
"Tidak akan ada taxi yang lewat hari ini!"
"Kenapa?" tanya Mentari tidak mengerti.
"Apa kau tidak melihat berita tadi pagi? sopir taxi sedang mogok bekerja. Jadi tidak akan ada taxi yang beroperasi." jelas Adi.
Masa iya aku harus pulang dengan tuan sombong itu? melihat pantulan wajahnya saja sudah membuatku kesal! apalagi harus semobil dengannya!
"Bagaimana?" tanya Adi.
"Adi, jika tidak mau tinggalkan saja, jangan tambah merusak mood ku!" teriak Darel dari dalam mobil.
"Kau dengar kan ucap tuan Darel. Ayo kami antar!" ucap Adi mengambil belanjaan Mentari dan membawanya ke bagasi mobil.
Mau tidak mau Mentari harus mengikuti Adi memasuki mobil Darel. Dia sudah membuka pintu mobil disamping kemudi, namun dihentikan Adi.
"Mentari, kamu duduk dibelakang saja dengan tuan!" ucap Adi meraih tangan Mentari.
"Ah, tidak-tidak, aku tidak mau! kau saja yang duduk dibelakang!" ucap Mentari spontan.
"Aku tidak mungkin kan duduk bersama majikan ku? kau sajalah yang duduk dibelakang!" ucap Adi menarik mundur tangan Mentari pelan sehingga ada ruang untuknya memasuki mobil.
Mentari dengan cemberut masuk mobil belakang, bersama Darel. Mentari memasuki mobil dengan tergesa-gesa, tanpa sengaja kakinya menginjak kaki Darel dengan keras.
"Ah, maaf-maaf tuan!" ucap Mentari.
Dia ini kenapa sih, aku saja tidak merasakan sakit. Malah dia yang khawatir! batin Darel.
"Maafkan saya tuan, saya tidak sengaja!" ucap Mentari menunduk membersihkan noda disepatu Darel.
"Sudah jangan..." ucap Darel hendak menunduk.
Dukkkk......
Kening Darel dan kepala Mentari saling bertubrukan. Mereka sama-sama memegang kepala yang sakit.
"Tuan, ayo kita bertubrukan lagi!" ucap Mentari masih mengusap kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Darel tidak mengerti.
"Iya, almarhum nenek ku bilang kalau 2 kepala saling bertubrukan, maka harus bertubrukan lagi biar anaknya tidak gantet ( menyatu)!" jelas Mentari.
"Emang tahayul kayak gitu masih berlaku, ada-ada saja!" ucap Darel acuh.
Mentari langsung meraih kepala Darel dan menatapkannya ke kepalanya lagi.
"Kau sudah gila ya!" bentak Darel emosi.
"Kau kalau tidak mau melakukannya itu hak mu, tapi aku akan melakukannya! siapa tahu nanti anak ku kembar dan aku tidak akan mau kalau anak ku nanti menyatu karena hal ini!" ucap Mentari polos.
Hahaha, dia ini sangat polos. Bahkan dia percaya dengan karangan orang jaman dulu!
Adi dan Harri saling menatap dan tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
Tuan Darel dan Mentari ini lama-lama kayak kucing sama tikus ya. Nggak bisa akur kalau ketemu, hehehe! batin Harri.
Mereka itu kalau lagi begini menggemaskan juga ya, sayang Mentari pasti masih marah karena sikap tuan Darel kemarin! batin Adi.
********
"Selamat siang!" sapa Daniar.
"Siang, Bu Daniar!" jawab karyawan itu serempak.
"Loh, kok ibu yang datang? Bu Mentari dimana?" tanya Laila.
Karyawan mengangguk setuju dengan pertanyaan Laila.
"Oh Mentari masih belum bisa datang kesini. Lukanya belum sembuh total makanya dia butuh banyak istirahat, jadi untuk sementara saya yang akan membantu tugas Mentari disini." jelas Daniar.
Laila dan rekannya mengangguk mengerti. Daniar mulai melakukan pekerjaannya, dan karyawan lain juga kembali bekerja.
Toko kue Mentari dihari biasa buka dari pukul 08.00 pagi sampai jam 20.30 malam, sedangkan untuk hari Minggu buka dari pukul 09.00 pagi sampai jam 21.30 malam. Itu saja kadang pagi-pagi masih banyak pelanggan yang sudah mengantri padahal toko masih belum buka.
********
__ADS_1
Di markas Tomi, Zanu masih diam sedangkan keempat sahabatnya sedang berselisih paham.
"Zen kenapa kau diam saja! jelaskan pada mereka!" ucap Rohan mengagetkan Zanu.
Apalagi yang harus aku katakan? semua itu akan sia-sia saja karena orang yang sudah aku lukai hatinya tanpa sengaja masih memanggilku penghianat! batin Zanu.
"Zen? Zen?" memanggil nama Zanu beberapa kali.
"Apa yang harus aku jelaskan? Dwi... Dwi bahkan tidak mau mendengar penjelasan ku! lalu untuk apa aku menjelaskan semuanya pada kalian!" teriak Zanu histeris.
Semua orang terdiam mendengar kalimat Zanu. Penderitaan yang dia tahan selama 5 tahun terakhir ini kini keluar dalam bentuk air mata dan penyesalan yang tidak ada ujungnya.
"Seandainya.... seandainya aku mendengarkan Rohan waktu itu, mungkin tidak akan seperti ini jadinya! hiks......hiks......hiks..... aku...aku...aku hanya ingin menyelamatkannya saja dari wanita ular seperti Pretty, tapi aku tidak tahu kalau akan seperti ini jadinya!" ucap Zanu sambil menangis histeris.
Maafkan aku Dwi, maafkan aku!
Rohan dan Bagas mengusap pundak Zanu. Zanu tidak kuat menahan beban emosional nya lagi dan dia pun terjatuh ditanah. Tubuhnya sangat lemah.
"Cepat bawa dia ke rumah sakit! Rohan bantu aku bawa!" ucap Tomi.
Tomi dan Rohan mengangkat tubuh lemah Zanu, sedangkan Bagas, Arul dan Jack mengikuti dari belakang. Mereka membawa Zanu kerumah sakit milik Darel.
"Jack kau ambil rekaman CCTV dari ruangan Tomi tadi dan kirimkan pada Darel! pastikan kalau rekaman itu ada suaranya!" perintah Tomi pada Jack sesaat setelah meletakkan tubuh Zanu di kursi belakang mobil.
"Anggap saja sudah selesai!" ucap Jack yakin.
*
*
*
*
*
jangan lupa VOTE LIKE DAN KOMEN ya kak, biar aku semangat up nya😊😉
__ADS_1