
Darel dan yang lain mulai melahap makanan yang dibuat mbok Tini juga koki profesional mereka. Menu makan malam kali ini adalah masakan western.
Selesai makan malam, Adi, Harri, dan Lukas disuruh Darel untuk keruang kerjanya yang sekarang menjadi ruang pribadi Darel.
"Tuan!" panggil Lukas sesaat setelah berada didalam ruangan.
"Maaf karena telah membawa namamu tadi! itu karena Pretty yang tiba-tiba menghabiskan banyak uang dalam satu hari. Uang sebanyak itu dia habiskan untuk apa sebenarnya?" jelas Darel kesal.
"Pantas saja tuan berbohong pada nona, orang Pretty yang buat masalah!" bisik Harri kepada Adi.
"Hustt, diamlah!" hardik Adi.
"Apa Harri? kau pikir aku tidak mendengarmu?!" ucap Darel.
"Ehh, maaf tuan!" menunduk takut.
"Lukas, kabari Aqis apa saja yang dibeli wanita itu sampai sebegitu banyak uang dia habiskan! juga hubungi Bagas perlu berapa lama mengonsumsi obat itu untuk bisa merusak ra*imnya!" perintah Darel.
"Baik tuan!" ucap Lukas kemudian keluar dari ruangan Darel.
********
Disisi lain, Pretty juga salah satu temannya tengah menghabiskan malam di restoran bintang lima. Setelah puas berbelanja dan memanjakan diri di spa, mereka memutuskan untuk mampir ke restoran tersebut mengisi perut mereka yang keroncongan.
"Eh makasih ya udah traktir belanja barang-barang mewah ini, diajak ke spa, sekarang makan di restoran bintang lima lagi! duhh kayaknya lo habis dapet durian runtuh ya? banyak bener uang lo!" ucap teman Pretty.
"Ihhh biasa aja kali! kalau lo mau pesen apapun tinggal pesen aja, biar gue yang bayarin!" ucap Pretty sombong.
"Wihhh beneran nih?" tanya teman Pretty.
Pretty menjawab dengan anggukan kepala.
"Wihh asik, boleh dong gue pesen yang paling mahal?!"
"Pesen aja, gue nggak masalah kok sual harga!" ucap Pretty.
"Okee! mbakk!" panggil teman Pretty kepada pelayan restoran.
"Selamat siang mbak, silahkan ini daftar menunya!" memberikan daftar menu.
"Emm, gue mau semua makanan paling mahal disini dong mbak!" ucap teman Pretty.
"Ah, itu..." melirik tidak menyakinkan kearah Pretty dan temannya.
"Tidak apa aku punya uang kok! catat saja apa yang dia pesan!" ucap Pretty.
"Ah baiklah! minumannya?" tanya pelayan itu.
"Matcha latte 1!" ucap teman Pretty.
"Gue, jus jeruk aja! agak manis ya!" ucap Pretty.
__ADS_1
"Baiklah, tidak sekalian desert nya kak?" tawar pelayan.
"Emmm, yang paling terkenal disini apa?" tanya Pretty.
"Ada ice cream melon yang diimpor langsung dari Jepang, dan juga pudding mangga yang terbuat dari mangga Miyazaki!" ucap pelayan.
"Baiklah kami pesan itu masing-masing dua ya!" ucap Pretty.
"Baiklah kak, tunggu tiga puluh menit ya!" ucap pelayan lalu meninggalkan meja Pretty.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pesanan Pretty datang juga.
"Ini pesanannya kak, selamat menikmati!" ucap pramusaji.
"Ya makasih!" ucap Pretty dan temannya.
Mereka mulai menyantap makan malam mereka yang mewah.
********
Aqis baru saja menelepon bawahannya menanyakan dimana keberadaan Pretty karena saat Aqis datang ke apartemennya untuk membawakan makan malam, dia tidak ada disana.
"Apa? makan malam diluar? kalian ini bagaimana sih! ya sudah suruh dia cepat kembali setelah itu!" ucap Aqis marah.
Baru saja mematikan panggilan kepada anak buahnya, Aqis kembali mendapatkan telepon dari Lukas.
"Iya tuan, ada apa?" tanya Aqis.
"Maafkan saya tuan! saya tidak tahu kalau dia keluar. Saat ini dia masih makan malam di luar tuan, dan kemungkinan dia akan kembali menghabiskan uang milik tuan muda!" jelas Aqis.
"Kau tahu betapa marahnya tuan tadi karena wanita itu menghabiskan uangnya begitu banyak? sampai-sampai nona Mentari tahu kalau ada uang keluar sebanyak itu dari kartunya. Untung saja tuan bisa mengelak tadi dengan membawa namaku!" jelas Lukas.
"Maafkan saya tuan! saya janji kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali!" janji Aqis.
"Aku pegang janjimu!" ucap Lukas mematikan panggilan secara sepihak.
Disisi Lukas. Setelah menelepon Aqis, langsung beralih menelepon Bagas. Bagas yang saat itu tengah memeriksa file pasiennya langsung menjawab panggilan Lukas.
"Ya, ada apa Lukas? tidak biasanya kau meneleponku?" tanya Bagas masih fokus ke pekerjaannya.
"Ini tuan, saya diminta bertanya kepada anda oleh tuan Darel. Kira-kira butuh berapa lama obat yang diminta tuan untuk merusak ra*im Pretty?" tanya Lukas.
"Satu bulan lebih dua minggu! itu waktu yang cukup untuk merusak ra*IM seorang wanita karena obat yang aku berikan itu termasuk keras! dosisnya sangat tinggi! dan kalau dihitung sudah lebih dari itu bukan Darel memberikannya?" tanya Bagas.
"Benar tuan, lebih dari dua bulan sudah Pretty meminum obat itu!" ucap Lukas.
"Baiklah kalau begitu tuan, aku matikan teleponnya!" ucap Lukas.
"Baiklah! aku juga masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan sebelum pergi?" ucap Bagas.
Panggilan berakhir. Lukas kembali masuk ke ruangan Darel memberitahukan apa yang ingin Darel ketahui barusan.
__ADS_1
"Tuan, saya sudah menghubungi Aqis dan juga tuan Bagas!" ucap Lukas sembari berjalan ke samping Adi dan Harri.
"Jadi, apa yang kau dapat?"
"Tuan Bagas bilang butuh waktu setidaknya satu bulan lebih dua minggu untuk obat itu merusak ra*im nya, dan juga saya sudah berbicara dengan Aqis kalau wanita itu sedang keluar dari apartemen kemungkinan besar dia tengah berbelanja atau yang lainnya!" jelas Lukas.
"Heh, tidak sia-sia penantianku untuk menghancurkannya, tunggu saja Pretty kesengsaraanmu akan dimulai dari sekarang!" tersenyum mengerikan.
********
Mentari menunggu Darel sembari menonton televisi ditemani buah-buahan sebagai camilan.
"Duh Darel kok lama banget sih?!" tanya Mentari celingukan.
"Apa sepenting itu ya sampai lama sekali diskusinya? biasanya nggak sampai selama ini tuh!" omel Mentari sembari memasukkan potongan besar buah semangka ke dalam mulutnya.
Apa jangan-jangan selama ini Darel punya selingkuhan lagi? dan tadi itu uang yang dihabiskan selingkuhannya? makanya kak Lukas kayak tidak mengerti saat aku tanyai tadi, kalaupun dia tahu dia pasti akan tetap melindungi Darel bukan? kak Lukas, Adi dan Harri kan setia sekali kepada Darel! batin Mentari parno.
Otak Mentari dipenuhi dengan berbagai prasangka-prasangka buruk terhadap Darel membuat Mentari emosi sendiri.
"Awas aja kalau dia berani selingkuh dibelakang ku ya! tidak akan aku beri ampun!!!" meletakkan piring buah ditangannya dengan kasar.
Dert....dert....dert....
Sebuah panggilan dari Daniar masuk ke ponsel Mentari.
"Ya Niar ada apa?" tanya Mentari masih dengan nada kesal.
"Wow....wow...wow...kenapa kau kesal begitu? apa Darel yang membuatmu kesal?" tanya Daniar.
"Ah tidak kok, hanya menonton film sinetron saja jadi terbawa suasana!" bohong Mentari.
"Tari, kau tahukan kalau kau tidak pandai berbohong! lagian sejak kapan kau menyukai film? bukannya kau paling suka kartun?" selidik Daniar.
"Ah lupakan itu, kenapa kau menelepon?" tanya Mentari.
"Tidak ada hanya kangen saja! papa sama Mama juga kangen sama kamu!" ucap Daniar.
"Uuu cocuittt!!!! kan lusa aku kesana, jadi kita bisa cerita-cerita sepuasnya!" ucap Mentari.
"Eh iya juga ya!" ucap Daniar.
"Ya sudahlah, aku mau bersihkan kamar dulu buat Anisa dan Sheren. Tidak mungkin kan mereka satu kamar dengan kita, kamarku kan sempit!" canda Daniar.
"Kau ini bisa aja! ya sudah sana!" ucap Mentari tertawa kecil.
"Bye sahabat, emuuahh!"
"Daniar jijik!" ejek Mentari.
"Biarin, wlekkk! byee!" memutuskan panggilan.
__ADS_1
"Hahaha, dasar Daniar!" ucap Mentari tertawa.