
"Ehhh, pa tenang dulu! ini semua cuma salah paham aja kok!" ucap Shiren berdiri di depan Jo berusaha melindungi sang kakak.
"Nak, jangan dekat-dekat sama dia!!" ucap mama Daniar sambil menarik tangan Shiren agar menjauhi Jo.
"Dia itu sangat berbahaya! nanti kamu bisa terluka juga sama dia!" ucap mama Daniar memperingati.
Mereka memang tidak tahu kalau Jo adalah kakak kandung Shiren.
"Tante tenang saja, saya tidak akan menyakiti Sharina, adik kandung saya!" ucap tersenyum ramah.
"Sharina? adik kandung? t...tunggu, maksudnya bagaimana sih?" tanya mama Daniar bingung.
"Iya, ma, pa, Jo ini kakak kandung Shiren! nama asli dia Sharina!" ucap Tomi menjelaskan.
"Terimakasih sudah mengkhawatirkan adik saya! tapi kalian bisa mempercayakan keselamatannya pada saya!" ucap Jo.
Jo merasa tenang karena adiknya dikelilingi oleh orang-orang baik yang sayang dan menjaganya seperti keluarga sendiri.
"Ehh, tunggu dulu! mama kok nggak liat Daniar sama Zanu dari tadi?" tanya mama Daniar celingukan.
"Mereka udah didalam duluan ma!" ucap Mentari tertawa.
"Sayangg....dengerin dulu dong!!! aku cuma bercanda kok!! kamu kan istri paling baikkk di dunia ini!" Arul merengek berusaha membujuk Anisa.
Anisa terus berjalan menggendong putranya yang tengah tertidur dengan Arul yang terus mengikutinya dengan rengekan suara meminta diringankan masa hukumannya.
"Eh Nisa! harusnya jangan cuma satu bulan lah hukumannya! minimal empat bulan lah! biar dia jera juga! masa kamu dibilang istri takut suami sih?!" ucap Tomi mengompori.
"Eh diam ya lo! jangan jadi kompor napa!" hardik Arul pada Tomi yang masih saja meledeknya.
"Tomi bener kok! kalau bukan karena kamu merengek terus nggak bakal aku kasih lima bulan mau?!" ucap Anisa melotot ke arah Arul.
"J...jangan dong sayangg!!! satu bulan aja aku nggak tahan apa lagi lima bulan!" ucap Arul cemberut.
"Makanya diam!" ucap Anisa yang lebih garang.
"Ya, sayang!" ucap Arul pasrah dengan memanyunkan bibirnya.
"Nisa, boleh aku gendong?" tanya Mentari.
"Tari, gimana kabar kamu? boleh kok! dia baru aja tidur!" ucap Anisa membuka gendongannya.
"Aku baik kok!" ucap Mentari.
Anisa memberikan Brian ke Mentari dengan hati-hati. Mungkin karena merasa berpindah tempat, Brian menggeliat namun lucunya dia tetap melanjutkan tidurnya.
__ADS_1
"Ouhhh, lucunyaaa! siapa namanya?" tanya Mentari yang sudah membawa Brian dalam gendongannya.
"Aku Brian, tante!" jawab Anisa dengan cara seperti anak kecil.
"Brian? nama yang bagus! dia tampan sekalii!" puji Mentari.
"Jelas lah! lihat dulu ayahnya!" ucap Arul berbangga diri.
"Yang dipuji anaknya yang terbang bapaknya!" sinis Darel.
"Sirik aja lo!" ucap Arul.
"Oh iya, mumpung kalian lagi kumpul disini! sayang!"
Tomi meraih tangan Shiren dan berlutut dihadapan Shiren. Sontak saja Shiren terkejut dengan aksi Tomi ini, begitu juga dengan Jo dan yang lain.
"Will you marry me?" tanya Tomi sembari menunjukkan sebuah cincin berlian.
"Yess!!!" jawab Shiren yakin.
Air mata bahagianya mengalir begitu saja. Tomi menyematkan cincin itu di jari manis Shiren lalu berdiri dan memeluk wanitanya. Semua orang bersorak bergembira dengan adegan itu.
"Heiii, tunggu.... tungguuu...tungguuu..." ucap Jo memisahkan Shiren dan Tomi yang tengah berpelukan.
"Apa sih lo! ngganggu aja!" ucap Tomi.
"Eh, maksud lo apa?!" tanya Tomi tidak terima menatap tajam ke arah Jo.
"Diem lo! gue tanya sama adik gue bukan elo!" ucap Jo menatap balik mata Tomi.
"Adik lo itu calon istri gue!" ucap Tomi.
Mereka saling melempar tatapan membunuh satu sama lain.
"Ehhh, udah donggg! kenapa malah ribut sih!" ucap Shiren melerai.
"Lihat tuh dia! kayak gini mau kamu jadiin suami?" ucap Jo bersidekap dada.
"Emangnya gue kenapa? gue baik? gue sayang sama Shiren? gue jauh lebih mengerti dia dari pada elo yang statusnya kakak kandung dia!" ucap Tomi telak.
Tentu kalau masalah status, Jo akan lebih unggul. Tapi jika membahas siapa yang lebih mengerti Shiren, tentu saja Jo tidak ada apa-apanya di banding dengan Tomi.
"Curang lo! gue aja baru ketemu kemarin, lah elo kan udah lama sama dia!" ucap Jo tetap tidak mau kalah.
"Kak, Tomi itu orang yang aku cintai! kalau kakak sayang sama aku harusnya kakak mendukung apapun keputusan aku selagi itu benar!" ucap Shiren yang berpikiran lebih dewasa dari kakaknya.
__ADS_1
"Tapi pilihan kamu itu salah! kakak nggak bakal ikut campur kamu mau menikah sama siapapun kecuali sama dia!" ucap Jo menunjuk ke arah Tomi.
"Wahhhh,ngajak ribut nih orang!" ucap Tomi bersiap untuk berkelahi.
"Apa lo? mau berantem? ayo....sini!!! gue nggak takutt!!!" ucap Jo sembari menunjukkan kuda-kuda nya hendak bertarung.
Satu....dua....ti....
"Aduhhh....aduhh....sakit....sakit....!!!!" teriak Jo dan Tomi kesakitan.
Shiren yang sudah jengah mendengar perdebatan mereka berdua menjewer telinga mereka dengan sangat kuat hingga merah.
"Masih mau ribut lagi?!" tanya Shiren semakin mengencangkan jewerannya.
"Nggak!! enggak...lepasin....sakittt!" ucap mereka berdua.
"Huh!!!" Shiren melepaskan jewerannya membuat Jo dan Tomi reflek memegang telinga mereka yang habis dijewer oleh Shiren.
"Kak, Tomi itu pilihan yang paling cocok buat aku! nggak ada yang bisa mencintai dan melindungi aku selain Tomi! kakak dukung aja keputusan aku!" ucap Shiren memberi penjelasan kepada Jo.
"Tapi kannn..." ucap Jo memanyunkan bibirnya.
"Nak, Jo, Shiren sudah dewasa! dia bisa menentukan sendiri jalan hidupnya! mau seperti apa jalan hidup yang dia pilih, kita sebagai keluarganya hanya bisa mendukung dia!" ucap papa Daniar dengan bijak.
"Iyaa itu benar! selagi dia tidak berjalan ke arah yang salah, kita hanya bisa mendukungnya. Kecuali kalau dia berjalan ke arah yang salah, kita wajib mengingatkannya! kau kakaknya, seharusnya kau mendukung keputusanya! toh itu juga bukan keputusan yang salah kok!" ucap mama Daniar setuju dengan ucapan suaminya.
"Huhh, baiklah! tapi persiapan pernikahan harus kakak yang mengaturnya! no debat!" ucap Jo memejamkan matanya menatap ke arah lain dengan telapak tangannya tepat dihadapan muka Tomi yang ingin menolak.
"Begitu juga boleh!" ucap Shiren.
"Tapi sayang, mana boleh kayak gitu!" Tomi protes kepada Shiren.
"Nggak apa-apa lah sayang, dari pada nggak dapat izin?!" ucap Shiren yang kali ini membela Jo
Jo melirik penuh kemenangan ke arah Tomi membuat Tomi kesal.
"Ya sudah, ma! kami pulang dulu ya! sampai jumpa!" ucap Darel.
Darel sudah tidak sabar membawa Mentari kembali ke dalam kungkungannya. Berada disana hanya membuatnya bosan dengan pertengkaran Jo dan Tomi.
"Ah, iya! selamat bersenang-senang yaa!" ucap mama Daniar dengan senyum penuh makna.
"Tante, om, aku pulang juga yaa!" ucap Candra tanpa menunggu jawaban dari orang tua Daniar.
"Kenapa dengan dia?" tanya papa Daniar bingung.
__ADS_1
Mereka terus menatap punggung Candra yang sudah mulai memasuki mobil. Melihat hal itu, Mentari merasa ada sesuatu yang aneh. Tidak biasanya Candra seperti itu. Dia ingat, Candra adalah orang yang humoris dan lemah lembut. Wajah tegang dan pendiam, bukan Candra yang Mentari kenal.