Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 55


__ADS_3

Malam itu Darel ditemani Harri dan Adi sudah berada didepan rumah Mentari. Seperti apa yang dikatakan tuan Ardi beberapa waktu yang lalu pada Darel.


Beberapa jam yang lalu....


Darel baru sampai dirumahnya, merebahkan tubuhnya dikasur empuk dan memejamkan mata.


Tiba-tiba suara dering telepon miliknya berbunyi.


Pasti ada hal buruk yang akan terjadi! batin Darel sambil memutar bola matanya malas.


"Hallo, pa? ada apa?" tanya Darel malas.


"Hei bocah tengik, jangan lupa kasih tau Mentari kalau nanti ada acara makan malam, dan jangan lupa kau jemput dia!" ucap tuan Ardi sedikit memaksa.


"Ya, aku sudah bilang padanya tadi. Tapi wait kenapa harus aku yang jemput? kan papa bisa ngirim sopir yang dulu jemput dia?" ucap Darel dengan penolakan namun disertai alasan logis.


"Dia itu tunanganmu apa tunangannya sopir papa, ha? kalau papa bilang kamu yang jemput, ya harus kamu titik!!" ucap tuan Ardi tidak bisa dibantah.


Darel tahu kalau papanya sudah berkata dengan intonasi itu, berarti sudah tidak bisa diganggu gugat.


"Hemm, nanti Darel jemput wanita bodoh itu!" ucap Darel keceplosan.


"Apa kamu bilang? siapa yang bodoh ha?" ucap tuan Ardi meninggikan suaranya.


"Eh, nggak kok bukan siapa-siapa!" ucap Darel berbohong.


Telinganya tajem banget sih, padahal aku ngomong pelan loh tadi! batin Darel kesal.


"Awas saja kalau papa dengar lagi kamu panggil calon menantu papa dengan sebutan wanita bodoh atau apalah tadi yang kamu bilang! papa akan hukum kamu, ingat itu!" ucap tuan Ardi langsung mematikan panggilan setelah selesai bicara.


"Papa nih apa-apaan sih, masa orang lain malah dibelain? nggak bener nih! jangan-jangan tuh cewek pakai susuk lagi makanya papa sama mama sampai segitunya mau nikahin aku sama dia?" tanya Darel pada dirinya sendiri.


********


"Maaf ya nunggu lama. Kok kalian yang jemput bukan pak sopir yang kemarin?" tanya Mentari setelah memasuki mobil.


Darel hanya diam tidak menggubris pertanyaan Mentari.


"Oh itu, tuan besar menyuruh kami untuk menjemput anda sekalian!" ucap Adi yang melihat kecanggungan dimobil.

__ADS_1


"Oh. Tuan Darel, apa penampilanku sudah bagus? aku kurang pede dengan baju-baju yang tadi!" tanya Mentari pada Darel.


Darel menatap Mentari dengan cepat. Tanpa sengaja wajah mereka saling berdekatan dengan jarak yang hanya 5 centi itu.


Parfumnya wangi banget! batin Darel yang bisa mencium parfum yang Mentari gunakan.


"Tuan Darel!" panggil Mentari.


"Hemm, lumayan!" ucap Darel menjauhkan wajahnya dari Mentari.


Sial, bisa-bisanya seorang Darel terpikat sama parfum cewek kayak gini! udah nggak waras kali lo Darel! umpat Darel dalam Hati.


Mobil pun berjalan menuju rumah utama Sanjaya.


Ditengah perjalanan, Darel baru menyadari bahwa Mentari terlihat sangat cantik dengan baju yang dia belikan tadi. Rambut Mentari yang terurai menambah kesan cantik diwajahnya.


Dia lumayan juga! batin Darel.


Selama kurang lebih 30 menit, mereka sampai dirumah Sanjaya. Tuan dan nyonya Ardi sudah menunggu mereka didepan rumah.


Darel langsung menghampiri orang tuanya.


"Pa, ma kami sudah..." ucap Darel terpotong.


"Emm, terimakasih ma! mama juga sangat cantik!" puji Mentari.


"Ah, kamu bisa saja!" ucap nyonya Ardi yang tersipu malu dibilang cantik.


Darel berdiri mematung ditempatnya, sedangkan tuan Ardi juga menghampiri Mentari dan nyonya Ardi berdiri meninggalkan Darel sendirian.


"Bagaimana kabarmu, Mentari? papa harap Darel tidak menyusahkanmu selama perjalanan tadi?" ucap tuan Ardi merangkul nyonya Ardi.


"Tidak kok pa, justru tu...eh Darel sudah membelikan saya sepatu dan baju ini. Bagus kan!" ucap Mentari sambil menunjukkan baju dan sepatu heels yang dibelikan Darel dengan bangga.


Darel mendengar hal itu. Tanpa dia sadari bibirnya menyungging ke atas. Dia tersenyum!


Harri dan Adi minat adegan itu. Tuan dan nyonya besarnya yang lebih akrab dengan Mentari bahkan sampai melupakan Darel sebagai anak mereka dan Darel yang tersenyum.


Adi dan Harri saling bertatapan seolah mengatakan "Apa aku sedang mimpi?"

__ADS_1


Setelah cukup lama mereka bertiga berbincang, tuan dan nyonya Ardi membawa Mentari masuk bahkan melewati Darel.


"Apa aku harus kembali saja?! sepertinya kalian sudah punya anak perempuan lainnya dan melupakan anak laki-laki kalian!" dengus Darel kesal karena diabaikan dari tadi.


Tuan dan nyonya Ardi beserta Mentari hampir mencapai pintu rumah dan berbalik menghadap Darel.


"Kau ini seperti anak kecil saja! ini kan rumahmu juga, tinggal masuk sendiri saja susah!" ucap tuan Ardi tidak kalah ketusnya.


Darel menghela nafas kasar lalu dengan gontai masuk kerumah orang tuanya. Dia langsung duduk dikursi panjang yang berada didepan kursi yang diduduki orang tuanya bersama Mentari.


Sungguh, Darel sudah seperti tidak ada hari ini. Bahkan orang tuanya sangat memanjakan Mentari menyuapi buah, dan bercengkrama dengannya dan melupakan Darel yang terlihat sangat kesal.


Bahkan orang tuaku sendiri seperti melupakan aku sekarang! lihat saja mereka! mereka malah bersenang-senang dengan wanita itu dari pada berbicara denganku! batin Darel.


Harri, Adi, dan pak Joni sudah berada diruangan itu. Mereka bertiga merasa heran dengan hal ini. Mereka berpikir mungkin tuan dan nyonya besarnya sudah merindukan nona Maisyaka, kakak Darel yang kini jarang bahkan tidak pernah mengunjungi mereka karena ikut suaminya.


Wajah polos Mentari dan senyumnya yang manis bisa menyihir semua orang untuk akrab dengannya. Namun tidak jarang juga hal itu menjadi boomerang untuk Mentari karena dirasa menjadi saingan untuk yang lain.


"Pak Joni, apa kabar!" ucap Adi basa-basi.


"Baik, kalian?" tanya Pak Joni.


"Kami juga baik. Lukas juga, kami sering berbicara padanya saat sedang berada dirumah tuan muda!" jelas Adi.


Pak Joni tersenyum. Harri dan Adi mengerti alasan pria itu tersenyum. Ya, itu karena mendengar kabar anaknya, Lukas.


"Sudah lama dia tidak menelepon ku. Mendengar kalian mengatakan dia baik-baik saja itu sudah cukup untukku!" jelas pak Joni dengan mata berkaca-kaca.


Adi mengusap punggung pria paruh baya itu. Pak Joni mengerti akan kesibukan anaknya, namun rasa rindu dihatinya tidak bisa diajak kompromi.


"Terimakasih!" ucap Pak Joni.


"Sama-sama pak!" jawab Adi dan Harri.


Setelah berbincang cukup lama, tuan Ardi, nyonya Ardi, Darel dan Mentari menuju meja makan dimana sudah tersedia berbagai makanan yang dimasak oleh chef profesional.


"Mentari ayo makan yang banyak, jangan sungkan-sungkan oke! anggap saja ini rumahmu!" ucap nyonya Ardi yang duduk disamping Mentari.


"Iya ma, Mentari tahu!" jawab Mentari dengan tersenyum.

__ADS_1


Ini adalah kali kedua mereka makan bersama seperti ini. Bagi Mentari hal ini memang masih canggung mengingat dia sudah terbiasa makan sendiri. Meskipun terkadang dia juga diundang ke rumah Daniar untuk makan bersama disana.


Terimakasih Tuhan, kau masih menganugerahkan ku kehangatan keluarga yang sudah lama tidak aku rasakan! terimakasih! batin Mentari mengingat orang-orang disekelilingnya yang sangat perhatian padanya.


__ADS_2