
Hari ini Darel sudah bersiap-siap. Dia akan bertemu dengan wanita yang akan dijodohkan dengannya. Setelah memakai pakaiannya, Darel menghadap cermin dan berkaca sambil memiringkan tubuhnya kekanan dan kekiri.
Kaos yang diberikan Zen dulu tidak terlalu buruk! batin Darel sambil menatap pantulan dirinya di cermin.
Darel memutuskan untuk memakai kaos santai berwarna silver dan celana casual. Meskipun sederhana namun tidak mengurangi kharisma yang dimiliki Darel.
Waktu menunjukkan pukul 17.24, Darel memutuskan untuk berangkat karena jarak rumahnya dengan rumah utama lumayan menyita waktu.
"Selamat sore, tuan! anda terlihat sangat tampan!" sapa Adi yang berdiri diluar mobil sedangkan didalam mobil sudah ada Harri dibelakanh kemudi.
"Adi, akhir-akhir ini mulutmu pandai berkata manis, ya? apa Harri memberimu obat yang salah?" menatap tajam Adi.
"Hehehe, ti...tidak tuan. Hanya saja anda memang terlihat sangat tampan dengan baju pemberian tuan Zen itu!" ucap Adi cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kau? darimana kau tahu kalau ini pemberian Zen?" tanya Darel mengernyitkan dahinya.
Bagaimana saya tidak tahu tuan, kan saya yang mengantarkan baju itu dari tuan Ze sebagai tanda maafnya waktu itu. Namun anda membuangnya, lalu saya meletakkannya di lemari anda. batin Adi.
Tidak disadari Adi menyunggingkan senyuman dibibirnya.
"Adi?!" bentak Darel membuat Adi terkejut.
Bukan hanya Adi saja yang terkejut, Harri yang sedang asik memainkan ponselnya pun juga ikut terkejut mendengar bentakan Darel hingga ponsel yang dipegangnya terjatuh ke bawah.
Tuan ini, aku pikir dia memarahiku, ehhh ternyata si Adi yang buat masalah. Eh ada apaan tuh diluar, kok Adi dibentak sama tuan? Harri penasaran tapi tidak berani turun dari mobil takut dibentak juga oleh Darel. Harri pun melihat keduanya dari balik jendela tembus pandang mobil.
Sepertinya Adi buat masalah lagi sama tuan.
"Ayo jawab, darimana kau tahu?!" bentak Darel lagi.
"Ahahaha, tu...tuan, apa ka....kau lupa, kan saya yang mengantarkan bungkusan berisi baju itu untuk anda dulu!" mencoba menata nyalinya.
Please dong tuan, jangan pikun dini dong!! batin Adi.
"Hem, yasudah kita berangkat sekarang saja! waktuku yang berharga sudah terbuang sia-sia karena mu!" ucap Darel datar dan langsung memasuki kursi mobil bagian belakang.
Emangnya siapa yang mulai tadi, aneh! dia yang mulai aku yang disalahin!
Adi masuk mobil, duduk disamping kemudi. Mereka pun melajukan mobil menuju rumah tuan Ardi Sanjaya.
Semoga wanita yang dipilih papa tidak membuatku tambah emosi ketika melihatnya! batin Darel.
********
"Silahkan masuk, nona! semua orang sudah menunggu anda!" ucap seorang pengawal membuka pintu mobil.
Seorang wanita memasuki mobil dengan ragu-ragu, dia tidak menyangka akan ada teman dari papanya yang mencarinya dan menjadikannya menantu. Apalagi dia tahu kalau orang yang ingin menjadikannya sebagai menantu adalah orang yang kaya. Hal itu dapat dilihat dari mobil mewah yang digunakan untuk menjemputnya dan pakaian yang sepertinya kainnya berkualitas tinggi, meskipun hanya sebatas pengawal.
"Nona Mentari, apa anda sudah siap bertemu tuan dan nyonya besar?" tanya pengawal dari belakang kemudi.
Ya, wanita itu adalah Mentari. Mentari merasa sangat gugup, keringat dingin mengucur dari wajah dan tangannya sekarang.
Kenapa aku segugup ini? kenapa mereka langsung menawariku menjadi menantu mereka? sedangkan aku tidak pernah mengenal mereka. Apa ini hanya jebakan? oh astaga, apa aku akan diculik?!
Mentari menjadi parnoan sendiri membayangkan yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Nona?" panggil.lengawal itu lagi.
"Eh, iya?" Mentari tersadar dari lamunannya.
"Apa anda sudah siap?" tanya pengawal itu mengulang pertanyaannya.
"Emmm, iya!" ucap Mentari ragu.
Mobil pun keluar dari halaman rumah Mentari menuju rumah calon mertuanya.
Ya Tuhan, semoga saja aku tidak diculik!!
*Flashback On*
Mentari menuju supermarket terdekat dari rumahnya. Ada barang yang lupa dia beli kemarin.
Saat sedang sibuk memilih barang yang hendak dibeli, Mentari merasa ada beberapa orang yang mengikutinya sedari tadi.
Mentari awalnya berusaha acuh, dia berpikir mungkin itu hanya perasaannya saja.
"Apa kau yakin wanita itu yang dimaksud tuan?" tanya seorang pria pada rekannya.
"Iya benar kok, nih kamu lihat sendiri fotonya!" ucap rekannya sambil memberikan sebuah foto.
"Emm, kayaknya bener deh. Kita samperin aja daripada dikira orang jahat kan berabe nanti!" ucap pria itu yang membandingkan wajah Mentari dengan wajah yang ada difoto.
"Ya, saranmu itu boleh juga!"
Kedua pria itu mendekati Mentari.
"Eh iya, kalian siapa?" tanya Mentari penasaran.
"Kami anak buah dari tuan Sanjaya. Tuan kami adalah teman lama ayah anda dan beliau ingin mengundang anda makan malam besok." jelas pria itu.
Mentari menatap mereka penuh curiga.
"Eh, maaf, sebelumnya perkenalkan nama saya Robi dan ini rekan saya Bowo." ucap pria itu yang bernama Robi.
"Oh, iya" jawab Mentari singkat.
"Tuan kami sangat menginginkan bertemu dengan anda, nona." ucap Bowo.
"Tapi tunggu dulu deh, kalau kalian bilang tuan kalian itu adalah teman lama ayahku kenapa dia baru sekarang ingin menemui ku? kalian tidak sedang menipuku kan?" tanya Mentari mencecar mereka berdua.
Nona ini sangat cerdas! pantas saja tuan Ardi ingin sekali menjadikannya menantu. batin Bowo.
"Nona, tuan Sanjaya sudah mencari anda sejak 15 tahun terakhir, karena keterbatasan informasi awal yang kami ketahui, makanya kami baru menemukan anda sekarang!" jelas Robi.
Menemukan? heh, emangnya aku ini barang apa seenaknya aja bilang 'menemukan'! batin Mentari.
"Bagaimana nona? jika nona berkenan maka besok pengawal kami yang akan menjemput anda." ucap Robi.
"Kalian tidak sedang menjebak ku kan? oh atau kalian ini sebenarnya modus. Membawa saya dengan embel-embel ingin mempertemukan saya dengan teman ayah saya, lalu saya mengikuti perkataan kalian kemudian kalian membawaku jauh dari kota ini ke tempat yang sepi lalu melakukan pel*****n padaku, setelah itu menjual organ tubuhku lalu...lalu tubuhku kalian buang ke sungai, hah?" ucap Mentari sambil membayangkan hal buruk yang kemungkinan terjadi dan membuatnya ngeri sendiri.
"Pppfffttttt.....hahahaha!" kedua pria itu tertawa lepas.
__ADS_1
"Nona-nona, bagaimana mungkin kami berani melakukan hal itu padamu. Jangankan menjual organ tubuh anda, jika tuan kami menemukan goresan kecil ditubuh anda, maka kami bisa-bisa habis olehnya, hahahaha!" ucap Bowo masih tertawa.
Loh, apanya yang lucu sih!
"Ya sudah lah kalau begitu. Lagian aku juga penasaran dengan tuan kalian itu, tapi awas ya kalau sampai kalian macam-macam nanti!" ucap Mentari memperingatkan mereka.
"Baiklah nona, kalau begitu kami permisi dulu. Oh ya ini foto pengawal yang akan menjemput nona, jika selain orang ini yang menjemput anda dengan menggunakan nama tuan Sanjaya, anda jangan terpengaruh. Bisa jadi itu musuh tuan yang sedang menyamar untuk mencelakai anda!" jelas Robi.
"Ya-ya baiklah!" ucap Mentari mengambil sebuah foto yang diberikan Robi.
"Kalau begitu kami permisi dulu, nona!"
Bowo dan Robi meninggalkan Mentari yang masih kebingungan dengan apa yang terjadi barusan.
Teman ayah? yang mana?
Mentari melanjutkan rencana awal dia datang ke supermarket tadi. Membeli beberapa barang kemudian pergi.
Sesampainya dirumahnya, Mentari melihat sebuah bungkusan berwarna ungu didepan rumahnya.
Bungkusan milik siapa ini? kenapa ada disini?
Mentari meletakkan belanjaannya kelantai dan mengambil bungkusan itu.
"Eh, mbak Tari baru belanja mbak?" sapa tetangga Mentari.
"Eh, ibu. Iya Bu buat stok biar nggak bolak-balik beli. Emm ibu tau nggak siapa yang naroh ini disini?" tanya Mentari.
Rumah Mentari dan ibu itu saling samping menyamping jadi bisa saja terlihat dari rumah ibu tadi orang yang meletakkan bungkusan ini.
"Oh, tadi ada dua orang bawa mobil cakep banget mbak, terus bawa bungkusan itu. Ya ibu suruh taroh diluar aja soalnya kan mbak Tari lagi keluar." jawab ibu itu dengan suara nyaring.
"Emm, terus mereka bilang apa-apa nggak buk?" tanya Mentari lagi.
"Salah satu dari mereka sih bilang kalau temannya mbak Tari gitu. Setelah meletakkan bungkusan mereka langsung pergi gitu aja!" ucap ibu itu lagi.
"Oh, yaudah Bu, makasih ya!" ucap Mentari.
Ibu itu masuk kedalam rumahnya, sedangkan Mentari menenteng belanjaannya dan kemudian masuk kedalam rumah.
Karena panasaran Mentari membuka bungkusan itu. Terlihat sebuah gaun dengan selembar surat disana.
*Tolong pakai ini ketika makan malam besok.*
Isi pesan dalam surat itu.
Apa dua orang tadi ya yang naroh ini? tapi kalau mereka, kan bisa diberikan langsung padaku kenapa malah ditaroh diluar?
Mentari meletakkan pakaian itu dilemarinya dan menggantung gaun itu. Lalu menuju dapur untuk membuat makan siang.
*Flashback off*
Mobil terus melaju dijalan raya yang entah membawa Mentari kemana. Dari jauh sudah terlihat rumah megah nan indah berdiri kokoh.
Apa itu rumah tuan Sanjaya?
__ADS_1