
Pagi itu adalah pagi yang melelahkan bagi Mentari. Bagaimana tidak, seharian penuh kemarin hanya untuk "bermain" bersama Darel saja. Bahkan sekarang banyak bekas tanda kepemilikan di sekujur tubuhnya.
"Kenapa?" tanya Darel dengan tersenyum penuh kemenangan.
"Lihat nih gara-gara ulahmu!" protes Mentari sembari memperlihatkan cap merah di tubuhnya melalui cermin.
"Aku suka kok!" tersenyum genit.
"Kamu tahu apa yang membuatku bahagia sekarang?" beranjak dari ranjang lalu mendekat kearah Mentari.
"Apa?"
"Karena....aku mencintaimu!" mengecup tengkuk Mentari.
Hembusan nafas Darel membuat Mentari bergidik ngeri. Ada sesuatu yang berbeda ketika Darel melakukan itu padanya.
Tok....tok....tok.....
"Tuan, baju untuk nona sudah saya belikan!" ucap Adi dari balik pintu.
Darel mendengus kesal karena adegan romantisnya dikacaukan lagi oleh Adi.
"Adiii, kau ini kenapa selalu menggangguku sih! datang disaat yang nggak tepat banget!" omel Darel.
Adi yang mendengar omelan Darel itu lantas pamit pergi daripada dia yang kena imbasnya nanti.
"Hahahah, sudahlah dia kan hanya menjalankan perintah mu!" ucap Mentari sembari tertawa.
"Sayang, bolehkah aku bertanya?" tanya Mentari.
"Tentu saja!" merangkul Mentari dari belakang dengan kepala yang ditempelkan ke pundaknya.
"Siapa wanita kemarin?" tanya Mentari ragu-ragu.
Suasana hening sementara, Darel terlihat gusar ketika Mentari menanyakan pertanyaan mudah itu. Raut wajahnya berubah seketika membuat Mentari semakin penasaran dibuatnya.
"Dia....dia mantanku!" menatap jauh kedepan.
"Sudahlah jangan bahas dia lagi! bukannya sekarang aku sudah punya dirimu?"
Sebenarnya Mentari sedikit ragu akan cinta Darel. Dia masih mencoba percaya seratus persen kepada Darel. Bukan tanpa alasan, namun rasa kecewa yang pernah menyayat luka dihatinya membuatnya sedikit meragukan Darel terlebih mantannya kini datang kembali di kehidupannya.
Setelah sarapan, Darel dan Mentari melanjutkan aktivitas didalam kamar mandi. Berjam-jam lamanya mereka habiskan berdua dikamar mandi. Bagi Darel, Mentari sekarang adalah candunya. Dia tidak bisa jauh-jauh dari Mentari sekarang. Yah, bisa dikatakan kini Darel bucin setengah mati kepada Mentari.
"Jangan pakai yang itu, nanti kelihatan!" ucap Darel ketika Mentari hendak mengambil gaun dengan model sedikit terbuka dibagian leher.
"Ini kan salahmu juga!" mendengus kesal.
"Salahmu lah, kenapa kau menggodaku!" tersenyum puas.
__ADS_1
"Aku nggak menggodamu kok!" tidak terima.
"Pakai yang itu saja, bagian lehernya tidak terlalu terbuka!" ucap Darel melirik ke arah gaun berwarna biru.
"Ya sudah!" ucap Mentari menuju ruang ganti.
"Mau kemana?" tanya Darel.
"Ganti baju lah, lalu mau kemana lagi?"
"Ganti disini saja!" bicara seenaknya.
"Apa? nggak! nggak mau!" protes Mentari.
"Sudah ganti saja disini. Lagian aku sudah hafal lekuk tubuhmu kok!" membisikkannya ditelinga Mentari.
Entah mengapa hawa panas tiba-tiba menyeruak dari dalam diri Mentari. Membayangkan betapa gagahnya Darel ketika penyatuan bersamanya membuat sesuatu terjadi kepada Mentari.
"Apaan sih!" memukul pundak Darel lalu berlari menuju ruang ganti.
Hahahahaha, benar-benar menggemaskan! awas saja kau nanti malam yaa!
"Hah....hah....hah...kenapa jantungku berdetak kencang begini?" ucap Mentari menyentuh dadanya dengan nafas yang ngos-ngosan.
********
"Apa tidak apa-apa kalau aku ikut? aku rasa ini bukan ide yang bagus dengan membawaku pergi." ucap Shiren minder.
"Kami cantik kok. Walau hanya dengan sedikit polesan make up itu saja membuatmu semakin cantik tahu!" ucap Tomi memandang wajah ayu dihadapannya.
Melihat Tomi memandangnya tanpa berkedip membuat sesuatu muncul didalam hatinya.
Perasaan apa ini?
"Tapi tetap saja aku tidak pantas bersanding dengan orang-orang itu, mereka orang kaya semuanya!"
"Kau kan bersamaku! jangan lupa, aku juga termasuk dari 10 orang terkaya loh!" sedikit sombong.
"Sudahlah ayo kita berangkat, atau kau mau merasakan amukan sahabatku Darel? tidak kan, ayo!" menarik tangan Shiren lalu membukakan pintu mobil untuknya.
Mereka pun berangkat menuju restoran yang sudah dijanjikan. Setibanya mereka disana, Arul, Zanu, Darel, Bagas, Wisnu, dan Rohan juga sudah datang dengan pasangan masing-masing kecuali Rohan yang membawa adik perempuannya, Aruna bersamanya.
"Hai! maaf kami telat!" ucap Tomi menggandeng tangan Shiren yang terlihat sangat malu berhadapan dengan orang-orang elit ini.
"Kebiasaan!" omel Darel.
"Hei, jangan salahkan aku yaa!" melirik Shiren.
Mentari, Daniar, Anisa, Angel, Nurul, dan Aruna menghampiri Shiren. Arul sebenarnya tidak mau membawa Anisa datang ke acara ini, namun karena perkembangan kesehatan Anisa yang semakin membaik akhirnya Arul membawanya ke acara itu.
__ADS_1
"Kamu Shiren kan? kita pernah ketemu tapi cuma sekilas aja! Aku Daniar!" ucap Daniar.
Malu-malu Shiren menyambut tangan Daniar dan kemudian bergantian Mentari, Nurul dan Anisa. Mereka semua terlihat sangat akrab walaupun baru saja bertemu.
"Eh, Mentari kok kamu pakai baju lengan panjang gitu sih? bagian lehernya turtleneck lagi, nggak panas emangnya?" goda Daniar.
Mereka semua sebenernya tahu apa yang ingin disembunyikan Mentari dibalik baju panjangnya itu, dan tentu saja membuat Mentari salah tingkah dibuatnya.
"Emm....itu...ehhh.....apa...emmm..." gelagapan mencari alasan.
"Ladies, sudah waktunya makan siang nih, ayo!" panggil Tomi.
Mentari langsung berdiri mendengar panggilan Tomi.
"Ayo kita makan siang!" tersenyum menutupi kegugupannya.
"Iya ayo!" jawab mereka.
Mereka pun duduk disamping pasangan masing-masing. Restoran ini sudah dibooking oleh Arul agar mereka bisa nyaman dan menikmati makan siang ini.
"Oh ya, bulan depan acara pertunangan aku dengan Anisa, kalian datang ya! ini undangannya!" ucap Arul memberikan selembaran undangan.
"Wihhhh, tancap gas aja nih kayaknya! nggak mau kehilangan lagi yaaa?" ledek Tomi.
"Ya iyalah! daripada nunggu harapan palsu kan sakit nanti!" menyindir Tomi.
"Sialan loo!"
Mereka semua tertawa mendengar perdebatan Arul dan Tomi.
"Emang semuanya udah beres?" tanya Zanu kepada Arul dan Anisa.
"Sudah setengahnya aja sih sisanya kita kerjakan dengan santai aja, kan Anisa juga dalam tahap pemulihan jadi nggak bisa terlalu capek!" jelas Arul.
Darel hanya mendengarkan obrolan mereka, dan terus menambahkan makanan ke piring Mentari.
"Sayang, ini aku nggak bisa habis semua loh!" bisik Mentari.
Sekarang di piring Mentari sudah penuh dengan makanan yang diambilkan Darel.
"Biar kamu tambah gemuk, lihat tuh tubuh kamu kurus kayak gitu!" ucap Darel.
"Tapi kan!" ingin protes.
"Kalau terlalu kurus nggak enak mainnya!" bisik Darel yang mampu membuat Mentari terdiam.
"Ehemmm....ehemmm..... kalau mau mepet dikamar aja nanti ya, sekarang kita makan!" sindir Arul sembari tertawa.
Yang lain juga ikut tertawa mendengar celotehan Arul.
__ADS_1
"Hah, kau belum merasakan saja enaknya menikah. Makanya cepat menikah!" balas Darel.
"Hei, kan aku bilang bulan depan tadi! kau ini membuatku tidak tahan aja!" menatap Anisa yang malah menundukkan kepalanya malu.