Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 172


__ADS_3

"Hah....hah...hah....hah......hah..."


Seorang wanita berlari menghindari beberapa orang. Nafasnya terengah-engah akibat kelelahan. Wanita itu menjatuhkan apa saja yang ada disampingnya untuk mencegah para pria itu menangkapnya.


"Hei berhenti kau!!!!!" teriak para pria itu.


Dor.....dor....dor....


Seorang pria menembakkan pistolnya dan salah satu peluru itu mengenai lengan kiri wanita itu.


"Akhhh!!!!!" teriak wanita itu kesakitan sembari memegang lengan kirinya yang terluka.


"Sial aku tidak bisa lari lagi kalau begini caranya! sebaiknya aku sembunyi saja!" ucap Wanita itu.


Dia segera berlari untuk bersembunyi. Tidak lama kemudian beberapa pria yang mengejarnya tadi sampai ditempatnya tertembak.


"Kemana larinya wanita breng*ek tadi!!!????" tanya ketua mereka.


"Hei bos, lihat! ada tetesan darah disini, pasti ini milik wanita itu!" ucap salah satu anak buahnya.


Wanita itu terus bersembunyi dan berharap pria-pria itu tidak menemukannya. untung wanita tadi langsung memegang lengannya untuk mencegah darahnya terus menetes.


"Tapi darah ini hanya ada disini saja!" ucap ketua.


"Bos coba kita cari kesana! mungkin saja wanita itu lari kesana!" ucap anak buahnya yang lain.


"Ayo!" ucap ketua.


Mereka pun berlari kesisi lain. Mendengar kepergian pria tadi, si wanita sangat lega. Dia langsung berjalan kembali ke persembunyiannya dengan lengan terluka.


Ketika sampai di persembunyiannya, seorang bocah laki-laki berusia tujuh belas tahun tengah menantinya dengan cemas.


"Hei bocah!!???" ucap Wanita itu ketika kembali ke persembunyiannya.


"Kakak?!! kakak dari mana saja? aku sangat mengkhawatirkan kakak!!!" ucap bocah tujuh belas tahun itu.


"Aku baik-baik saja! cepat obati lukaku!" ucap wanita itu lalu berbaring.


Bocah laki-laki itu dengan cekatan mengobati luka wanita itu.


"Ahhh, mmmmmm...." tahan wanita itu kesakitan ketika peluru hendak dikeluarkan dari tubuhnya.


"Tahan sebentar lagi kak, mungkin ini akan menyakitkan!!" ucap anak laki-laki itu dengan wajah serius seperti sudah ahli melakukannya.


Wanita itu menahan sakitnya sampai keringat mengucur deras diwajahnya.


"Mmmpppphhhhhh!!!!!!!" tahan wanita itu ketika peluru dikeluarkan dari lengannya.


Akibat rasa sakit yang teramat wanita itu pingsan seketika. Setelah peluru itu berhasil dikeluarkan, anak laki-laki itu langsung membungkus lukanya dengan perban agar tidak ada pendarahan.


Bocah laki-laki itu membereskan alat-alat yang habis dia gunakan lalu membiarkan wanita tadi hingga siuman.


********


Acara piknik Darel dan yang lain sudah selesai. Kini mereka berjalan menuju pesisir pantai. Ada yang bermain bola voli, ada yang bermain dipinggir pantai dan ada yang duduk-duduk menikmati indahnya pantai.

__ADS_1


Darel, Mentari, Daniar dan Anisa duduk-duduk dibawah pohon kelapa menyaksikan pertandingan voli antara tim Arul yang beranggotakan Arul, Lukas, Harri, Rohan, Bagas, dan Angel dengan tim Tomi yang beranggotakan Tomi, William, Jack, Adi, Shiren, dan Nurul.


Zanu melihat Darel tengah menggelayut mesra kepada Mentari dan langsung menghampirinya untuk membahas soal Pretty.


"Dwi bisakah kau ikut denganku sebentar?" tanya Zanu dengan wajah serius.


Mentari dan Daniar saling menatap kearah Zanu dan Darel.


"Hem!" jawab Darel singkat.


Darel dan Zanu pun berjalan menjauh dari ketiga wanita itu.


"Ada apa?" tanya Darel tanpa basa-basi.


"Dwi, apa kau sudah gila?"


"Hei apa maksudmu?"


"Ya, kau tahu apa maksudku! Pretty, kenapa kau membelikannya apartemen? kau tahu kan dia itu wanita seperti apa? kau baru saja berbaikan, jangan sampai karena masalah ini kalian jadi bertengkar lagi!" ucap Zanu.


"Zen, aku tahu kau mengkhawatirkan ku, tapi percayalah ini semua untuk kebaikan kita!" ucap Darel berusaha menyakinkan Zanu.


"Dwi, aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiranmu saat ini!" menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah, percayakan semuanya padaku!"


"Baiklah jika itu mau mu!" pasrah.


"Ayo!" ajak Darel.


Darel dan Zanu kembali ketempat Mentari. Tentu saja Darel langsung menyenderkan kepalanya dipundak Mentari sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Mentari membuat kaum jomblo merasa iri.


********


"Tuan, maaf kami gagal menangkap wanita itu!" ucap pria yang mengejar wanita tadi.


"Bodoh!!! apa sih yang kalian kerjakan?!!! menangkap wanita lemah seperti itu saja kalian tidak becus!!!!" marah pimpinan mereka.


"K....kami akan berusaha menangkapnya tuan!" ucap pria lain.


"Sudah!!!! pergilahhh!!!!" teriak pimpinan mereka dengan penuh emosi.


Pria itu pun pergi dari tempatnya.


Brakkkkk......


Menggebrak meja.


"Sial!!!!! akan aku cari sampai dapat!!! lihat saja nanti!" ucap pimpinan dengan penuh emosi.


********


"E....auuu!!!"


"Kak, kakak sudah bangun?" tanya bocah laki-laki itu.

__ADS_1


"Ya!" memegangi lengannya yang masih terasa ngilu.


"Kak, bagaimana bisa kakak terkena peluru itu?" tanya bocah laki-laki itu.


"Tadi mereka mengejar kakak, dan berhasil menembak lengan kakak!" jelas wanita itu.


"Kak Suli lain kali kalau keluar harus hati-hati! mereka semua pasti sudah tahu kalau kita bersembunyi disini!" ucap bocah laki-laki itu.


"Kamu benar, Ndre! kakak juga tidak mau kamu kenapa-kenapa!"


"Aku tahu itu! oh ya aku sudah membuatkan makanan untuk kakak, ayo kita makan!" ajak Andre, bocah laki-laki itu.


Suli mengganggukkan kepalanya. Mereka berbagi makanan bersama. Meskipun sederhana asal mereka masih punya satu sama lain itu sudah lebih dari cukup untuk keduanya.


"Oh ya kak, aku dengar tadi ada lowongan pekerjaan sebagai pelayan di pulau dekat sini. Bagaimana kalau kakak ikut juga. Itung-itung sebagai penyamaran!" ucap Andre.


"Emm, boleh juga! lagian kita juga butuh beli makanan untuk kita makan sehari-hari kan? ya sudah cepat dihabiskan!" ucap Suli.


"Iya!" jawab Andre.


"Tapi kak, luka kakak?" Andre khawatir.


"Sudahlah, biarkan ini jadi urusan kakak!" ucap Suli.


********


Sore itu seperti yang sudah direncanakan, Suli akan datang ke pulau milik orang kaya untuk melamar sebagai pembantu. Terpaksa Suli melakukannya karena dia dan Andre butuh uang untuk bertahan hidup dan bersembunyi dari para penjahat itu butuh tenaga ekstra bukan?


"Baik kami akan memilih beberapa pelayan diantaranya lima orang untuk bekerja di dapur, tujuh orang untuk membersihkan rumah, lima belas orang untuk membantu berjaga khusus untuk pria!" ucap anak buah Zanu.


"Silahkan kalian mengantri sesuai pekerjaan yang kalian inginkan agar memudahkan kami untuk memilih!" ucap anak buah Zanu lalu pergi.


Suli berdiri di antrian pembersih rumah. Jujur saja dia sama sekali tidak punya keahlian dalam memasak. Bahkan selama pelarian ini Andre lah yang memasak untuk mereka sedangkan tugas Suli hanya mencari uang untuk belanja.


"Selanjutnya!" ucap kepala bagian kebersihan.


Suli maju kehadapan wanita itu.


"Nama?"


"Su....emmm Rani!" ucap Suli hampir saja keceplosan.


"Tunjukkan kartu identitasmu!" perintah kepala bagian.


"Ini!" menunjukkan surat-surat identitas yang sudah dia siapkan sebelumnya.


Rani, adalah nama samaran setiap kali Suli mengubah identitasnya. Tentu saja Suli punya kartu identitas seperti akte dan tanda pengenal lain karena dia sudah membuatnya lama dan juga resmi.


"Baiklah, apa kau punya pengalaman bekerja sebelum ini?" tanya kepala bagian.


"Saya punya pengalaman bekerja selama enam bulan. Mungkin masih terbilang dini jika dibandingkan dengan para pelamar lain, tapi saya yakin pekerjaan saya tidak jauh dari mereka yang sudah berpengalaman bertahun-tahun!" ucap Suli menyakinkan.


Kepala bagian terlihat mengangguk-anggukkan kepala mendengar perkataan Suli. Suli pernah menyamar sebagai pembantu untuk mengintai musuhnya. Dia dan Andre selalu bertugas bersama-sama.


"Baiklah tunggu di sana, nanti akan kami umumkan siapa saja yang lolos!" ucap kepala bagian.

__ADS_1


"Emm, iya terimakasih!" ucap Suli memberi hormat lalu pergi ke sisi lain.


Hampir satu jam lamanya hingga akhirnya penyeleksian pun selesai. Semua pun berkumpul untuk mendengarkan pengumuman siapa yang diterima bekerja.


__ADS_2