Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 139


__ADS_3

Darel yang juga melihat kegaduhan itu mempunyai firasat buruk, dia pun menerobos lautan manusia dan menemukan seorang wanita berbaring tidak sadarkan diri dengan darah terus mengalir dari ujung pahanya.


"Mentariiii!!!!" teriak Darel.


Darel langsung menghampiri Mentari yang sudah terkulai lemas, Adi dan Harri juga langsung menghampiri keduanya. Darel menggendong Mentari, membawanya keluar dari kerumunan itu. Anak buah Darel ikut membukakan jalan agar mereka bisa segera sampai di pintu keluar dan segera membawa Mentari kerumah sakit.


Ini salahku, aku seharusnya menjaga nona tadi dan tidak membiarkannya berjalan seorang diri!!! bodoh sekali kau Adiii!!!! batin Adi.


Kenapa kau bisa melakukan kesalahan sefatal ini Harri!! penerus keluarga Sanjaya sekarang dalam bahaya karena kau tidak menjaganya!!!! batin Harri frustasi.


Seharusnya aku melarangnya tadi! seharusnya aku tidak membiarkannya sendirian mengelilingi mall ini! seharusnya aku tetap menjaganya, melindunginya!!! anakku bertahanlah sayang!!! papa mohon bertahanlah, nak!!! batin Darel sembari menitihkan air mata.


Begitu sampai dirumah sakit, Mentari langsung dilarikan ke UGD dan mendapatkan penanganan terbaik dari dokter yang terbaik dirumah sakit itu.


"Maaf, kalian bisa menunggu diluar ya!" ucap suster sembari menutup pintu UGD.


Darel mengacak-acak rambutnya frustasi. Baru saja dia berbahagia dengan bertambahnya satu anggota baru dikeluarga kecilnya, tapi sekarang janin yang bahkan belum terbentuk dengan sempurna itu harus berada diambang hidup dan mati karena kecerobohannya.


"Kalian berdua!!!!"


"Maafkan kami tuan!!! kami lalai menjaga nona muda! kami lantas dihukum mati, kami pantas mendapatkannya!!" ucap Adi dan Harri langsung bersimpuh dikaki Darel.


"Aku memang kecewa dengan kalian berdua, tapi ini bukan salah kalian, ini salahku! harusnya aku tidak membiarkan Mentari sendirian tadi. Sekarang cek CCTV yang ada di mall tadi, siapapun yang menyebabkan semua ini terjadi, tidak akan aku ampuni dia!" ucap Darel dengan mengepalkan tangannya.


"Sebelum anda, saya yang akan menghajarnya lebih dulu tuan!" ucap Adi tegas.


Darel menatap kearah Adi dan Harri bergantian, mereka bertiga sudah layaknya seorang kakak dan adik dimana ketika ada salah satu dari mereka yang merasakan kesusahan yang lain juga ikut merasakannya. Darel sendiri sudah menganggap Adi dan Harri sebagai orang kepercayaannya, bahkan jika dia mati nanti, Darel akan mempercayakan keluarga dan hartanya kepada Adi dan Harri.


"Pergilah! bawa orang itu kehadapanku segera!" ucap Darel menepuk pundak Adi dan Harri.


Adi dan Harri segera meninggalkan rumah sakit itu, dan tinggallah Darel sendirian dengan perasaan khawatir takut terjadi apa-apa dengan Mentari ataupun calon anaknya.


Cukup lama Darel menunggu diluar mondar-mandir tidak karuan hingga akhirnya dokter keluar dari ruangan itu. Sontak saja Darel langsung menghampiri sang dokter untuk meminta penjelasan mengenai kondisi istri dan calon anaknya.


"B....bagaimana dok? mereka baik-baik saja kan?" tanya Darel tidak tenang.


Bukannya langsung menjawab, sang dokter justru terdiam seribu bahasa. Bibirnya seolah tidak tega menyampaikan kabar buruk ini.


"Maafkan kami tuan!" terhenti.


Degggg.....

__ADS_1


Waktu seolah berhenti berputar, orang-orang seolah berhenti bergerak. Kata-kata yang baru saja dia dengar itu biasanya awal dari kehancuran. Entah siapa yang meninggalkannya sekarang, istrinya atau...


"Kami sudah mencoba semaksimal mungkin untuk mempertahankan janin didalam perut pasien!"


Darel menyimak segala sesuatu yang dijelaskan dokter.


"Namun karena benturan keras pada perut pasien dan mengakibatkan pendarahan hebat disana, akhirnya kami memutuskan untuk mengangkat janinnya dan menyelamatkan si ibu!" ucap dokter merasa berat mengatakannya.


Darel mundur beberapa langkah kebelakang hingga membentur kursi dibelakangnya, matanya sayu, pikirannya kacau, dia tidak bisa percaya bahwa anaknya sudah tiada. Air mata lolos begitu saja ke pipinya, dia menangis!


"Saya mengerti penderitaan anda, tapi untuk saat ini anda harus kuat untuk bisa menguatkan ibunya! biasanya jika seorang ibu yang kehilangan anaknya akan melakukan hal nekat saking frustasinya. Sudah banyak kejadian seperti itu, makanya anda harus bisa menyakinkan pasien untuk tetap tegar dan berpikir positif." ucap dokter memberi saran.


"Dokter, pasien sudah sadar!" teriak seorang suster dari balik pintu UGD.


Darel dan Dokter itu langsung berlari menuju Mentari yang perlahan mulai siuman.


"Darel?? anak kita....?" tanya Mentari.


Hal pertama yang ditanyakan Mentari adalah anaknya, bahkan dia tidak menghiraukan dirinya sendiri yang juga terluka cukup parah. Darel tidak bisa mengatakannya kepada Mentari, dia tidak sanggup dan langsung memeluk Mentari membawanya kedalam dekapannya. Isak tangis dari Darel samar-samar terdengar ditelinga Mentari membuat Mentari mengerti apa yang terjadi.


"Darel dimana anak kita??? di...dia baik-baik saja kan!!!! dimana anak kita!!!" Mentari berontak meminta penjelasan.


Darel tetap tidak bisa mengatakannya, melihat hal itu Mentari semakin histeris.


"Dia sudah pergi Mentari, dia sudah tidak ada lagi!!!!" ucap Darel dengan air mata yang berlinang di pipinya.


Mentari terdiam sejenak, mencerna kata-kata yang diucapkan suaminya.


"D....dia....sudah....meninggal!!!!" ucap Darel lagi.


"Tidak!!!! tidak Darel, anakku masih hidup, jangan berkata seperti itu!!!!" tangis Mentari.


Beberapa perawat, dan dokter yang melihat hal itu juga tidak kuasa menahan tangis. Mereka seolah merasakan duka dari Mentari dan Darel.


"Ini....ini semua karena kesalahanku!!!" ucap Mentari.


"Seharusnya aku mendengarkan mu untuk tidak berkeliling mall dan kejadian ini pasti tidak akan pernah terjadi, hikss....hiks...hiksss....!!!"


Mendengar hal itu Darel justru semakin merasa bersalah dan merasa gagal menjaga Mentari dan calon anaknya.


********

__ADS_1


Disisi lain, Harri dan Adi yang sudah sampai di mall meminta petugas keamanan untuk melihat rekaman CCTV pada jam Mentari terjatuh. Ketika hasil rekaman CCTV diputar ulang, terlihat dengan jelas wajah Galih menabrak Mentari hingga membuat Mentari kehilangan keseimbangan tubuhnya kemudian terjatuh dari eskalator.


Adi dan Harri sangat marah melihat hal itu. Terlihat dari wajah keduanya dan kepalan tangan seolah ingin menghabisi Galih saat ini juga. Adi pun mengeluarkan ponselnya, menekan sebuah nomor dan menelpon seseorang.


"Hallo, cari orang ini sampai dapat dan bawa dia kerumah sakit XX! jika dia melawan, lumpuhkan dia!" ucap Adi mode serius.


"Salin rekaman itu untuk kami bawa sebagai bukti!" ucap Harri kepada kepala keamanan.


"Baik tuan!"


Adi dan Harri pergi dari mall itu setelah mendapat salinan rekaman CCTV disana. Bukti kuat mengarah kepada Galih sekarang, apalagi bukan hanya ini saja kejahatan yang sudah Galih lakukan kepada Darel dan Mentari.


********


Saat itu jam makan siang, semua karyawan berhamburan hendak mengisi kembali tenaga mereka yang sudah terkuras habis saat bekerja, begitu juga dengan Daniar. Daniar berada dipinggir jalan raya menunggu Zanu. Mereka sudah janjian untuk makan siang bersama. Tidak butuh waktu lama, Zanu pun datang dengan mobilnya dan langsung membukakan pintu untuk Daniar.


Kali ini Zanu mengajak Daniar makan siang di restoran yang baru saja buka yang berada didekat perusahaan. Setelah memesan menu tanpa sengaja Daniar melihat seniornya, Wanda bersama pria berusia 50 tahunan tengah mengobrol dengan romantis.


Loh, itu bukannya senior Wanda? ohhh, jadi isu miring bahwa dia simpanan bapak-bapak itu benar! kalau dilihat dari pakaiannya pria itu sih, memang sepertinya orang kaya! tapi aku sepertinya pernah melihat pria itu deh, tapi dimana ya? batin Daniar


"Daniar!!!! Daniar!!!" panggil Zanu.


"Eh, iya ada apa?" tanya Daniar terkejut.


"Ngeliatin apa sih sampai dipanggil-panggil nggak nyaut?" tanya Zanu.


"Itu loh, senior dibagian tempatku bekerja, senior Wanda kayaknya lagi makan siang sama selingkuhannya deh!" ucap Daniar menunjuk ke arah tempat Wanda duduk.


"Itu bukannya pak Broto?" tanya Zanu.


"Kamu kenal sama pria itu?" tanya Daniar penasaran.


"Iya, dulu dia salah satu rekan bisnis papa! tapi karena ketamakannya dia membodohi papa dan mengambil semua kekayaannya!" ucap Zanu.


"Tapi bukannya dia sudah jatuh miskin ya? dengar-dengar sih anaknya meninggal semua dan dia menjadi miskin tapi kok sekarang dia....." penasaran.


"Kamu tahu nggak, dia itu salah satu investor loh di perusahaan Sanjaya!" ucap Daniar yang ingat siapa pria itu.


"Benarkah? berarti dia sudah kaya lagi sekarang!" Daniar menganggukkan kepalanya cepat.


Belum sempat mereka berbincang lebih jauh, makanan yang mereka pesan sudah datang. Karena sudah kelaparan Daniar akhirnya memilih menyantap makan siangnya begitu juga dengan Zanu.

__ADS_1


Pak Broto! aku harus cari tahu tentang dia, jangan sampai nasib yang sama terjadi juga kepada perusahaan Darel! batin Zanu


__ADS_2