengah koma.


Apa aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya? batin Darel.


Makan malam sudah siap disajikan di meja makan. Ini adalah kali pertama mereka makan bersama lagi setelah peristiwa kecelakaan pesawat itu. Jangankan untuk makan bersama, untuk memakan sesuap nasi saja mereka rasanya tidak berselera.


Tepat setelah makan malam usai, Harri dan Adi yang saat itu sedang ada urusan datang ke rumah utama dan sangat senang melihat tuannya selamat.


"Tuan, kau selamat tuan!!!!??? ini benar-benar kau kan?? huhuhuuu.... aku sangat merindukanmu tuan, aku rindu kau marahi, huhuhuuu!!" ucap Harri sambil memeluk Darel.


Haisss, anak ini seharusnya aku tetap menyuruh dia menjaga para tawanan tadi!!! huhhh bikin malu aja!!! batin Adi.


"Lepas, dasar kau ini!!! Adi, apa dia salah makan hari ini!!!" ucap Darel sambil menjauhkan tubuh Harri dari tubuhnya.

__ADS_1


"Emmm, maaf tuan, aku rasa dia terlalu banyak berkencan akhir-akhir ini!" ucap Adi.


"Yee, enak saja berkencan!! aku kan menjaga toko milik nona muda, coba kalau tidak ada aku mungkin toko itu sudah gulung tikar sekarang!!" ucap Harri asal bicara.


"Apa? ada apa dengan tokoku?" tanya Mentari khawatir.


Yah, selama ini dia meninggalkan toko tanpa pengawasan. Meskipun dia sudah mempercayakannya kepada Laila, namun tetep saja tidak menuntut kemungkinan ada seseorang yang memanfaatkan ketidakhadirannya sebagai celah untuk membuat onar ditoko.


Mendengar pertanyaan Mentari barusan, Harri langsung tersadar dengan apa yang dia ucapkan tadi. Adi yang mengetahui semua hal langsung menyikut perut Harri dengan sangat keras seolah "berkata jaga mulutmu itu!!!"


"Jawab, ada apa dengan tokoku? kenapa kalian diam saja?" tanya Mentari lagi.


"Emm, sebenarnya... sebenarnya..." ucap Harri gelagapan.

__ADS_1


Harri melirik Adi seolah memintanya membantu melarikan diri dari pertanyaan sulit Mentari karena tidak ingin merusak suasana yang sedang bahagia ini. Adi sebenarnya mengerti isyarat Harri, namun dia memilih untuk diam saja.


Rasakan itu, sekarang hadapi akibat mulutmu yang lemes itu!!! batin Adi.


__ADS_2