
Selesai makan siang, Candra pergi bersama Rio untuk menemui pembeli marmernya. Candra sempat mengajak Mentari untuk ikut namun ditolak oleh wanita itu. Katanya dia ingin di resort saja menikmati pemandangan. Candra mengerti itu hanya alibi Mentari. Yang sebenarnya terjadi adalah, Mentari menginginkan waktu sendiri untuk menangis dipojokan kamar mengeluarkan beban berat yang ditanggungnya agar bisa kembali ceria setelahnya.
"Kakak pergi dulu! kalau ada apa-apa langsung telfon kakak!" ucap Candra sebelum pergi.
"Iya-iya kak, sudah sana pergiii!" ucap Mentari.
"Kamu ngusir kakak?" tanya Candra memelas.
"Hehehe, mana berani aku ngusir pemilik rumah! yang ada aku nanti yang diusir!" ucap Mentari tertawa.
Mereka tertawa bersama tanpa memperhatikan dua manusia yang menatap kearah mereka. Sri yang tidak sengaja melintas dibelakang mereka melihat tidak suka dengan kedekatan tuan mereka dengan Mentari.
Harusnya aku yang dimanja-manja seperti itu! huh sebel deh! kenapa sih harus ada dia?! batin Sri kesal masih menatap ke arah Mentari dan Candra yang masih saling melempar godaan.
Lain halnya dengan Sri, Rio justru merasa dirinya berada di planet lain. Sikap Candra kali ini benar-benar membuatnya linglung, sebab pria yang menjadi bosnya selama lima tahun ini tidak pernah terlihat begitu lembut dengan wanita kecuali sang adik, itu pun juga jarang. Tapi melihat kedekatan Candra dengan Mentari, membuat pikiran pria berusia dua puluh lima tahun itu ada sesuatu dibalik sikap lembut Candra. Mungkin pernah ada perasaan diantara Mentari dan Candra. Begitu pikir Rio.
"Ya sudah kakak berangkat dulu! ayo Rio!" ucap Candra berjalan lebih dulu.
Merasa tidak ada pergerakan dari tempat Rio membuat Candra berbalik arah dan melihat asistennya ini yang terlihat seolah sedang berpikir keras.
"Rio! ayoo!!" teriak Candra membuat tidak hanya Rio bahkan Mentari juga ikut terkejut mendengarnya.
Baru kali ini Mentari mendengar Candra meninggikan suaranya saat berbicara. Atau dia saja yang tidak pernah mendengarnya dari mulut Candra? pasalnya pria itu selalu lemah lembut dan penuh perhatian bila berbicara padanya.
"Eh iya tuan!" jawab Rio cepat.
Terlihat oleh Mentari beberapa kali Candra mendengus kasar. Mereka mulai meninggalkan pekarangan resort. Setelah memastikan kepergian Candra, Mentari mulai masuk ke dalam kamar. Benar saja, Dia langsung duduk di jendela menatap ke luar. Pemandangan pantai yang biru sangat memanjakan mata Mentari. Tidak terasa matanya mulai menghangat. Butiran bening lolos begitu saja dari matanya. Dia menangis. Dia kembali lemah. Ingatan tentang Darel dan perpisahan ini begitu menyiksanya. Mentari meringkuk dengan kedua kaki yang ditekuk ke atas, lalu membenamkan wajahnya disana. Dia menangis sejadi-jadinya. Tangisan yang sempat dia sembunyikan karena tidak ingin Candra tahu. Tangisan itu menguar begitu saja.
********
Candra sampai ditempat pertemuannya dengan calon pembeli di sebuah restoran. Seorang wanita muda yang mungkin seusia dengannya terlihat duduk sambil menikmati jus jeruk.
"Maaf, sudah lama menunggu?" tanya Candra langsung duduk.
"Tidak apa jika itu anda!" jawab wanita yang bergaya modis namun elegan itu.
"Pelayan!" panggil wanita itu kepada pelayan restoran.
"Bawakan pesanan saya tadi ya!" ucap wanita itu.
__ADS_1
Sebelumnya wanita itu memang sudah memesan beberapa hidangan lengkap dengan minumannya namun meminta untuk disajikan nanti. Hal itu dia lakukan untuk mengurangi waktu agar tidak banyak yang terbuang.
"Baiklah jadi desain seperti apa yang anda minta, nona?" tanya Candra memulai pembicaraan namun tetap memasang wajah dingin.
"Panggil saja Risa! saya hendak membuka sebuah hotel dengan nuansa Bali, jadi saya ingin ada ukiran khas Bali disana. Juga patung-patung yang estetik namun menggambarkan keragaman Bali." ucap klien Candra yang bernama Risa itu.
"Tapi dana yang di keluarkan..." ucap Rio terpotong.
"Saya tidak masalah dengan harga! berapapun asal kalian mengerjakan sesuai permintaan saya, maka saya akan membayar anda lebih besar!" ucap Risa.
"Baiklah! saya akan membuatkan beberapa desain seperti yang anda minta. Nanti asisten saya akan menghubungi anda kembali untuk memastikan desain mana yang anda suka, bagaimana?" tanya Candra.
"Begitu juga boleh!" ucap Risa.
Tidak berselang lama makanan yang dipesan Risa sudah terhidang diatas meja. Candra dan Rio tidak enak menolaknya. Mereka pun memakan makanan itu meskipun mereka sudah kenyang tadi.
"Senang bekerjasama dengan anda tuan Candra!" ucap Risa menjabat tangan Candra setelah usai makan siang.
"Senang bekerjasama dengan anda juga, nona Risa! semoga kerjasama ini berjalan lancar!" ucap Candra menyambut jabatan tangan Risa.
Risa pamit pulang sedangkan Candra dan Rio juga ikut pergi. Dalam mobil.
"Tuan sepertinya nona tadi menyukai anda!" ucap Rio dari balik kemudi.
"Emm, apa tidak sebaiknya di berikan ke karyawan saja tuan? anda bisa sedikit bersantai!" ucap Rio memberi saran.
"Emm, apa kau tahu karyawan kita yang dirasa mampu mengambil proyek ini?" tanya Candra ragu.
"Ada satu orang tuan! tuan tahu pasti siapa dia!" ucap Rio tersenyum dari balik kemudi dengan sedikit melirik ke arah spion.
"Dia?!"
"Benar tuan!"
"Apa tidak ada yang lain?!" sedikit kesal.
"Dia yang paling berbakat diantara yang lain, tuan!"
"Kau atur saja lah!" ucap Candra.
__ADS_1
"Siap tuan!" ucap Rio tersenyum.
"Berhenti senyum-senyum tidak jelas!" bentak Candra.
"Ma.. maaf tuan!" ucap Rio.
Mereka kembali ke resort. Hari sudah mulai sore ketika mereka sampai di sana.
"Tari.....Tariiii!!!!!" panggil Candra mencari keberadaan Mentari.
"Tariiii!!!!" panggil Candra.
"Iya kak!!!" teriak Mentari dari dalam kamarnya.
Candra mendelik menatap melongo Mentari yang tengah menuruni tangga. Sontak saja tangan Candra sebelah kanan menutup mata Rio yang ikut melongo tidak berkedip sedetik pun.
"Jaga matamu!" ucap Candra memperingati.
Rio langsung mengambil sikap menunduk. Untuk sesaat tadi dia tergoda pada wanita ayu kenalan bosnya itu, atau mungkin mantannya, hehe.
"Apa sih kak? aku baru saja mandi nih!" ucap Mentari setelah dekat dengan Candra.
"Kamu bilang mau melihat sunset! ayo pergi!" ajak Candra.
Tadi memang Mentari sempat mengirimkan pesan kepada Candra bahwa dia ingin melihat matahari terbenam. Senyum manis Mentari terukir begitu saja membuat kesan manis dan imut di wajah wanita itu.
"Beneran? aaaa makasihhhh!" ucap Mentari manja.
"Ayo!" ucap Candra menggandeng tangan Mentari.
Mereka berjalan kaki menuju ke pantai karena memang letaknya yang tidak terlalu jauh. Rio juga mengajak bi Inem juga Sri untuk menemaninya agar tidak menjadi nyamuk sendirian.
Gini nih nasib jomblo! serasa nggak ada harga dirinya! batin Rio mendengus iri melihat kebahagiaan tuannya.
Kapan aku punya pendamping ya Tuhannn! aku sudah lelah dengan drama perbucinan orang lain iniii! biarkan aku juga ikut merasakannya! batin Rio menjerit pilu.
"Indah yaa?" ucap Mentari menatap matahari terbenam yang memancarkan sinar jingga yang sangat indah.
"Tidak seindah dirimu!" ucap Candra disamping telinga Mentari.
__ADS_1
Rio yang seperti menangkap momen indah itu pun merogoh sakunya mengambil ponselnya lalu memotret adegan romantis Mentari dan Candra di pesisir pantai.
"Siapa tahu bisa jadi referensi nanti kalau udah ketemu jodoh!" ucap Rio tertawa kecil menatap layar ponselnya.